Saturday, May 18, 2013

Hidup dan Paradoks

Solidarity, Life, and Respect

Detik ini, mataku terpejam
Melayang angan ini jauh menerawang
Detik ini, sebelah mataku terbuka
Tersenyum menanti angan, terbuai indahnya anomali kebahagiaan
Detik ini, kedua mataku terbuka
Lalu, kilau paradoks hidup memuntahkan segala bualannya
Tentang Kebersamaan, Hidup, dan Rasa Hormat
Memberi spektrum yang selalu menjungkir balikan fakta
Namun,
Kala Solidaritas terasa asing di benakmu,
Hidup akan mengajarkan betapa rumitnya cara untuk tersenyum, lalu
Rasa Hormat akan membuyarkan Paradoks yang tak akan pernah bisa diralat oleh akal sehat
                                       
 (Riman Diantasena, 17 Mei 2013)

No comments:

Post a Comment