Sunday, August 18, 2013

Mimpi

Layaknya pelangi yang selalu indah setelah hujan
ombak yang selalu ingin bertemu pasir
bintang yang selalu menunggu malam untuk bersinar
Dan sang pemimpi yang selalu percaya kepada mimpinya

Ya sang pemimpi kini siap untuk bermimpi kembali

(Riman Diantasena, 19 Agustus 2013)

Saturday, June 29, 2013

Gelap Mata - Kepingan 4



Riman, 7 lewat 30, Sekolah.
          Ia hafal benar dengan rute ini, rute yang telah menjadi lingkungan barunya dan menyatu dengan pikirannya. Riman kembali mengingat tempat dimana ia berpisah dengan Maman, orang yang dikhawatirkannya saat ini. Setengah jam yang lalu,  Vindo, Riman, dan Maman telah berpisah dengan rombongannya untuk mencari tempat persembunyiaan yang berbeda dengan peserta cabut kali ini. Ketika mereka bertiga sedang berlari mencari tempat untuk bersantai, Maman tiba-tiba menghentikan langkahnya dan ia segera merogoh kantung celananya, mencari-cari barang yang mungkin memang seharusnya memang berada disana.
“Men ada apaan? Ayo buruan ntar keburu kegep sama si Prapti!” Seru Riman yang nampaknya sudah mulai kelelahan setelah mereka tidak mendapatkan tempat persembunyiaan di lantai 1 lalu mereka melanjutkan pencarian ke lantai 2 yang menjadi tempat mereka berpijak sekarang.
“Bentar Man, gua lupa naro kunci motor gua, ngeri ilang gua. Gua cari ke kelas dulu ya bentar.” Jawab Maman santai
“Yah elah itu mah gampang paling ada di tas elo! Udah kita cabut aja, nyarinya ntar.” Seru Vindo
“Yaudah elu berdua duluan aja nanti gua nyusul, kita mau ketemuan dimana?
“Di balkon surga gimana?” Tanpa pikir panjang Riman langsung memberi usul kepada sahabatnya itu, sepertinya ia memang telah hafal benar dengan kejadian yang seperti ini.
“Oke, sampe ga dateng teraktir gua Kuku Bima ye?” Sambil tersenyum, Riman mengangkat tangannya ke depan badan Maman. Dibalas dengan senyum yang tidak kalah cerahnya, Maman segera menjabat tangan Riman.
“Sip KuBim!” Jawab Maman yakin. Mata dibalas mata, jabat tangan dibalas jabat tangan, janji dibalas segelas Kuku Bima, suatu kesepakatan yang masuk akal. Riman memang telah mempercayai Maman sebagai sahabat yang dapat memegang teguh janjinya, jika Maman telah menjanjikan A kepada Riman, maka A-lah yang akan didapatnya. Tak terasa jabat tangan itu telah berlangsung selama 5 detik, Vindo pun kembali ngedumel “Ayolah ngee, Kubim mah ntar gua yang beliin, udahan ngapa mesra-mesraannya, kita dikejar waktu ni.” Setalah mendengar ocehan Vindo, Riman langsung melepas jabat tangannya yang erat itu namun senyumnya tak kunjung lepas dari bibirnya.
“Gua cabut bentar ya, sampe ketemu sob.” Maman yang juga telah melepas jabat tangannya langsung berlari ke arah tangga terdekat untuk menuju ke kelasnya yang berada di lantai 1. “Balkon! Surga! Kubiiiiimmm!!” teriak Riman yang dibalas dengan tawa Maman yang telah menuruni tangga.
“Yes sekarang gua ga perlu nonton Sinetron kalo mau ngeliat drama maho, ayo ah cabut feeling gua udah ga enak ni.” Vindo langsung berlari menuju tangga yang mengarah ke lantai 3. Riman perlahan pun mulai bergerak dari posisi patungnya mengikuti Vindo dengan senyumnya yang masih belum pudar karena daya magis kata ajaib itu. Vindo hanya menggeleng-geleng merespon kelakuan kedua temannya itu sambil bergumam sendiri “Ya Tuhan mengapa engkau berikan aku teman-teman yang seperti ini Ya Tuhan.” 15 menit telah berlangsung sejak kejadian itu, dan sekarang Riman tengah berdiri di koridor lantai 3 yang kelihatannya masih menunggu kabar dari sahabatnya yang hilang itu. Riman yang telah kehabisan kesabaran, langsung menyisir seluruh wilayah yang ada di lantai 3 untuk mencari setitik berita tentang keberadaan sahabatnya itu namun hasilnya, nihil. Tanpa berfikir panjang Riman segera menuruni tangga yang berada di sebelah timur sekolah untuk mencapai lantai 2. Riman memilih tangga itu karena tangga di sebelah barat berhadapan langsung dengan lapangan dimana siswa dan guru sedang melaksanakan upacara, maka dari itu tangga sebelah timur memang relatif lebih aman untuk dipakai mengendap-ngendap.
