Sunday, May 19, 2013

Dewi "dee" Lestari, Hanung Bramantyo, dan "Gelap Mata"

                Novel berseri ini sebenernya muncul begitu aja karena 2 hal,yang pertama adalah saat saya membaca novel karya Dewi “dee” Lestari berjudul Perahu Kertas dan yang kedua adalah ketika saya terbius selama 107 menit dengan daya magis visual yang dibuat oleh Hanung Bramantyo di filmnya, Catatan Akhir Sekolah.

Dewi Lestari meracik setiap kata-kata yang ia sajikan di setiap novelnya dengan cirinya yang khas, permainan kata-kata yang apik namun mudah untuk dipahami dan dimengerti oleh kaum remaja yang notabennya kurang berminat dalam membaca sebuah karya seni sastra. Terutama di novel Perahu Kertas, Dewi Lestari mengangkat sebuah kisah yang sebenarnya sudah biasa/sering didengar atau dibaca oleh masyarakat di Indonesia, namun “Dee” selalu bisa melihat detil penting di balik sebuah ide yang standar dan menjadikan karya yang ia buat menjadi lebih menarik dan selalu membuat penasaran pembaca hingga akhir kata yang telah ia buat.

Apakah anda pernah mendengar nama Hanung Bramantyo? Mungkin namanya masih agak terdengar asing bagi sebagian masyarakat Indonesia. Namun apakah anda pernah menonton film “ayat-ayat cinta” yang menjadi box office perfilman di Indonesia pada tahun 2008 itu? Pernahkah anda menonton film “Get Married” yang menjadi film Indonesia terlaris kedua pada tahun 2007 dengan jumlah penonton lebih dari 2,2 Juta orang? atau pernahkah anda menonton film “tanda tanya” yang sudah banyak mengundang kontoversi? Siapakah sutradara dari ketiga film fenomenal itu? Dialah Hanung Bramantyo, peraih 2 penghargaan piala citra dalam kategori sutradara terbaik pada tahun 2005 dan 2007. Meskipun masih terlalu jauh jika dia diberi penghargaan sebagai sutradara terbaik di Indonesia, namun ia adalah salah seorang pembawa gagasan konsep film modern ke Indonesia yang awamnya pada saat itu film-film di Indonesia masih memakai konsep film yang berjenis sinetron. Konsep film modern yang dibawanya lebih mementingkan kepada kebebasan dalam mengekspresikan sebuah seni, dalam hal ini seni merupakan sesuatu yang selalu bisa dieksplor dari manapun anda melihatnya, dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda dan Hanung Bramantyo berhasil membawa konsep itu ke dalam dunia Film Indonesia. Bakatnya itu mulai terlihat saat ia tengah menukangi sebuah film hasil garapannya yang berjudul “catatan akhir sekolah”.

Catatan Akhir Sekolah menjadi salah satu film yang sangat inspiratif bagi saya, di film itu terlihat sisi lain dari kehidupan siswa SMA yang jarang terungkap dalam film dan cerita namun dengan yakinnya Hanung Bramantyo malah menyajikan sesuatu yang tidak hanya bertolak belakang, namun ia berhasil mengelupas sisi terdalam dari sebuah kisah kehidupan SMA namun tetap mengindahkan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap adegannya yang ia visualisasikan kedalam layar sinema. Sebagai seorang pelajar SMA yang telah menonton film tersebut, saya membenarkan bahwa adanya kegiatan mencontek dalam ulangan atau pelajar merokok secara diam-diam di kehidupan SMA. Dan karena hal itulah, kehidupan SMA menjadi terlihat semakin menarik untuk saya.

Lalu apa hubungannya dengan “Gelap Mata”? Dewi Lestari mengajarkan saya bahwa dalam membuat sebuah cerita anda tidak perlu kursus mengeja EYD yang benar atau melalap kamus besar bahasa indonesia agar anda pintar dalam mengolah kata, yang anda perlukan adalah anda harus menjadi pembaca yang baik. Karena jika anda menjadi pembaca yang baik anda akan terjun ke dalam dunia dunia dimana anda akan membuat cerita yang akan dibaca oleh pembaca karya anda, entah itu dunia remaja, orang dewasa, atau bahkan sastrawan kelas kakap. Yang menjadikan anda mengerti harus menggunakan bahasa yang seperti apa jika anda ingin dibaca oleh siapa.

"Yang anda perlukan adalah anda harus menjadi pembaca yang baik."


Hanung Bramantyo mengajarkan saya bahwa dalam melihat suatu masalah anda harus bisa melihat masalah itu dari berbagai sudut pandang, entah itu sudut pandang A atau B atau bahkan C. Hal itu akan membuat anda menjadi kaya akan topik yang akan anda kembangkan dalam karya anda. Sesimpel apapun idenya, namun jika anda  tidak pernah berhenti untuk menggali dan menggali lagi  ide tersebut, anda tidak akan pernah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa spesialnya ide anda itu meskipun ide anda itu sangat simpel.

"Anda tidak akan pernah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa spesialnya ide anda itu meskipun ide anda itu sangat simpel."


Gelap Mata adalah sebuah Novel yang mengangkat sebuah kisah cinta dengan latar belakang kehidupan SMA dengan tokoh utama Pria bernama Riman Diantasena dan tokoh utama Wanita bernama Putri Kira Nasalia. Jika anda telah membaca prolog dari gelap mata dan anda mengira ini adalah sebuah cerita cinta yang menampilkan suasana baru, maka anda salah. Kisah ini mengangkat kisah cinta kehidupan SMA yang bisa dibilang sudah banyak diangkat oleh Film, Ftv, dan sinetron drama di Indonesia. Namun disini saya menekankan bahwa “Gelap Mata” adalah sebuah cerita cinta yang memiliki ide simpel namun mengandung sisi kehidupan SMA yang kental dan disajikan dengan permainan kata yang dapat dikonsumsi oleh kaum remaja. Kata-kata konyol khas Raidhan Rahadian pun pastinya tak akan bisa terhindarkan dari penggambaran sifat Riman dan kepolosan pribadi Kira. Namun saya mengakui sebagai seseorang yang baru terjun kedalam dunia sastra seni dan masih sangat “nol” di ilmu bahasa, Gelap Mata pastinya tidak akan sesempurna seperti deskripsi yang telah saya uraikan diatas. Saya membuat kisah ini hanya sekedar hobi semata, namun saya akan mencoba agar hasil dari karya saya ini akan menjadi langkah awal saya dalam mewujudkan mimpi untuk menjadi penulis ternama kelak.  Dengan ini saya resmikan bahwa Gelap Mata telah siap untuk dibaca oleh siapa saja dan selamat membaca :D

  "Gelap Mata adalah sebuah cerita cinta yang memiliki ide simpel namun mengandung sisi kehidupan SMA yang kental dan disajikan dengan permainan kata yang dapat dikonsumsi oleh kaum remaja." -Raidhan Rahadian

No comments:

Post a Comment