Tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk kembali mengunjungi
cerita 5 cm per second. Alasannya sederhana, karena film tersebut menghasilkan
after taste yang sedih dan menyakitkan. Namun karena teman dekat saya mengajak
saya untuk menemaninya menonton, saya akhirnya memiliki alasan untuk menyaksikan
cerita itu kembali dalam format live action.
5 cm per second adalah sebuah franchise cerita yang diciptakan
pertama kali dalam format anime karya Makoto Shinkai, yang beberapa tahun kemudian
namanya menjadi sangat terkenal karena keberhasilan dari anime-movie berjudul
Your Name. 5 cm per second bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama
Takaki yang bertemu dengan seorang perempuan bernama Akari di kelas yang sama, jenjang sekolah dasar.
Akari yang merupakan anak pindahan, kesulitan mencari teman
dalam kelasnya. Secara kebetulan, Takaki mengajak Akari untuk berbicara
terlebih dahulu dan menceritakan bahwa dirinya juga siswa yang selama ini terus
berpindah tempat dikarenakan pekerjaan ayahnya. Kesamaan tersebut membuat Akari
senang karena mendapatkan teman yang mengerti bagaimana tidak enaknya menjadi
anak sekolah yang selalu berpindah.
Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, membicarakan
banyak hal, sampai mereka secara tidak sadar mulai menyukai satu sama lain. Ketika
keduanya mulai merasa nyaman dan senang karena selalu berkegiatan bersama,
Akari terpaksa harus berpindah sekolah lagi karena ayahnya akan berpindah
pekerjaan kembali.
Momen disaat Akari meminta maaf di telfon umum kepada
Takaki, adalah saat di mana semua penonton akan merasakan sakit (wabilkuhsus saya) karena
merasakan sesuatu yang berharga akan menghilang dari mereka berdua.
5 cm per second memiliki banyak dialog dan visualisasi yang memorable.
Dimulai dari indahnya langit ungu bersama peluncuran roket ke antariksa, deburan
ombak bersama buihnya yang memanjakan mata, sampai ke penampakan kereta yang
menjadi anchor penting dari cerita Takaki dan Akari.
Terdapat gap lebih dari10 tahun antara kali pertama dan kali kedua
saya menonton 5 cm per second. Dan ajaibnya, saya mengingat dengan baik momen
penting serta kejadian-kejadian yang akan terjadi di sepanjang film. Kecuali,
di satu adegan. Yaitu, ketika Takaki menaiki kereta saat badai salju hebat
untuk bertemu Akari di stasiun dekat rumahnya.
Di dalam kepala saya, saya berpikir bahwa Takaki dan Akari tidak
akan bertemu karena takdir seakan-akan membuat mereka gagal bertemu. Tapi ternyata saya
salah, Makoto Shinkai harus mendapatkan apresiasi sebesar-besarnya dalam penulisan
plot yang satu ini.
Semua kenangan manis dan sedih dari cerita mereka berdua
kembali saya terima dengan detail dan perspektif yang berbeda.
Saya ingat betul. Dulu, saya begitu membenci Akari karena dia dapat melupakan (atau tidak menepati) janji penting yang dibuat bersama Takaki.
Namun, begitu mengunjungi ceritanya kembali, saya mulai
mengerti bahwa pilihan untuk beranjak dari believe setiap manusia dapat
berganti.
Kontras antara Takaki yang tidak beranjak dan Akari yang
beranjak membuat cerita ini dapat dilihat sebagai hal yang benar, sesuai
dengan believe-nya masing-masing.
Sialnya, rasa sakit menyaksikan ending dari film ini tetap
berdenyut saat saya menyaksikannya untuk kedua kali haha.
Namun, sedikitnya saya mengerti mengapa Makoto Shinkai membuat cerita ini tetap berakhir seperti itu.
Karena, hal tersebut juga saya lakukan ketika bercerita dengan sepenuh hati.
No comments:
Post a Comment