“Untuk amanat, istirahat di tempaaaat geraaak!” perintah pemimpin upacara kepada seluruh siswa yang berada di lapangan seluas 2 kali lapangan bola basket itu. Ketika perintah itu terdengar, Riman baru menapakan kakinya di ubin lantai 2. Riman harus berhati-hati dalam melangkah dan pastinya ia harus berjalan sambil menunduk agar ia tidak mengundang perhatian kepada guru-guru BP yang mungkin sedang beristirahat dilantai 1 setelah melakukan razia siswa yang kabur dari upacara. Keringat Riman satu persatu mulai turun dari keningnya yang semakin lama semakin deras, bagaimana tidak lelah, ia harus mencari temannya ke setiap kelas dan setiap daerah yang mungkin dijadikan tempat persembunyian oleh sahabatnya dengan cara jalan jongkok. Namun jalan jongkok bukan penghalang bagi Riman untuk terus melanjutkan perjuangannya dalam mencari temannya. Setelah menyisir sisi utara sekolah di lantai 2, Riman memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamar mandi khusus siswa wanita yang berada di sisi barat laut sekolah. Nampaknya tekad saja memang tidak cukup untuk melanjutkan misi gila ini, otot memang memiliki batas kemampuannya tersendiri.
“Kepada anak-anaku tercinta, janganlah diantara kalian semua berani melanggar peraturan sekolah, karena . . .” Suara laki-laki paruh baya itu terdengar seantero wilayah sekolah radius 500 meter dari tempatnya berbicara. Dengan nafas yang terengah-engah mau tidak mau Riman mendengarkan ceramah itu meskipun sebenarnya ia sangat benci dengan suara pria itu. Namanya Trisno, dia menjabat sebagai ketua di bidang kesiswaan. Ia terkenal karena kumisnya yang seperti pak raden namun berperawakan seperti pak ogah. Mukanya datar, bibirnya tidak didesain untuk tersenyum melainkan untuk mencari kesempurnaan dalam setiap rencananya yang terkenal sangat disiplin. Ia sangat tegas  dalam menegakan peraturan yang telah ditetapkan sekolah. Tidak ada satu murid pun yang bisa lepas dari segala peraturan yang telah ia buat. Siswa terakhir yang mencoba melanggar bernama Adit, rambut di kepalanya habis sebelah bagian saja tercukur zig-zag dan itupun kejadian 6 bulan yang lalu saat ia sedang salim kepada pak Trisno dan pak Trisno mendapati bahwa rambut Adit melewati kupingnya sepanjang 1 senti, Rambut Adit pun langsung dieksekusi di tempat.
Dia adalah musuh utama Bocah Jeruji, terlebih Riman. Setiap kasus yang didalangi oleh Riman, ia pasti selalu menjadi yang terdepan dalam mengambil alih kasus Riman. Riman pernah ditantang untuk membersihkan toilet laki-laki yang sangat kotor dan berbau sangat menyengat, dengan ancaman jika dia tidak mengerjakan tantangannya itu, dia tidak akan diizinkan untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar selama 3 bulan. Kontan dengan penuh rasa kesal ia melakukan pekerjaan itu dengan terpaksa. Ketika Riman sedang mengelap kloset kamar mandi itu, si pria sinis itu pun menghampirinya dan berkata “Ternyata siswa paling berpengaruh di sekolah ini akhirnya tunduk juga kepada saya.” Dengan senyumnya yang secara tersirat menggambarkan kemenangan telak itu, Riman menyimpan rasa pilu di dalam hatinya. Rasa pilu karena merasa harga dirinya telah terinjak oleh sesama manusia yang derajatnya sama di mata Tuhan. Sejak saat itu Riman menjadi lebih berani menentang kebijakan Pak Kumis, menanti saat yang tepat dimana ia bisa membalas rasa pilu yang selalu ia pendam itu.
“. . . Maka dari itu bagi setiap pelanggar peraturan di sekolah ini akan mendapat sanksi tegas, secara langsung!” Suaranya semakin meninggi seiring semakin meningginya posisi matahari. Tenaga Riman telah terisi dan kini ia siap untuk melanjutkan aksinya. Ketika ia tengah berdiri, kantung celananya bergetar. Diambilnya sebuah BlackBerry Javelin yang sudah banyak goresan di sisinya maupun dilayarnya. Nampak ada sebuah notif baru dari BBMnya, langsung saja ia buka notif tersebut dan nampak sebuah pesan dari sahabatnya, secercah harapan muncul dari misi gilanya kali ini.

