Friday, May 31, 2013

Gelap Mata - Kepingan 1



Tidak ada yang spesial di pagi hari itu, sama seperti hari-hari senin yang lainnya. Riman dan teman-temannya juga seperti biasa menjalani ritual yang selalu mereka lakukan setiap senin pagi, yaitu bersembunyi saat upacara bendera sedang berlangsung. Mereka adalah sekumpulan siswa yang tidak betah untuk disuruh berpanas-panasan berdiri dengan badan tegap dengan pandangan lurus kedepan selama kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 1 jam, maka dari itu mereka memutuskan untuk mencari tempat persembunyian yang tidak diketahui guru-guru agar mereka bisa bersantai di suatu tempat selagi siswa yang lain berpanas-panasan di lapangan. Namun tidak jarang juga salah satu dari mereka atau bahkan mereka semua tertangkap saat sedang menjalankan ritual pagi itu dan memaksa mereka untuk berurusan langsung dengan guru BP.
Mereka biasa menyebut diri mereka bocah jeruji. Nama yang aneh memang namun pengambilan nama itu memiliki alasan yang masuk akal. Mereka selalu keluar masuk ruang BP persis seperti napi yang sering keluar masuk dari jerujinya. Mereka sudah terbiasa dalam menghadapi guru BP. Walaupun nama mereka abadi di buku merah (catatan untuk siswa yang terkena hukuman), mereka selalu menghadapi semua masalah bersama-sama selama kurang lebih hampir 1 tahun pelajaran. Mereka semua belajar untuk menjaga satu sama lain dan berusaha untuk keluar dari suatu masalah secara bersama-sama. Tetapi aktor dibalik keselamatan mereka dari semua masalah yang telah mereka lakukan adalah Riman, seorang idiot yang otaknya tidak pernah kehabisan dengan ide-ide gila yang selalu membuat mereka terjun ke pengalaman yang tidak bisa dibayar dengan koleksi guci eyang subur sekalipun. Riman tidak pernah meninggalkan teman-temannya di belakang, dia selalu bersedia melakukan apapun agar orang terdekatnya tidak terkena masalah, malah seringkali dia bersedia merelakan dirinya untuk menjadi tumbal hukuman dengan syarat melepaskan teman-temannya semua.
Di luar jendela kelas XH itu yang biasa disebut Riman sebagai balkon surga, adalah tempat favorit Riman yang biasanya ia gunakan untuk bersantai dan cabut saat pelajaran sedang berlangsung. Disitulah tempat dimana Vindo sekarang berpijak menikmati sunyinya senin pagi. Badan Vindo perlahan turun, otot di seluruh tubuhnya memaksanya untuk bersantai setelah berlari-lari mencari tempat untuk bersembunyi. Dalam posisi duduk, Vindo teringat akan kenangannya bersama Riman dulu. Kejadian itu adalah kali pertamanya Vindo dan Riman cabut upacara berdua dan itu adalah kali pertamanya Vindo mengenal orang super aneh dan tidak waras seperti Riman.

No comments:

Post a Comment