Monday, March 23, 2026

Raidhan's Romance Decisions on DISPATCH

Major spoiler warning!

Artikel ini disarankan untuk kamu yang sudah menyelesaikan game dari DISPATCH karena isi kontennya berisi tentang pilihan-pilihan dalam game tersebut. Tapi, jika kamu tidak tertarik untuk memainkan game DISPATCH, mari melihat opsi-opsi yang gua pilih saat gua memerankan karakter Robert.

DISPATCH adalah game visual novel interaktif di mana kita memerankan seorang karakter bernama Robert, seorang mantan superhero yang sudah pensiun dan kini bertugas untuk menjadi koordinator misi dari sebuah tim superhero, yang akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan untuk menentukan kelanjutan dari kisah hidup seorang Robert.

Gua bisa memainkan game ini karena dibelikan oleh Kak Selly dan Tania sebagai hadiah ulang tahun. Tanpa diduga, game ini menjadi salah satu game visual novel favorit gua semasa gua bermain game.

Banyak sekali pilihan yang menentukan alur dari kisah Robert. Tapi, dari semua pilihan yang tersedia, elemen romansa dari Robert semakin membuat kisah kepahlawanan Robert menarik untuk disimak sampai habis.

Robert akan dipertemukan dengan dua orang perempuan yang dapat dijadikan love interestnya sampai akhir cerita.

Karakter perempuan pertama adalah Blonde Blazer.


Blonde Blazer adalah seorang superhero papan atas dari organisasi DISPATCH. Blonde Blazer adalah salah satu karakter pertama yang akan bertemu Robert di titik terendahnya dan menawarkan kepada Robert untuk bergabung dengan DISPATCH sebagai koordinator grup superhero.

Karakter perempuan kedua adalah Invisigal.


Invisigal adalah seorang superhero dari grup mantan penjahat yang direkrut oleh DISPATCH untuk menumpas kejahatan. Invisigal adalah semua keterbalikan dari Blonde Blazer. Baik dari segi sifat, tujuan hidup, sampai motivasi saat bekerja di DISPATCH. Jika Blonde Blazer adalah perempuan yang terbuka dan bisa melakukan segala sesuatunya sendirian, maka Invisigal adalah perempuan yang jati dirinya rapuh dan keras kepala.

Lalu pertanyaan terbesarnya, Robert versi Raidhan memilih siapa?

Jawabannya jelas Blonde Blazer.

Banyak alasan untuk menyukai Blonde Blazer, tapi alasan utama gua adalah karena Blonde Blazer dipertemukan dengan Robert lebih dulu daripada Invisigal. That's it.

Dalam perjalanan Robert versi Raidhan menumpas kejahatan dan memilih kisah cinta of course, berikut adalah pilihan-pilihan romansa krusial gua yang diabadikan dengan indah oleh DISPATCH. Mari kita saksikan bersama!

1. Tidak mencium Blonde Blazer di pertemuan pertama.


Situasinya kaya gini. Anda bertemu dengan perempuan cantik yang secara mengejutkan tau banyak tentang diri anda dan anda tau bahwa perempuan ini memiliki kekaguman terhadap anda. Lebih-lebih, perempuan ini ternyata sedang mabuk sementara anda tidak. Hadirlah sebuah momen romantis dan kesempatan anda untuk mencium perempuan ini. Apakah anda akan mencium perempuan tersebut?

Jika jawaban anda adalah iya, maka anda perlu ditendang dari gedung lantai 10.

Karena ya cem mana ini hey???!!!

Sebagai laki-laki yang berintegritas dan menjunjung tinggi hubungan yang baik antara sesama manusia, ya masa sih kesempatan macem itu dipakeee?

But well, gua memilih untuk tidak mencium Blonde Blazer di pertemuan pertama kita. Tapi 55% Robert lainnya ternyata mencium Blonde Blazer di pertemuan pertamanya. Apa jangan-jangan ternyata pilihan gua yang aneh?

2. Memilih untuk dinner bersama Blonde Blazer daripada nonton bioskop bersama Invisigal


Momen ini terjadi di pertengahan cerita, di mana secara bersamaan Blonde Blazer dan Invisigal secara tiba-tiba mengajak Robert untuk datang menemani mereka. Gua memilih untuk dinner bersama Blonde Blazer. Kenapa? Karena sesimpel Blonde Blazer adalah orang pertama yang membuat Robert menjadi manusia yang bangkit kembali.

