Faktanya, kebiasaan adalah bagian dari rutinitas kita sehari-hari. Seakan-akan melekat pada diri kita, kebiasaan juga yang mencitrakan diri kita yang berbeda dari semua orang, pemberi identitas. Aku rasa semua orang punya kebiasaannya masing-masing. Seperti temanku, tidak seperti Instagram user pada umumnya yang selalu meng-update instastorynya secara rutin, temanku akan menggunakan fitur Instagram tersebut hanya ketika ia ingin memperlihatkan kabar tentang klub sepak bola kebanggaannya yaitu FC Barcelona. Atau temanku yang lain, ia selalu memakai jaket khasnya berwarna biru langit yang sejujurnya jaket itu sudah sangat kucel kemanapun ia berpergian, ke kampus ia pakai jaket itu, ke gunung ia masih pakai jaket itu, menghadap dosen bimbingan tugas akhir pun masih pakai jaket itu, ku terka ia akan pakai jaket itu juga ketika bertemu calon mertua tapi semoga jangan, apek. Tapi itulah kebiasaan, pemberi warna dari masing-masing kita. Lalu aku, kebiasaanku juga bisa dibilang cukup banyak, kebanyakan terinspirasi dari lingkunganku beberapa alamiah muncul dari diri sendiri. Ada satu kebiasaan baru yang aku nikmati saat ini, kebiasaan itu muncul selalu pada hari Jumat saat jam pulang kerja.
Entah kenapa hari Jumat memang selalu spesial, ada rasa kesenangan tersendiri yang hadir begitu saja. Mungkin karena hari esoknya libur atau karena beban pekerjaan lepas untuk sementara, entahlah, kalau aku selalu sumringah menyambut selesainya hari Jumat, sekalipun dompet tipis, setipis permen plastik rasa mint. Kebiasaan baru pertamaku yang muncul adalah pulang terakhir di tempatku bekerja. Jadwal pulang kerjaku pada hari Kamis adalah pada pukul 16.30 waktu Bandung barat, namun pada hari Jumat jam pulangku pukul 17.00 masih waktu Bandung barat. Untuk sebagian orang, mereka pasti bergegas untuk segera pulang. Absen pulang di tempatku memakai sistem finger print, biasanya 5 menit sebelum jam pulang, karyawan sudah mengantri di mesin itu, tapi hal itu tak terjadi pada diriku, kenapa ya?
Biasanya aku sampai ke mesin finger print pukul 17.15, dengan setelan sudah memakai jaket, aku berjalan menuju pos pengecekan barang. Pada jam itu kulihat masih banyak orang yang pulang tidak terburu-buru, ada yang sendiri ada pula yang mengobrol akrab. Di titik itu pun aku sangat suka, mengamati dan memperhatikan bagaimana perilaku sosial seseorang saat sedang tidak ada dalam tekanan apapun, aneh ya? Haha. Sambil mencari headset-ku yang biasanya ada di kantong jaket kanan, kujuga mengambil telepon genggamku di saku kiri celana, di saku kananku sudah pasti ada kunci motor dan kartu parkir, hanya itu saja, tidak ada uangnya, sekedar informasi. Lalu kusambungkan headset-ku dengan teleponku dan jariku menuntun menuju aplikasi musik player. Aku mempunyai 215 lagu disana, kebanyakan lagu indie folk, diselingi album The Script dan beberapa lagu Oasis. Dari sekian banyak lagu itu aku mengkategorikan 3 lagu favoritku. Sebelum lagunya dimulai, aku sudah sampai di pos pengecekan barang.
“Selamat sore, pak!”
“Sore pak, maaf pak boleh saya periksa dulu tas bapak?” Izin petugas pengamanan.
“Mari pak.” Sambil aku menyerahkan tas eiger lawasku.
“Baiklah pak, aman. Hati-hati di jalan pak.”
“Terima kasih pak.” Sejujurnya petugas pengamanan disana sangat ramah sekali dan aku dipanggil bapak olehny, belom punya anak padahal, hal itu semakin menambah keceriaan di hari itu. Sembari melewati pos pengecekan barang, aku memasang headset ke telingaku.
