Thursday, May 23, 2024

How to Make Millions Before Grandma Dies - In Depth Review

Di tahun 2018, saya memutuskan untuk bekerja di Bandung setelah mendapat 3 tawaran pekerjaan pada saat yang bersamaan. Keputusan itu adalah kolaborasi antara keinginan saya untuk bekerja sebagai insinyur pesawat terbang dan restu orang tua yang menginginkan saya untuk tinggal di Bandung. Selama 6 tahun saya tinggal dan bekerja di Bandung, ternyata saya baru mendapatkan jawaban sebenarnya kenapa saya harus berada di Bandung untuk waktu selama itu. Dan itu adalah untuk datang ke pemakaman Nenek saya, di tahun 2023.

Saat mendapatkan kabar bahwa Nenek saya meninggal dunia di pagi hari, saya langsung mengurus izin ke kantor dan berangkat naik motor dari Bandung menuju pemakaman keluarga di Sukabumi. Dan Ketika mengantar Nenek saya ke tempat peristirahatan terakhirnya, hati kecil saya berbisik. Ini adalah hal yang tidak akan saya alami jika saya kala itu menerima pekerjaan di luar pulau Jawa. Tepat, di situlah saya merasakan full circle moment. Segala peristiwa dalam hidup yang tidak kita ketahui arahnya akan terjawab dalam waktu yang tidak dapat diprediksi

Kenangan-kenangan itu seketika terputar kembali saat saya menonton film How to Make Million Before Grandma Dies. Saya mengira film ini adalah sebuah film tentang seorang anak yang sangat mencintai Neneknya dan dia ingin memiliki uang yang banyak untuk mewujudkan keinginan Neneknya sebelum meninggal dunia. Ternyata saya salah besar.

Film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki Bernama “M” yang ingin mengurus Neneknya yang diketahui mengidap penyakit kanker stadium akhir. M ingin menjadi orang yang paling disayangi oleh Neneknya sehingga nanti Ketika Neneknya meninggal, M mendapat warisan yang besar dari Nenek.

Kurang ajar? Memang. Tidak sekali dua kali saya dibuat menghela napas panjang karena motif M yang sangat tegas tergambar pada setiap aksi-aksinya mengurus Nenek. Tidak Ikhlas dan jelas berharap pamrih dari apa yang dia lakukan. Neneknya pun sudah mencium gelagat M yang tiba-tiba peduli dan ingin mengurusnya.

Namun, bukankah itu justru realita yang banyak terjadi saat ini?

Kekuatan terbesar dari film ini bukan dari bagaimana cerita ini menghadirkan plot twist atau adegan yang bombastis. Tapi dengan dekatnya isu yang disajikan, bagaimana kegiatan sehari-hari yang terjadi antara nenek dengan anak atau cucu, dan relevannya obrolan yang disajikan oleh karakter di dalam film ini entah kenapa begitu mengena di hati saya.

Saya akan bilang, film ini bukan untuk semua orang. Namun jika kamu memiliki hubungan yang special antara seorang cucu dan Nenek, atau seorang anak dan Ibu, ini adalah film yang tepat untukmu. Seminimal mungkin, kamu akan mulai menghargai waktu yang saat ini dapat kamu habiskan dengan mereka.

Banyak orang yang mulai menangis bukan dari puncak konfliknya, namun dari bagaimana film ini memperlihatkan kedekatan sehari-hari antara Nenek dan M. Untuk saya, tangis saya pecah saat mengetahui fakta bahwa Nenek menabung untuk M, sejak M kecil, di setiap bulan, tanpa terputus, dan tanpa pamrih.

Meskipun M telah melupakan itu
Meskipun M datang kembali dalam hidup Nenek dengan sombong dan pamrih
Dan M dengan nyata menyakiti hati Nenek berulang kali

Terkadang, kita perlu diingatkan bahwa mencintai seseorang tidak harus selalu berbalas.

Namun, alangkah lebih baiknya jika seseorang tersebut mengetahui betapa besar rasa sayang kita kepada dirinya

Sebelum kesempatan tersebut menghilang dan perasaan kita tidak akan pernah tersampaikan..

No comments:

Post a Comment