Saturday, April 21, 2018

Kebiasaan Baru, Adhitia Sofyan, Bandung, dan Kamu (yang nggak ketinggalan).

Faktanya, kebiasaan adalah bagian dari rutinitas kita sehari-hari. Seakan-akan melekat pada diri kita, kebiasaan juga yang mencitrakan diri kita yang berbeda dari semua orang, pemberi identitas. Aku rasa semua orang punya kebiasaannya masing-masing. Seperti temanku, tidak seperti Instagram user pada umumnya yang selalu meng-update instastorynya secara rutin, temanku akan menggunakan fitur Instagram tersebut hanya ketika ia ingin memperlihatkan kabar tentang klub sepak bola kebanggaannya yaitu FC Barcelona. Atau temanku yang lain, ia selalu memakai jaket khasnya berwarna biru langit yang sejujurnya jaket itu sudah sangat kucel kemanapun ia berpergian, ke kampus ia pakai jaket itu, ke gunung ia masih pakai jaket itu, menghadap dosen bimbingan tugas akhir pun masih pakai jaket itu, ku terka ia akan pakai jaket itu juga ketika bertemu calon mertua tapi semoga jangan, apek. Tapi itulah kebiasaan, pemberi warna dari masing-masing kita. Lalu aku, kebiasaanku juga bisa dibilang cukup banyak, kebanyakan terinspirasi dari lingkunganku beberapa alamiah muncul dari diri sendiri. Ada satu kebiasaan baru yang aku nikmati saat ini, kebiasaan itu muncul selalu pada hari Jumat saat jam pulang kerja.

Entah kenapa hari Jumat memang selalu spesial, ada rasa kesenangan tersendiri yang hadir begitu saja. Mungkin karena hari esoknya libur atau karena beban pekerjaan lepas untuk sementara, entahlah, kalau aku selalu sumringah menyambut selesainya hari Jumat, sekalipun dompet tipis, setipis permen plastik rasa mint. Kebiasaan baru pertamaku yang muncul adalah pulang terakhir di tempatku bekerja. Jadwal pulang kerjaku pada hari Kamis adalah pada pukul 16.30 waktu Bandung barat, namun pada hari Jumat jam pulangku pukul 17.00 masih waktu Bandung barat. Untuk sebagian orang, mereka pasti bergegas untuk segera pulang. Absen pulang di tempatku memakai sistem finger print, biasanya 5 menit sebelum jam pulang, karyawan sudah mengantri di mesin itu, tapi hal itu tak terjadi pada diriku, kenapa ya?

Biasanya aku sampai ke mesin finger print pukul 17.15, dengan setelan sudah memakai jaket, aku berjalan menuju pos pengecekan barang. Pada jam itu kulihat masih banyak orang yang pulang tidak terburu-buru, ada yang sendiri ada pula yang mengobrol akrab. Di titik itu pun aku sangat suka, mengamati dan memperhatikan bagaimana perilaku sosial seseorang saat sedang tidak ada dalam tekanan apapun, aneh ya? Haha. Sambil mencari headset-ku yang biasanya ada di kantong jaket kanan, kujuga mengambil telepon genggamku di saku kiri celana, di saku kananku sudah pasti ada kunci motor dan kartu parkir, hanya itu saja, tidak ada uangnya, sekedar informasi. Lalu kusambungkan headset-ku dengan teleponku dan jariku menuntun menuju aplikasi musik player. Aku mempunyai 215 lagu disana, kebanyakan lagu indie folk, diselingi album The Script dan beberapa lagu Oasis. Dari sekian banyak lagu itu aku mengkategorikan 3 lagu favoritku. Sebelum lagunya dimulai, aku sudah sampai di pos pengecekan barang.

“Selamat sore, pak!”
“Sore pak, maaf pak boleh saya periksa dulu tas bapak?” Izin petugas pengamanan.
“Mari pak.” Sambil aku menyerahkan tas eiger lawasku.
“Baiklah pak, aman. Hati-hati di jalan pak.”
“Terima kasih pak.” Sejujurnya petugas pengamanan disana sangat ramah sekali dan aku dipanggil bapak olehny, belom punya anak padahal, hal itu semakin menambah keceriaan di hari itu. Sembari melewati pos pengecekan barang, aku memasang headset ke telingaku.

