Monday, February 23, 2026

Tentang Sword Art Online

Ketika gua bekerja di Bandung, mungkin sekitar 2018 atau 2019, dan saat itu juga tidak memiliki laptop sebagai sumber kegiatan anak kosan, di era itu gua resmi menjadi wibu sejati. Jujur, gua harus mencari tau apa hal yang membuat gua menjadi seorang wibu karena di era itu gua bener-bener makan banyak anime yang direkomendasikan di mana pun lewat redmi 4X. Hape legend yang sangat berkesan dalam hidup gua.

Di antara banyaknya anime yang bisa gua tonton, entah kenapa saat itu gua bertemu dengan Sword Art Online. Sword Art Online atau SAO adalah sebuah anime tentang terperangkapnya begitu banyak orang dalam sebuah game pada saat kondisi kesadaran mereka full dive di dalam game tersebut. Full dive adalah sebuah kondisi secara sadar di mana kita terbangun dalam game bersama player-player lain secara online pada waktu yang sama. Karena terperangkap di dalam game tersebut, maka orang-orang yang terperangkap harus bertahan hidup. Jika mereka mati di dalam game, mereka juga akan mati di dunia nyata. Edan.

Anime dari SAO ditayangkan pada tahun 2009, dengan original story-nya yang dibuat oleh Reki Kawahara pada tahun 2002, secara ajaib bisa membayangkan masa depan di mana orang-orang bisa masuk ke dalam dunia game menurut gua bener-bener ga masuk akal.

SAO menjadi sebuah wave tersendiri yang akhirnya menciptakan banyak karya tentang bagaimana seseorang bisa masuk dalam dunia game di masa depan.

Serial SAO masih berlanjut sampai hari ini (panjang umur Reki-san) namun cerita tentang bagaimana Kirito, sebagai main character, yang merupakan seorang gamer RPG online-addict bisa menjadi titik sentral di mana cerita dapat terdorong maju sekalipun nyawa dia taruhannya. Bagaimana world building yang sangat mengingatkan gua pada game Ragnarok sampai kisah cintanya bersama Asuna menjadi petualangan yang gua harap gua bisa ngelupain semuanya untuk gua bisa rasain lagi rasanya pertama kali menyaksikan serial ini kembali.

Sekalipun, harus gua akui, SAO itu adalah cerita untuk demografi laki-laki. Karena di dalamnya banyak sekali fan service sampai cerita di mana satu laki-laki populer yang akhirnya selalu menggait banyak perempuan (istilah bahasa Jepang-nya harem). Namun SAO tetap spesial dengan kreativitas, imajinasi, sampai ke cerita pengorbanan yang sangat menyentuh hati.

Untuk gua, SAO adalah salah satu cerita terbaik yang pernah gua saksikan seumur hidup gua.

Dan dari SAO, gua mendapatkan keinginan untuk membuat cerita sendiri dengan tema yang sama.

Semoga, sebelum gua meninggal, gua bisa nulis satu buku tentang SAO versi gua sendiri.

Semoga bisa tercapai!

Friday, February 20, 2026

Teruntuk Kamu yang Benci dengan Generative AI

Untuk memulai artikel ini ke dalam berbagai perspektif. Saya akan memulainya dengan:

Saya benci AI

Saya benci sekali dengan AI

 

Kala itu di tahun 2024, saya baru memasuki kantor saya saat ini setelah berpindah kantor untuk pertama kalinya setelah 6 tahun bekerja. Saya mendapat tugas dari mentor saya untuk melakukan deep research tentang sebuah product yang nantinya akan saya tekuni semasa saya bekerja di kantor saya. Saya yang konvensional bertanya kepada mentor saya, saya bisa pelajari dari buku atau referensi apa? Beliau bilang, kamu coba gali pakai chatgpt saja.

