Monday, February 23, 2026

Tentang Sword Art Online

Ketika gua bekerja di Bandung, mungkin sekitar 2018 atau 2019, dan saat itu juga tidak memiliki laptop sebagai sumber kegiatan anak kosan, di era itu gua resmi menjadi wibu sejati. Jujur, gua harus mencari tau apa hal yang membuat gua menjadi seorang wibu karena di era itu gua bener-bener makan banyak anime yang direkomendasikan di mana pun lewat redmi 4X. Hape legend yang sangat berkesan dalam hidup gua.

Di antara banyaknya anime yang bisa gua tonton, entah kenapa saat itu gua bertemu dengan Sword Art Online. Sword Art Online atau SAO adalah sebuah anime tentang terperangkapnya begitu banyak orang dalam sebuah game pada saat kondisi kesadaran mereka full dive di dalam game tersebut. Full dive adalah sebuah kondisi secara sadar di mana kita terbangun dalam game bersama player-player lain secara online pada waktu yang sama. Karena terperangkap di dalam game tersebut, maka orang-orang yang terperangkap harus bertahan hidup. Jika mereka mati di dalam game, mereka juga akan mati di dunia nyata. Edan.

Anime dari SAO ditayangkan pada tahun 2009, dengan original story-nya yang dibuat oleh Reki Kawahara pada tahun 2002, secara ajaib bisa membayangkan masa depan di mana orang-orang bisa masuk ke dalam dunia game menurut gua bener-bener ga masuk akal.

SAO menjadi sebuah wave tersendiri yang akhirnya menciptakan banyak karya tentang bagaimana seseorang bisa masuk dalam dunia game di masa depan.

Serial SAO masih berlanjut sampai hari ini (panjang umur Reki-san) namun cerita tentang bagaimana Kirito, sebagai main character, yang merupakan seorang gamer RPG online-addict bisa menjadi titik sentral di mana cerita dapat terdorong maju sekalipun nyawa dia taruhannya. Bagaimana world building yang sangat mengingatkan gua pada game Ragnarok sampai kisah cintanya bersama Asuna menjadi petualangan yang gua harap gua bisa ngelupain semuanya untuk gua bisa rasain lagi rasanya pertama kali menyaksikan serial ini kembali.

Sekalipun, harus gua akui, SAO itu adalah cerita untuk demografi laki-laki. Karena di dalamnya banyak sekali fan service sampai cerita di mana satu laki-laki populer yang akhirnya selalu menggait banyak perempuan (istilah bahasa Jepang-nya harem). Namun SAO tetap spesial dengan kreativitas, imajinasi, sampai ke cerita pengorbanan yang sangat menyentuh hati.

Untuk gua, SAO adalah salah satu cerita terbaik yang pernah gua saksikan seumur hidup gua.

Dan dari SAO, gua mendapatkan keinginan untuk membuat cerita sendiri dengan tema yang sama.

Semoga, sebelum gua meninggal, gua bisa nulis satu buku tentang SAO versi gua sendiri.

Semoga bisa tercapai!

Friday, February 20, 2026

Teruntuk Kamu yang Benci dengan Generative AI

Untuk memulai artikel ini ke dalam berbagai perspektif. Saya akan memulainya dengan:

Saya benci AI

Saya benci sekali dengan AI

 

Kala itu di tahun 2024, saya baru memasuki kantor saya saat ini setelah berpindah kantor untuk pertama kalinya setelah 6 tahun bekerja. Saya mendapat tugas dari mentor saya untuk melakukan deep research tentang sebuah product yang nantinya akan saya tekuni semasa saya bekerja di kantor saya. Saya yang konvensional bertanya kepada mentor saya, saya bisa pelajari dari buku atau referensi apa? Beliau bilang, kamu coba gali pakai chatgpt saja.