Kebiasaan baru keduaku adalah memainkan 3 lagu favoritku saat ini. Ketiganya milik Adhitia Sofyan, yaitu adelaide sky, blue sky collapse, dan forget jakarta. Playlist-ku pasti dimulai oleh forget jakarta. Lagu yang menjadi sound track dari iklan tropicana slim itu memang sangat enak! Ku akui itu. Alunan serta petikan lagu itu sangat mendukung untuk bengong, disaat suasana memang sejuk dan langitnya yang bersenja-gurau, menggodaku untuk larut dalam waktu menikmati langkah kaki.

“Im waiting in line to get to where you are.
Hope floats up high along the way, I forget Jakarta~” kata mas Adhitia.
Waduh mas, kalo ada kesempatan saya mau salaman sama sampean atas lagu aduhai ini, adem.
Lagu ini akan berada pada reff kedua pada saatku menaiki motorku. Ajakan mas Adhitia untuk bersama-sama melupakan Jakarta ini terus menderu.

“We’ll forget Jakarta,
Promise me we’ll never look behind.
Tonight, we’re gone to where this journey ends.
But if you stay, yeah I will stay.
Even though the town’s not what it used to be.
And pieces of your life you try to recognize,
All went down.”

Seketika motorku sudah melaju di jalan pasteur menuju fly over Pasupati berikut lagu berikutnya yang sudah pasti dimainkan yaitu blue sky collapse. Selalu pas. Kamu tahu kenapa? Untuk kamu yang pernah melewati fly over Pasupati saat senja, kamu akan mengakui bahwa pemandangan ketika berada di jalur pasupati adalah jalur terbaik untuk mengantarkan kita pulang. Di fly over Pasupati kamu dapat melihat kota Bandung yang dibentengi oleh gunung-gunung yang mengelilingi kota tersebut. Saat langitnya cerah, awan-awan mengelilingi gunung dan kota Bandung dengan lembutnya.

“Still everyday I think about you,
I know for a fact that’s not your problem.
But if you change your mind you’ll find me
Hanging on to the place, where the big blue sky collapse.”

Ah izinkan aku berpendapat, kota Bandung memang spesial, mas Adhitia juga haha. Blue sky collapse menjadi pengantar ke lagu terakhir sebelum playlist kuganti ke radio Prambors, yaitu Adelaide Sky. Lagu ini biasanya bermain ketika aku sedang menunggu lampu merah di pertigaan Telkom university. Untuk informasi lagi, lampu merah di Bandung itu lama-lama, serius. Pada saat seperti itu biasanya aku akan membuka handphone lalu membuka WhatsApp (WA). Dan disana pasti ada chat dari seseorang yang belakangan ini menjadi kebiasaan ketigaku untuk selalu mengobrol dengannya. Kebiasaan ketiga ini sungguh yang paling membuatku senang. Kok bisa gitu ya? Haha entahlah. Mungkin kasmaran heeee. Setelah chatnya gak aku balas 3-4 jam karena kerja, aku akan memulainya dengan,

“Gimana kegiatan kamu hari ini? Lancarkan bimbingannya?”

Seiring dengan selesainya mas Adhitia menemaniku bersama lagu-lagunya, giliran mba Nadya Julia (Announcer radio favorit saya) yang nemenin di Prambors. Belum sempat aku masukan teleponku ke kantong, teleponku sudah bergetar yang tandanya ada notifikasi masuk, aku buka notifikasi tersebut lalu interface WA yang keluar dan isi chatnya,

“Dosen pembimbingku lagi ke Solo, paling senin sih bimbingan skripsinya, kamu gimana?”

Kok bahagia ya, padahal cuma temen,
Chatnya juga ga gimana-gimana haha.
Biarlah yang penting semuanya terjadi di hari Jumat!
THANKS GOD ITS FRIDAY!

