Saturday, June 29, 2013

Gelap Mata - Kepingan 4



Riman, 7 lewat 30, Sekolah.
          Ia hafal benar dengan rute ini, rute yang telah menjadi lingkungan barunya dan menyatu dengan pikirannya. Riman kembali mengingat tempat dimana ia berpisah dengan Maman, orang yang dikhawatirkannya saat ini. Setengah jam yang lalu,  Vindo, Riman, dan Maman telah berpisah dengan rombongannya untuk mencari tempat persembunyiaan yang berbeda dengan peserta cabut kali ini. Ketika mereka bertiga sedang berlari mencari tempat untuk bersantai, Maman tiba-tiba menghentikan langkahnya dan ia segera merogoh kantung celananya, mencari-cari barang yang mungkin memang seharusnya memang berada disana.
“Men ada apaan? Ayo buruan ntar keburu kegep sama si Prapti!” Seru Riman yang nampaknya sudah mulai kelelahan setelah mereka tidak mendapatkan tempat persembunyiaan di lantai 1 lalu mereka melanjutkan pencarian ke lantai 2 yang menjadi tempat mereka berpijak sekarang.
“Bentar Man, gua lupa naro kunci motor gua, ngeri ilang gua. Gua cari ke kelas dulu ya bentar.” Jawab Maman santai
“Yah elah itu mah gampang paling ada di tas elo! Udah kita cabut aja, nyarinya ntar.” Seru Vindo
“Yaudah elu berdua duluan aja nanti gua nyusul, kita mau ketemuan dimana?
“Di balkon surga gimana?” Tanpa pikir panjang Riman langsung memberi usul kepada sahabatnya itu, sepertinya ia memang telah hafal benar dengan kejadian yang seperti ini.
“Oke, sampe ga dateng teraktir gua Kuku Bima ye?” Sambil tersenyum, Riman mengangkat tangannya ke depan badan Maman. Dibalas dengan senyum yang tidak kalah cerahnya, Maman segera menjabat tangan Riman.
“Sip KuBim!” Jawab Maman yakin. Mata dibalas mata, jabat tangan dibalas jabat tangan, janji dibalas segelas Kuku Bima, suatu kesepakatan yang masuk akal. Riman memang telah mempercayai Maman sebagai sahabat yang dapat memegang teguh janjinya, jika Maman telah menjanjikan A kepada Riman, maka A-lah yang akan didapatnya. Tak terasa jabat tangan itu telah berlangsung selama 5 detik, Vindo pun kembali ngedumel “Ayolah ngee, Kubim mah ntar gua yang beliin, udahan ngapa mesra-mesraannya, kita dikejar waktu ni.” Setalah mendengar ocehan Vindo, Riman langsung melepas jabat tangannya yang erat itu namun senyumnya tak kunjung lepas dari bibirnya.
“Gua cabut bentar ya, sampe ketemu sob.” Maman yang juga telah melepas jabat tangannya langsung berlari ke arah tangga terdekat untuk menuju ke kelasnya yang berada di lantai 1. “Balkon! Surga! Kubiiiiimmm!!” teriak Riman yang dibalas dengan tawa Maman yang telah menuruni tangga.
“Yes sekarang gua ga perlu nonton Sinetron kalo mau ngeliat drama maho, ayo ah cabut feeling gua udah ga enak ni.” Vindo langsung berlari menuju tangga yang mengarah ke lantai 3. Riman perlahan pun mulai bergerak dari posisi patungnya mengikuti Vindo dengan senyumnya yang masih belum pudar karena daya magis kata ajaib itu. Vindo hanya menggeleng-geleng merespon kelakuan kedua temannya itu sambil bergumam sendiri “Ya Tuhan mengapa engkau berikan aku teman-teman yang seperti ini Ya Tuhan.” 15 menit telah berlangsung sejak kejadian itu, dan sekarang Riman tengah berdiri di koridor lantai 3 yang kelihatannya masih menunggu kabar dari sahabatnya yang hilang itu. Riman yang telah kehabisan kesabaran, langsung menyisir seluruh wilayah yang ada di lantai 3 untuk mencari setitik berita tentang keberadaan sahabatnya itu namun hasilnya, nihil. Tanpa berfikir panjang Riman segera menuruni tangga yang berada di sebelah timur sekolah untuk mencapai lantai 2. Riman memilih tangga itu karena tangga di sebelah barat berhadapan langsung dengan lapangan dimana siswa dan guru sedang melaksanakan upacara, maka dari itu tangga sebelah timur memang relatif lebih aman untuk dipakai mengendap-ngendap.