Untuk saya, bahkan sampai hari ini, masih menganggap bahwa jika kita ingin mendalami suatu ilmu, maka kita harus banyak membaca sesuatu. Membaca buku-buku dari penulis yang berhasil mengkristalkan seluruh pemikiran semasa hidupnya ke dalam lembar-lembar kertas. Atau dari para ahli yang menuliskan hasil risetnya ke dalam belasan paper di perpustakaan atau internet. Namun zaman sudah mengharuskan saya untuk mencoba menggunakan apa yang orang sekarang bilang sebagai AI companion.

Kesan pertama saya ketika menggunakan chatgpt, jujur, sangat terkesan. Chatgpt bisa dengan cepat mencari jawaban dari berbagai sumber yang dirinya rangkum sendiri. Jika dahulu saat SMA dan kuliah saya harus bertarung mencari informasi dari buku dan google, saat ini semua hal dapat dijawab oleh chatgpt.

Dalam waktu singkat, trend AI berkembang menjadi generative AI. Tools AI seperti chatgpt kini bisa membuat gambar sampai bahkan video hanya dengan prompt dari pengguna. Sekali lagi, kala itu, saya begitu terkesan.

Tidak pernah terbayang bahwa perkembangan teknologi sudah sampai sejauh ini.

Namun, ternyata perkembangan ini saya rasa terlalu cepat.

Apa yang saat ini kita sebut sebagai AI sudah melesat, melebihi apa yang bahkan bisa kita kendalikan.

Keunggulan AI adalah produktivitas dan memory bank sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan yang kita butuhkan. Dan, seakan tidak ada aturan, AI menerabas etika-etika yang dijaga oleh manusia menjadi karya yang nampak megah namun nyatanya hanya repetisi.

Dalam 2 tahun terakhir, saya melihat begitu banyak sektor pekerjaan manusia yang mulai perlahan digantikan oleh AI. Sebagai gantinya, AI mengganti orang-orang tersebut dengan produktivitas dan efektivitas yang nampaknya baru bisa di-unlock bottle neck-nya.

Maaf saja, tapi orang-orang yang menggunakan generative AI adalah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan spesifik tersebut. Secara massif, mereka muncul ke social media dan menyombongkan hasil kreasi dari AI mereka masing-masing, yang menurut saya sangat menjijikan.

Mereka melupakan bahwa untuk membuat suatu karya, diperlukan proses. Entah itu proses berpikir, proses mengasah keahlian, atau bahkan proses menemukan rasa yang tepat untuk menciptakan sesuatu. Mereka yang menggunakan generative AI tidak menghargai proses tersebut dan dengan bangganya mempertunjukkan hasil AI yang memuakkan.

Seedance 2.0, sebuah terobosan generative AI dalam pembuatan video, baru saja diluncurkan dan hasilnya? Gila. Saya hanya seorang yang memiliki mimpi untuk menjadi film maker di masa depan, melihat seedance 2.0 benar-benar meremukkan hati saya.

Peradaban manusia akan memiliki sebuah generasi di mana generasi tersebut tidak akan sadar betapa sulitnya membuat film sebelum munculnya AI.

Tepat di saat saya membuat artikel ini, saya merasa agak gila karena saya membicarakan topik yang sangat dystopia. Sayangnya ancaman AI nampaknya tidak bisa terbendung.

Dalam perdebatan tentang produktivitas, mereka yang tidak memanfaatkan AI akan tertinggal dari perlombaan lari kapitalisme. Bagaimana cara manusia mencari uang akan sangat terdisrupsi di fase ini.

Peradaban manusia juga akan kehilangan generasi di mana bagi mereka yang tidak memiliki hard skill kreatif akan tergantikan oleh teknologi.

Teknologi terbukti bisa menggantikan hard skill yang repetitif, tapi kemampuan untuk membuat karya dari hati tidak akan bisa mereka copy.

Kehidupan Impian saya adalah slow living dan menikmati game-game juara yang ada di steam atau library game mana pun.

