Ini adalah malam ke Sembilanku di Bandung. Aku baru pindah
ke kota ini setelah diterima kerja di salah satu perusahaan manufaktur
transportasi milik negeri. Aku sementara menetap di rumah saudaraku, kebetulan
keluarga besar ibuku banyak yang tinggal disini dan beliau menitipkan aku ke
kakaknya yang tinggal di daerah Buah Batu. Kegiatanku disini tidak lain dan
tidak bukan masih seputar orientasi, entah itu orientasi di tempat kerja, atau
orientasi di rumah baru, dan mungkin juga berorientasi dengan kota Bandung.
Berbicara tentang Bandung, kota ini memang unik. Kesan pertama yang aku
dapatkan ketika menginjakan kakiku di tempat ini adalah dingin! Berbeda dengan
tempat tinggalku dulu, Depok. Kata orang-orang Bandung adalah kota yang spesial,
kota yang membuat rakyatnya nyaman sekaligus merindu serta tertuju. Dari kecil,
aku sering ke kota ini. Setiap tahunnya keluargaku selalu berkumpul dalam
rangka merayakan hari lebaran di Bandung. Banyak hal-hal yang mengingatkanku
ketika nama Bandung terucap. Salah satunya Kira. Dulu sekali, ketika aku duduk
dibangku SMP ketika kami selalu mengobrol lewat SMS dia sempat bertanya
kepadaku,
“Kak, nanti mau kuliah dimana?” Tanya Kira kepadaku di layar
telepon genggam bermerek sony ericsson.
“Ehmm dimana ya? Aku sih pengennya di UNPAD.” Dulu sekali
aku sangat ter-influence dengan ayah yang memiliki latar belakang Ilmu Komunikasi
UNPAD. Ayah dulu sering masuk koran KOMPAS dengan tulisan-tulisannya. Melihat
tulisannya dipaparkan di koran ternama itu membuatku menyukai bidang sastra. Aku
juga sering membantu pekerjaannya untuk mengetik bahan yang telah ia tulis di
kertas kala itu. “Kamu mau kuliah dimana emang?”
“Wah sama dong kak, aku juga mau UNPAD. Pokoknya aku pengen
kuliah sama tinggal di Bandung.” Jawab Kira semangat.
“Kalo gitu nanti kita ketemu dong ya haha.”
“Iya kak, tapi serius ga kak? Janji ya nanti kita ketemu
disana?”
Beberapa hal yang baru aku sadari, sedari dulu memang tabiatnya
anak muda adalah berjanji, terlebih ke gebetannya. Apa-apa selalu dibuat janji,
entah jangan tidur kemaleman, entah jangan bandel, entah jangan melakukan
aksi-aksi menegangkan seperti limbad pasti selalu diakhiri dengan janji. Dan
kala itu, tanpa mempertimbangkan masa depan serta takdir akan membawa kemana,
aku pun menjawab,
“Iya janjiiiii. Nanti kita ketemu di Bandung.”
Dasar anak bau kencur.
Akhirnya aku dan Kira tidak ada satupun yang kuliah di
Bandung. Sebelum itu aku dan Kira pun tidak berpacaran, hanya teman. Tidak
mesra. Hanya teman. Teman tapi tidak mesra, sama sekali. Kami melanjutkan
kehidupan kami masing-masing, kala itu dia berpacaran dengan orang lain aku pun
begitu.
Kira berkuliah di universitas swasta ternama mengambil
teknik perminyakan sampai saat ini. Sedangkan aku adalah lulusan teknik mesin
dari kampus negeri di Jakarta. Dari sini aku sudah ingkar satu janji, yaitu
tidak melanjutkan kesukaan tentang sastra dari Ayah.
Dasar anak bau, badan.