Di momen ini, sebenarnya ada adegan di mana Robert bisa mencium Blonde Blazer lagi. Tapi sebagaimana laki-laki sejati pada umumnya, gua tidak mengambil kesempatan itu dan tetap menjaga kedekatan yang baik dengan Blonde Blazer.

Betul kan ya pilihan gua? Atau malah pilihan gua yang aneh?

3. Berawal dari Blonde Blazer, berakhir di Blonde Blazer


Robert di universe mana pun bisa memulai dengan memilih untuk dekat bersama Blonde Blazer namun pada akhirnya memilih Invisigal, ataupun sebaliknya. Tapi Robert versi gua tetap setia untuk bersama dengan Blonde Blazer dari awal hingga akhir cerita. Dengan bangga gua adalah bagian dari 32% dari Robert di seluruh dunia yang akhirnya membersamai Blonde Blazer.

Hal ini bukan menandakan bahwa Invisigal memiliki sifat yang tidak baik sebagai seorang manusia. Cuma menurut gua, ketika kita dipertemukan dengan seorang yang bisa membuat kita berarti dan bermanfaat lebih dari siapapun. Dia adalah orang yang tepat untuk membersamai kita, sepanjang hidup kita.

Oh, di bagian ini Robert mendapatkan kesempatan untuk mencium Blonde Blazer lagi. Gua tidak bisa memilih untuk mencium dan tidak mencium Blonde Blazer. Tapi dengan kehendak dan progres yang Robert versi gua buat, mereka berdua akhirnya berciuman dengan hati yang sama-sama yakin bahwa mereka telah menemukan pasangan yang tepat.

Bahagia sekali. Gua sangat bahagia sekali.

Kalau kamu jadi Robert, keputusan apa yang akan kamu ambil?

Monday, March 9, 2026

Gaming, RPG, dan Kingdom Come Deliverance

Seumur hidup gua, banyak banget video game yang udah gua mainin, tapi ga semuanya tamat. Karena gua ga punya PS2, PS3, PS4, dan PS5, maka kebanyakan game yang pernah gua mainin ada di PS1 dan beberapa di PC atau laptop. Dari sekian banyaknya game yang gua mainkan, beberapa di antaranya bergenre RPG.

Gua memulai RPG dengan pokemon gold pake emulator di PC, final fantasy tactic, breath of fire IV, digimon world, sampai front mission di PS1. Semua game itu menemani masa kecil gua dan membentuk genre yang gua suka dalam bidang gaming.

Hampir 2 dekade berselang, gua akhirnya memiliki sebuah laptop dengan kemampuan gaming pertama gua, dan gua mulai ngelist game-game yang gua lewati dari PS2 sampai PS5 untuk gua beli dan gua mainkan. Dari sini, ketertarikan gua akan game bergenre RPG pun muncul kembali.

Beberapa hal yang gua sadari di saat ini ada limitasi yang terjadi saat gua bermain video game, entah kenapa di beberapa game yang pergerakannya terlalu cepat atau orientasi kamera yang cukup berbeda, itu ngebuat gua pusing dan mual. Padahal dulu waktu kecil dan remaja kayanya gapunya limitasi ini.

Lalu gua juga udah ga terlalu bisa main game dengan mekanik yang kompleks. Rasanya di belakang kepala bagian kiri kaya tegang mampus wkkwkw. Ternyata bener, pada umumnya ketika seseorang memiliki resources di usia dewasa, yang tidak dimiliki adalah fleksibilitas seperti anak kecil atau remaja.

Hal-hal tersebut yang akhirnya menghalangi gua buat main Hogwarts Legacy, karena entah kenapa kamera third-person dari Hogwarts Legacy tuh aneh gitu (pada ngerasa gitu ga si? Wkwkwk) dan bikin mual. Plus storynya juga ga begitu engaging buat gua. 20 jam yang gua investasikan di Hogwarts Legacy berakhir kandas dan akhirnya gua hapus dari laptop gua.

Berangkat dari pengalaman gua dan Hogwarts Legacy, gua pikir gua udah gabisa main game RPG lagi, apalagi yang open world. Tapi pemikiran itu pupus dengan segera setelah gua bertemu dengan Kingdom Come Deliverance.

