Monday, March 23, 2026

Raidhan's Romance Decisions on DISPATCH

Major spoiler warning!

Artikel ini disarankan untuk kamu yang sudah menyelesaikan game dari DISPATCH karena isi kontennya berisi tentang pilihan-pilihan dalam game tersebut. Tapi, jika kamu tidak tertarik untuk memainkan game DISPATCH, mari melihat opsi-opsi yang gua pilih saat gua memerankan karakter Robert.

DISPATCH adalah game visual novel interaktif di mana kita memerankan seorang karakter bernama Robert, seorang mantan superhero yang sudah pensiun dan kini bertugas untuk menjadi koordinator misi dari sebuah tim superhero, yang akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan untuk menentukan kelanjutan dari kisah hidup seorang Robert.

Gua bisa memainkan game ini karena dibelikan oleh Kak Selly dan Tania sebagai hadiah ulang tahun. Tanpa diduga, game ini menjadi salah satu game visual novel favorit gua semasa gua bermain game.

Banyak sekali pilihan yang menentukan alur dari kisah Robert. Tapi, dari semua pilihan yang tersedia, elemen romansa dari Robert semakin membuat kisah kepahlawanan Robert menarik untuk disimak sampai habis.

Robert akan dipertemukan dengan dua orang perempuan yang dapat dijadikan love interestnya sampai akhir cerita.

Karakter perempuan pertama adalah Blonde Blazer.


Blonde Blazer adalah seorang superhero papan atas dari organisasi DISPATCH. Blonde Blazer adalah salah satu karakter pertama yang akan bertemu Robert di titik terendahnya dan menawarkan kepada Robert untuk bergabung dengan DISPATCH sebagai koordinator grup superhero.

Karakter perempuan kedua adalah Invisigal.


Invisigal adalah seorang superhero dari grup mantan penjahat yang direkrut oleh DISPATCH untuk menumpas kejahatan. Invisigal adalah semua keterbalikan dari Blonde Blazer. Baik dari segi sifat, tujuan hidup, sampai motivasi saat bekerja di DISPATCH. Jika Blonde Blazer adalah perempuan yang terbuka dan bisa melakukan segala sesuatunya sendirian, maka Invisigal adalah perempuan yang jati dirinya rapuh dan keras kepala.

Lalu pertanyaan terbesarnya, Robert versi Raidhan memilih siapa?

Jawabannya jelas Blonde Blazer.

Banyak alasan untuk menyukai Blonde Blazer, tapi alasan utama gua adalah karena Blonde Blazer dipertemukan dengan Robert lebih dulu daripada Invisigal. That's it.

Dalam perjalanan Robert versi Raidhan menumpas kejahatan dan memilih kisah cinta of course, berikut adalah pilihan-pilihan romansa krusial gua yang diabadikan dengan indah oleh DISPATCH. Mari kita saksikan bersama!

1. Tidak mencium Blonde Blazer di pertemuan pertama.


Situasinya kaya gini. Anda bertemu dengan perempuan cantik yang secara mengejutkan tau banyak tentang diri anda dan anda tau bahwa perempuan ini memiliki kekaguman terhadap anda. Lebih-lebih, perempuan ini ternyata sedang mabuk sementara anda tidak. Hadirlah sebuah momen romantis dan kesempatan anda untuk mencium perempuan ini. Apakah anda akan mencium perempuan tersebut?

Jika jawaban anda adalah iya, maka anda perlu ditendang dari gedung lantai 10.

Karena ya cem mana ini hey???!!!

Sebagai laki-laki yang berintegritas dan menjunjung tinggi hubungan yang baik antara sesama manusia, ya masa sih kesempatan macem itu dipakeee?

But well, gua memilih untuk tidak mencium Blonde Blazer di pertemuan pertama kita. Tapi 55% Robert lainnya ternyata mencium Blonde Blazer di pertemuan pertamanya. Apa jangan-jangan ternyata pilihan gua yang aneh?

2. Memilih untuk dinner bersama Blonde Blazer daripada nonton bioskop bersama Invisigal


Momen ini terjadi di pertengahan cerita, di mana secara bersamaan Blonde Blazer dan Invisigal secara tiba-tiba mengajak Robert untuk datang menemani mereka. Gua memilih untuk dinner bersama Blonde Blazer. Kenapa? Karena sesimpel Blonde Blazer adalah orang pertama yang membuat Robert menjadi manusia yang bangkit kembali.

Di momen ini, sebenarnya ada adegan di mana Robert bisa mencium Blonde Blazer lagi. Tapi sebagaimana laki-laki sejati pada umumnya, gua tidak mengambil kesempatan itu dan tetap menjaga kedekatan yang baik dengan Blonde Blazer.

Betul kan ya pilihan gua? Atau malah pilihan gua yang aneh?

3. Berawal dari Blonde Blazer, berakhir di Blonde Blazer


Robert di universe mana pun bisa memulai dengan memilih untuk dekat bersama Blonde Blazer namun pada akhirnya memilih Invisigal, ataupun sebaliknya. Tapi Robert versi gua tetap setia untuk bersama dengan Blonde Blazer dari awal hingga akhir cerita. Dengan bangga gua adalah bagian dari 32% dari Robert di seluruh dunia yang akhirnya membersamai Blonde Blazer.

Hal ini bukan menandakan bahwa Invisigal memiliki sifat yang tidak baik sebagai seorang manusia. Cuma menurut gua, ketika kita dipertemukan dengan seorang yang bisa membuat kita berarti dan bermanfaat lebih dari siapapun. Dia adalah orang yang tepat untuk membersamai kita, sepanjang hidup kita.

