Monday, November 11, 2019

Sunday, July 21, 2019

Merawat Diri

Semenjak aku bekerja di Bandung, hampir setiap weekend aku pasti pulang ke rumahku di Depok. Hampir dipastikan pula aku akan naik Honda Beatku yang perawakannya sudah mulai tak keruan karena memang sudah pernah kecelakaan dan setiap siang dipanggang matahari terus hingga kusam (sebenarnya kusam juga karena jarang dicuci 😛). Mulai dari bodynya yang patah, retak, stang bengkok wah lengkap sudah, tapi namanya terlanjur sayang dan masih banyak keperluan lain yang membutuhkan uang (ini alasan utamanya), servis motorku pasti selalu kujaga agar performanya tidak sama seperti perawakannya, yang indah dipandang dengan mata berputar. Ini sebenernya cerita motor apa hubungannya sama judul sih.... Sabar ini intronya

Setiap kupulang dari Bandung ke Depok hampir dipastikan aku akan melakukan perjalanan malam lewat puncak, kalau dirata-ratakan akan menghabiskan sekitar 5 jam perjalanan dengan kecepatan santuy, sama halnya dengan perjalanan Depok-Bandung. Kalau boleh jujur perjalanan pulang pergi Depok-Bandung naik motor ini sangat tidak kurekomendasikan karena semuanya harus serba siap, siap fisik, siap mental, siap bertanggung jawab, siap menafkahi, siap....... Pokoknya harus siap, terlebih potensi kecelakaan yang besar brrr serem, lebih serem daripada program ih ceyem di prambors setiap kamis pagi.

Lalu dengan diriku? Sejujurnya walaupun resikonya sangat besar tapi perjalanan panjang naik motor adalah salah satu hal yang paling kutunggu setiap minggunya. Kamu tahu? Ketika gelapnya malam bertemu dengan pencahayaan redup di jalan raya ditemani oleh lagu-lagu pilihanmu adalah salah satu momen terbaik untuk merenung, mencari ide, atau bahkan tersenyum menerawang mengulang kenangan, itu yang kusebut merawat diri.

Tentang merawat diri, setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk mengatur kondisi dirinya masing-masing, ada yang ikut kelas zumba, ada yang nonton konser, ada yang zumba sambil nonton konser, konsernya konser zumba, zumba-zumba......... Semakin diteruskan semakin terbayang kata-kata yang akan keluar, yaitu lumba-lumbaa..... Maaf
Disamping beberapa cara untuk merawat diri, hal yang mungkin terbukti ampuh adalah bercerita.

Setiap dari kita pasti pernah merasakan efek luar biasa dari membagi kisah kita kepada orang lain. Lega, itu perasaan yang paling kita butuhkan untuk meneruskan hidup. Akuilah, kehidupan setelah terlepas dari dunia pendidikan sangat sangat menyebalkan, permasalahan-permasalahan berkembang berlipat bercabang, yang menjadi segalanya tentang uang, atau kesuksesan yang terus dibandingkan, itu benar-benar menyebalkan. Bahkan ga sedikit teman-temanku yang menjauh dari dunia sosial media karena merasa tidak berada pada tingkat yang sama dengan yang lain.
Semua kusut, seperti sulit untuk dilanjut padahal semua orang menuntut, aneh tapi ini terjadi, depresi hadir diantara kita semua.
Menyebalkan, sangat menyebalkan.

Terpikir permasalahan-permasalahan yang ada, tak ayal di beberapa kesempatan aku selalu berhasil dibuat berkaca-kaca karena sebuah lagu yang kudengar dalam perjalanan panjangku pulang pergi antar kota. Yang terbaru, seseorang yang muncul entah darimana tiba-tiba melesat dengan lagu-lagu buatannya berhasil mencari celah melankolisku, salah satu lagunya adalah "membasuh". Sebuah lagu tentang kewajiban kita membantu sesama apapun kondisimu tanpa memperhitungkan masa lalu, lagu yang benar-benar hebat, kamu harus dengar.

Cara itu selalu berhasil untuk merawat diriku melaju pada kecepatan pemulihan diri yang hebat. Jika cara itu tidak berhasil mengurai keresahanmu, mari bagi denganku karena terkadang sesuatu menjadi lebih ringan ketika dibagi, apalagi pikiran malam selalu lebih berat dibanding siang, iya kan? 

Jangan sungkan, kamu tahu dimana kamu harus mencariku. My past crush once said, maybe i cant fix all your problems, but i promise you wont have to face them alone. She was right, You wont have to face them alone, We wont have to face them alone! 

