Novel
berseri ini sebenernya muncul begitu aja karena 2 hal,yang pertama adalah saat
saya membaca novel karya Dewi “dee” Lestari berjudul Perahu Kertas
dan yang kedua adalah ketika saya terbius selama 107 menit dengan daya magis
visual yang dibuat oleh Hanung Bramantyo di filmnya, Catatan Akhir
Sekolah.
Dewi Lestari meracik setiap kata-kata yang ia sajikan di setiap
novelnya dengan cirinya yang khas, permainan kata-kata yang apik
namun mudah untuk dipahami dan dimengerti oleh kaum remaja yang notabennya kurang
berminat dalam membaca sebuah karya seni sastra. Terutama di novel Perahu
Kertas, Dewi Lestari mengangkat sebuah kisah yang sebenarnya
sudah biasa/sering didengar atau dibaca oleh masyarakat di Indonesia,
namun “Dee” selalu bisa melihat detil penting di balik sebuah ide yang standar dan
menjadikan karya yang ia buat menjadi lebih menarik dan selalu membuat penasaran pembaca hingga akhir kata yang telah ia buat.
Apakah anda
pernah mendengar nama Hanung Bramantyo? Mungkin namanya
masih agak terdengar asing bagi sebagian masyarakat Indonesia. Namun apakah
anda pernah menonton film “ayat-ayat cinta” yang menjadi box
office perfilman di Indonesia pada tahun 2008 itu? Pernahkah anda menonton film
“Get Married” yang menjadi film Indonesia terlaris
kedua pada tahun 2007 dengan jumlah penonton lebih dari 2,2 Juta orang? atau
pernahkah anda menonton film “tanda tanya” yang sudah banyak
mengundang kontoversi? Siapakah sutradara dari ketiga film
fenomenal itu? Dialah Hanung Bramantyo, peraih 2 penghargaan piala citra dalam
kategori sutradara terbaik pada tahun 2005 dan 2007. Meskipun masih terlalu
jauh jika dia diberi penghargaan sebagai sutradara terbaik di Indonesia, namun
ia adalah salah seorang pembawa gagasan konsep film modern
ke Indonesia yang awamnya pada saat itu film-film di Indonesia masih memakai
konsep film yang berjenis sinetron. Konsep film modern yang dibawanya lebih
mementingkan kepada kebebasan dalam mengekspresikan sebuah
seni, dalam hal ini seni merupakan sesuatu yang selalu bisa
dieksplor dari manapun anda melihatnya, dari berbagai macam sudut
pandang yang berbeda dan Hanung Bramantyo berhasil membawa konsep itu ke dalam
dunia Film Indonesia. Bakatnya itu mulai terlihat saat ia tengah menukangi sebuah
film hasil garapannya yang berjudul “catatan akhir sekolah”.
Catatan Akhir
Sekolah menjadi salah satu film yang sangat inspiratif bagi saya, di film itu
terlihat sisi lain dari kehidupan siswa SMA yang jarang terungkap dalam film
dan cerita namun dengan yakinnya Hanung Bramantyo malah menyajikan sesuatu yang
tidak hanya bertolak belakang, namun ia berhasil mengelupas sisi terdalam dari
sebuah kisah kehidupan SMA namun tetap mengindahkan nilai-nilai yang terkandung
dalam setiap adegannya yang ia visualisasikan kedalam layar sinema. Sebagai seorang
pelajar SMA yang telah menonton film tersebut, saya membenarkan bahwa adanya
kegiatan mencontek dalam ulangan atau pelajar merokok secara diam-diam di
kehidupan SMA. Dan karena hal itulah, kehidupan SMA menjadi
terlihat semakin menarik untuk saya.
Lalu apa
hubungannya dengan “Gelap Mata”? Dewi Lestari mengajarkan saya bahwa dalam
membuat sebuah cerita anda tidak perlu kursus mengeja EYD yang
benar atau melalap kamus besar bahasa indonesia agar
anda pintar dalam mengolah kata, yang anda perlukan adalah anda harus menjadi pembaca yang baik. Karena jika anda menjadi
pembaca yang baik anda akan terjun ke dalam dunia dunia dimana anda akan
membuat cerita yang akan dibaca oleh pembaca karya anda, entah itu dunia
remaja, orang dewasa, atau bahkan sastrawan kelas kakap. Yang menjadikan anda
mengerti harus menggunakan bahasa yang seperti apa jika anda ingin
dibaca oleh siapa.
"Yang anda perlukan adalah anda harus menjadi pembaca yang baik."
Hanung
Bramantyo mengajarkan saya bahwa dalam melihat suatu masalah anda
harus bisa melihat masalah itu dari berbagai sudut pandang, entah itu
sudut pandang A atau B atau bahkan C. Hal itu akan membuat anda menjadi kaya
akan topik yang akan anda kembangkan dalam karya anda. Sesimpel apapun idenya,
namun jika anda tidak pernah
berhenti untuk menggali dan menggali lagi ide tersebut, anda tidak
akan pernah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa spesialnya ide anda
itu meskipun ide anda itu sangat simpel.
"Anda tidak akan pernah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa spesialnya ide anda itu meskipun ide anda itu sangat simpel."
Gelap Mata adalah sebuah Novel yang mengangkat sebuah kisah cinta dengan latar belakang
kehidupan SMA dengan
tokoh utama Pria bernama Riman Diantasena dan tokoh utama Wanita bernama Putri Kira Nasalia.
Jika anda telah membaca prolog dari gelap mata dan anda mengira ini adalah
sebuah cerita cinta yang menampilkan suasana baru, maka anda salah. Kisah ini
mengangkat kisah cinta kehidupan SMA yang bisa dibilang sudah banyak diangkat
oleh Film, Ftv, dan sinetron drama di Indonesia. Namun disini saya menekankan
bahwa “Gelap Mata” adalah sebuah cerita cinta yang
memiliki ide simpel namun mengandung sisi kehidupan SMA yang kental dan
disajikan dengan permainan kata yang dapat dikonsumsi oleh kaum remaja. Kata-kata konyol khas Raidhan
Rahadian pun pastinya tak akan bisa terhindarkan dari penggambaran sifat Riman
dan kepolosan pribadi Kira. Namun saya mengakui sebagai seseorang yang baru
terjun kedalam dunia sastra seni dan masih sangat “nol” di ilmu bahasa, Gelap
Mata pastinya tidak akan sesempurna seperti deskripsi yang telah saya uraikan diatas.
Saya membuat kisah ini hanya sekedar hobi semata, namun saya akan mencoba agar hasil dari karya saya ini akan menjadi langkah
awal saya dalam mewujudkan mimpi untuk menjadi penulis ternama kelak.
Dengan ini saya resmikan bahwa Gelap Mata telah siap untuk dibaca oleh
siapa saja dan selamat membaca :D
"Gelap Mata adalah sebuah cerita cinta yang memiliki ide simpel namun mengandung sisi kehidupan SMA yang kental dan disajikan dengan permainan kata yang dapat dikonsumsi oleh kaum remaja." -Raidhan Rahadian
No comments:
Post a Comment