Kingdom Come Deliverance (KCD) adalah sebuah game first person RPG open world dengan setting medival eropa tahun 1400-an. Game yang hampir ngebuat gua nyerah di beberapa jam pertama gameplay karena bikin pusing dan susah banget coy.

Kita akan bermain dengan memerankan sebuah karakter bernama Henry, anak dari pandai besi, yang hidup sebagai mana remaja pada umumnya, tidak memiliki keahlian apapun serta gemar mabuk-mabukan (dan onar juga wkwkkw). Henry tinggal di sebuah kerajaan bernama Skalitz. Kehidupannya berubah setelah sekelompok besar dari kerajaan lain menyerang dan menghancurkan Skalitz.

Dalam game ini aktivitas yang akan kita lakukan kebanyakan adalah berjalan-jalan, mengobrol, dan berpedang.

Game dengan kegiatan jalan-jalan dan mengobrol adalah game yang gua banget, mengingatkan gua pada game favorit gua lainnya yaitu Death Stranding. Game dengan tipe ini gua kira akan menyajikan mekanik yang simple. Ternyata susah mampus.

Player dituntut untuk banyak belajar terlebih dahulu sebelum berpedang lawan orang asing yang ketemu di jalan. Kalau di game-game pada umumnya kita akan dipertemukan dengan lawan yang setara seiring berjalannya cerita, di KCD engga cuy kwkwwkwk. Di 4 jam pertama udah berapa kali gua mati cuma gegara dicegat sama orang antah berantah yang ngalangin jalan, damn.

Kesulitan juga ga berhenti di berpedang. Ada memanah, mekanik mencuri, ngebuka brangkas, berkuda, dan menjaga citra dengan memberi jawaban-jawaban yang tepat saat berdialog bersama warga di KCD.

Bagian yang paling menarik adalah progress perkembangan karakter sampai hasil grinding dari seluruh misinya itu sangat rewarding. Pada akhirnya kita akan jago berpedang, menyelesaikan misi emosional, sampai menguasai mekanik stealth itu terasa sangat fulfil. Didukung oleh cutscenes serta dunia yang indah banget menjadikan KCD game yang dengan mudah membuat kita jatuh cinta dengan cerita Henry bersama koleganya.

KCD adalah sebuah game yang gua mulai dengan ekspektasi rendah, namun berakhir dengan menempati list game favorit gua.

Semoga lo yang membaca ini bisa menemukan game baru yang membuat lo terpukau, seperti gua yang telah menamatkan Kingdom Come Deliverance.

Monday, February 23, 2026

Tentang Sword Art Online

Ketika gua bekerja di Bandung, mungkin sekitar 2018 atau 2019, dan saat itu juga tidak memiliki laptop sebagai sumber kegiatan anak kosan, di era itu gua resmi menjadi wibu sejati. Jujur, gua harus mencari tau apa hal yang membuat gua menjadi seorang wibu karena di era itu gua bener-bener makan banyak anime yang direkomendasikan di mana pun lewat redmi 4X. Hape legend yang sangat berkesan dalam hidup gua.

Di antara banyaknya anime yang bisa gua tonton, entah kenapa saat itu gua bertemu dengan Sword Art Online. Sword Art Online atau SAO adalah sebuah anime tentang terperangkapnya begitu banyak orang dalam sebuah game pada saat kondisi kesadaran mereka full dive di dalam game tersebut. Full dive adalah sebuah kondisi secara sadar di mana kita terbangun dalam game bersama player-player lain secara online pada waktu yang sama. Karena terperangkap di dalam game tersebut, maka orang-orang yang terperangkap harus bertahan hidup. Jika mereka mati di dalam game, mereka juga akan mati di dunia nyata. Edan.

Anime dari SAO ditayangkan pada tahun 2009, dengan original story-nya yang dibuat oleh Reki Kawahara pada tahun 2002, secara ajaib bisa membayangkan masa depan di mana orang-orang bisa masuk ke dalam dunia game menurut gua bener-bener ga masuk akal.

SAO menjadi sebuah wave tersendiri yang akhirnya menciptakan banyak karya tentang bagaimana seseorang bisa masuk dalam dunia game di masa depan.

