Hari itu Riman
dan Vindo terpisah dengan anggota bocah jeruji yang lain, dan membuat mereka
berdua harus mencari tempat persembunyian mereka sendiri untuk menyelamatkan
mereka dari upacara senin pagi. Setelah berlari-lari kesana kemari, mereka
masih belum mendapatkan tempat persembunyian di dalam gedung sekolah mereka
berdua terus berlari dan mencari tempat dimana mereka berdua bisa bersantai.
Langkah mereka akhirnya membawa mereka ke depan gerbang sekolah yang sudah sepi
dari guru, murid dan staff yang telah menuju lapangan sejak 15 menit yang lalu.
Mereka berdua berhenti dan langsung mengecek gerbang sekolah yang ternyata
telah digembok.
“Man gimana
ni? Kita gabisa cabut, gerbangnya udah digembok. Ahhh matilah kita pagi ini.”
Pungkas Vindo kelelahan, hampir menyerah.
Raut muka
Riman nampak serius, otak gilanya harus kembali digunakan agar mereka berdua
bisa lolos dari serangan guru BP. Dengan gelisah Riman mencari jalan keluar
yang mungkin bisa ia pakai disekitar gerbang sekolah itu. Pandangannya terus
mencari celah dan akhirnya matanya terhenti kepada bak mandi yang sangat sempit
yang berada di pojokan lahan parkir di sudut pagar pembatas wilayah sekolah. Ia
langsung berlari ke arah bak mandi itu dengan riang gembira, rasanya seperti
menemukan mata air di tengah gurun pasir, tertawa cekikan dengan tangan
melambai-lambai tak karuan, sungguh kebahagiaan yang tidak terelakan.
“Man elo mau
kemana? Tungguin man!” sahut Vindo mengejar Riman.
Setelah sampai
disisi Riman Vindo melihat seonggok bak mandi kecil kotor yang terbuat dari
plastik dan banyak kotoran yang menempel pada setiap sisinya.
“Jangan bilang
kita berdua bakal masuk kesini?”
“Lebih
tepatnya ngumpet di bawah bak mandi ini, daripada disuruh berdiri 1 jam gua
lebih milih buat jongkok di bawah naungan bak mandi ini.” Pungkas Riman dengan
seberkas senyuman kemenangan.
Tanpa
memedulikan komentar Vindo, Riman langsung jongkok dan menutupi dirinya dengan
bak mandi itu. Dengan sedikit rasa kesal Vindo ikut masuk ke dalam bak mandi
itu juga dan langsung berkata “Kalo senin depan gua cabut, bakal dipastiin gua
ga akan mau cabut sama orang yang otaknya miring kaya elo lagi!” mendengar
pernyataan temannya, Riman hanya tertawa melihat raut muka temannya yang secara
tersirat mengatakan, Sampe elo ngomong lagi gua hantem lo!
“Selamat datang di dunia gua do, dunia dimana logika ga pernah sejalan sama kenyataan”
“Yes, sekarang
gua secara resmi masuk ke dunia orang ga waras.”
No comments:
Post a Comment