Thursday, November 16, 2017

Krusial!

Terkadang kita rindu dengan konsep jatuh cinta sesederhana menatap dan menyapa, lalu tersipu malu dengan menyembulnya rona merah di bawah mata. Dikala rindu menjenguk, sajak berpaut dengan lagu penawar belenggu. Kasmaran ala orang zaman dulu adalah kisah cinta yang benar-benar membuat iri melulu. Bukannya aku tidak suka dengan konsep cinta pajang foto update di sosial media, atau pantau-memantau kabar via whatsa-ulala, aku hanya sedang menyelami imajinasi kisah indah bak Romeo dan Julieto. Tapi disinilah aku sekarang, di seberang halte yang terang dengan lampu neonnya, duduk menanti seseorang yang bahkan masih aku percayai bahwa dia akan ingat kalimatnya tentang janji. Haha naïf sekali. Entah apa yang ada di pikiranku, terbuai angan kenangan, terlalu banyak menonton kisah-kisah yang berakhir haru. Cengeng. Pukul 22.51, dia sudah lewat 51 menit dari janji yang ia ucapkan 5 tahun silam. Ya 5 tahun, sekarang kau akan cekikan dan berpikir bahwa aku orang bodoh, memang. Lemah. Di detik-detik krusial ini aku jadi sangat membenci dia, tapi akan merindu dan menyesal ketika memang benar-benar tidak bertemu. Argh! Rasanya ingin AAARRRRRGGGHHHH!!! Coba kututup mataku dengan tangan, barangkali dia akan tiba-tiba muncul dan memberi kejutan. Hehe aku coba, satu, duaa, tigaaaa… aku curang~ selagi menghitung aku membuka mataku sedikit dan melihat melewati celah jari-jariku yang berkeringat. Dan benar saja, aku melihat Romeo dan Julieto sedang berdiri di seberang jalan.

“Kamu harus tau Julieto, aku selalu suka pada seseorang yang memilih untuk setia dikala komitmen adalah satu-satunya alasan mengapa rasa itu selalu ada.” Romeo sangat bersahaja ketika mengucapkan kata-katanya, anehnya aku bisa dengan mirip meniru apa yang Romeo katakan. Dan sepertinya kata-kata yang terlontar habis ini adalah, “Oh Romeo, aku berjanji suatu hari nanti kita akan bertemu di tempat ini pada saat yang sama, ketika bulan dan bualan sama indahnya seperti hari ini.” Ah, Hebat! Aku bisa mengucapkan hal yang sama dengan Julieto! Bahkan gerakan bibir kami sama persis!

“5 tahun lagi Rim-eo,
Tunggu aku bzzzzzzzzzzzzz jk bzzzzz 5 tahun lagi,
5 tahun lagi Ro-man!” bzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz kiw.

Yang namanya pukulan pamungkas dalam tinju,
Lamunan itu menghujam atom penyusun sel darahku,
Menyeruak! Impulsif! Tak tertahan!
Dan BAM!
Darahku memberontak.
Nekat! Seperti perampok-perompak!
Kehilangan daya, kontrol diri sirna.
Aku S A R A P!

“KIRAAAAAAAA!” tak sadar, aku telah berdiri dengan tangan terkepal sambil meneriakan namamu, 
.
.
.
Kira.
.
.
.
Dan, BAM!
Beruntung tidak ada yang melihat diriku kerasukan. Bisa-bisa masuk viral di TransJakarta nanti.

Namun, malam itu cenderung dingin, tidak sampai membuat nafasku terlihat namun keringat meluncur deras dari pelipisku. Aku rindu. Aku benci. Aku mengakuinya. Aku kalah.

Aku akan pulang, tidak mengingatmu disana dengan bayanganmu, Manis! Manis itu untuk kata-kata yang keluar dari perutmu! Manis! Oke, parasmu juga, kelewat Manis!

Argh! Semakin tidak kondusif, apalagi konklusif. Lain kali sebelum meledak, akan kukeluarkan kamu wahai atom perampok dan perompak,
Serta perampok-perompak!

Lihat, bahkan kenangan tidak akan membantu harapan kita terwujud. Bahkan taktik mengeluarkan Romeo dan Julieto untuk mengulur waktu tetap tidak memunculkan dia, sialan! 23.19, sudahlah aku pulang! Serong kiri, menunduk ke bawah, aku terlalu memuakan untuk berjalan tegap dengan pandangan lurus! Aku akan berjalan setapak demi setapak. Satu langkah, dua langkah, tidak akan ada yang menghalangiku! Sekalipun kamu yang berdiri di depanku wahai kamu wanita idaman kroco dan… MasyaAllah.

“Aku selalu suka pada seseorang yang memilih untuk setia…” kata seorang wanita yang meng-copy naskah Romeo kepada Julieto, tapi sebentar, dia bukan meng-copy, dia ingat kata-kata itu, persis tidak kurang tidak lebih. Hormon adrenalinku tidak pernah bekerja se-tornado ini. Perkara suara, jantung ini seperti bedug magrib dikala senen-kamis, membahagiakan. Lalu, aku lanjutkan, “Dikala komitmen adalah satu-satunya alasan mengapa rasa itu selalu ada.”