Monday, June 3, 2013

From Someone, to 99

Buat semua warga Plavient, tolong forward sms ini ke semua warga Plavient yang ada di kontak kalian, mau itu lewat bbm, line, sms, watsap, twiter, fb boleh, gausah takut pesan/smsnya bakal balik ke orang yang sama, tunjukin rasa bangga kita menjadi bagian dari angkatan ke 25


Ganti dp kalian, ganti pm kalian biar semua warga Plavient tau,

Biar semua warga Plavient ngerasain rasa bangga ini,


 Rasa bangga dimana bisa bersama kalian, berjuang bersama kalian selama 3 tahun, ini semua akan kita kenang kawan

 

Ingat hari rabu sepulang sekolah kita luapin semua di lapangan, terima kasih Plavient, salam 25


(From TextMessage, 19:56 pm)

Friday, May 31, 2013

Gelap Mata - Kepingan 3



Seiring berjalannya waktu mereka berdua akhirnya mulai berbicara dalam ruang yang sempit itu. Vindo bercerita banyak dari mulai ayahnya yang berpribadi tegas sampai hewan peliharaannya yang ia sebut sugar glider, yang menurut Riman hewan peliharaan Vindo lebih mirip seperti kukang. Gelak tawa mulai terdengar dari bak mandi itu, suasana hangat pun mulai terasa dalam pembicaraan itu, mereka berdua berbicara seperti layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa yang akhirnya bercerita tanpa kenal waktu. Saat Vindo sedang bercerita tentang kukangnya itu, tiba-tiba ada kodok berekor sedang merayap di atas sepatu Vindo, Riman dengan cepat bereaksi dan iseng mencongkel congkel memainkan kodok itu menggunakan ranting yang berada tepat didepan sepatunya.
“Do liat do ada kodok di sepatu elo tuh.” Setengah berbisik
“Oh iya buangin man, pake apaan kek.”
“Iya ini lagi gua usahain, gua usahain ni kodok loncat dari sepatu elo terus mendarat pas di muka elo hahaha.” Jiwa iseng Riman tersulut dan menjalar ke sekujur tubuhnya membuat kegilaannya perlahan muncul.
“Ah nge apaansi geli bego, Man ah! Gua tampol lo!” Vindo menahan geli tawa yang muncul di perutnya sekuat tenanga dan dia berusaha untuk mengeluarkan suara garangnya yang ternyata tidak berhasil dan malah membuat gelak tawa diantara mereka berdua semakin keras.

