Tidak ada yang
spesial di pagi hari itu, sama seperti hari-hari senin yang lainnya. Riman dan
teman-temannya juga seperti biasa menjalani ritual yang selalu mereka lakukan
setiap senin pagi, yaitu bersembunyi saat upacara bendera sedang berlangsung. Mereka
adalah sekumpulan siswa yang tidak betah untuk disuruh berpanas-panasan berdiri
dengan badan tegap dengan pandangan lurus kedepan selama kurang lebih
menghabiskan waktu sekitar 1 jam, maka dari itu mereka memutuskan untuk mencari
tempat persembunyian yang tidak diketahui guru-guru agar mereka bisa bersantai
di suatu tempat selagi siswa yang lain berpanas-panasan di lapangan. Namun tidak
jarang juga salah satu dari mereka atau bahkan mereka semua tertangkap saat sedang
menjalankan ritual pagi itu dan memaksa mereka untuk berurusan langsung dengan guru
BP.
Mereka biasa
menyebut diri mereka bocah jeruji. Nama yang aneh memang namun pengambilan nama
itu memiliki alasan yang masuk akal. Mereka selalu keluar masuk ruang BP persis
seperti napi yang sering keluar masuk dari jerujinya. Mereka sudah terbiasa
dalam menghadapi guru BP. Walaupun nama mereka abadi di buku merah (catatan
untuk siswa yang terkena hukuman), mereka selalu menghadapi semua masalah bersama-sama
selama kurang lebih hampir 1 tahun pelajaran. Mereka semua belajar untuk
menjaga satu sama lain dan berusaha untuk keluar dari suatu masalah secara
bersama-sama. Tetapi aktor dibalik keselamatan mereka dari semua masalah yang
telah mereka lakukan adalah Riman, seorang idiot yang otaknya tidak pernah
kehabisan dengan ide-ide gila yang selalu membuat mereka terjun ke pengalaman
yang tidak bisa dibayar dengan koleksi guci eyang subur sekalipun. Riman tidak
pernah meninggalkan teman-temannya di belakang, dia selalu bersedia melakukan
apapun agar orang terdekatnya tidak terkena masalah, malah seringkali dia bersedia
merelakan dirinya untuk menjadi tumbal hukuman dengan syarat melepaskan
teman-temannya semua.
Di luar
jendela kelas XH itu yang biasa disebut Riman sebagai balkon surga, adalah
tempat favorit Riman yang biasanya ia gunakan untuk bersantai dan cabut saat pelajaran sedang berlangsung.
Disitulah tempat dimana Vindo sekarang berpijak menikmati sunyinya senin pagi.
Badan Vindo perlahan turun, otot di seluruh tubuhnya memaksanya untuk bersantai
setelah berlari-lari mencari tempat untuk bersembunyi. Dalam posisi duduk,
Vindo teringat akan kenangannya bersama Riman dulu. Kejadian itu adalah kali
pertamanya Vindo dan Riman cabut
upacara berdua dan itu adalah kali pertamanya Vindo mengenal orang super aneh
dan tidak waras seperti Riman.
No comments:
Post a Comment