Namun dengan kehadiran AI yang jelas mengusik kehidupan impian saya, saya rasa saya harus terus beradaptasi. Untuk tetap hidup berkecukupan seraya tetap orisinil dan mengambangkan hard skill kreatif untuk bertahan hidup serta waras di masa depan yang nampaknya tidak begitu jauh dari sekarang.

Sunday, February 8, 2026

5 cm per second | In-Depth Review

Tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk kembali mengunjungi cerita 5 cm per second. Alasannya sederhana, karena film tersebut menghasilkan after taste yang sedih dan menyakitkan. Namun karena teman dekat saya mengajak saya untuk menemaninya menonton, saya akhirnya memiliki alasan untuk menyaksikan cerita itu kembali dalam format live action.

5 cm per second adalah sebuah franchise cerita yang diciptakan pertama kali dalam format anime karya Makoto Shinkai, yang beberapa tahun kemudian namanya menjadi sangat terkenal karena keberhasilan dari anime-movie berjudul Your Name. 5 cm per second bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Takaki yang bertemu dengan seorang perempuan bernama Akari di kelas yang sama, jenjang sekolah dasar.

Akari yang merupakan anak pindahan, kesulitan mencari teman dalam kelasnya. Secara kebetulan, Takaki mengajak Akari untuk berbicara terlebih dahulu dan menceritakan bahwa dirinya juga siswa yang selama ini terus berpindah tempat dikarenakan pekerjaan ayahnya. Kesamaan tersebut membuat Akari senang karena mendapatkan teman yang mengerti bagaimana tidak enaknya menjadi anak sekolah yang selalu berpindah.

Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, membicarakan banyak hal, sampai mereka secara tidak sadar mulai menyukai satu sama lain. Ketika keduanya mulai merasa nyaman dan senang karena selalu berkegiatan bersama, Akari terpaksa harus berpindah sekolah lagi karena ayahnya akan berpindah pekerjaan kembali.

Momen disaat Akari meminta maaf di telfon umum kepada Takaki, adalah saat di mana semua penonton akan merasakan sakit (wabilkuhsus saya) karena merasakan sesuatu yang berharga akan menghilang dari mereka berdua.

5 cm per second memiliki banyak dialog dan visualisasi yang memorable. Dimulai dari indahnya langit ungu bersama peluncuran roket ke antariksa, deburan ombak bersama buihnya yang memanjakan mata, sampai ke penampakan kereta yang menjadi anchor penting dari cerita Takaki dan Akari.

Terdapat gap  lebih dari10 tahun antara kali pertama dan kali kedua saya menonton 5 cm per second. Dan ajaibnya, saya mengingat dengan baik momen penting serta kejadian-kejadian yang akan terjadi di sepanjang film. Kecuali, di satu adegan. Yaitu, ketika Takaki menaiki kereta saat badai salju hebat untuk bertemu Akari di stasiun dekat rumahnya.

Di dalam kepala saya, saya berpikir bahwa Takaki dan Akari tidak akan bertemu karena takdir seakan-akan membuat mereka gagal bertemu. Tapi ternyata saya salah, Makoto Shinkai harus mendapatkan apresiasi sebesar-besarnya dalam penulisan plot yang satu ini.

Semua kenangan manis dan sedih dari cerita mereka berdua kembali saya terima dengan detail dan perspektif yang berbeda.

Saya ingat betul. Dulu, saya begitu membenci Akari karena dia dapat melupakan (atau tidak menepati) janji penting yang dibuat bersama Takaki.

Namun, begitu mengunjungi ceritanya kembali, saya mulai mengerti bahwa pilihan untuk beranjak dari believe setiap manusia dapat berganti.

Kontras antara Takaki yang tidak beranjak dan Akari yang beranjak membuat cerita ini dapat dilihat sebagai hal yang benar, sesuai dengan believe-nya masing-masing.