Serial SAO masih berlanjut sampai hari ini (panjang umur Reki-san) namun cerita tentang bagaimana Kirito, sebagai main character, yang merupakan seorang gamer RPG online-addict bisa menjadi titik sentral di mana cerita dapat terdorong maju sekalipun nyawa dia taruhannya. Bagaimana world building yang sangat mengingatkan gua pada game Ragnarok sampai kisah cintanya bersama Asuna menjadi petualangan yang gua harap gua bisa ngelupain semuanya untuk gua bisa rasain lagi rasanya pertama kali menyaksikan serial ini kembali.

Sekalipun, harus gua akui, SAO itu adalah cerita untuk demografi laki-laki. Karena di dalamnya banyak sekali fan service sampai cerita di mana satu laki-laki populer yang akhirnya selalu menggait banyak perempuan (istilah bahasa Jepang-nya harem). Namun SAO tetap spesial dengan kreativitas, imajinasi, sampai ke cerita pengorbanan yang sangat menyentuh hati.

Untuk gua, SAO adalah salah satu cerita terbaik yang pernah gua saksikan seumur hidup gua.

Dan dari SAO, gua mendapatkan keinginan untuk membuat cerita sendiri dengan tema yang sama.

Semoga, sebelum gua meninggal, gua bisa nulis satu buku tentang SAO versi gua sendiri.

Semoga bisa tercapai!

Friday, February 20, 2026

Teruntuk Kamu yang Benci dengan Generative AI

Untuk memulai artikel ini ke dalam berbagai perspektif. Saya akan memulainya dengan:

Saya benci AI

Saya benci sekali dengan AI

 

Kala itu di tahun 2024, saya baru memasuki kantor saya saat ini setelah berpindah kantor untuk pertama kalinya setelah 6 tahun bekerja. Saya mendapat tugas dari mentor saya untuk melakukan deep research tentang sebuah product yang nantinya akan saya tekuni semasa saya bekerja di kantor saya. Saya yang konvensional bertanya kepada mentor saya, saya bisa pelajari dari buku atau referensi apa? Beliau bilang, kamu coba gali pakai chatgpt saja.

Untuk saya, bahkan sampai hari ini, masih menganggap bahwa jika kita ingin mendalami suatu ilmu, maka kita harus banyak membaca sesuatu. Membaca buku-buku dari penulis yang berhasil mengkristalkan seluruh pemikiran semasa hidupnya ke dalam lembar-lembar kertas. Atau dari para ahli yang menuliskan hasil risetnya ke dalam belasan paper di perpustakaan atau internet. Namun zaman sudah mengharuskan saya untuk mencoba menggunakan apa yang orang sekarang bilang sebagai AI companion.

Kesan pertama saya ketika menggunakan chatgpt, jujur, sangat terkesan. Chatgpt bisa dengan cepat mencari jawaban dari berbagai sumber yang dirinya rangkum sendiri. Jika dahulu saat SMA dan kuliah saya harus bertarung mencari informasi dari buku dan google, saat ini semua hal dapat dijawab oleh chatgpt.

Dalam waktu singkat, trend AI berkembang menjadi generative AI. Tools AI seperti chatgpt kini bisa membuat gambar sampai bahkan video hanya dengan prompt dari pengguna. Sekali lagi, kala itu, saya begitu terkesan.

Tidak pernah terbayang bahwa perkembangan teknologi sudah sampai sejauh ini.

Namun, ternyata perkembangan ini saya rasa terlalu cepat.

Apa yang saat ini kita sebut sebagai AI sudah melesat, melebihi apa yang bahkan bisa kita kendalikan.

Keunggulan AI adalah produktivitas dan memory bank sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan yang kita butuhkan. Dan, seakan tidak ada aturan, AI menerabas etika-etika yang dijaga oleh manusia menjadi karya yang nampak megah namun nyatanya hanya repetisi.

Dalam 2 tahun terakhir, saya melihat begitu banyak sektor pekerjaan manusia yang mulai perlahan digantikan oleh AI. Sebagai gantinya, AI mengganti orang-orang tersebut dengan produktivitas dan efektivitas yang nampaknya baru bisa di-unlock bottle neck-nya.

Maaf saja, tapi orang-orang yang menggunakan generative AI adalah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan spesifik tersebut. Secara massif, mereka muncul ke social media dan menyombongkan hasil kreasi dari AI mereka masing-masing, yang menurut saya sangat menjijikan.