Untuk saya, bahkan sampai hari ini, masih menganggap bahwa jika kita ingin mendalami suatu ilmu, maka kita harus banyak membaca sesuatu. Membaca buku-buku dari penulis yang berhasil mengkristalkan seluruh pemikiran semasa hidupnya ke dalam lembar-lembar kertas. Atau dari para ahli yang menuliskan hasil risetnya ke dalam belasan paper di perpustakaan atau internet. Namun zaman sudah mengharuskan saya untuk mencoba menggunakan apa yang orang sekarang bilang sebagai AI companion.

Kesan pertama saya ketika menggunakan chatgpt, jujur, sangat terkesan. Chatgpt bisa dengan cepat mencari jawaban dari berbagai sumber yang dirinya rangkum sendiri. Jika dahulu saat SMA dan kuliah saya harus bertarung mencari informasi dari buku dan google, saat ini semua hal dapat dijawab oleh chatgpt.

Dalam waktu singkat, trend AI berkembang menjadi generative AI. Tools AI seperti chatgpt kini bisa membuat gambar sampai bahkan video hanya dengan prompt dari pengguna. Sekali lagi, kala itu, saya begitu terkesan.

Tidak pernah terbayang bahwa perkembangan teknologi sudah sampai sejauh ini.

Namun, ternyata perkembangan ini saya rasa terlalu cepat.

Apa yang saat ini kita sebut sebagai AI sudah melesat, melebihi apa yang bahkan bisa kita kendalikan.

Keunggulan AI adalah produktivitas dan memory bank sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan yang kita butuhkan. Dan, seakan tidak ada aturan, AI menerabas etika-etika yang dijaga oleh manusia menjadi karya yang nampak megah namun nyatanya hanya repetisi.

Dalam 2 tahun terakhir, saya melihat begitu banyak sektor pekerjaan manusia yang mulai perlahan digantikan oleh AI. Sebagai gantinya, AI mengganti orang-orang tersebut dengan produktivitas dan efektivitas yang nampaknya baru bisa di-unlock bottle neck-nya.

Maaf saja, tapi orang-orang yang menggunakan generative AI adalah orang-orang yang tidak memiliki kemampuan spesifik tersebut. Secara massif, mereka muncul ke social media dan menyombongkan hasil kreasi dari AI mereka masing-masing, yang menurut saya sangat menjijikan.

Mereka melupakan bahwa untuk membuat suatu karya, diperlukan proses. Entah itu proses berpikir, proses mengasah keahlian, atau bahkan proses menemukan rasa yang tepat untuk menciptakan sesuatu. Mereka yang menggunakan generative AI tidak menghargai proses tersebut dan dengan bangganya mempertunjukkan hasil AI yang memuakkan.

Seedance 2.0, sebuah terobosan generative AI dalam pembuatan video, baru saja diluncurkan dan hasilnya? Gila. Saya hanya seorang yang memiliki mimpi untuk menjadi film maker di masa depan, melihat seedance 2.0 benar-benar meremukkan hati saya.

Peradaban manusia akan memiliki sebuah generasi di mana generasi tersebut tidak akan sadar betapa sulitnya membuat film sebelum munculnya AI.

Tepat di saat saya membuat artikel ini, saya merasa agak gila karena saya membicarakan topik yang sangat dystopia. Sayangnya ancaman AI nampaknya tidak bisa terbendung.

Dalam perdebatan tentang produktivitas, mereka yang tidak memanfaatkan AI akan tertinggal dari perlombaan lari kapitalisme. Bagaimana cara manusia mencari uang akan sangat terdisrupsi di fase ini.

Peradaban manusia juga akan kehilangan generasi di mana bagi mereka yang tidak memiliki hard skill kreatif akan tergantikan oleh teknologi.

Teknologi terbukti bisa menggantikan hard skill yang repetitif, tapi kemampuan untuk membuat karya dari hati tidak akan bisa mereka copy.