Sialnya, rasa sakit menyaksikan ending dari film ini tetap berdenyut saat saya menyaksikannya untuk kedua kali haha.

Namun, sedikitnya saya mengerti mengapa Makoto Shinkai membuat cerita ini tetap berakhir seperti itu. 

Karena, hal tersebut juga saya lakukan ketika bercerita dengan sepenuh hati. 

Friday, January 30, 2026

Berhenti Sejenak di Umur 30 Tahun

Di tengah kehuru-haraan dunia, kejutan dari pasar modal Indonesia, brewek koleksi kartu pokemon dan TCG one piece, gua juga mau ikut setoran hal di luar normal yang terjadi di Jumat pagi.

Kala itu jam 11 siang, gua izin untuk ambil jam makan lebih dulu karena gua lagi ngidam banget soto mie bogor di depan kantor. Kalo kata anak-anak kampus gua yang kerja di kantor, nama sotonya itu soto gajian, karena belinya habis gajian, ya semacam itu lah haha. Soto itu berada di seberang kantor gua, yang artinya gua harus menyebrang melintasi satu ruas Jalan Raden Saleh.

Kondisi jalanannya so so lah dengan kendaraan merayap ke arah Cikini (dari pertama gua masuk gua ga ngerti kenapa galiannya ga kelar-kelar tuh di sepanjang jalan TIM-Cikini itu wkwkwk) dan cenderung kosong ke arah Senen. Setelah menunggu 1 menit, gua punya kesempatan menyebrang dengan posisi satu mobil SUV krem dan motor yang berusaha menyalip SUV tersebut, keduanya sama-sama ngebut.

Mungkin karena gua nge-sense bahaya dari SUV krem dan motor ini, akhirnya sepanjang setengah jalan menuju sebrang, gua fokus ngasih tanda ke mereka kalo gua nyebrang.

Sesampainya di setengah jalan, gua liat kiri, ternyata dalam jarak 5 meter ada SUV item melaju ke arah gua nyebrang dengan kecepatan yang lebih tinggi dari SUV krem.

Rasanya deg banget.

Secara insting gua ga mungkin mundur karena SUV krem dan motor udah gak akan ngerem, gua percepat lah langkah gua untuk sampai di sebrang. Tapi ternyata, ada motor yang berusaha nyalip dari sebelah kiri SUV item.

Di titik itu, gua mendadak berhenti nyebrang.

Kadang gua suka berpikir ya, kalau gua akan meninggal dalam kondisi yang tenang, dikelilingi orang-orang tersayang. Tapi ternyata dalam kehidupan yang berjalan normal, kita bisa mati konyol karena hal yang engga kita tau tanpa mandang umur kita berapa.

Sebelum gua berteori kembali, kita kembali ke momen dimana gua berhenti kaget. Kejadian berikutnya adalah gua tersadar.

Gua lompat ke trotoar, SUV item ngerem mendadak, motor yang mau nyalip dari kiri, gecol dan hampir jatoh.

Dari samping jalan gua menundukkan kepala minta maaf dan semuanya berlalu kaya ga terjadi apa-apa.

Akhirnya gua makan soto mie bogor yang enak banget itu dengan hati riang haha.

Hari berlalu dengan biasa sampai akhirnya gua pulang naik motor dari Cikini ke Cimanggis. Di perjalanan panjang itu gua jadi berefleksi, di 1 hari menjelang genap 30 tahun gua hidup di dunia ini. Bareng bersama kalian pembaca tulisan ini.

Ada beberapa hal yang mau gua tinggalkan di blog ini karena kalo ga berusaha diingat, periode hidup 20 ke 30 tahun rasanya kaya sekejap mata banget gitu lho haha gua mau merangkumnya ke dalam beberapa sub-topik. Dan yang pertama adalah:

1.     Kesehatan

Jujur, gua sehat banget, gengs. So, don’t worry for even a piece of batagor wkwkwkwk

Di sepanjang satu tahun terakhir, sakit gua bisa diitung jari dan kebanyakan karena maag yang memang sedari dulu juga udah hadir. Ga diitung meler dan bersin-bersin karena itu udah gua terima dalam kehidupan gua (apalagi kalo kena dingin wkwkwk).