Saturday, March 31, 2018

Janji


    Ini adalah malam ke Sembilanku di Bandung. Aku baru pindah ke kota ini setelah diterima kerja di salah satu perusahaan manufaktur transportasi milik negeri. Aku sementara menetap di rumah saudaraku, kebetulan keluarga besar ibuku banyak yang tinggal disini dan beliau menitipkan aku ke kakaknya yang tinggal di daerah Buah Batu. Kegiatanku disini tidak lain dan tidak bukan masih seputar orientasi, entah itu orientasi di tempat kerja, atau orientasi di rumah baru, dan mungkin juga berorientasi dengan kota Bandung. Berbicara tentang Bandung, kota ini memang unik. Kesan pertama yang aku dapatkan ketika menginjakan kakiku di tempat ini adalah dingin! Berbeda dengan tempat tinggalku dulu, Depok. Kata orang-orang Bandung adalah kota yang spesial, kota yang membuat rakyatnya nyaman sekaligus merindu serta tertuju. Dari kecil, aku sering ke kota ini. Setiap tahunnya keluargaku selalu berkumpul dalam rangka merayakan hari lebaran di Bandung. Banyak hal-hal yang mengingatkanku ketika nama Bandung terucap. Salah satunya Kira. Dulu sekali, ketika aku duduk dibangku SMP ketika kami selalu mengobrol lewat SMS dia sempat bertanya kepadaku,

“Kak, nanti mau kuliah dimana?” Tanya Kira kepadaku di layar telepon genggam bermerek sony ericsson.
“Ehmm dimana ya? Aku sih pengennya di UNPAD.” Dulu sekali aku sangat ter-influence dengan ayah yang memiliki latar belakang Ilmu Komunikasi UNPAD. Ayah dulu sering masuk koran KOMPAS dengan tulisan-tulisannya. Melihat tulisannya dipaparkan di koran ternama itu membuatku menyukai bidang sastra. Aku juga sering membantu pekerjaannya untuk mengetik bahan yang telah ia tulis di kertas kala itu. “Kamu mau kuliah dimana emang?”
“Wah sama dong kak, aku juga mau UNPAD. Pokoknya aku pengen kuliah sama tinggal di Bandung.” Jawab Kira semangat.
“Kalo gitu nanti kita ketemu dong ya haha.”
“Iya kak, tapi serius ga kak? Janji ya nanti kita ketemu disana?”
Beberapa hal yang baru aku sadari, sedari dulu memang tabiatnya anak muda adalah berjanji, terlebih ke gebetannya. Apa-apa selalu dibuat janji, entah jangan tidur kemaleman, entah jangan bandel, entah jangan melakukan aksi-aksi menegangkan seperti limbad pasti selalu diakhiri dengan janji. Dan kala itu, tanpa mempertimbangkan masa depan serta takdir akan membawa kemana, aku pun menjawab,
“Iya janjiiiii. Nanti kita ketemu di Bandung.”
Dasar anak bau kencur.

    Akhirnya aku dan Kira tidak ada satupun yang kuliah di Bandung. Sebelum itu aku dan Kira pun tidak berpacaran, hanya teman. Tidak mesra. Hanya teman. Teman tapi tidak mesra, sama sekali. Kami melanjutkan kehidupan kami masing-masing, kala itu dia berpacaran dengan orang lain aku pun begitu.
Kira berkuliah di universitas swasta ternama mengambil teknik perminyakan sampai saat ini. Sedangkan aku adalah lulusan teknik mesin dari kampus negeri di Jakarta. Dari sini aku sudah ingkar satu janji, yaitu tidak melanjutkan kesukaan tentang sastra dari Ayah.
Dasar anak bau, badan.

