Di sela-sela kesibukan dalam mempersiapkan preorder novel pertama saya, Riman dan Kira, saya menyempatkan untuk menonton sebuah remake dari Ada Apa dengan Cinta, yang merupakan film coming-of-age legendaris Indonesia, yaitu Rangga dan Cinta.
Fun fact, saya belum pernah menonton secara penuh
film Ada Apa dengan Cinta. Pada beberapa kesempatan, saya hanya menonton
sekelibat-sekelibat saja, entah dari penayangan tv nasional ataupun via
platform streaming. Lucunya lagi, saya malah sudah menonton secara penuh
Ada Apa dengan Cinta 2 haha. Berbekal 2 fakta menyenangkan itulah saya
memutuskan untuk menonton Rangga dan Cinta.
Rangga dan Cinta adalah sebuah film remake dari Ada
Apa dengan Cinta yang mengusung tema musikal yang kental. Jangan kaget kalau akan
ada banyak scene menyanyi dari para castnya. Untuk penonton yang tidak
terbiasa film musikal pasti akan terganggu dengan pace ceritanya yang bisa
saja sedang sangat serius, namun dipatahkan dengan adegan menyanyi beserta
koreonya.
Hampir semua main cast dari Rangga dan Cinta adalah
wajah baru, sebut saja Leya Princy sebagai Cinta dan El Putra Sarira sebagai
Rangga yang begitu terlihat menikmati perannya dalam film mereka ini.
Pengalaman menonton Rangga dan Cinta akan menjadi sulit jika
kamu sudah menonton Ada Apa dengan Cinta, karena tidak akan ada yang bisa
melepaskan karakter Ada Apa dengan Cinta dengan original cast-nya.
Namun, jika kamu belum menonton Ada Apa dengan Cinta seperti saya, maka
menonton Rangga dan Cinta akan menjadi menyenangkan.
Akhirnya saya mengerti, mengapa IP dari Ada Apa dengan Cinta
sangat legendaris dan menjadi sumber kenangan indah oleh banyak orang yang
menontonnya.
Kehidupan SMA yang dinamis, persahabatan, jatuh cinta, permasalahan
keluarga, pesan moral, sampai ending yang iconic berhasil menyusun
sebuah runtutan cerita yang sangat berkesan. Ada Apa dengan Cinta juga mengingatkan
saya bahwa perasaan sayang dan cinta dapat terjadi tanpa intensi awal serta
dibuat mulur sampai jutaan detik di masa depan.
Rangga dan Cinta jelas hadir bukan untuk menggantikan Ada
Apa dengan Cinta. Namun, kehadirannya untuk berjumpa dengan penonton di
generasi terbarunya menjadi sama penting. Untuk menjadi inspirasi dan penanda
bahwa masa-masa indah dapat kita ciptakan semasa remaja.
Hati saya masih berbunga setelah menyaksikan Rangga dan
Cinta. Semoga saja selekang 1 purnama yang ternyata masanya berbeda antara di New
York dan Jakarta.
Oh, iya.
Preorder novel perdana saya, Riman dan Kira, dibuka
mulai tanggal 15 Oktober 2025.
No comments:
Post a Comment