Paling yang sekarang berasa banget karena umur adalah upper back pain, mata yang kayanya minesnya udah harus ditolerir pake kacamata, rambut yang heavily rontok semenjak covid, ingatan yang nge-blur (tapi ini mah kayanya dari dulu sih wkwkwk) and… that’s all.

Gua bangga masih bisa mencatatkan lari 5 km dengan pace under 9 km/jam (sekalipun yang terakhir ngos-ngosan parah) dan gula darah normal. Paling berat badan aja yang sedikit demi sedikit naik tanpa rehat haha it’s all good tapi harus banget olah raganya meningkat di tahun-tahun kepala 3.

2.     Life Events

Di sepanjang kepala 2, itu adalah masa gua bekerja untuk pertama kali sampai hari ini. Ngerasain nge-kost jauh dari rumah karena kerja selama 6 tahun di Bandung sampai akhirnya bisa kerja di Jakarta. Dealing with loneliness, hard times, friendship after graduate from college, dan semua kejadian yang ada di antara waktu tersebut.

Di kepala 2, ada 2 hal yang sangat gua syukuri sampai hari ini. Hal tersebut adalah memulai podcast dan belajar mengelola uang, termasuk bersaham.

Podcast adalah hal yang ga gua duga kalau efeknya akan sebesar itu dalam kehidupan gua. Dimulai dari ngewujudin mimpi untuk siaran bareng Ojan, sampai siaran di Prambors bersama Eda. Chapter Prambors pun ngasih efek yang ga terduga lagi, dimana gua akhirnya punya temen-temen deket yang sangat hangat dan sangat gua pedulikan sampai hari ini.

Di kepala 2 juga akhirnya gua berhasil menulis dan mencetak buku orisinil sendiri dengan bantuan banyak orang dan rasanya… sangat emosional kalau diingat kembali. Surreal banget…

Dan… banyak lagi yang terjadi di masa-masa ini termasuk jalan-jalan pertama gua bersama JINTH ke luar kota yang menjadi salah satu kenangan terbaik gua semasa hidup.

Kepala 2 benar-benar menyenangkan.

3.     What Next

Semenjak gua kerja dan tinggal di Bandung, gua selalu merasa bahwa setiap harinya gua harus memanfaatkannya dengan baik. Gua merasa bahwa itu adalah cara kita menghargai hidup itu sendiri. Dan gua merasa menjalaninya dengan baik, tanpa penyesalan apapun.

30 tahun hidup adalah waktu yang lama. Dan gua bersyukur banget bisa dikasih kesempatan sama Allah untuk hidup selama ini.

Sekalipun hidup gaada yang tau, tapi anggaplah kepala 3 adalah masa puncak. Masa dimana gua harus menikmati resource dan potensi terbaik diri gua di masa ini. Masa dimana kesehatan dan materi sedang bisa dinikmati semaksimal-maksimalnya.

Seperti kata Raditya Dika, di kepala 4 akan muncul permasalahan kesehatan yang hadir bukan karena kita tidak menjaga diri kita. Tapi memang karena sel di badan kita sudah melambat metabolismenya.

Gua bertekad untuk menikmati dan gaining banyak hal di masa-masa terbaik gua ini. So, let’s start fase baru, era kepala 3 dari kita semua yang lahir di tahun 1996.

Terima kasih sudah membaca sampai sini!

Semoga kamu juga bisa selalu menikmati dan menambah pengalaman baru di waktu yang kita tidak tahu kapan akan berakhir ini.

