Untuk memulai artikel ini ke dalam berbagai perspektif. Saya akan memulainya dengan:
Saya benci
AI
Saya benci
sekali dengan AI
Kala itu di
tahun 2024, saya baru memasuki kantor saya saat ini setelah berpindah kantor
untuk pertama kalinya setelah 6 tahun bekerja. Saya mendapat tugas dari mentor
saya untuk melakukan deep research tentang sebuah product yang
nantinya akan saya tekuni semasa saya bekerja di kantor saya. Saya yang konvensional
bertanya kepada mentor saya, saya bisa pelajari dari buku atau referensi apa? Beliau
bilang, kamu coba gali pakai chatgpt saja.
Untuk saya,
bahkan sampai hari ini, masih menganggap bahwa jika kita ingin mendalami suatu
ilmu, maka kita harus banyak membaca sesuatu. Membaca buku-buku dari penulis
yang berhasil mengkristalkan seluruh pemikiran semasa hidupnya ke dalam
lembar-lembar kertas. Atau dari para ahli yang menuliskan hasil risetnya ke
dalam belasan paper di perpustakaan atau internet. Namun zaman sudah
mengharuskan saya untuk mencoba menggunakan apa yang orang sekarang bilang sebagai
AI companion.
Kesan
pertama saya ketika menggunakan chatgpt, jujur, sangat terkesan. Chatgpt bisa
dengan cepat mencari jawaban dari berbagai sumber yang dirinya rangkum sendiri.
Jika dahulu saat SMA dan kuliah saya harus bertarung mencari informasi dari buku
dan google, saat ini semua hal dapat dijawab oleh chatgpt.
Dalam waktu
singkat, trend AI berkembang menjadi generative AI. Tools AI
seperti chatgpt kini bisa membuat gambar sampai bahkan video hanya dengan prompt
dari pengguna. Sekali lagi, kala itu, saya begitu terkesan.
Tidak pernah
terbayang bahwa perkembangan teknologi sudah sampai sejauh ini.
Namun,
ternyata perkembangan ini saya rasa terlalu cepat.
Apa yang
saat ini kita sebut sebagai AI sudah melesat, melebihi apa yang bahkan bisa
kita kendalikan.
Keunggulan
AI adalah produktivitas dan memory bank sebagai dasar untuk menjawab
pertanyaan yang kita butuhkan. Dan, seakan tidak ada aturan, AI menerabas
etika-etika yang dijaga oleh manusia menjadi karya yang nampak megah namun
nyatanya hanya repetisi.
Dalam 2
tahun terakhir, saya melihat begitu banyak sektor pekerjaan manusia yang mulai
perlahan digantikan oleh AI. Sebagai gantinya, AI mengganti orang-orang
tersebut dengan produktivitas dan efektivitas yang nampaknya baru bisa di-unlock
bottle neck-nya.
Maaf saja,
tapi orang-orang yang menggunakan generative AI adalah orang-orang yang
tidak memiliki kemampuan spesifik tersebut. Secara massif, mereka muncul ke social
media dan menyombongkan hasil kreasi dari AI mereka masing-masing, yang menurut
saya sangat menjijikan.
Mereka melupakan
bahwa untuk membuat suatu karya, diperlukan proses. Entah itu proses berpikir,
proses mengasah keahlian, atau bahkan proses menemukan rasa yang tepat untuk
menciptakan sesuatu. Mereka yang menggunakan generative AI tidak
menghargai proses tersebut dan dengan bangganya mempertunjukkan hasil AI yang
memuakkan.
Seedance 2.0,
sebuah terobosan generative AI dalam pembuatan video, baru saja
diluncurkan dan hasilnya? Gila. Saya hanya seorang yang memiliki mimpi untuk
menjadi film maker di masa depan, melihat seedance 2.0 benar-benar
meremukkan hati saya.
Peradaban
manusia akan memiliki sebuah generasi di mana generasi tersebut tidak akan sadar
betapa sulitnya membuat film sebelum munculnya AI.
Tepat di saat
saya membuat artikel ini, saya merasa agak gila karena saya membicarakan topik
yang sangat dystopia. Sayangnya ancaman AI nampaknya tidak bisa terbendung.
Dalam
perdebatan tentang produktivitas, mereka yang tidak memanfaatkan AI akan
tertinggal dari perlombaan lari kapitalisme. Bagaimana cara manusia mencari
uang akan sangat terdisrupsi di fase ini.
Peradaban
manusia juga akan kehilangan generasi di mana bagi mereka yang tidak memiliki hard
skill kreatif akan tergantikan oleh teknologi.
Teknologi terbukti
bisa menggantikan hard skill yang repetitif, tapi kemampuan untuk membuat
karya dari hati tidak akan bisa mereka copy.
Kehidupan Impian
saya adalah slow living dan menikmati game-game juara yang ada di
steam atau library game mana pun.
Namun
dengan kehadiran AI yang jelas mengusik kehidupan impian saya, saya rasa saya
harus terus beradaptasi. Untuk tetap hidup berkecukupan seraya tetap orisinil
dan mengambangkan hard skill kreatif untuk bertahan hidup serta waras di
masa depan yang nampaknya tidak begitu jauh dari sekarang.
No comments:
Post a Comment