Friday, May 31, 2013

Gelap Mata - Kepingan 3



Seiring berjalannya waktu mereka berdua akhirnya mulai berbicara dalam ruang yang sempit itu. Vindo bercerita banyak dari mulai ayahnya yang berpribadi tegas sampai hewan peliharaannya yang ia sebut sugar glider, yang menurut Riman hewan peliharaan Vindo lebih mirip seperti kukang. Gelak tawa mulai terdengar dari bak mandi itu, suasana hangat pun mulai terasa dalam pembicaraan itu, mereka berdua berbicara seperti layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa yang akhirnya bercerita tanpa kenal waktu. Saat Vindo sedang bercerita tentang kukangnya itu, tiba-tiba ada kodok berekor sedang merayap di atas sepatu Vindo, Riman dengan cepat bereaksi dan iseng mencongkel congkel memainkan kodok itu menggunakan ranting yang berada tepat didepan sepatunya.
“Do liat do ada kodok di sepatu elo tuh.” Setengah berbisik
“Oh iya buangin man, pake apaan kek.”
“Iya ini lagi gua usahain, gua usahain ni kodok loncat dari sepatu elo terus mendarat pas di muka elo hahaha.” Jiwa iseng Riman tersulut dan menjalar ke sekujur tubuhnya membuat kegilaannya perlahan muncul.
“Ah nge apaansi geli bego, Man ah! Gua tampol lo!” Vindo menahan geli tawa yang muncul di perutnya sekuat tenanga dan dia berusaha untuk mengeluarkan suara garangnya yang ternyata tidak berhasil dan malah membuat gelak tawa diantara mereka berdua semakin keras.

Suara tawa mereka semakin lama semakin tidak manusiawi dan menimubulkan kegaduhan karena bak mandi yang mereka gunakan untuk bersembunyi sangat sempit sedangkan tubuh mereka terus berbenturan ke dinding bak mandi plastik itu. Lalu tanpa sepengetahuan mereka ternyata Ibu Prapti, guru bidang kesiswaan telah selesai berpatroli dalam rangka mencari siswa yang ingin kabur dari upacara bendera. Dia ingin pergi ke kantin untuk beristirahat sejenak melepas penatnya. Ketika berjalan ia melihat ada bak mandi sedang bergoyang-goyang di pojok sudut pagar sekolah, awalnya ia mengira bak itu bergoyang karena kucing yang sedang mencari makan, namun perkiraannya buyar ketika 1 tawa besar meledak dari suara dua orang yang berbeda tepat dimana bak mandi itu bergoyang, seketika itu ibu Prapti langsung berjalan menuju bak mandi tersebut. Saat ibu Prapti telah sampai tepat di depan bak mandi itu dan ingin mengangkatnya, ia langsung mendengar suara yang tidak lazim didengarnya dilingkungan sekolah yang biasanya hanya ia dengar di saluran tv dewasa.
“Ah man ga tahan gua! Geli man geliii!”
“Yah elah ini kan kecil, masa elu ngeliatnya aja takut?”
Ga tahan? Geli? Kecill?!! Karena mendengar hal itu Bu Prapti menjadi semakin penasaran dengan percakapan yang sedang dibicarakan kedua lelaki ini di dalam bak mandi yang sempit itu berdua. Ia menunda untuk mengangkat bak mandi tersebut dan terus mendengarkan percakapan aneh ini.
“Coba elu pegang dulu, ga lembek ko.” Dengan suara menggoda Riman membujuk Vindo untuk memegang si kodok berekor sambil sedikit cekikikan. Sedangkan Bu Prapti semakin penasaran dengan percakapan ini. Pegang? Ga lembek? Jangan jangan ... saya harus segera mencegah ini semua sebelum terlambat, Pikir Bu Prapti cepat
“Gua coba yaa, eh loncat!!!” dengan suara kaget Vindo melepas kodok itu. Si kodok berekor itu loncat ke arah atap dari bak mandi tersebut. Saat kodok itu membentur atap bak mandi tersebut, tiba-tiba bak mandi tersebut terangkat seakan-akan si kodok itu mendorong bak tersebut ke atas hingga terangkat.
“Wuaahhhh! Kodoknya maraaaaah!!” Riman setengah kaget setengah berteriak, ingin rasanya Vindo tertawa terbahak-bahak karena melihat raut muka Riman yang syok dan karena melihat kejadian kodok berekor super ini yang dengan perkasanya mengangkat bak mandi secara heroik, namun rasa itu segera lenyap ketika bak mandi itu terangkat sepenuhnya dan muncul sesosok ibu-ibu berumur 40 tahunan yang sedang melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan jijik sambil berkata dengan suara lantang “Ibu memang mengakui adanya Gay di dunia ini, tapi kenapa kalian harus melakukan perbuatan itu di dalam bak mandi yang sempit itu?!” dengan muka datar mereka berdua memandang Bu Prapti, setelah 5 detik terbengong-bengong entah karena syok atau takut karena persembunyiannya terbongkar oleh Ibu Prapti, mereka bertatapan kembali satu sama lain dan tawa mereka seketika meledak, tak terbendung lagi kebahagiaan mereka kali ini. Mereka kehabisan kata-kata karena peristiwa ini dan terus tertawa dengan puasnya.
“Kenapa kalian berdua malah tertawa? Sekarang ikut ibu ke ruang BK, SEKARANG!!” perintah bu Prapti yang masih dalam kebingungannya dengan apa yang dilihat dan didengarnya barusan, dia langsung berjalan kearah kantornya tanpa menghiraukan kedua manusia yang dikiranya gay itu. Sesaat tawa mereka mereda dan Vindo pun bertanya untuk memcahkan keheningan diantara mereka berdua.
“Kira-kira apaya alasan kita buat masalah kali ini?”
“Apa ajalah, yang pasti gua gamau divonis jadi gay cuman gara-gara nyaksiin kodok berekor super beraksi ngangkat bak mandi yang ternyata bu Prapti’”
“Maksut elo Bu Prapti Jelmaan kodoknya?“ seketika mereka berdua kembali bertatapan, lalu tawa itu pun kembali meledak memecah hening kedamaian senin pagi nan sakral itu.

Lamunan itu berhasil membuat sebesit senyuman di bibir Vindo. Sekarang dia  telah menarik kata-katanya, ternyata masuk ke dunia orang gawaras lumayan asik juga pikirnya. Seketika ia terhanyut kedalam kenangannya, seketika itu pula ia menghawatirkan sahabatnya yang ia yakini akan mendapat masalah karena perbuatannya kali ini. Vindo menghela nafas dan segera berdoa, berharap agar Riman tidak terkena masalah dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kodok berekor ataupun segala sesuatu tetntang gay.

No comments:

Post a Comment