Tuesday, October 7, 2025

Rangga dan Cinta | In-Depth Review

Di sela-sela kesibukan dalam mempersiapkan preorder novel pertama saya, Riman dan Kira, saya menyempatkan untuk menonton sebuah remake dari Ada Apa dengan Cinta, yang merupakan film coming-of-age legendaris Indonesia, yaitu Rangga dan Cinta.

Fun fact, saya belum pernah menonton secara penuh film Ada Apa dengan Cinta. Pada beberapa kesempatan, saya hanya menonton sekelibat-sekelibat saja, entah dari penayangan tv nasional ataupun via platform streaming. Lucunya lagi, saya malah sudah menonton secara penuh Ada Apa dengan Cinta 2 haha. Berbekal 2 fakta menyenangkan itulah saya memutuskan untuk menonton Rangga dan Cinta.

Rangga dan Cinta adalah sebuah film remake dari Ada Apa dengan Cinta yang mengusung tema musikal yang kental. Jangan kaget kalau akan ada banyak scene menyanyi dari para castnya. Untuk penonton yang tidak terbiasa film musikal pasti akan terganggu dengan pace ceritanya yang bisa saja sedang sangat serius, namun dipatahkan dengan adegan menyanyi beserta koreonya.

Hampir semua main cast dari Rangga dan Cinta adalah wajah baru, sebut saja Leya Princy sebagai Cinta dan El Putra Sarira sebagai Rangga yang begitu terlihat menikmati perannya dalam film mereka ini.

Pengalaman menonton Rangga dan Cinta akan menjadi sulit jika kamu sudah menonton Ada Apa dengan Cinta, karena tidak akan ada yang bisa melepaskan karakter Ada Apa dengan Cinta dengan original cast-nya. Namun, jika kamu belum menonton Ada Apa dengan Cinta seperti saya, maka menonton Rangga dan Cinta akan menjadi menyenangkan.

Akhirnya saya mengerti, mengapa IP dari Ada Apa dengan Cinta sangat legendaris dan menjadi sumber kenangan indah oleh banyak orang yang menontonnya.

Kehidupan SMA yang dinamis, persahabatan, jatuh cinta, permasalahan keluarga, pesan moral, sampai ending yang iconic berhasil menyusun sebuah runtutan cerita yang sangat berkesan. Ada Apa dengan Cinta juga mengingatkan saya bahwa perasaan sayang dan cinta dapat terjadi tanpa intensi awal serta dibuat mulur sampai jutaan detik di masa depan.

Rangga dan Cinta jelas hadir bukan untuk menggantikan Ada Apa dengan Cinta. Namun, kehadirannya untuk berjumpa dengan penonton di generasi terbarunya menjadi sama penting. Untuk menjadi inspirasi dan penanda bahwa masa-masa indah dapat kita ciptakan semasa remaja.

Hati saya masih berbunga setelah menyaksikan Rangga dan Cinta. Semoga saja selekang 1 purnama yang ternyata masanya berbeda antara di New York dan Jakarta.

Oh, iya.

Preorder novel perdana saya, Riman dan Kira, dibuka mulai tanggal 15 Oktober 2025.

Monday, July 14, 2025

Sore: Istri dari Masa Depan (2025) | In-Depth Review

Aku dipertemukan oleh Sore, si Istri dari Masa Depan yang seharusnya kalian sudah pernah lihat itu, sekitar tahun 2020. Its quite late, karena web series dari Sore hadir di tahun 2017 di youtube official Tropicana Slim. Kala itu, seperti manusia-manusia di bumi pada umumnya, kita tidak memiliki aktivitas selain menghabiskan waktu untuk berselancar di internet. Begitu pun aku, sampai akhirnya bertemu dengan Sore dan Jonathan.

Aku menonton Sore (2017) tanpa ekspektasi, dan berbekal kecintaanku pada genre romance maka aku mulai menonton series sebanyak 9 episode itu. Setelah menghabisi semua episodenya, aku (dan banyak orang lainnya) jatuh cinta dengan kisah dari Sore dan Jonathan. Mungkin Sore (2017) membuatku memulai menonton banyak web series di youtube dan menjadikan parameter tersendiri untuk standar cerita web series yang bagus.