Kebiasaan baru keduaku adalah memainkan 3 lagu favoritku saat ini. Ketiganya milik Adhitia Sofyan, yaitu adelaide sky, blue sky collapse, dan forget jakarta. Playlist-ku pasti dimulai oleh forget jakarta. Lagu yang menjadi sound track dari iklan tropicana slim itu memang sangat enak! Ku akui itu. Alunan serta petikan lagu itu sangat mendukung untuk bengong, disaat suasana memang sejuk dan langitnya yang bersenja-gurau, menggodaku untuk larut dalam waktu menikmati langkah kaki.
“Im waiting in line to get to where you are.
Hope floats up high along the way, I forget Jakarta~” kata mas Adhitia.
Waduh mas, kalo ada kesempatan saya mau salaman sama sampean atas lagu aduhai ini, adem.
Lagu ini akan berada pada reff kedua pada saatku menaiki motorku. Ajakan mas Adhitia untuk bersama-sama melupakan Jakarta ini terus menderu.
“We’ll forget Jakarta,
Promise me we’ll never look behind.
Tonight, we’re gone to where this journey ends.
But if you stay, yeah I will stay.
Even though the town’s not what it used to be.
And pieces of your life you try to recognize,
All went down.”
Seketika motorku sudah melaju di jalan pasteur menuju fly over Pasupati berikut lagu berikutnya yang sudah pasti dimainkan yaitu blue sky collapse. Selalu pas. Kamu tahu kenapa? Untuk kamu yang pernah melewati fly over Pasupati saat senja, kamu akan mengakui bahwa pemandangan ketika berada di jalur pasupati adalah jalur terbaik untuk mengantarkan kita pulang. Di fly over Pasupati kamu dapat melihat kota Bandung yang dibentengi oleh gunung-gunung yang mengelilingi kota tersebut. Saat langitnya cerah, awan-awan mengelilingi gunung dan kota Bandung dengan lembutnya.
“Still everyday I think about you,
I know for a fact that’s not your problem.
But if you change your mind you’ll find me
Hanging on to the place, where the big blue sky collapse.”
Ah izinkan aku berpendapat, kota Bandung memang spesial, mas Adhitia juga haha. Blue sky collapse menjadi pengantar ke lagu terakhir sebelum playlist kuganti ke radio Prambors, yaitu Adelaide Sky. Lagu ini biasanya bermain ketika aku sedang menunggu lampu merah di pertigaan Telkom university. Untuk informasi lagi, lampu merah di Bandung itu lama-lama, serius. Pada saat seperti itu biasanya aku akan membuka handphone lalu membuka WhatsApp (WA). Dan disana pasti ada chat dari seseorang yang belakangan ini menjadi kebiasaan ketigaku untuk selalu mengobrol dengannya. Kebiasaan ketiga ini sungguh yang paling membuatku senang. Kok bisa gitu ya? Haha entahlah. Mungkin kasmaran heeee. Setelah chatnya gak aku balas 3-4 jam karena kerja, aku akan memulainya dengan,
“Gimana kegiatan kamu hari ini? Lancarkan bimbingannya?”
Seiring dengan selesainya mas Adhitia menemaniku bersama lagu-lagunya, giliran mba Nadya Julia (Announcer radio favorit saya) yang nemenin di Prambors. Belum sempat aku masukan teleponku ke kantong, teleponku sudah bergetar yang tandanya ada notifikasi masuk, aku buka notifikasi tersebut lalu interface WA yang keluar dan isi chatnya,
“Dosen pembimbingku lagi ke Solo, paling senin sih bimbingan skripsinya, kamu gimana?”
Kok bahagia ya, padahal cuma temen,
Chatnya juga ga gimana-gimana haha.
Biarlah yang penting semuanya terjadi di hari Jumat!
THANKS GOD ITS FRIDAY!
No comments:
Post a Comment