Kehidupan Impian saya adalah slow living dan menikmati game-game juara yang ada di steam atau library game mana pun.

Namun dengan kehadiran AI yang jelas mengusik kehidupan impian saya, saya rasa saya harus terus beradaptasi. Untuk tetap hidup berkecukupan seraya tetap orisinil dan mengambangkan hard skill kreatif untuk bertahan hidup serta waras di masa depan yang nampaknya tidak begitu jauh dari sekarang.

Sunday, February 8, 2026

5 cm per second | In-Depth Review

Tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk kembali mengunjungi cerita 5 cm per second. Alasannya sederhana, karena film tersebut menghasilkan after taste yang sedih dan menyakitkan. Namun karena teman dekat saya mengajak saya untuk menemaninya menonton, saya akhirnya memiliki alasan untuk menyaksikan cerita itu kembali dalam format live action.

5 cm per second adalah sebuah franchise cerita yang diciptakan pertama kali dalam format anime karya Makoto Shinkai, yang beberapa tahun kemudian namanya menjadi sangat terkenal karena keberhasilan dari anime-movie berjudul Your Name. 5 cm per second bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Takaki yang bertemu dengan seorang perempuan bernama Akari di kelas yang sama, jenjang sekolah dasar.

Akari yang merupakan anak pindahan, kesulitan mencari teman dalam kelasnya. Secara kebetulan, Takaki mengajak Akari untuk berbicara terlebih dahulu dan menceritakan bahwa dirinya juga siswa yang selama ini terus berpindah tempat dikarenakan pekerjaan ayahnya. Kesamaan tersebut membuat Akari senang karena mendapatkan teman yang mengerti bagaimana tidak enaknya menjadi anak sekolah yang selalu berpindah.

Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, membicarakan banyak hal, sampai mereka secara tidak sadar mulai menyukai satu sama lain. Ketika keduanya mulai merasa nyaman dan senang karena selalu berkegiatan bersama, Akari terpaksa harus berpindah sekolah lagi karena ayahnya akan berpindah pekerjaan kembali.

Momen disaat Akari meminta maaf di telfon umum kepada Takaki, adalah saat di mana semua penonton akan merasakan sakit (wabilkuhsus saya) karena merasakan sesuatu yang berharga akan menghilang dari mereka berdua.

5 cm per second memiliki banyak dialog dan visualisasi yang memorable. Dimulai dari indahnya langit ungu bersama peluncuran roket ke antariksa, deburan ombak bersama buihnya yang memanjakan mata, sampai ke penampakan kereta yang menjadi anchor penting dari cerita Takaki dan Akari.

Terdapat gap  lebih dari10 tahun antara kali pertama dan kali kedua saya menonton 5 cm per second. Dan ajaibnya, saya mengingat dengan baik momen penting serta kejadian-kejadian yang akan terjadi di sepanjang film. Kecuali, di satu adegan. Yaitu, ketika Takaki menaiki kereta saat badai salju hebat untuk bertemu Akari di stasiun dekat rumahnya.

Di dalam kepala saya, saya berpikir bahwa Takaki dan Akari tidak akan bertemu karena takdir seakan-akan membuat mereka gagal bertemu. Tapi ternyata saya salah, Makoto Shinkai harus mendapatkan apresiasi sebesar-besarnya dalam penulisan plot yang satu ini.

Semua kenangan manis dan sedih dari cerita mereka berdua kembali saya terima dengan detail dan perspektif yang berbeda.

Saya ingat betul. Dulu, saya begitu membenci Akari karena dia dapat melupakan (atau tidak menepati) janji penting yang dibuat bersama Takaki.

Namun, begitu mengunjungi ceritanya kembali, saya mulai mengerti bahwa pilihan untuk beranjak dari believe setiap manusia dapat berganti.

Kontras antara Takaki yang tidak beranjak dan Akari yang beranjak membuat cerita ini dapat dilihat sebagai hal yang benar, sesuai dengan believe-nya masing-masing.