“Untuk amanat, istirahat di tempaaaat geraaak!” perintah pemimpin upacara kepada seluruh siswa yang berada di lapangan seluas 2 kali lapangan bola basket itu. Ketika perintah itu terdengar, Riman baru menapakan kakinya di ubin lantai 2. Riman harus berhati-hati dalam melangkah dan pastinya ia harus berjalan sambil menunduk agar ia tidak mengundang perhatian kepada guru-guru BP yang mungkin sedang beristirahat dilantai 1 setelah melakukan razia siswa yang kabur dari upacara. Keringat Riman satu persatu mulai turun dari keningnya yang semakin lama semakin deras, bagaimana tidak lelah, ia harus mencari temannya ke setiap kelas dan setiap daerah yang mungkin dijadikan tempat persembunyian oleh sahabatnya dengan cara jalan jongkok. Namun jalan jongkok bukan penghalang bagi Riman untuk terus melanjutkan perjuangannya dalam mencari temannya. Setelah menyisir sisi utara sekolah di lantai 2, Riman memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamar mandi khusus siswa wanita yang berada di sisi barat laut sekolah. Nampaknya tekad saja memang tidak cukup untuk melanjutkan misi gila ini, otot memang memiliki batas kemampuannya tersendiri.
“Kepada anak-anaku tercinta, janganlah diantara kalian semua berani melanggar peraturan sekolah, karena . . .” Suara laki-laki paruh baya itu terdengar seantero wilayah sekolah radius 500 meter dari tempatnya berbicara. Dengan nafas yang terengah-engah mau tidak mau Riman mendengarkan ceramah itu meskipun sebenarnya ia sangat benci dengan suara pria itu. Namanya Trisno, dia menjabat sebagai ketua di bidang kesiswaan. Ia terkenal karena kumisnya yang seperti pak raden namun berperawakan seperti pak ogah. Mukanya datar, bibirnya tidak didesain untuk tersenyum melainkan untuk mencari kesempurnaan dalam setiap rencananya yang terkenal sangat disiplin. Ia sangat tegas  dalam menegakan peraturan yang telah ditetapkan sekolah. Tidak ada satu murid pun yang bisa lepas dari segala peraturan yang telah ia buat. Siswa terakhir yang mencoba melanggar bernama Adit, rambut di kepalanya habis sebelah bagian saja tercukur zig-zag dan itupun kejadian 6 bulan yang lalu saat ia sedang salim kepada pak Trisno dan pak Trisno mendapati bahwa rambut Adit melewati kupingnya sepanjang 1 senti, Rambut Adit pun langsung dieksekusi di tempat.
Dia adalah musuh utama Bocah Jeruji, terlebih Riman. Setiap kasus yang didalangi oleh Riman, ia pasti selalu menjadi yang terdepan dalam mengambil alih kasus Riman. Riman pernah ditantang untuk membersihkan toilet laki-laki yang sangat kotor dan berbau sangat menyengat, dengan ancaman jika dia tidak mengerjakan tantangannya itu, dia tidak akan diizinkan untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar selama 3 bulan. Kontan dengan penuh rasa kesal ia melakukan pekerjaan itu dengan terpaksa. Ketika Riman sedang mengelap kloset kamar mandi itu, si pria sinis itu pun menghampirinya dan berkata “Ternyata siswa paling berpengaruh di sekolah ini akhirnya tunduk juga kepada saya.” Dengan senyumnya yang secara tersirat menggambarkan kemenangan telak itu, Riman menyimpan rasa pilu di dalam hatinya. Rasa pilu karena merasa harga dirinya telah terinjak oleh sesama manusia yang derajatnya sama di mata Tuhan. Sejak saat itu Riman menjadi lebih berani menentang kebijakan Pak Kumis, menanti saat yang tepat dimana ia bisa membalas rasa pilu yang selalu ia pendam itu.
“. . . Maka dari itu bagi setiap pelanggar peraturan di sekolah ini akan mendapat sanksi tegas, secara langsung!” Suaranya semakin meninggi seiring semakin meningginya posisi matahari. Tenaga Riman telah terisi dan kini ia siap untuk melanjutkan aksinya. Ketika ia tengah berdiri, kantung celananya bergetar. Diambilnya sebuah BlackBerry Javelin yang sudah banyak goresan di sisinya maupun dilayarnya. Nampak ada sebuah notif baru dari BBMnya, langsung saja ia buka notif tersebut dan nampak sebuah pesan dari sahabatnya, secercah harapan muncul dari misi gilanya kali ini.

No comments:

Post a Comment