Suara tawa mereka semakin lama semakin tidak manusiawi dan menimubulkan kegaduhan karena bak mandi yang mereka gunakan untuk bersembunyi sangat sempit sedangkan tubuh mereka terus berbenturan ke dinding bak mandi plastik itu. Lalu tanpa sepengetahuan mereka ternyata Ibu Prapti, guru bidang kesiswaan telah selesai berpatroli dalam rangka mencari siswa yang ingin kabur dari upacara bendera. Dia ingin pergi ke kantin untuk beristirahat sejenak melepas penatnya. Ketika berjalan ia melihat ada bak mandi sedang bergoyang-goyang di pojok sudut pagar sekolah, awalnya ia mengira bak itu bergoyang karena kucing yang sedang mencari makan, namun perkiraannya buyar ketika 1 tawa besar meledak dari suara dua orang yang berbeda tepat dimana bak mandi itu bergoyang, seketika itu ibu Prapti langsung berjalan menuju bak mandi tersebut. Saat ibu Prapti telah sampai tepat di depan bak mandi itu dan ingin mengangkatnya, ia langsung mendengar suara yang tidak lazim didengarnya dilingkungan sekolah yang biasanya hanya ia dengar di saluran tv dewasa.
“Ah man ga tahan gua! Geli man geliii!”
“Yah elah ini kan kecil, masa elu ngeliatnya aja takut?”
Ga tahan? Geli? Kecill?!! Karena mendengar hal itu Bu Prapti menjadi semakin penasaran dengan percakapan yang sedang dibicarakan kedua lelaki ini di dalam bak mandi yang sempit itu berdua. Ia menunda untuk mengangkat bak mandi tersebut dan terus mendengarkan percakapan aneh ini.
“Coba elu pegang dulu, ga lembek ko.” Dengan suara menggoda Riman membujuk Vindo untuk memegang si kodok berekor sambil sedikit cekikikan. Sedangkan Bu Prapti semakin penasaran dengan percakapan ini. Pegang? Ga lembek? Jangan jangan ... saya harus segera mencegah ini semua sebelum terlambat, Pikir Bu Prapti cepat
“Gua coba yaa, eh loncat!!!” dengan suara kaget Vindo melepas kodok itu. Si kodok berekor itu loncat ke arah atap dari bak mandi tersebut. Saat kodok itu membentur atap bak mandi tersebut, tiba-tiba bak mandi tersebut terangkat seakan-akan si kodok itu mendorong bak tersebut ke atas hingga terangkat.
“Wuaahhhh! Kodoknya maraaaaah!!” Riman setengah kaget setengah berteriak, ingin rasanya Vindo tertawa terbahak-bahak karena melihat raut muka Riman yang syok dan karena melihat kejadian kodok berekor super ini yang dengan perkasanya mengangkat bak mandi secara heroik, namun rasa itu segera lenyap ketika bak mandi itu terangkat sepenuhnya dan muncul sesosok ibu-ibu berumur 40 tahunan yang sedang melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan jijik sambil berkata dengan suara lantang “Ibu memang mengakui adanya Gay di dunia ini, tapi kenapa kalian harus melakukan perbuatan itu di dalam bak mandi yang sempit itu?!” dengan muka datar mereka berdua memandang Bu Prapti, setelah 5 detik terbengong-bengong entah karena syok atau takut karena persembunyiannya terbongkar oleh Ibu Prapti, mereka bertatapan kembali satu sama lain dan tawa mereka seketika meledak, tak terbendung lagi kebahagiaan mereka kali ini. Mereka kehabisan kata-kata karena peristiwa ini dan terus tertawa dengan puasnya.
“Kenapa kalian berdua malah tertawa? Sekarang ikut ibu ke ruang BK, SEKARANG!!” perintah bu Prapti yang masih dalam kebingungannya dengan apa yang dilihat dan didengarnya barusan, dia langsung berjalan kearah kantornya tanpa menghiraukan kedua manusia yang dikiranya gay itu. Sesaat tawa mereka mereda dan Vindo pun bertanya untuk memcahkan keheningan diantara mereka berdua.
“Kira-kira apaya alasan kita buat masalah kali ini?”
“Apa ajalah, yang pasti gua gamau divonis jadi gay cuman gara-gara nyaksiin kodok berekor super beraksi ngangkat bak mandi yang ternyata bu Prapti’”
“Maksut elo Bu Prapti Jelmaan kodoknya?“ seketika mereka berdua kembali bertatapan, lalu tawa itu pun kembali meledak memecah hening kedamaian senin pagi nan sakral itu.

Lamunan itu berhasil membuat sebesit senyuman di bibir Vindo. Sekarang dia  telah menarik kata-katanya, ternyata masuk ke dunia orang gawaras lumayan asik juga pikirnya. Seketika ia terhanyut kedalam kenangannya, seketika itu pula ia menghawatirkan sahabatnya yang ia yakini akan mendapat masalah karena perbuatannya kali ini. Vindo menghela nafas dan segera berdoa, berharap agar Riman tidak terkena masalah dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kodok berekor ataupun segala sesuatu tetntang gay.