Sialnya, rasa sakit menyaksikan ending dari film ini tetap berdenyut saat saya menyaksikannya untuk kedua kali haha.

Namun, sedikitnya saya mengerti mengapa Makoto Shinkai membuat cerita ini tetap berakhir seperti itu. 

Karena, hal tersebut juga saya lakukan ketika bercerita dengan sepenuh hati. 

Friday, January 30, 2026

Berhenti Sejenak di Umur 30 Tahun

Di tengah kehuru-haraan dunia, kejutan dari pasar modal Indonesia, brewek koleksi kartu pokemon dan TCG one piece, gua juga mau ikut setoran hal di luar normal yang terjadi di Jumat pagi.

Kala itu jam 11 siang, gua izin untuk ambil jam makan lebih dulu karena gua lagi ngidam banget soto mie bogor di depan kantor. Kalo kata anak-anak kampus gua yang kerja di kantor, nama sotonya itu soto gajian, karena belinya habis gajian, ya semacam itu lah haha. Soto itu berada di seberang kantor gua, yang artinya gua harus menyebrang melintasi satu ruas Jalan Raden Saleh.

Kondisi jalanannya so so lah dengan kendaraan merayap ke arah Cikini (dari pertama gua masuk gua ga ngerti kenapa galiannya ga kelar-kelar tuh di sepanjang jalan TIM-Cikini itu wkwkwk) dan cenderung kosong ke arah Senen. Setelah menunggu 1 menit, gua punya kesempatan menyebrang dengan posisi satu mobil SUV krem dan motor yang berusaha menyalip SUV tersebut, keduanya sama-sama ngebut.

Mungkin karena gua nge-sense bahaya dari SUV krem dan motor ini, akhirnya sepanjang setengah jalan menuju sebrang, gua fokus ngasih tanda ke mereka kalo gua nyebrang.

Sesampainya di setengah jalan, gua liat kiri, ternyata dalam jarak 5 meter ada SUV item melaju ke arah gua nyebrang dengan kecepatan yang lebih tinggi dari SUV krem.

Rasanya deg banget.

Secara insting gua ga mungkin mundur karena SUV krem dan motor udah gak akan ngerem, gua percepat lah langkah gua untuk sampai di sebrang. Tapi ternyata, ada motor yang berusaha nyalip dari sebelah kiri SUV item.

Di titik itu, gua mendadak berhenti nyebrang.

Kadang gua suka berpikir ya, kalau gua akan meninggal dalam kondisi yang tenang, dikelilingi orang-orang tersayang. Tapi ternyata dalam kehidupan yang berjalan normal, kita bisa mati konyol karena hal yang engga kita tau tanpa mandang umur kita berapa.

Sebelum gua berteori kembali, kita kembali ke momen dimana gua berhenti kaget. Kejadian berikutnya adalah gua tersadar.

Gua lompat ke trotoar, SUV item ngerem mendadak, motor yang mau nyalip dari kiri, gecol dan hampir jatoh.

Dari samping jalan gua menundukkan kepala minta maaf dan semuanya berlalu kaya ga terjadi apa-apa.

Akhirnya gua makan soto mie bogor yang enak banget itu dengan hati riang haha.

Hari berlalu dengan biasa sampai akhirnya gua pulang naik motor dari Cikini ke Cimanggis. Di perjalanan panjang itu gua jadi berefleksi, di 1 hari menjelang genap 30 tahun gua hidup di dunia ini. Bareng bersama kalian pembaca tulisan ini.