Mereka melupakan bahwa untuk membuat suatu karya, diperlukan proses. Entah itu proses berpikir, proses mengasah keahlian, atau bahkan proses menemukan rasa yang tepat untuk menciptakan sesuatu. Mereka yang menggunakan generative AI tidak menghargai proses tersebut dan dengan bangganya mempertunjukkan hasil AI yang memuakkan.

Seedance 2.0, sebuah terobosan generative AI dalam pembuatan video, baru saja diluncurkan dan hasilnya? Gila. Saya hanya seorang yang memiliki mimpi untuk menjadi film maker di masa depan, melihat seedance 2.0 benar-benar meremukkan hati saya.

Peradaban manusia akan memiliki sebuah generasi di mana generasi tersebut tidak akan sadar betapa sulitnya membuat film sebelum munculnya AI.

Tepat di saat saya membuat artikel ini, saya merasa agak gila karena saya membicarakan topik yang sangat dystopia. Sayangnya ancaman AI nampaknya tidak bisa terbendung.

Dalam perdebatan tentang produktivitas, mereka yang tidak memanfaatkan AI akan tertinggal dari perlombaan lari kapitalisme. Bagaimana cara manusia mencari uang akan sangat terdisrupsi di fase ini.

Peradaban manusia juga akan kehilangan generasi di mana bagi mereka yang tidak memiliki hard skill kreatif akan tergantikan oleh teknologi.

Teknologi terbukti bisa menggantikan hard skill yang repetitif, tapi kemampuan untuk membuat karya dari hati tidak akan bisa mereka copy.

Kehidupan Impian saya adalah slow living dan menikmati game-game juara yang ada di steam atau library game mana pun.

Namun dengan kehadiran AI yang jelas mengusik kehidupan impian saya, saya rasa saya harus terus beradaptasi. Untuk tetap hidup berkecukupan seraya tetap orisinil dan mengambangkan hard skill kreatif untuk bertahan hidup serta waras di masa depan yang nampaknya tidak begitu jauh dari sekarang.

Sunday, February 8, 2026

5 cm per second | In-Depth Review

Tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk kembali mengunjungi cerita 5 cm per second. Alasannya sederhana, karena film tersebut menghasilkan after taste yang sedih dan menyakitkan. Namun karena teman dekat saya mengajak saya untuk menemaninya menonton, saya akhirnya memiliki alasan untuk menyaksikan cerita itu kembali dalam format live action.

5 cm per second adalah sebuah franchise cerita yang diciptakan pertama kali dalam format anime karya Makoto Shinkai, yang beberapa tahun kemudian namanya menjadi sangat terkenal karena keberhasilan dari anime-movie berjudul Your Name. 5 cm per second bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Takaki yang bertemu dengan seorang perempuan bernama Akari di kelas yang sama, jenjang sekolah dasar.

Akari yang merupakan anak pindahan, kesulitan mencari teman dalam kelasnya. Secara kebetulan, Takaki mengajak Akari untuk berbicara terlebih dahulu dan menceritakan bahwa dirinya juga siswa yang selama ini terus berpindah tempat dikarenakan pekerjaan ayahnya. Kesamaan tersebut membuat Akari senang karena mendapatkan teman yang mengerti bagaimana tidak enaknya menjadi anak sekolah yang selalu berpindah.

Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, membicarakan banyak hal, sampai mereka secara tidak sadar mulai menyukai satu sama lain. Ketika keduanya mulai merasa nyaman dan senang karena selalu berkegiatan bersama, Akari terpaksa harus berpindah sekolah lagi karena ayahnya akan berpindah pekerjaan kembali.

Momen disaat Akari meminta maaf di telfon umum kepada Takaki, adalah saat di mana semua penonton akan merasakan sakit (wabilkuhsus saya) karena merasakan sesuatu yang berharga akan menghilang dari mereka berdua.

5 cm per second memiliki banyak dialog dan visualisasi yang memorable. Dimulai dari indahnya langit ungu bersama peluncuran roket ke antariksa, deburan ombak bersama buihnya yang memanjakan mata, sampai ke penampakan kereta yang menjadi anchor penting dari cerita Takaki dan Akari.

Terdapat gap  lebih dari10 tahun antara kali pertama dan kali kedua saya menonton 5 cm per second. Dan ajaibnya, saya mengingat dengan baik momen penting serta kejadian-kejadian yang akan terjadi di sepanjang film. Kecuali, di satu adegan. Yaitu, ketika Takaki menaiki kereta saat badai salju hebat untuk bertemu Akari di stasiun dekat rumahnya.

