Seiring
berjalannya waktu mereka berdua akhirnya mulai berbicara dalam ruang yang
sempit itu. Vindo bercerita banyak dari mulai ayahnya yang berpribadi tegas
sampai hewan peliharaannya yang ia sebut sugar glider, yang menurut Riman hewan
peliharaan Vindo lebih mirip seperti kukang. Gelak tawa mulai terdengar dari
bak mandi itu, suasana hangat pun mulai terasa dalam pembicaraan itu, mereka
berdua berbicara seperti layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tidak
berjumpa yang akhirnya bercerita tanpa kenal waktu. Saat Vindo sedang bercerita
tentang kukangnya itu, tiba-tiba ada kodok berekor sedang merayap di atas
sepatu Vindo, Riman dengan cepat bereaksi dan iseng mencongkel congkel
memainkan kodok itu menggunakan ranting yang berada tepat didepan sepatunya.
“Do liat do
ada kodok di sepatu elo tuh.” Setengah berbisik
“Oh iya
buangin man, pake apaan kek.”
“Iya ini lagi
gua usahain, gua usahain ni kodok loncat dari sepatu elo terus mendarat pas di
muka elo hahaha.” Jiwa iseng Riman tersulut dan menjalar ke sekujur tubuhnya
membuat kegilaannya perlahan muncul.
“Ah nge
apaansi geli bego, Man ah! Gua tampol lo!” Vindo menahan geli tawa yang muncul di
perutnya sekuat tenanga dan dia berusaha untuk mengeluarkan suara garangnya
yang ternyata tidak berhasil dan malah membuat gelak tawa diantara mereka
berdua semakin keras.
Suara tawa mereka
semakin lama semakin tidak manusiawi dan menimubulkan kegaduhan karena bak
mandi yang mereka gunakan untuk bersembunyi sangat sempit sedangkan tubuh
mereka terus berbenturan ke dinding bak mandi plastik itu. Lalu tanpa
sepengetahuan mereka ternyata Ibu Prapti, guru bidang kesiswaan telah selesai
berpatroli dalam rangka mencari siswa yang ingin kabur dari upacara bendera.
Dia ingin pergi ke kantin untuk beristirahat sejenak melepas penatnya. Ketika
berjalan ia melihat ada bak mandi sedang bergoyang-goyang di pojok sudut pagar
sekolah, awalnya ia mengira bak itu bergoyang karena kucing yang sedang mencari
makan, namun perkiraannya buyar ketika 1 tawa besar meledak dari suara dua
orang yang berbeda tepat dimana bak mandi itu bergoyang, seketika itu ibu
Prapti langsung berjalan menuju bak mandi tersebut. Saat ibu Prapti telah sampai
tepat di depan bak mandi itu dan ingin mengangkatnya, ia langsung mendengar
suara yang tidak lazim didengarnya dilingkungan sekolah yang biasanya hanya ia
dengar di saluran tv dewasa.
“Ah man ga
tahan gua! Geli man geliii!”
“Yah elah ini
kan kecil, masa elu ngeliatnya aja takut?”
Ga tahan?
Geli? Kecill?!! Karena mendengar hal itu Bu Prapti menjadi semakin penasaran
dengan percakapan yang sedang dibicarakan kedua lelaki ini di dalam bak mandi
yang sempit itu berdua. Ia menunda untuk mengangkat bak mandi tersebut dan
terus mendengarkan percakapan aneh ini.
“Coba elu
pegang dulu, ga lembek ko.” Dengan suara menggoda Riman membujuk Vindo untuk
memegang si kodok berekor sambil sedikit cekikikan. Sedangkan Bu Prapti semakin
penasaran dengan percakapan ini. Pegang? Ga lembek? Jangan jangan ... saya
harus segera mencegah ini semua sebelum terlambat, Pikir Bu Prapti cepat
“Gua coba yaa,
eh loncat!!!” dengan suara kaget Vindo melepas kodok itu. Si kodok berekor itu
loncat ke arah atap dari bak mandi tersebut. Saat kodok itu membentur atap bak
mandi tersebut, tiba-tiba bak mandi tersebut terangkat seakan-akan si kodok itu
mendorong bak tersebut ke atas hingga terangkat.
“Wuaahhhh!
Kodoknya maraaaaah!!” Riman setengah kaget setengah berteriak, ingin rasanya Vindo
tertawa terbahak-bahak karena melihat raut muka Riman yang syok dan karena
melihat kejadian kodok berekor super ini yang dengan perkasanya mengangkat bak
mandi secara heroik, namun rasa itu segera lenyap ketika bak mandi itu
terangkat sepenuhnya dan muncul sesosok ibu-ibu berumur 40 tahunan yang sedang melihat
ke arah mereka berdua dengan tatapan jijik sambil berkata dengan suara lantang
“Ibu memang mengakui adanya Gay di dunia ini, tapi kenapa kalian harus
melakukan perbuatan itu di dalam bak mandi yang sempit itu?!” dengan muka datar
mereka berdua memandang Bu Prapti, setelah 5 detik terbengong-bengong entah
karena syok atau takut karena persembunyiannya terbongkar oleh Ibu Prapti, mereka
bertatapan kembali satu sama lain dan tawa mereka seketika meledak, tak terbendung
lagi kebahagiaan mereka kali ini. Mereka kehabisan kata-kata karena peristiwa
ini dan terus tertawa dengan puasnya.
“Kenapa kalian
berdua malah tertawa? Sekarang ikut ibu ke ruang BK, SEKARANG!!” perintah bu
Prapti yang masih dalam kebingungannya dengan apa yang dilihat dan didengarnya
barusan, dia langsung berjalan kearah kantornya tanpa menghiraukan kedua
manusia yang dikiranya gay itu. Sesaat tawa mereka mereda dan Vindo pun
bertanya untuk memcahkan keheningan diantara mereka berdua.
“Kira-kira
apaya alasan kita buat masalah kali ini?”
“Apa ajalah,
yang pasti gua gamau divonis jadi gay cuman gara-gara nyaksiin kodok berekor
super beraksi ngangkat bak mandi yang ternyata bu Prapti’”
“Maksut elo Bu
Prapti Jelmaan kodoknya?“ seketika mereka berdua kembali bertatapan, lalu tawa
itu pun kembali meledak memecah hening kedamaian senin pagi nan sakral itu.
Lamunan itu
berhasil membuat sebesit senyuman di bibir Vindo. Sekarang dia telah menarik kata-katanya, ternyata masuk ke
dunia orang gawaras lumayan asik juga pikirnya. Seketika ia terhanyut kedalam
kenangannya, seketika itu pula ia menghawatirkan sahabatnya yang ia yakini akan
mendapat masalah karena perbuatannya kali ini. Vindo menghela nafas dan segera
berdoa, berharap agar Riman tidak terkena masalah dengan segala sesuatu yang
berhubungan dengan kodok berekor ataupun segala sesuatu tetntang gay.
No comments:
Post a Comment