Gelap Mata - Kepingan 2



Hari itu Riman dan Vindo terpisah dengan anggota bocah jeruji yang lain, dan membuat mereka berdua harus mencari tempat persembunyian mereka sendiri untuk menyelamatkan mereka dari upacara senin pagi. Setelah berlari-lari kesana kemari, mereka masih belum mendapatkan tempat persembunyian di dalam gedung sekolah mereka berdua terus berlari dan mencari tempat dimana mereka berdua bisa bersantai. Langkah mereka akhirnya membawa mereka ke depan gerbang sekolah yang sudah sepi dari guru, murid dan staff yang telah menuju lapangan sejak 15 menit yang lalu. Mereka berdua berhenti dan langsung mengecek gerbang sekolah yang ternyata telah digembok.
“Man gimana ni? Kita gabisa cabut, gerbangnya udah digembok. Ahhh matilah kita pagi ini.” Pungkas Vindo kelelahan, hampir menyerah.
Raut muka Riman nampak serius, otak gilanya harus kembali digunakan agar mereka berdua bisa lolos dari serangan guru BP. Dengan gelisah Riman mencari jalan keluar yang mungkin bisa ia pakai disekitar gerbang sekolah itu. Pandangannya terus mencari celah dan akhirnya matanya terhenti kepada bak mandi yang sangat sempit yang berada di pojokan lahan parkir di sudut pagar pembatas wilayah sekolah. Ia langsung berlari ke arah bak mandi itu dengan riang gembira, rasanya seperti menemukan mata air di tengah gurun pasir, tertawa cekikan dengan tangan melambai-lambai tak karuan, sungguh kebahagiaan yang tidak terelakan.
“Man elo mau kemana? Tungguin man!” sahut Vindo mengejar Riman.
Setelah sampai disisi Riman Vindo melihat seonggok bak mandi kecil kotor yang terbuat dari plastik dan banyak kotoran yang menempel pada setiap sisinya.
“Jangan bilang kita berdua bakal masuk kesini?”
“Lebih tepatnya ngumpet di bawah bak mandi ini, daripada disuruh berdiri 1 jam gua lebih milih buat jongkok di bawah naungan bak mandi ini.” Pungkas Riman dengan seberkas senyuman kemenangan.
Tanpa memedulikan komentar Vindo, Riman langsung jongkok dan menutupi dirinya dengan bak mandi itu. Dengan sedikit rasa kesal Vindo ikut masuk ke dalam bak mandi itu juga dan langsung berkata “Kalo senin depan gua cabut, bakal dipastiin gua ga akan mau cabut sama orang yang otaknya miring kaya elo lagi!” mendengar pernyataan temannya, Riman hanya tertawa melihat raut muka temannya yang secara tersirat mengatakan, Sampe elo ngomong lagi gua hantem lo!


Selamat datang di dunia gua do, dunia dimana logika ga pernah sejalan sama kenyataan


“Yes, sekarang gua secara resmi masuk ke dunia orang ga waras.”