Di dalam kepala saya, saya berpikir bahwa Takaki dan Akari tidak akan bertemu karena takdir seakan-akan membuat mereka gagal bertemu. Tapi ternyata saya salah, Makoto Shinkai harus mendapatkan apresiasi sebesar-besarnya dalam penulisan plot yang satu ini.

Semua kenangan manis dan sedih dari cerita mereka berdua kembali saya terima dengan detail dan perspektif yang berbeda.

Saya ingat betul. Dulu, saya begitu membenci Akari karena dia dapat melupakan (atau tidak menepati) janji penting yang dibuat bersama Takaki.

Namun, begitu mengunjungi ceritanya kembali, saya mulai mengerti bahwa pilihan untuk beranjak dari believe setiap manusia dapat berganti.

Kontras antara Takaki yang tidak beranjak dan Akari yang beranjak membuat cerita ini dapat dilihat sebagai hal yang benar, sesuai dengan believe-nya masing-masing.

Sialnya, rasa sakit menyaksikan ending dari film ini tetap berdenyut saat saya menyaksikannya untuk kedua kali haha.

Namun, sedikitnya saya mengerti mengapa Makoto Shinkai membuat cerita ini tetap berakhir seperti itu. 

Karena, hal tersebut juga saya lakukan ketika bercerita dengan sepenuh hati. 

Friday, January 30, 2026

Berhenti Sejenak di Umur 30 Tahun

Di tengah kehuru-haraan dunia, kejutan dari pasar modal Indonesia, brewek koleksi kartu pokemon dan TCG one piece, gua juga mau ikut setoran hal di luar normal yang terjadi di Jumat pagi.

Kala itu jam 11 siang, gua izin untuk ambil jam makan lebih dulu karena gua lagi ngidam banget soto mie bogor di depan kantor. Kalo kata anak-anak kampus gua yang kerja di kantor, nama sotonya itu soto gajian, karena belinya habis gajian, ya semacam itu lah haha. Soto itu berada di seberang kantor gua, yang artinya gua harus menyebrang melintasi satu ruas Jalan Raden Saleh.

Kondisi jalanannya so so lah dengan kendaraan merayap ke arah Cikini (dari pertama gua masuk gua ga ngerti kenapa galiannya ga kelar-kelar tuh di sepanjang jalan TIM-Cikini itu wkwkwk) dan cenderung kosong ke arah Senen. Setelah menunggu 1 menit, gua punya kesempatan menyebrang dengan posisi satu mobil SUV krem dan motor yang berusaha menyalip SUV tersebut, keduanya sama-sama ngebut.

Mungkin karena gua nge-sense bahaya dari SUV krem dan motor ini, akhirnya sepanjang setengah jalan menuju sebrang, gua fokus ngasih tanda ke mereka kalo gua nyebrang.

Sesampainya di setengah jalan, gua liat kiri, ternyata dalam jarak 5 meter ada SUV item melaju ke arah gua nyebrang dengan kecepatan yang lebih tinggi dari SUV krem.

Rasanya deg banget.

Secara insting gua ga mungkin mundur karena SUV krem dan motor udah gak akan ngerem, gua percepat lah langkah gua untuk sampai di sebrang. Tapi ternyata, ada motor yang berusaha nyalip dari sebelah kiri SUV item.

Di titik itu, gua mendadak berhenti nyebrang.

Kadang gua suka berpikir ya, kalau gua akan meninggal dalam kondisi yang tenang, dikelilingi orang-orang tersayang. Tapi ternyata dalam kehidupan yang berjalan normal, kita bisa mati konyol karena hal yang engga kita tau tanpa mandang umur kita berapa.

Sebelum gua berteori kembali, kita kembali ke momen dimana gua berhenti kaget. Kejadian berikutnya adalah gua tersadar.

Gua lompat ke trotoar, SUV item ngerem mendadak, motor yang mau nyalip dari kiri, gecol dan hampir jatoh.

Dari samping jalan gua menundukkan kepala minta maaf dan semuanya berlalu kaya ga terjadi apa-apa.

Akhirnya gua makan soto mie bogor yang enak banget itu dengan hati riang haha.

Hari berlalu dengan biasa sampai akhirnya gua pulang naik motor dari Cikini ke Cimanggis. Di perjalanan panjang itu gua jadi berefleksi, di 1 hari menjelang genap 30 tahun gua hidup di dunia ini. Bareng bersama kalian pembaca tulisan ini.

