Thursday, November 16, 2017

Krusial!

Terkadang kita rindu dengan konsep jatuh cinta sesederhana menatap dan menyapa, lalu tersipu malu dengan menyembulnya rona merah di bawah mata. Dikala rindu menjenguk, sajak berpaut dengan lagu penawar belenggu. Kasmaran ala orang zaman dulu adalah kisah cinta yang benar-benar membuat iri melulu. Bukannya aku tidak suka dengan konsep cinta pajang foto update di sosial media, atau pantau-memantau kabar via whatsa-ulala, aku hanya sedang menyelami imajinasi kisah indah bak Romeo dan Julieto. Tapi disinilah aku sekarang, di seberang halte yang terang dengan lampu neonnya, duduk menanti seseorang yang bahkan masih aku percayai bahwa dia akan ingat kalimatnya tentang janji. Haha naïf sekali. Entah apa yang ada di pikiranku, terbuai angan kenangan, terlalu banyak menonton kisah-kisah yang berakhir haru. Cengeng. Pukul 22.51, dia sudah lewat 51 menit dari janji yang ia ucapkan 5 tahun silam. Ya 5 tahun, sekarang kau akan cekikan dan berpikir bahwa aku orang bodoh, memang. Lemah. Di detik-detik krusial ini aku jadi sangat membenci dia, tapi akan merindu dan menyesal ketika memang benar-benar tidak bertemu. Argh! Rasanya ingin AAARRRRRGGGHHHH!!! Coba kututup mataku dengan tangan, barangkali dia akan tiba-tiba muncul dan memberi kejutan. Hehe aku coba, satu, duaa, tigaaaa… aku curang~ selagi menghitung aku membuka mataku sedikit dan melihat melewati celah jari-jariku yang berkeringat. Dan benar saja, aku melihat Romeo dan Julieto sedang berdiri di seberang jalan.

“Kamu harus tau Julieto, aku selalu suka pada seseorang yang memilih untuk setia dikala komitmen adalah satu-satunya alasan mengapa rasa itu selalu ada.” Romeo sangat bersahaja ketika mengucapkan kata-katanya, anehnya aku bisa dengan mirip meniru apa yang Romeo katakan. Dan sepertinya kata-kata yang terlontar habis ini adalah, “Oh Romeo, aku berjanji suatu hari nanti kita akan bertemu di tempat ini pada saat yang sama, ketika bulan dan bualan sama indahnya seperti hari ini.” Ah, Hebat! Aku bisa mengucapkan hal yang sama dengan Julieto! Bahkan gerakan bibir kami sama persis!

“5 tahun lagi Rim-eo,
Tunggu aku bzzzzzzzzzzzzz jk bzzzzz 5 tahun lagi,
5 tahun lagi Ro-man!” bzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz kiw.

Yang namanya pukulan pamungkas dalam tinju,
Lamunan itu menghujam atom penyusun sel darahku,
Menyeruak! Impulsif! Tak tertahan!
Dan BAM!
Darahku memberontak.
Nekat! Seperti perampok-perompak!
Kehilangan daya, kontrol diri sirna.
Aku S A R A P!

“KIRAAAAAAAA!” tak sadar, aku telah berdiri dengan tangan terkepal sambil meneriakan namamu, 
.
.
.
Kira.
.
.
.
Dan, BAM!
Beruntung tidak ada yang melihat diriku kerasukan. Bisa-bisa masuk viral di TransJakarta nanti.

Namun, malam itu cenderung dingin, tidak sampai membuat nafasku terlihat namun keringat meluncur deras dari pelipisku. Aku rindu. Aku benci. Aku mengakuinya. Aku kalah.

Aku akan pulang, tidak mengingatmu disana dengan bayanganmu, Manis! Manis itu untuk kata-kata yang keluar dari perutmu! Manis! Oke, parasmu juga, kelewat Manis!

Argh! Semakin tidak kondusif, apalagi konklusif. Lain kali sebelum meledak, akan kukeluarkan kamu wahai atom perampok dan perompak,
Serta perampok-perompak!

Lihat, bahkan kenangan tidak akan membantu harapan kita terwujud. Bahkan taktik mengeluarkan Romeo dan Julieto untuk mengulur waktu tetap tidak memunculkan dia, sialan! 23.19, sudahlah aku pulang! Serong kiri, menunduk ke bawah, aku terlalu memuakan untuk berjalan tegap dengan pandangan lurus! Aku akan berjalan setapak demi setapak. Satu langkah, dua langkah, tidak akan ada yang menghalangiku! Sekalipun kamu yang berdiri di depanku wahai kamu wanita idaman kroco dan… MasyaAllah.

“Aku selalu suka pada seseorang yang memilih untuk setia…” kata seorang wanita yang meng-copy naskah Romeo kepada Julieto, tapi sebentar, dia bukan meng-copy, dia ingat kata-kata itu, persis tidak kurang tidak lebih. Hormon adrenalinku tidak pernah bekerja se-tornado ini. Perkara suara, jantung ini seperti bedug magrib dikala senen-kamis, membahagiakan. Lalu, aku lanjutkan, “Dikala komitmen adalah satu-satunya alasan mengapa rasa itu selalu ada.”

See? Terkadang kita memang benar-benar merindu dengan konsep jatuh cinta sesederhana menatap dan menyapa. Sesuatu yang tidak akan kamu dapatkan di pesan singkat ataupun status fexbuk. Sampai kamu benar-benar merasakan apa yang aku gambarkan dari pukul 22.51, kamu akan menyadari bahwa kisah cinta tempo dulu memang candu.

“Kira, kamu benar-benar.. MAANNIISS!
Kata-katanya! Oke orangnya juga!”


No comments:

Post a Comment