Gelap Mata - Kepingan 1



Tidak ada yang spesial di pagi hari itu, sama seperti hari-hari senin yang lainnya. Riman dan teman-temannya juga seperti biasa menjalani ritual yang selalu mereka lakukan setiap senin pagi, yaitu bersembunyi saat upacara bendera sedang berlangsung. Mereka adalah sekumpulan siswa yang tidak betah untuk disuruh berpanas-panasan berdiri dengan badan tegap dengan pandangan lurus kedepan selama kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 1 jam, maka dari itu mereka memutuskan untuk mencari tempat persembunyian yang tidak diketahui guru-guru agar mereka bisa bersantai di suatu tempat selagi siswa yang lain berpanas-panasan di lapangan. Namun tidak jarang juga salah satu dari mereka atau bahkan mereka semua tertangkap saat sedang menjalankan ritual pagi itu dan memaksa mereka untuk berurusan langsung dengan guru BP.
Mereka biasa menyebut diri mereka bocah jeruji. Nama yang aneh memang namun pengambilan nama itu memiliki alasan yang masuk akal. Mereka selalu keluar masuk ruang BP persis seperti napi yang sering keluar masuk dari jerujinya. Mereka sudah terbiasa dalam menghadapi guru BP. Walaupun nama mereka abadi di buku merah (catatan untuk siswa yang terkena hukuman), mereka selalu menghadapi semua masalah bersama-sama selama kurang lebih hampir 1 tahun pelajaran. Mereka semua belajar untuk menjaga satu sama lain dan berusaha untuk keluar dari suatu masalah secara bersama-sama. Tetapi aktor dibalik keselamatan mereka dari semua masalah yang telah mereka lakukan adalah Riman, seorang idiot yang otaknya tidak pernah kehabisan dengan ide-ide gila yang selalu membuat mereka terjun ke pengalaman yang tidak bisa dibayar dengan koleksi guci eyang subur sekalipun. Riman tidak pernah meninggalkan teman-temannya di belakang, dia selalu bersedia melakukan apapun agar orang terdekatnya tidak terkena masalah, malah seringkali dia bersedia merelakan dirinya untuk menjadi tumbal hukuman dengan syarat melepaskan teman-temannya semua.
Di luar jendela kelas XH itu yang biasa disebut Riman sebagai balkon surga, adalah tempat favorit Riman yang biasanya ia gunakan untuk bersantai dan cabut saat pelajaran sedang berlangsung. Disitulah tempat dimana Vindo sekarang berpijak menikmati sunyinya senin pagi. Badan Vindo perlahan turun, otot di seluruh tubuhnya memaksanya untuk bersantai setelah berlari-lari mencari tempat untuk bersembunyi. Dalam posisi duduk, Vindo teringat akan kenangannya bersama Riman dulu. Kejadian itu adalah kali pertamanya Vindo dan Riman cabut upacara berdua dan itu adalah kali pertamanya Vindo mengenal orang super aneh dan tidak waras seperti Riman.

Sunday, May 19, 2013

Dewi "dee" Lestari, Hanung Bramantyo, dan "Gelap Mata"

                Novel berseri ini sebenernya muncul begitu aja karena 2 hal,yang pertama adalah saat saya membaca novel karya Dewi “dee” Lestari berjudul Perahu Kertas dan yang kedua adalah ketika saya terbius selama 107 menit dengan daya magis visual yang dibuat oleh Hanung Bramantyo di filmnya, Catatan Akhir Sekolah.

Dewi Lestari meracik setiap kata-kata yang ia sajikan di setiap novelnya dengan cirinya yang khas, permainan kata-kata yang apik namun mudah untuk dipahami dan dimengerti oleh kaum remaja yang notabennya kurang berminat dalam membaca sebuah karya seni sastra. Terutama di novel Perahu Kertas, Dewi Lestari mengangkat sebuah kisah yang sebenarnya sudah biasa/sering didengar atau dibaca oleh masyarakat di Indonesia, namun “Dee” selalu bisa melihat detil penting di balik sebuah ide yang standar dan menjadikan karya yang ia buat menjadi lebih menarik dan selalu membuat penasaran pembaca hingga akhir kata yang telah ia buat.

Apakah anda pernah mendengar nama Hanung Bramantyo? Mungkin namanya masih agak terdengar asing bagi sebagian masyarakat Indonesia. Namun apakah anda pernah menonton film “ayat-ayat cinta” yang menjadi box office perfilman di Indonesia pada tahun 2008 itu? Pernahkah anda menonton film “Get Married” yang menjadi film Indonesia terlaris kedua pada tahun 2007 dengan jumlah penonton lebih dari 2,2 Juta orang? atau pernahkah anda menonton film “tanda tanya” yang sudah banyak mengundang kontoversi? Siapakah sutradara dari ketiga film fenomenal itu? Dialah Hanung Bramantyo, peraih 2 penghargaan piala citra dalam kategori sutradara terbaik pada tahun 2005 dan 2007. Meskipun masih terlalu jauh jika dia diberi penghargaan sebagai sutradara terbaik di Indonesia, namun ia adalah salah seorang pembawa gagasan konsep film modern ke Indonesia yang awamnya pada saat itu film-film di Indonesia masih memakai konsep film yang berjenis sinetron. Konsep film modern yang dibawanya lebih mementingkan kepada kebebasan dalam mengekspresikan sebuah seni, dalam hal ini seni merupakan sesuatu yang selalu bisa dieksplor dari manapun anda melihatnya, dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda dan Hanung Bramantyo berhasil membawa konsep itu ke dalam dunia Film Indonesia. Bakatnya itu mulai terlihat saat ia tengah menukangi sebuah film hasil garapannya yang berjudul “catatan akhir sekolah”.

