Sunday, February 8, 2026

5 cm per second | In-Depth Review

Tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk kembali mengunjungi cerita 5 cm per second. Alasannya sederhana, karena film tersebut menghasilkan after taste yang sedih dan menyakitkan. Namun karena teman dekat saya mengajak saya untuk menemaninya menonton, saya akhirnya memiliki alasan untuk menyaksikan cerita itu kembali dalam format live action.

5 cm per second adalah sebuah franchise cerita yang diciptakan pertama kali dalam format anime karya Makoto Shinkai, yang beberapa tahun kemudian namanya menjadi sangat terkenal karena keberhasilan dari anime-movie berjudul Your Name. 5 cm per second bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Takaki yang bertemu dengan seorang perempuan bernama Akari di kelas yang sama, jenjang sekolah dasar.

Akari yang merupakan anak pindahan, kesulitan mencari teman dalam kelasnya. Secara kebetulan, Takaki mengajak Akari untuk berbicara terlebih dahulu dan menceritakan bahwa dirinya juga siswa yang selama ini terus berpindah tempat dikarenakan pekerjaan ayahnya. Kesamaan tersebut membuat Akari senang karena mendapatkan teman yang mengerti bagaimana tidak enaknya menjadi anak sekolah yang selalu berpindah.

Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, membicarakan banyak hal, sampai mereka secara tidak sadar mulai menyukai satu sama lain. Ketika keduanya mulai merasa nyaman dan senang karena selalu berkegiatan bersama, Akari terpaksa harus berpindah sekolah lagi karena ayahnya akan berpindah pekerjaan kembali.

Momen disaat Akari meminta maaf di telfon umum kepada Takaki, adalah saat di mana semua penonton akan merasakan sakit (wabilkuhsus saya) karena merasakan sesuatu yang berharga akan menghilang dari mereka berdua.

5 cm per second memiliki banyak dialog dan visualisasi yang memorable. Dimulai dari indahnya langit ungu bersama peluncuran roket ke antariksa, deburan ombak bersama buihnya yang memanjakan mata, sampai ke penampakan kereta yang menjadi anchor penting dari cerita Takaki dan Akari.

Terdapat gap  lebih dari10 tahun antara kali pertama dan kali kedua saya menonton 5 cm per second. Dan ajaibnya, saya mengingat dengan baik momen penting serta kejadian-kejadian yang akan terjadi di sepanjang film. Kecuali, di satu adegan. Yaitu, ketika Takaki menaiki kereta saat badai salju hebat untuk bertemu Akari di stasiun dekat rumahnya.

Di dalam kepala saya, saya berpikir bahwa Takaki dan Akari tidak akan bertemu karena takdir seakan-akan membuat mereka gagal bertemu. Tapi ternyata saya salah, Makoto Shinkai harus mendapatkan apresiasi sebesar-besarnya dalam penulisan plot yang satu ini.

Semua kenangan manis dan sedih dari cerita mereka berdua kembali saya terima dengan detail dan perspektif yang berbeda.

Saya ingat betul. Dulu, saya begitu membenci Akari karena dia dapat melupakan (atau tidak menepati) janji penting yang dibuat bersama Takaki.

Namun, begitu mengunjungi ceritanya kembali, saya mulai mengerti bahwa pilihan untuk beranjak dari believe setiap manusia dapat berganti.

Kontras antara Takaki yang tidak beranjak dan Akari yang beranjak membuat cerita ini dapat dilihat sebagai hal yang benar, sesuai dengan believe-nya masing-masing.

Sialnya, rasa sakit menyaksikan ending dari film ini tetap berdenyut saat saya menyaksikannya untuk kedua kali haha.

Namun, sedikitnya saya mengerti mengapa Makoto Shinkai membuat cerita ini tetap berakhir seperti itu. 

Karena, hal tersebut juga saya lakukan ketika bercerita dengan sepenuh hati. 

No comments:

Post a Comment