Riman, 7 lewat 30, Sekolah.
Ia hafal benar dengan
rute ini, rute yang telah menjadi lingkungan barunya dan menyatu dengan
pikirannya. Riman kembali mengingat tempat dimana ia berpisah dengan Maman,
orang yang dikhawatirkannya saat ini. Setengah jam yang lalu, Vindo, Riman, dan Maman telah berpisah dengan rombongannya
untuk mencari tempat persembunyiaan yang berbeda dengan peserta cabut kali ini. Ketika mereka bertiga
sedang berlari mencari tempat untuk bersantai, Maman tiba-tiba menghentikan
langkahnya dan ia segera merogoh kantung celananya, mencari-cari barang yang
mungkin memang seharusnya memang berada disana.
“Men ada
apaan? Ayo buruan ntar keburu kegep sama si Prapti!” Seru Riman yang nampaknya
sudah mulai kelelahan setelah mereka tidak mendapatkan tempat persembunyiaan di
lantai 1 lalu mereka melanjutkan pencarian ke lantai 2 yang menjadi tempat
mereka berpijak sekarang.
“Bentar Man,
gua lupa naro kunci motor gua, ngeri ilang gua. Gua cari ke kelas dulu ya
bentar.” Jawab Maman santai
“Yah elah itu
mah gampang paling ada di tas elo! Udah kita cabut aja, nyarinya ntar.” Seru
Vindo
“Yaudah elu
berdua duluan aja nanti gua nyusul, kita mau ketemuan dimana?
“Di balkon
surga gimana?” Tanpa pikir panjang Riman langsung memberi usul kepada
sahabatnya itu, sepertinya ia memang telah hafal benar dengan kejadian yang
seperti ini.
“Oke, sampe ga
dateng teraktir gua Kuku Bima ye?” Sambil tersenyum, Riman mengangkat tangannya
ke depan badan Maman. Dibalas dengan senyum yang tidak kalah cerahnya, Maman
segera menjabat tangan Riman.
“Sip KuBim!”
Jawab Maman yakin. Mata dibalas mata, jabat tangan dibalas jabat tangan, janji
dibalas segelas Kuku Bima, suatu kesepakatan yang masuk akal. Riman memang
telah mempercayai Maman sebagai sahabat yang dapat memegang teguh janjinya,
jika Maman telah menjanjikan A kepada Riman, maka A-lah yang akan didapatnya. Tak
terasa jabat tangan itu telah berlangsung selama 5 detik, Vindo pun kembali ngedumel “Ayolah ngee, Kubim mah ntar
gua yang beliin, udahan ngapa mesra-mesraannya, kita dikejar waktu ni.” Setalah
mendengar ocehan Vindo, Riman langsung melepas jabat tangannya yang erat itu
namun senyumnya tak kunjung lepas dari bibirnya.
“Gua cabut
bentar ya, sampe ketemu sob.” Maman yang juga telah melepas jabat tangannya
langsung berlari ke arah tangga terdekat untuk menuju ke kelasnya yang berada
di lantai 1. “Balkon! Surga! Kubiiiiimmm!!” teriak Riman yang dibalas dengan
tawa Maman yang telah menuruni tangga.
“Yes sekarang
gua ga perlu nonton Sinetron kalo mau ngeliat drama maho, ayo ah cabut feeling
gua udah ga enak ni.” Vindo langsung berlari menuju tangga yang mengarah ke
lantai 3. Riman perlahan pun mulai bergerak dari posisi patungnya mengikuti
Vindo dengan senyumnya yang masih belum pudar karena daya magis kata ajaib itu.
Vindo hanya menggeleng-geleng merespon kelakuan
kedua temannya itu sambil bergumam sendiri “Ya Tuhan mengapa engkau berikan
aku teman-teman yang seperti ini Ya Tuhan.” 15 menit telah berlangsung sejak
kejadian itu, dan sekarang Riman tengah berdiri di koridor lantai 3 yang
kelihatannya masih menunggu kabar dari sahabatnya yang hilang itu. Riman yang
telah kehabisan kesabaran, langsung menyisir seluruh wilayah yang ada di lantai
3 untuk mencari setitik berita tentang keberadaan sahabatnya itu namun hasilnya,
nihil. Tanpa berfikir panjang Riman segera menuruni tangga yang berada di
sebelah timur sekolah untuk mencapai lantai 2. Riman memilih tangga itu karena tangga
di sebelah barat berhadapan langsung dengan lapangan dimana siswa dan guru
sedang melaksanakan upacara, maka dari itu tangga sebelah timur memang relatif
lebih aman untuk dipakai mengendap-ngendap.