Oh, di bagian ini Robert mendapatkan kesempatan untuk mencium Blonde Blazer lagi. Gua tidak bisa memilih untuk mencium dan tidak mencium Blonde Blazer. Tapi dengan kehendak dan progres yang Robert versi gua buat, mereka berdua akhirnya berciuman dengan hati yang sama-sama yakin bahwa mereka telah menemukan pasangan yang tepat.

Bahagia sekali. Gua sangat bahagia sekali.

Kalau kamu jadi Robert, keputusan apa yang akan kamu ambil?

Monday, March 9, 2026

Gaming, RPG, dan Kingdom Come Deliverance

Seumur hidup gua, banyak banget video game yang udah gua mainin, tapi ga semuanya tamat. Karena gua ga punya PS2, PS3, PS4, dan PS5, maka kebanyakan game yang pernah gua mainin ada di PS1 dan beberapa di PC atau laptop. Dari sekian banyaknya game yang gua mainkan, beberapa di antaranya bergenre RPG.

Gua memulai RPG dengan pokemon gold pake emulator di PC, final fantasy tactic, breath of fire IV, digimon world, sampai front mission di PS1. Semua game itu menemani masa kecil gua dan membentuk genre yang gua suka dalam bidang gaming.

Hampir 2 dekade berselang, gua akhirnya memiliki sebuah laptop dengan kemampuan gaming pertama gua, dan gua mulai ngelist game-game yang gua lewati dari PS2 sampai PS5 untuk gua beli dan gua mainkan. Dari sini, ketertarikan gua akan game bergenre RPG pun muncul kembali.

Beberapa hal yang gua sadari di saat ini ada limitasi yang terjadi saat gua bermain video game, entah kenapa di beberapa game yang pergerakannya terlalu cepat atau orientasi kamera yang cukup berbeda, itu ngebuat gua pusing dan mual. Padahal dulu waktu kecil dan remaja kayanya gapunya limitasi ini.

Lalu gua juga udah ga terlalu bisa main game dengan mekanik yang kompleks. Rasanya di belakang kepala bagian kiri kaya tegang mampus wkkwkw. Ternyata bener, pada umumnya ketika seseorang memiliki resources di usia dewasa, yang tidak dimiliki adalah fleksibilitas seperti anak kecil atau remaja.

Hal-hal tersebut yang akhirnya menghalangi gua buat main Hogwarts Legacy, karena entah kenapa kamera third-person dari Hogwarts Legacy tuh aneh gitu (pada ngerasa gitu ga si? Wkwkwk) dan bikin mual. Plus storynya juga ga begitu engaging buat gua. 20 jam yang gua investasikan di Hogwarts Legacy berakhir kandas dan akhirnya gua hapus dari laptop gua.

Berangkat dari pengalaman gua dan Hogwarts Legacy, gua pikir gua udah gabisa main game RPG lagi, apalagi yang open world. Tapi pemikiran itu pupus dengan segera setelah gua bertemu dengan Kingdom Come Deliverance.

Kingdom Come Deliverance (KCD) adalah sebuah game first person RPG open world dengan setting medival eropa tahun 1400-an. Game yang hampir ngebuat gua nyerah di beberapa jam pertama gameplay karena bikin pusing dan susah banget coy.

Kita akan bermain dengan memerankan sebuah karakter bernama Henry, anak dari pandai besi, yang hidup sebagai mana remaja pada umumnya, tidak memiliki keahlian apapun serta gemar mabuk-mabukan (dan onar juga wkwkkw). Henry tinggal di sebuah kerajaan bernama Skalitz. Kehidupannya berubah setelah sekelompok besar dari kerajaan lain menyerang dan menghancurkan Skalitz.

Dalam game ini aktivitas yang akan kita lakukan kebanyakan adalah berjalan-jalan, mengobrol, dan berpedang.

Game dengan kegiatan jalan-jalan dan mengobrol adalah game yang gua banget, mengingatkan gua pada game favorit gua lainnya yaitu Death Stranding. Game dengan tipe ini gua kira akan menyajikan mekanik yang simple. Ternyata susah mampus.

Player dituntut untuk banyak belajar terlebih dahulu sebelum berpedang lawan orang asing yang ketemu di jalan. Kalau di game-game pada umumnya kita akan dipertemukan dengan lawan yang setara seiring berjalannya cerita, di KCD engga cuy kwkwwkwk. Di 4 jam pertama udah berapa kali gua mati cuma gegara dicegat sama orang antah berantah yang ngalangin jalan, damn.

Kesulitan juga ga berhenti di berpedang. Ada memanah, mekanik mencuri, ngebuka brangkas, berkuda, dan menjaga citra dengan memberi jawaban-jawaban yang tepat saat berdialog bersama warga di KCD.

Bagian yang paling menarik adalah progress perkembangan karakter sampai hasil grinding dari seluruh misinya itu sangat rewarding. Pada akhirnya kita akan jago berpedang, menyelesaikan misi emosional, sampai menguasai mekanik stealth itu terasa sangat fulfil. Didukung oleh cutscenes serta dunia yang indah banget menjadikan KCD game yang dengan mudah membuat kita jatuh cinta dengan cerita Henry bersama koleganya.

KCD adalah sebuah game yang gua mulai dengan ekspektasi rendah, namun berakhir dengan menempati list game favorit gua.

Semoga lo yang membaca ini bisa menemukan game baru yang membuat lo terpukau, seperti gua yang telah menamatkan Kingdom Come Deliverance.