Ada beberapa hal yang mau gua tinggalkan di blog ini karena kalo ga berusaha diingat, periode hidup 20 ke 30 tahun rasanya kaya sekejap mata banget gitu lho haha gua mau merangkumnya ke dalam beberapa sub-topik. Dan yang pertama adalah:

1.     Kesehatan

Jujur, gua sehat banget, gengs. So, don’t worry for even a piece of batagor wkwkwkwk

Di sepanjang satu tahun terakhir, sakit gua bisa diitung jari dan kebanyakan karena maag yang memang sedari dulu juga udah hadir. Ga diitung meler dan bersin-bersin karena itu udah gua terima dalam kehidupan gua (apalagi kalo kena dingin wkwkwk).

Paling yang sekarang berasa banget karena umur adalah upper back pain, mata yang kayanya minesnya udah harus ditolerir pake kacamata, rambut yang heavily rontok semenjak covid, ingatan yang nge-blur (tapi ini mah kayanya dari dulu sih wkwkwk) and… that’s all.

Gua bangga masih bisa mencatatkan lari 5 km dengan pace under 9 km/jam (sekalipun yang terakhir ngos-ngosan parah) dan gula darah normal. Paling berat badan aja yang sedikit demi sedikit naik tanpa rehat haha it’s all good tapi harus banget olah raganya meningkat di tahun-tahun kepala 3.

2.     Life Events

Di sepanjang kepala 2, itu adalah masa gua bekerja untuk pertama kali sampai hari ini. Ngerasain nge-kost jauh dari rumah karena kerja selama 6 tahun di Bandung sampai akhirnya bisa kerja di Jakarta. Dealing with loneliness, hard times, friendship after graduate from college, dan semua kejadian yang ada di antara waktu tersebut.

Di kepala 2, ada 2 hal yang sangat gua syukuri sampai hari ini. Hal tersebut adalah memulai podcast dan belajar mengelola uang, termasuk bersaham.

Podcast adalah hal yang ga gua duga kalau efeknya akan sebesar itu dalam kehidupan gua. Dimulai dari ngewujudin mimpi untuk siaran bareng Ojan, sampai siaran di Prambors bersama Eda. Chapter Prambors pun ngasih efek yang ga terduga lagi, dimana gua akhirnya punya temen-temen deket yang sangat hangat dan sangat gua pedulikan sampai hari ini.

Di kepala 2 juga akhirnya gua berhasil menulis dan mencetak buku orisinil sendiri dengan bantuan banyak orang dan rasanya… sangat emosional kalau diingat kembali. Surreal banget…

Dan… banyak lagi yang terjadi di masa-masa ini termasuk jalan-jalan pertama gua bersama JINTH ke luar kota yang menjadi salah satu kenangan terbaik gua semasa hidup.

Kepala 2 benar-benar menyenangkan.

3.     What Next

Semenjak gua kerja dan tinggal di Bandung, gua selalu merasa bahwa setiap harinya gua harus memanfaatkannya dengan baik. Gua merasa bahwa itu adalah cara kita menghargai hidup itu sendiri. Dan gua merasa menjalaninya dengan baik, tanpa penyesalan apapun.

30 tahun hidup adalah waktu yang lama. Dan gua bersyukur banget bisa dikasih kesempatan sama Allah untuk hidup selama ini.

Sekalipun hidup gaada yang tau, tapi anggaplah kepala 3 adalah masa puncak. Masa dimana gua harus menikmati resource dan potensi terbaik diri gua di masa ini. Masa dimana kesehatan dan materi sedang bisa dinikmati semaksimal-maksimalnya.

Seperti kata Raditya Dika, di kepala 4 akan muncul permasalahan kesehatan yang hadir bukan karena kita tidak menjaga diri kita. Tapi memang karena sel di badan kita sudah melambat metabolismenya.

Gua bertekad untuk menikmati dan gaining banyak hal di masa-masa terbaik gua ini. So, let’s start fase baru, era kepala 3 dari kita semua yang lahir di tahun 1996.

Terima kasih sudah membaca sampai sini!

Semoga kamu juga bisa selalu menikmati dan menambah pengalaman baru di waktu yang kita tidak tahu kapan akan berakhir ini.