Semenjak aku bekerja di Bandung, hampir setiap weekend aku pasti pulang ke rumahku di Depok. Hampir dipastikan pula aku akan naik Honda Beatku yang perawakannya sudah mulai tak keruan karena memang sudah pernah kecelakaan dan setiap siang dipanggang matahari terus hingga kusam (sebenarnya kusam juga karena jarang dicuci 😛). Mulai dari bodynya yang patah, retak, stang bengkok wah lengkap sudah, tapi namanya terlanjur sayang dan masih banyak keperluan lain yang membutuhkan uang (ini alasan utamanya), servis motorku pasti selalu kujaga agar performanya tidak sama seperti perawakannya, yang indah dipandang dengan mata berputar. Ini sebenernya cerita motor apa hubungannya sama judul sih.... Sabar ini intronya
Setiap kupulang dari Bandung ke Depok hampir dipastikan aku akan melakukan perjalanan malam lewat puncak, kalau dirata-ratakan akan menghabiskan sekitar 5 jam perjalanan dengan kecepatan santuy, sama halnya dengan perjalanan Depok-Bandung. Kalau boleh jujur perjalanan pulang pergi Depok-Bandung naik motor ini sangat tidak kurekomendasikan karena semuanya harus serba siap, siap fisik, siap mental, siap bertanggung jawab, siap menafkahi, siap....... Pokoknya harus siap, terlebih potensi kecelakaan yang besar brrr serem, lebih serem daripada program ih ceyem di prambors setiap kamis pagi.
Lalu dengan diriku? Sejujurnya walaupun resikonya sangat besar tapi perjalanan panjang naik motor adalah salah satu hal yang paling kutunggu setiap minggunya. Kamu tahu? Ketika gelapnya malam bertemu dengan pencahayaan redup di jalan raya ditemani oleh lagu-lagu pilihanmu adalah salah satu momen terbaik untuk merenung, mencari ide, atau bahkan tersenyum menerawang mengulang kenangan, itu yang kusebut merawat diri.
Tentang merawat diri, setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk mengatur kondisi dirinya masing-masing, ada yang ikut kelas zumba, ada yang nonton konser, ada yang zumba sambil nonton konser, konsernya konser zumba, zumba-zumba......... Semakin diteruskan semakin terbayang kata-kata yang akan keluar, yaitu lumba-lumbaa..... Maaf
Disamping beberapa cara untuk merawat diri, hal yang mungkin terbukti ampuh adalah bercerita.
Setiap dari kita pasti pernah merasakan efek luar biasa dari membagi kisah kita kepada orang lain. Lega, itu perasaan yang paling kita butuhkan untuk meneruskan hidup. Akuilah, kehidupan setelah terlepas dari dunia pendidikan sangat sangat menyebalkan, permasalahan-permasalahan berkembang berlipat bercabang, yang menjadi segalanya tentang uang, atau kesuksesan yang terus dibandingkan, itu benar-benar menyebalkan. Bahkan ga sedikit teman-temanku yang menjauh dari dunia sosial media karena merasa tidak berada pada tingkat yang sama dengan yang lain.
Semua kusut, seperti sulit untuk dilanjut padahal semua orang menuntut, aneh tapi ini terjadi, depresi hadir diantara kita semua.
Menyebalkan, sangat menyebalkan.
Terpikir permasalahan-permasalahan yang ada, tak ayal di beberapa kesempatan aku selalu berhasil dibuat berkaca-kaca karena sebuah lagu yang kudengar dalam perjalanan panjangku pulang pergi antar kota. Yang terbaru, seseorang yang muncul entah darimana tiba-tiba melesat dengan lagu-lagu buatannya berhasil mencari celah melankolisku, salah satu lagunya adalah "membasuh". Sebuah lagu tentang kewajiban kita membantu sesama apapun kondisimu tanpa memperhitungkan masa lalu, lagu yang benar-benar hebat, kamu harus dengar.
Cara itu selalu berhasil untuk merawat diriku melaju pada kecepatan pemulihan diri yang hebat. Jika cara itu tidak berhasil mengurai keresahanmu, mari bagi denganku karena terkadang sesuatu menjadi lebih ringan ketika dibagi, apalagi pikiran malam selalu lebih berat dibanding siang, iya kan?
Jangan sungkan, kamu tahu dimana kamu harus mencariku. My past crush once said, maybe i cant fix all your problems, but i promise you wont have to face them alone. She was right, You wont have to face them alone, We wont have to face them alone!
Ingat, kamu punya makna hidupmu sendiri
Bukankah begitu, Hindia?
No comments:
Post a Comment