Kehidupan berjalan dan 8 tahun berselang, Sore: Istri dari Masa Depan (2025) hadir dalam format film panjang dan ditayangkan di bioskop.

Ketika mengetahui akan ada film panjang dari Sore, aku sangat excited. Karena, entah mengapa memori dan kesan dari Sore versi 2017 menyeruak di kepalaku. Ada semacam rindu yang seketika hadir dengan karakter dan cerita yang kita cintai bersama-sama.

Film panjang Sore dibuat dengan garis besar cerita yang sama. Jonathan (Jo), yang Kembali diperankan oleh Dion Wiyoko, adalah seorang fotografer freelance yang sedang menetap di suatu kota yang sangat sepi di Kroasia, sedang berburu foto untuk diajukan dalam sebuah pameran, yang dibantu temannya, Carlo. Hingga pada suatu pagi, ketika Jo baru saja terbangun dari tempat tidurnya, ada seorang perempuan yang sudah terduduk di kasur tempat Jo tertidur, sedang menatap Jo dengan penuh perasaan.

Sontak, Jo terkaget dan melompat dari kasur tersebut dan bertanya kepada perempuan tersebut, siapa dia? Perempuan tersebut menjawab,

“Aku Sore. Istri kamu dari masa depan”

Bagi mereka yang sudah menonton web seriesnya, semua nuansa gambar, latar, musik, seketika membawa kita kembali ke Sore versi web seriesnya. Ada rindu yang terbalaskan di sana dan sangat besar.

Sore (2025), yang diperankan oleh Sheila Dara, berakting sangat kuat. Sebegitu kuatnya sampai seluruh emosi yang disampaikan melalui matanya terasa begitu dalam. Yandy dan Mita, selaku sutradara dan produser, memang menyatakan bahwa salah satu kekuatan terbesar dari Sore versi film panjang adalah mata dari Sheila dan Dion. Dan aku akui, janji Yandy dan Mita terbayar melebih ekspektasi.

Sore yang hadir dari masa depan, ingin membuat Jonathan berkehidupan yang lebih sehat. Jo yang setiap hari merokok, jarang meminum air mineral, dan suka begadang, ingin Sore ubah, Karena dengan pola hidup seperti itu, Jo akan meninggal saat dirinya sudah menjalani kehidupan pernikahan bersama Sore.

Banyak kesamaan yang dihadirkan Sore versi film panjang dengan Sore versi web series. Namun, terdapat perbedaan yang membuat kedua karya ini menghasilkan ending yang berbeda.

Sore versi film panjang adalah kemegahan dari idealisme Yandy Laurens untuk berani membawakan serta mengaransemen ulang cerita yang sudah sangat dicintai oleh banyak orang ini.

Alasan tersebut adalah, bagaimana pandangan Yandy mengenai pernikahan yang ternyata bertambah setelah melalui pernikahannya dengan Joeanne. Tentang bagaimana cinta adalah bentuk dari usaha yang tidak pernah putus.

Tidak ada transaksi dalam cinta. Karena yang terjadi adalah kita yang selalu ingin memberi atau melakukan hal lebih untuk pasangan kita, selamanya.

Kita bisa berdebat panjang mengenai Sore versi mana yang lebih bagus, opini semua orang valid. Tapi pelajaran yang disampaikan oleh Sore versi film panjang adalah sesuatu yang jelas tidak akan kamu dapatkan dari Sore versi web series.

Memilih kamu, sekalipun dalam kehidupan ke-10 ribu, rasanya agak mustahil untuk dibuktikan. Peradaban manusia belum semaju itu untuk menciptakan dunia paralel atau time travelling.