Kembali ke Bandung, malam ke sembilanku ini kebetulan malam
minggu, hujan lagi. Waktu yang sangat tepat untuk bernostalgia, dasar kaum
susah move on. Ajaibnya pikiran yang bisa mengingatkanku akan kenangan itu atau
memang Allah yang sedang mengerjaiku untuk kembali mengingat kenangan itu, aku
teringat Kira lagi. Sekedar menegaskan agar tidak terjadi salah kaprah antara
aku dan netizen, perasaanku kepadanya sudah sangat minim yang kalau dipersentasekan
mungkin sekitar 0,000000001% (bisa ae kang dodol) hanya saja untuk saat ini aku
sangat ingin mengobrol dengannya. Mengetahui kondisinya, perkembangan hidupnya,
melihat pandangan-pandangannya, serta membahas hal-hal kekanakan antara kita
dulu sebagai teman yang tidak mesra, sama sekali. Dan aku pun akan menceritakan
tentang kehidupanku disini, perkembanganku, cerita-cerita yang menjadikan aku
pribadi yang seperti ini, lalu ditutup dengan, “Kira, aku tinggal di Bandung
sekarang.”
Hoalah, manusia ini diciptakan oleh Allah memang bersama
hasrat yang menempel sepanjang hidupnya, intinya banyak maunya. Kopi yang
sedari tadi kubuat juga sudah terlanjur dingin, membuat kopi ini dapat
dihabiskan dalam satu tegukkan. Tak kusadari juga hujan pun berhenti, ketimbang
melamun kuputuskan pergi mencari udara segar menaiki honda beat tempur yang
kubawa ke Bandung dari rumah.
Tidak ada tempat spesifik yang ingin aku datangi. Malam itu
Bandung romantis, basah karena hujan ditemani lampu jalan yang temaram, aku
putuskan untuk pergi ke daerah cimbeuleuit. Aku ingat disana ada warung bakso
aci yang dikenalkan kawanku, pas untuk menghangatkan badan ditengah suasana
sejuk. Sesampainya disana aku memesan semangkuk bakso aci panas lengkap dengan
sambal pedas serta fruit tea dingin.
“Atas nama siapa A’ pesanannya?” Tanya akang bakso yang
menyebut dirinya “ganteng squad”, sungguh kepercayaan diri yang tiada tara.
“Riman A’.”
“Oh siap A’ ditunggu ya A’.”
“Eh siap A’.” Kataku sambil melihatnya meracik baksoku.
“Ari Aa’ teh aya janji kadieu, A’? sorangan wae jajan-na
hehe.” Kalau diartikan ke Bahasa Indonesia kira-kira kaya gini, “mas ada janji
kesini? Sendirian aja makannya hehe.
Pernah ga perasaan tuh kaya tertohok gitu, bidikan kata-kata
si Aa’ bakso tepat mengenai perasaanku kali ini, iseng sekali takdir menggodaku
malam ini. Aku pun hanya tersenyum-senyum keheranan menanggapi perkataan si
Aa’. Si Aa’ yang bingung karena tidak mendapat responku langsung menyerahkan
semangkuk bakso panas,
“ini A’ baksonya.”
“Eh iya A’ nuhun.” Sebelum aku berpaling ke meja,
“A’ ada kertas kosong A’?”
“Oh ini A’ punten.” Aa’ bakso menyerahkan kertasnya
kepadaku.
Sambil kubawa ke meja bakso beserta fruit tea, aku pinjam
juga spidol hitam milik Aa’ bakso. Sambil duduk aku hadapkan kertas lalu
kutuliskan sesuatu yang sepertinya memang harus diselesaikan malam ini,
Disana tertulis,
KIRA, SAAT INI AKU BAIK-BAIK SAJA DAN AKU SEKARANG SUDAH
MENETAP DI BANDUNG.
Sambil kulipat kertas tersebut, kubuat origami berbentuk
pesawat. Aku beranjak sebentar dari meja makanku lalu aku berjalan ke arah
balkon warung bakso yang menghadap ke kota Bandung.
Terbanglah, dan sampaikan kepadanya.
Aku percaya, semesta memainkan peran yang unik untuk
terlibat dalam kehidupan manusia. Entah bagaimana caranya, semesta akan membuat garisnya
menyinggung kehidupanku, suatu saat. Dan ketika saat itu terjadi aku pastikan
bahwa aku telah siap untuk mengucapkan, “Kira, apa kabar?”
No comments:
Post a Comment