Ingat, kamu punya makna hidupmu sendiri

Bukankah begitu, Hindia? 

Saturday, July 20, 2019

Balada Puan

Kau dan segala cerita ini
Adalah igauan yang tak henti-hentinya minta diberi obat penenang
Punggungmu adalah bukit yang saban hari tak kunjung selesai kudaki
Sampai aku patah kaki sementara kau pura-pura mati

Kepalaku puisi yang tidak pernah mampu membaca tanda baca di matamu
Tanda titik, ataukah tanda jeda yang berkepanjangan
Tidak pernah ada rumah
Peta tidak mengenal alamatmu
Berkelok, dan terlalu banyak persimpangan

Jadi, bagaimana?
Kau yang cuma singgah
Atau aku yang terlampau sungguh?

-Isa Maia Elfasya dan Andari Jamalina Pratami, Amigdala,  8 Juli 2018

Saturday, January 19, 2019

Tentang Melepas

     Let me tell you something about “dunia pekerjaan”, dunia pekerjaan adalah sebuah dunia dimana setiap manusia sudah diberikan tugas tetap dan tanggung jawab masing-masing yang gabisa dipindahtangankan ke orang lain. Kalau semisal ada yang penasaran antara apa perbedaannya dunia sekolah dan dunia pekerjaan (ada yang penasaran ga sih tapi? haha) itu cuman kalo sekolah atau kuliah kita dapet tugas bisa dikerjain bisa ga dikerjain kalau kerja setiap tugasnya harus dikerjain dengan resiko kalau tugas kuliah ga dikerjain paling banter efeknya lebih ke nilai, tugas kantor juga bisa sih ga dikerjain tapi nanti ujungnya malah kita yang dikerjain sama atasan (dibaca: di-fired! Atau dipecat! Atau dikasih uang! Sebagai gaji terakhir……………………….). Di dunia pekerjaan semua terasa begitu… monoton, flat se-flat tv LED politron teknologi terbaru termutakheer. Dari mulai pola kegiatannya, lingkungannya, sampai topik yang dibicarakannya muter disitu-situ aja, kalau engga ngomongin deadline pekerjaan, perbedaan slip gaji sampai pertanyaan template antara manusia yang udah berumur (padahal bayi juga udah berumur) yaitu  “kapan nikah?”

Gamungkin dong blognya Riman Diantasena ngebahas sesuatu diluar cinta-cintaan, ya kaaaaaaaan

     Sempat suatu waktu ((kalau tidak sempat harus dibalas (itu 4 X 4 = 16, Mahmudiiiiiiii))) rutinitas pekerjaan sedang mencapai limit dan tidak ada kopi untuk diseduh karena ingin tidur tapi atasan duduk disebelah sekitar setengah meter, saya memutuskan untuk membuka twitter sebagai obat penahan kantuk sambil mendengarkan musik dari aplikasi streaming musik.

     Seingatku semenjak pertengahan 2018 Twitter kembali ramai oleh user setia dan seiring berjalannya waktu semakin bertambah dengan user baru atau user lama yang sempat vakum lalu muncul lagi, maklum ABG suka bimbang. Dulu ketika era dimana konsep sosial media sangat berkembang twitter menjadi salah satu platform yang banyak ditinggalkan oleh banyak user, sebutlah instagram. Kita semua sempat berpikir bahwa mempost foto berikut judul dan penjelasannya lebih menarik ketimbang hanya menulis hal absurd sebanyak 140 karakter saja (yang padahal menurutku 140 karakter itu udah banyak dibanding karakter  avengers: infinity war yang cuman 24 karakter, diluar warga wakanda yang jadi figuran heuheuheu) yang akhirnya disadari juga bahwasanya perkembangan sosial media instagram cenderung PAMER status sosial (iyuh) dan user yang menyebut diri mereka “rakyat misqueen” gapunya sesuatu yang bisa disombongkan kecuali tingkat humor yang (harapannya) bisa disejajarkan dengan ficocacol* mulai memanfaatkan twitter. Ini mah sebenernya analisa nguarangku aja jadi kalo bagian ini dilewat sih gaada masalah haha oke back to topik.

     Setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk melihat pemikiran orang-orang lewat twitnya yang mencoba berkelakar, ada satu twit yang membahas tentang "merelakan seseorang". Yang saat itu juga sangat stab in point buatku. Begini kisahnya
.
.
.
Ditulis ulang dari akun LINE Lukito Wisnu Setyo

     Dua tahun lalu, kami berdebat soal rencana masa depan. Aku sudah mengajar di Malang, dan dia masih menganggur, dia ingin melamar kerja saja dipabrik, untuk jadi apa saja. Tapi aku tidak setuju. Aku tidak ingin dia jadi luar biasa sibuk, terlebih dalam suasana LDR.

     Tahun lalu, kami menemukan lowongan pekerjaan yang cocok untuknya, jadi guru. Lokasi sekolahnya bagus, satu kecamatan dengan sekolah tempatku mengajar. Hanya berjarak sekian kilometer, Aku mengantarnya untuk interview dan hari pertama masuk kerja. Karena masa depan yang kami inginkan untuk tinggal di kota yang sama akan lekas jadi kenyaraan, dia bahagia.

Hari ini, dia menikah, dengan rekan kerja di sekolahnya itu.



Kadang kala, aku berpikir, mengapa aku tak membiarkan saja dulu dia bekerja di pabrik.
Mungkin kami akan punya cerita yang berbeda hari ini.


     Tapi inilah hidup. Dalam beberapa kesempatan, justru kamulah yang mengantarkan orang yang kamu cintai kepada cinta sejatinya. Bisa jadi, kamulah yang Tuhan mau agar seseorang bisa menemukan jodohnya. Meski dalam suasana yang pahit, kamu harus menerimanya.

     Sedihlah sebentar, tidak apa-apa. Tapi setelahnya biarkan bibirmu tersenyum, karena dirimu telah melakukan salah satu hal yang paling luar biasa dalam hidupmu.

     Dia bisa menjadi berharga di hari ini, karenaku. Aku menjadi orang yang berharga karena menemaninya sejauh itu.

“Kamu hebat untuk melakukan semua itu. Aku bangga padamu.”

28 Desember 2018
Selamat membangun kedamaian hingga akhir usia, masa kuliahku
.
.
.
“Sedihlah sebentar, tidak apa-apa” katanya, saat itu lagu yang terputar di telingaku adalah rehat dari Kunto Aji. Le me tell you something more, album mantra mantra dari Kunto Aji adalah sebuah kombinasi lirik dan instrument aransemen yang benar-benar brilliant. I recommend you all kalau lagi sedih, lagi patah hati, lagi butuh penyemangat, u shud listen to this one guys, sealbum jangan dishuffle urutan lagunya, JANGAN DISHUFFLE!!!11!!1!!!1!111!!

     Untuk semua orang yang pernah melepaskan seseorang pasti sangat relate dengan cerita mas Wisnu, begitupun aku. Terakhir aku harus melepaskan salah seorang support systemku yang benar-benar berhasil membuatku jatuh hati, and I swear berat banget. Ngebayanginnya aja udah ngebuat sesak.

     Tapi mas Wisnu juga benar, dia bilang kita harus senang, karena kita yang berhasil melepas seseorang yang udah kita jaga dengan sepenuh hati bisa sampai kepada jodohnya kelak.

Sepenuh hati,
itu usaha terbaik sebaik-baiknya seorang manusia.

     Berangkat dari sana, kita yang melepas pun mendapat pelajaran bahwasanya kita masih belum cukup baik untuk menjadi pasangan yang tepat untuk pasangan kita kelak.

     Setelah membaca cerita mas Wisnu, aku menyenderkan punggungku ke kursi dan mendongakkan kepalaku ke langit-langit kantor. Kembali mengevaluasi dan mengawang masa lalu. Dan tentang pertanyaan kapan menikah, percayalah bahwa laki-laki yang telah memiliki tujuan hatinya akan sangat-sangat memikirkan pertanyaan itu. Bagaimana tidak, buatku semisal pasangan kita seumuran setidaknya ada pemikiran untuk segera menikah semaksimal diumur 25 atau 26 karena di Negara kita wanita agaknya menikah diantara umur itu, lain hal jika pasangan kita berbeda umur, pihak laki-laki memiliki kesempatan untuk mengembangkan karir dan kemapanannya sampai limit menikah (buatku antara 27 atau 28) dengan selisih umur pasangannya yang mungkin bisa mencapai 1 tahun atau lebih.

Untuk saat ini aku telah menetapkan tujuan baru, yang akan kujaga kembali dengan sepenuh hati. Namun jika memang kali ini tujuanku belum tepat lagi, aku akan persiapkan diri untuk melepas kembali, lalu mengantarmu ke tujuanmu yang sebenarnya,
lagi.