Namun, entah kenapa, itu adalah ungkapan yang paling romantis belakangan ini. Untuk menunjukkan betapa yakinnya Sore memilih Jonathan untuk menjadi pasangan hidupnya, selamanya.

Sunday, April 20, 2025

Pertemuan dengan Istri dari Masa Depan

Apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba, kamu dipertemukan dengan istri atau suami kamu dari masa depan?

Reaksi pertama, pasti kaget.

Selanjutnya, ga percaya.

Setelahnya, kamu akan jungkir balik dan ditutup dengan kayang karena salah tingkah.

Oke yang terakhir aku ngarang.

Tentu saja, dipertemukan dengan seseorang dari masa depan adalah sesuatu yang tidak mungkin. Setidaknya di era ini. Sekalipun kita telah memiliki teori relativitas dan mekanika kuantum, teknologi yang membawa manusia ke masa lalu atau masa depan rasanya masih sangat jauh untuk kita rasakan. Mungkin tidak dalam kehidupan kita juga.

Aku mengenal, beberapa teman-temanku yang memiliki istri atau suami yang mereka sudah mengenal dari bangku sekolah. Jika mereka ternyata dipertemukan dengan jodoh mereka dari masa depan, maka agaknya rasa kaget atau shocknya bisa jadi berkurang.

Namun, bagaimana jika ternyata kamu bertemu dengan istri atau suami dari masa depan yang selama ini kamu tidak pernah bertemu dengannya?

Konsep fiksi ini sangat menarik buatku. Bukan tentang bagaimana caranya seseorang dari masa depan mengerahkan segala upayanya untuk bertemu dengan kita. Namun dari bagaimana urgensi mengapa orang tersebut ingin bertemu kita dari masa depan.

Bayangkan, kamu adalah pekerja kantoran biasa. Yang menjalani rutinitas biasa. Bekerja dari jam 8 ke jam 5. Membeli kopi di pagi hari karena kamu membutuhkan kafein akibat kebiasaan yang membuatmu kurang tidur setiap harinya. Lalu saat kamu ingin membeli americano normal sugarmu itu, tiba-tiba ada seseorang dari sebelahmu dan bilang,

“Kamu bisa ga gausah beli kopi dengan gula yang sebanyak itu lagi”

Seperti yang kubilang.

Reaksi pertama, pasti kaget.

Selanjutnya, ga percaya.

Setelahnya, kamu akan menambah gula lagi untuk americanomu karena kamu kesal dilarang untuk melakukan rutinitas pagimu setiap harinya.

Oke, yang itu juga ngarang. 

Karena biasanya kita harus terlihat cool di depan orang yang belum kita kenali.

“Ehm sorry, kakaknya siapa ya?”

“Aku? Aku istri kamu dari masa depan”

Ya masa iyaaaaaaa wkwkwk tidak akan ada yang percaya dengan pertemuan model seperti ini.

Tapi memangnya, ada urgensi apasih jodoh kita dengan segala intrik dan rahasia teknologi (atau sihirnya) yang dengan susah payah datang jauh dari masa depan untuk menemui kita 1 atau bahkan 5 tahun ke belakang?

Yang pertama mungkin karena jodoh kita ingin merubah kebiasaan buruk kita agar hidup lebih sehat di masa depan

Yang kedua mungkin karena terdapat kejadian buruk dan jodoh kita berusaha untuk menghindarkan kita terkena kejadian buruk tersebut

Atau yang ketiga, hanya sekedar ingin bertemu saja. Ingin menghabiskan waktu lebih banyak dan mengenal sisi jodoh kita di saat lebih muda

Terlepas apapun alasan kehadirannya, kedatangan istri atau suami dari masa depan adalah konsep yang romantis dan menarik untuk diikuti.

Jangankan dari masa depan, didatangi besok pun aku sudah pasti akan kaget.

Sore: Istri dari Masa Depan buatan Yandy Laurens akan tayang 10 Juli 2025 di bioskop kesayangan kamu. Ditonton ya!