Ada beberapa hal yang mau gua tinggalkan di blog ini karena kalo ga berusaha diingat, periode hidup 20 ke 30 tahun rasanya kaya sekejap mata banget gitu lho haha gua mau merangkumnya ke dalam beberapa sub-topik. Dan yang pertama adalah:

1.     Kesehatan

Jujur, gua sehat banget, gengs. So, don’t worry for even a piece of batagor wkwkwkwk

Di sepanjang satu tahun terakhir, sakit gua bisa diitung jari dan kebanyakan karena maag yang memang sedari dulu juga udah hadir. Ga diitung meler dan bersin-bersin karena itu udah gua terima dalam kehidupan gua (apalagi kalo kena dingin wkwkwk).

Paling yang sekarang berasa banget karena umur adalah upper back pain, mata yang kayanya minesnya udah harus ditolerir pake kacamata, rambut yang heavily rontok semenjak covid, ingatan yang nge-blur (tapi ini mah kayanya dari dulu sih wkwkwk) and… that’s all.

Gua bangga masih bisa mencatatkan lari 5 km dengan pace under 9 km/jam (sekalipun yang terakhir ngos-ngosan parah) dan gula darah normal. Paling berat badan aja yang sedikit demi sedikit naik tanpa rehat haha it’s all good tapi harus banget olah raganya meningkat di tahun-tahun kepala 3.

2.     Life Events

Di sepanjang kepala 2, itu adalah masa gua bekerja untuk pertama kali sampai hari ini. Ngerasain nge-kost jauh dari rumah karena kerja selama 6 tahun di Bandung sampai akhirnya bisa kerja di Jakarta. Dealing with loneliness, hard times, friendship after graduate from college, dan semua kejadian yang ada di antara waktu tersebut.

Di kepala 2, ada 2 hal yang sangat gua syukuri sampai hari ini. Hal tersebut adalah memulai podcast dan belajar mengelola uang, termasuk bersaham.

Podcast adalah hal yang ga gua duga kalau efeknya akan sebesar itu dalam kehidupan gua. Dimulai dari ngewujudin mimpi untuk siaran bareng Ojan, sampai siaran di Prambors bersama Eda. Chapter Prambors pun ngasih efek yang ga terduga lagi, dimana gua akhirnya punya temen-temen deket yang sangat hangat dan sangat gua pedulikan sampai hari ini.

Di kepala 2 juga akhirnya gua berhasil menulis dan mencetak buku orisinil sendiri dengan bantuan banyak orang dan rasanya… sangat emosional kalau diingat kembali. Surreal banget…

Dan… banyak lagi yang terjadi di masa-masa ini termasuk jalan-jalan pertama gua bersama JINTH ke luar kota yang menjadi salah satu kenangan terbaik gua semasa hidup.

Kepala 2 benar-benar menyenangkan.

3.     What Next

Semenjak gua kerja dan tinggal di Bandung, gua selalu merasa bahwa setiap harinya gua harus memanfaatkannya dengan baik. Gua merasa bahwa itu adalah cara kita menghargai hidup itu sendiri. Dan gua merasa menjalaninya dengan baik, tanpa penyesalan apapun.

30 tahun hidup adalah waktu yang lama. Dan gua bersyukur banget bisa dikasih kesempatan sama Allah untuk hidup selama ini.

Sekalipun hidup gaada yang tau, tapi anggaplah kepala 3 adalah masa puncak. Masa dimana gua harus menikmati resource dan potensi terbaik diri gua di masa ini. Masa dimana kesehatan dan materi sedang bisa dinikmati semaksimal-maksimalnya.

Seperti kata Raditya Dika, di kepala 4 akan muncul permasalahan kesehatan yang hadir bukan karena kita tidak menjaga diri kita. Tapi memang karena sel di badan kita sudah melambat metabolismenya.

Gua bertekad untuk menikmati dan gaining banyak hal di masa-masa terbaik gua ini. So, let’s start fase baru, era kepala 3 dari kita semua yang lahir di tahun 1996.

Terima kasih sudah membaca sampai sini!

Semoga kamu juga bisa selalu menikmati dan menambah pengalaman baru di waktu yang kita tidak tahu kapan akan berakhir ini.