Catatan Akhir Sekolah menjadi salah satu film yang sangat inspiratif bagi saya, di film itu terlihat sisi lain dari kehidupan siswa SMA yang jarang terungkap dalam film dan cerita namun dengan yakinnya Hanung Bramantyo malah menyajikan sesuatu yang tidak hanya bertolak belakang, namun ia berhasil mengelupas sisi terdalam dari sebuah kisah kehidupan SMA namun tetap mengindahkan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap adegannya yang ia visualisasikan kedalam layar sinema. Sebagai seorang pelajar SMA yang telah menonton film tersebut, saya membenarkan bahwa adanya kegiatan mencontek dalam ulangan atau pelajar merokok secara diam-diam di kehidupan SMA. Dan karena hal itulah, kehidupan SMA menjadi terlihat semakin menarik untuk saya.

Lalu apa hubungannya dengan “Gelap Mata”? Dewi Lestari mengajarkan saya bahwa dalam membuat sebuah cerita anda tidak perlu kursus mengeja EYD yang benar atau melalap kamus besar bahasa indonesia agar anda pintar dalam mengolah kata, yang anda perlukan adalah anda harus menjadi pembaca yang baik. Karena jika anda menjadi pembaca yang baik anda akan terjun ke dalam dunia dunia dimana anda akan membuat cerita yang akan dibaca oleh pembaca karya anda, entah itu dunia remaja, orang dewasa, atau bahkan sastrawan kelas kakap. Yang menjadikan anda mengerti harus menggunakan bahasa yang seperti apa jika anda ingin dibaca oleh siapa.

"Yang anda perlukan adalah anda harus menjadi pembaca yang baik."


Hanung Bramantyo mengajarkan saya bahwa dalam melihat suatu masalah anda harus bisa melihat masalah itu dari berbagai sudut pandang, entah itu sudut pandang A atau B atau bahkan C. Hal itu akan membuat anda menjadi kaya akan topik yang akan anda kembangkan dalam karya anda. Sesimpel apapun idenya, namun jika anda  tidak pernah berhenti untuk menggali dan menggali lagi  ide tersebut, anda tidak akan pernah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa spesialnya ide anda itu meskipun ide anda itu sangat simpel.

"Anda tidak akan pernah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa spesialnya ide anda itu meskipun ide anda itu sangat simpel."


Gelap Mata adalah sebuah Novel yang mengangkat sebuah kisah cinta dengan latar belakang kehidupan SMA dengan tokoh utama Pria bernama Riman Diantasena dan tokoh utama Wanita bernama Putri Kira Nasalia. Jika anda telah membaca prolog dari gelap mata dan anda mengira ini adalah sebuah cerita cinta yang menampilkan suasana baru, maka anda salah. Kisah ini mengangkat kisah cinta kehidupan SMA yang bisa dibilang sudah banyak diangkat oleh Film, Ftv, dan sinetron drama di Indonesia. Namun disini saya menekankan bahwa “Gelap Mata” adalah sebuah cerita cinta yang memiliki ide simpel namun mengandung sisi kehidupan SMA yang kental dan disajikan dengan permainan kata yang dapat dikonsumsi oleh kaum remaja. Kata-kata konyol khas Raidhan Rahadian pun pastinya tak akan bisa terhindarkan dari penggambaran sifat Riman dan kepolosan pribadi Kira. Namun saya mengakui sebagai seseorang yang baru terjun kedalam dunia sastra seni dan masih sangat “nol” di ilmu bahasa, Gelap Mata pastinya tidak akan sesempurna seperti deskripsi yang telah saya uraikan diatas. Saya membuat kisah ini hanya sekedar hobi semata, namun saya akan mencoba agar hasil dari karya saya ini akan menjadi langkah awal saya dalam mewujudkan mimpi untuk menjadi penulis ternama kelak.  Dengan ini saya resmikan bahwa Gelap Mata telah siap untuk dibaca oleh siapa saja dan selamat membaca :D

  "Gelap Mata adalah sebuah cerita cinta yang memiliki ide simpel namun mengandung sisi kehidupan SMA yang kental dan disajikan dengan permainan kata yang dapat dikonsumsi oleh kaum remaja." -Raidhan Rahadian