See? Terkadang kita memang benar-benar merindu dengan konsep jatuh cinta sesederhana menatap dan menyapa. Sesuatu yang tidak akan kamu dapatkan di pesan singkat ataupun status fexbuk. Sampai kamu benar-benar merasakan apa yang aku gambarkan dari pukul 22.51, kamu akan menyadari bahwa kisah cinta tempo dulu memang candu.

“Kira, kamu benar-benar.. MAANNIISS!
Kata-katanya! Oke orangnya juga!”


Saturday, September 2, 2017

Dimensi Acultius

Sedemikian hingga letupan itu meredup,
Berkatarsis dalam sabuk pendar yang militan,
Ia segera merapat, dijauhkan dari energi yang tak terjamah
Lalu mereka bersekongkol,
Menyelewengkan orbitnya pada gravitasi energi yang lain.
Sunyi, tanpa bahasa.
Duhai Bintang, usah salahkan dia yang kini tengah larut dalam kedalaman dunia egonya,
melainkan salahkan dirimu yang memancar berlebihan,
dan membiarkan hatimu tertambat kecupan pada Sang Rembulan.
–SwetaKartika, Penguasa Dimensi Cahaya.

Thursday, July 20, 2017

Petak Umpat Belum Genap Setahun

halo, kamu.

sebelumnya, apa kita pernah bertemu? ku rasa engga. tapi, wajah mu seperti tidak asing untukku. oh! kamu!

---

"banyak loh, adik kelas dari SMP aku yang masuk sekolah kita" kata nya.
"oh ya? mana mana? berarti bisa dong kita ajak masuk club kita, hihi!" jawabku.
"itu tuh, yang pakai kaos hitam dan sepatu merah, paling keliatan deh" sambil menunjuk seorang putra yang memegang map putih.
"siap siap"

---

awal masuk kelas sepuluh. berat! aku belum siap! tapi, harus ku lalui. ah, yasudahlah, toh masa mos hanya tiga hari.

"kamu sepuluh ips ya!"
"baik, kak"

langkah demi langkah,
detik demi detik,
pastinya.

wajahnya seperti tidak asing.

---

"dek, ikut saya deh"
"kemana kak?"
"udah, ikut aja"
"kemana dulu kak?"
"ikut ajaaaa dulu!"

tangannya,
dingin. kayak es batu!
eh, batu es.
es batu deh.

deg deg deg.
loh?

---

kenapa sepi? padahal ramai.
kenapa semua putri? padahal banyak putra.
suara ku sudah habis tapi hasil nya nihil. bagaimana ini? apa aku harus menyerah? lalu, generasi selanjutnya bagaimana? tidak! aku harus berusaha!

puk!

"eh, ikut club kita......"

......

ini kan dia. dia yang kemarin. dia yang waktu itu. dia yang saat itu. benar, ini dia! aku yakin, dia!

aku malu. malu. bagaimana? gatau.
jelasnya, aku enggak tau.

"maaf ya..."

kejut dan kaget. eh, sama!
langsung berlari dan menutup wajah. berkeringat. melihat diri nya dari dekat. seperti ada yang menyengat.

deg deg deg.
lagi?

---

"ca, kamu dispen nih, disuruh ke ruang BK ya"
"hah? mau ngapain?"
"aku sendiri ngga tau, ikut aja"
"yaudah deh"

yah, kegiatan membosankan. hanya untuk pencitraan semata. tapi, tak apa. karena harus sering kesini, aku jadi bisa melihatnya, dari dekat.
aku jadi tertarik.

tanpa ku sadari, aku mencari tau tentang diri nya lebih dalam. hingga akhirnya, aku kenal dengannya lebih dekat. sialnya, aku tidak hafal suaranya.

dasar,
sepatu merah!

tapi aku berusaha biasa saja.
dan akhirnya, aku pun terbiasa untuk biasa saja.

---

"kamu jadi mc ya?"
"iya kak"

serak...
akhirnya!

---

ngga kerasa, kegiatan ini sudah selesai. akhirnya tibalah hari penutupan yang diadakan di aula.

"harus dekat dengan adik kelas agar akrab"

yasudah.

"main yuk, main jempol!"
"oh, truth or dare?"
"iya"
"yaudah, yuk"

"kamu ngga ikutan?"
"ngga kak"
"kenapa?"
"gapapa kak, gamau aja kak"
"oh yaudah"

sayang sekali,
dia tidak ingin masuk club kami.

---

selamat tinggal.

---

"ca, ada anak baru yang mau masuk"
"siapa?"
"nah, itu dia! yang lagi lari!"

wajah tak asing. dia. sepatu merah.
tidak, kali ini hitam.

kenapa dia ada? ah!

"ca, kamu yang ajarin ya, dah sana!"
"ah, ngga mau!" aku deg deg-an.
"buruan, caca!" aku pun di dorongnya.

dia hebat. dia bisa. sial!

---

sebentar lagi,
tiga hari lagi, adalah waktunya. kami dan mereka semakin dekat. mereka juga semakin dekat. sedih apabila harus berpisah. usahakan, jangan!