“Untuk amanat,
istirahat di tempaaaat geraaak!” perintah pemimpin upacara kepada seluruh siswa
yang berada di lapangan seluas 2 kali lapangan bola basket itu. Ketika perintah
itu terdengar, Riman baru menapakan kakinya di ubin lantai 2. Riman harus
berhati-hati dalam melangkah dan pastinya ia harus berjalan sambil menunduk
agar ia tidak mengundang perhatian kepada guru-guru BP yang mungkin sedang
beristirahat dilantai 1 setelah melakukan razia siswa yang kabur dari upacara.
Keringat Riman satu persatu mulai turun dari keningnya yang semakin lama
semakin deras, bagaimana tidak lelah, ia harus mencari temannya ke setiap kelas
dan setiap daerah yang mungkin dijadikan tempat persembunyian oleh sahabatnya
dengan cara jalan jongkok. Namun jalan jongkok bukan penghalang bagi Riman
untuk terus melanjutkan perjuangannya dalam mencari temannya. Setelah menyisir
sisi utara sekolah di lantai 2, Riman memutuskan untuk beristirahat sejenak di
kamar mandi khusus siswa wanita yang berada di sisi barat laut sekolah.
Nampaknya tekad saja memang tidak cukup untuk melanjutkan misi gila ini, otot
memang memiliki batas kemampuannya tersendiri.
“Kepada
anak-anaku tercinta, janganlah diantara kalian semua berani melanggar peraturan
sekolah, karena . . .” Suara laki-laki paruh baya itu terdengar seantero
wilayah sekolah radius 500 meter dari tempatnya berbicara. Dengan nafas yang
terengah-engah mau tidak mau Riman mendengarkan ceramah itu meskipun sebenarnya
ia sangat benci dengan suara pria itu. Namanya Trisno, dia menjabat sebagai
ketua di bidang kesiswaan. Ia terkenal karena kumisnya yang seperti pak raden
namun berperawakan seperti pak ogah. Mukanya datar, bibirnya tidak didesain
untuk tersenyum melainkan untuk mencari kesempurnaan dalam setiap rencananya
yang terkenal sangat disiplin. Ia sangat tegas dalam menegakan
peraturan yang telah ditetapkan sekolah. Tidak ada satu murid pun yang bisa lepas dari segala peraturan yang telah ia buat. Siswa terakhir yang mencoba melanggar bernama Adit, rambut di kepalanya habis sebelah bagian saja tercukur zig-zag dan itupun kejadian 6 bulan yang lalu saat ia sedang salim kepada pak Trisno dan pak Trisno mendapati bahwa rambut Adit melewati kupingnya sepanjang 1 senti, Rambut Adit pun langsung dieksekusi di tempat.
Dia adalah
musuh utama Bocah Jeruji, terlebih Riman. Setiap kasus yang didalangi oleh
Riman, ia pasti selalu menjadi yang terdepan dalam mengambil alih kasus Riman.
Riman pernah ditantang untuk membersihkan toilet laki-laki yang sangat kotor
dan berbau sangat menyengat, dengan ancaman jika dia tidak mengerjakan
tantangannya itu, dia tidak akan diizinkan untuk mengikuti kegiatan belajar
mengajar selama 3 bulan. Kontan dengan penuh rasa kesal ia melakukan pekerjaan
itu dengan terpaksa. Ketika Riman sedang mengelap kloset kamar mandi itu, si
pria sinis itu pun menghampirinya dan berkata “Ternyata siswa paling
berpengaruh di sekolah ini akhirnya tunduk juga kepada saya.” Dengan senyumnya
yang secara tersirat menggambarkan kemenangan telak itu, Riman menyimpan rasa
pilu di dalam hatinya. Rasa pilu karena merasa harga dirinya telah terinjak oleh
sesama manusia yang derajatnya sama di mata Tuhan. Sejak saat itu Riman menjadi
lebih berani menentang kebijakan Pak Kumis, menanti saat yang tepat dimana ia
bisa membalas rasa pilu yang selalu ia pendam itu.
“. . . Maka
dari itu bagi setiap pelanggar peraturan di sekolah ini akan mendapat sanksi
tegas, secara langsung!” Suaranya semakin meninggi seiring semakin meningginya
posisi matahari. Tenaga Riman telah terisi dan kini ia siap untuk melanjutkan
aksinya. Ketika ia tengah berdiri, kantung celananya bergetar. Diambilnya
sebuah BlackBerry Javelin yang sudah banyak goresan di sisinya maupun
dilayarnya. Nampak ada sebuah notif baru dari BBMnya, langsung saja ia buka
notif tersebut dan nampak sebuah pesan dari sahabatnya, secercah harapan muncul
dari misi gilanya kali ini.
No comments:
Post a Comment