    Kembali ke Bandung, malam ke sembilanku ini kebetulan malam minggu, hujan lagi. Waktu yang sangat tepat untuk bernostalgia, dasar kaum susah move on. Ajaibnya pikiran yang bisa mengingatkanku akan kenangan itu atau memang Allah yang sedang mengerjaiku untuk kembali mengingat kenangan itu, aku teringat Kira lagi. Sekedar menegaskan agar tidak terjadi salah kaprah antara aku dan netizen, perasaanku kepadanya sudah sangat minim yang kalau dipersentasekan mungkin sekitar 0,000000001% (bisa ae kang dodol) hanya saja untuk saat ini aku sangat ingin mengobrol dengannya. Mengetahui kondisinya, perkembangan hidupnya, melihat pandangan-pandangannya, serta membahas hal-hal kekanakan antara kita dulu sebagai teman yang tidak mesra, sama sekali. Dan aku pun akan menceritakan tentang kehidupanku disini, perkembanganku, cerita-cerita yang menjadikan aku pribadi yang seperti ini, lalu ditutup dengan, “Kira, aku tinggal di Bandung sekarang.”
Hoalah, manusia ini diciptakan oleh Allah memang bersama hasrat yang menempel sepanjang hidupnya, intinya banyak maunya. Kopi yang sedari tadi kubuat juga sudah terlanjur dingin, membuat kopi ini dapat dihabiskan dalam satu tegukkan. Tak kusadari juga hujan pun berhenti, ketimbang melamun kuputuskan pergi mencari udara segar menaiki honda beat tempur yang kubawa ke Bandung dari rumah.
Tidak ada tempat spesifik yang ingin aku datangi. Malam itu Bandung romantis, basah karena hujan ditemani lampu jalan yang temaram, aku putuskan untuk pergi ke daerah cimbeuleuit. Aku ingat disana ada warung bakso aci yang dikenalkan kawanku, pas untuk menghangatkan badan ditengah suasana sejuk. Sesampainya disana aku memesan semangkuk bakso aci panas lengkap dengan sambal pedas serta fruit tea dingin.

“Atas nama siapa A’ pesanannya?” Tanya akang bakso yang menyebut dirinya “ganteng squad”, sungguh kepercayaan diri yang tiada tara.
“Riman A’.”
“Oh siap A’ ditunggu ya A’.”
“Eh siap A’.” Kataku sambil melihatnya meracik baksoku.
“Ari Aa’ teh aya janji kadieu, A’? sorangan wae jajan-na hehe.” Kalau diartikan ke Bahasa Indonesia kira-kira kaya gini, “mas ada janji kesini? Sendirian aja makannya hehe.

Pernah ga perasaan tuh kaya tertohok gitu, bidikan kata-kata si Aa’ bakso tepat mengenai perasaanku kali ini, iseng sekali takdir menggodaku malam ini. Aku pun hanya tersenyum-senyum keheranan menanggapi perkataan si Aa’. Si Aa’ yang bingung karena tidak mendapat responku langsung menyerahkan semangkuk bakso panas,
“ini A’ baksonya.”
“Eh iya A’ nuhun.” Sebelum aku berpaling ke meja,
“A’ ada kertas kosong A’?”
“Oh ini A’ punten.” Aa’ bakso menyerahkan kertasnya kepadaku.

    Sambil kubawa ke meja bakso beserta fruit tea, aku pinjam juga spidol hitam milik Aa’ bakso. Sambil duduk aku hadapkan kertas lalu kutuliskan sesuatu yang sepertinya memang harus diselesaikan malam ini, 
Disana tertulis,

KIRA, SAAT INI AKU BAIK-BAIK SAJA DAN AKU SEKARANG SUDAH MENETAP DI BANDUNG.

Sambil kulipat kertas tersebut, kubuat origami berbentuk pesawat. Aku beranjak sebentar dari meja makanku lalu aku berjalan ke arah balkon warung bakso yang menghadap ke kota Bandung.

Terbanglah, dan sampaikan kepadanya.

Aku percaya, semesta memainkan peran yang unik untuk terlibat dalam kehidupan manusia. Entah bagaimana caranya, semesta akan membuat garisnya menyinggung kehidupanku, suatu saat. Dan ketika saat itu terjadi aku pastikan bahwa aku telah siap untuk mengucapkan, “Kira, apa kabar?”