"saya mau, kamu deketin dia"

ya,
berawal dari sebuah kalimat, yang mengguncang, hingga detik ini.

aku, gadis yang sedang bahagia dengan nya harus dipaksa mendekati dia.
apa yang harus ku lakukan?
tapi, tujuan cuma satu. jangan sampai ada perpisahan diantara mereka. aku harus berpegang teguh!

---

instagram seperti hidup kedua ku.
ternyata,
begitu pun dia.
lebih terkejut lagi, kita punya kesamaan. bukan satu, tapi lebih.

tunggu,
ada yang janggal.

---

ice cream.
batang ice cream punya ku copot.

kamu mau?
oh, tidak. ternyata kamu langsung menuju indomaret, ya, hahaha!

---

harus tidur jam sembilan malam.
jangan.

beng beng max. ada syaratnya!
tiba-tiba, notifikasi instagram ku penuh!
aduh, yaampun!

---

loh, wajah kita kok jadi cerah?
tentu nya tiap Rabu punya jadwal yang sama.

---

"kamu harus kuat! kamu pasti bisa! aku bakal bantu kamu terus kok"
"tapi aku gamau, aku gaenak"
"udah, jalanin aja dulu.."
"baiklah, terimakasih ya"

terimakasih yang tidak hanya satu kali.
hingga kini, aku masih merasakan kata terimakasih mu.

begitu pun aku. apakah aku harus berterimakasih juga?

---

banyak lubang di jalan ini. sudah berkelok, berlubang pula!
lubang nya lebih dari lima. kami harus mengerem mendadak, padahal didepan tidak ada kendaraan. hanya ada polisi tidur, hehehe. terkadang, kami tidak mengerem, tapi kami lewat pinggir dan pernah kami terbang.
aduh, bagaimana itu?

---

"ngga sepantasnya kita begini"
"lalu, mau bagaimana lagi?"
"ngga sepantasnya kalian begitu"
"lalu, harus bagaimana lagi?"
"berpisah, itu lah yang terbaik"

belum genap setahun untuk saat ini. tapi, hati ku berguncang mengingatnya. dunia tahun kedua ku seakan akan bukan mejikuhibiniu. andai aku bisa menambah dua huruf diantara 7 disitu. bolehkan aku tambah de?

yasudah, jika tidak boleh.

---

masih ngga nyangka. ternyata, wajah tak asing di awal penglihatan ku, berakhir nyata. dia sudah tidak asing lagi bagiku.

bahkan,
tiap ketikan nya, aku hafal.
terlebih lagi, apa yang diketik, terekam suaranya di otak ku.

bahkan,
tidak lah hanya suaranya,
gerakan nya pun aku tau.

ini yang disebut terbiasa?
terbiasa bersama?

bahkan, aku belum genap setahun bersamanya!

---

kata orang,
ini tidak baik. tapi, mengapa bersamanya, membuat hati ini lebih baik?

kata orang,
kamu akan menyesal. tapi, mengapa bersamanya, semua terasa menyesal karena "aku belum selesai cerita ini!" "aku belum selesai cerita itu!" "kita butuh waktu lebih lama untuk bertemu" waktu terlalu cepat berjalan saat kita bersama.

tentu,
kamu dan aku adalah dua orang pandai.
pandai memanipulasi segalanya.
waktu, tempat, kenangan.

---

entah sampai kapan.
aku tidak tau kapan.
dan tidak ingin tau.
karena aku tidak mau.
entah bagaimana dengan mu.

tidak ada yang tau, berapa isi celengan, padahal kamu sendiri yang memasukan uang nya.

dan tidak ada yang tau, berapa jumlah keringat, padahal kamu sendiri yang mengeluarkannya.

sekali lagi,
tidak ada yang tau,
ada apa dengan kamu dan aku.
yang sebenarnya.

---

19.48
Jumat, 14 Juli 2017.

satu bulan lagi.

-dara khairunnisa, siswi absurd.

Monday, June 26, 2017

Eight Point Deadly Mind Tricks About Her

She wants to stay with you forever but,
she also needs some large amount of time.

She thinks she is perfect for you but,
she also thinks that she doesn't deserve you.

She loves you hard but,
she runs away from love too fast.

She is your wall of strength but,
she is equally fragile and a furball.

She is bright and warm but,
at night her heart is cold as ice.

She is all the light that you need right now but,
she is barely able to hold that darkness inside her.

She is a good person but,
she also carries a perverted mind.

She doesn't want you controlling her at all but,
she wants you to hold her.
Hold her for a while.

Im telling you,
the girl you think you know,
She is black and white.
Fire and ice.
Yin and yang.

Im telling you that the girl that you love,
she is a paradox.

-renaisenancess
she's too difficult for you to understand.

Tuesday, May 2, 2017

Korelasi

Yang baru aku sadari,
Nyatanya cinta menganut konsepsi waktu.
Bukan hanya untuk kamu,
Pun untuk mereka yang malamnya selalu terjaga.
Bahwasanya,
Beruntunglah bagi mereka yang bertemu cinta dikala keduanya butuh cinta.

   Jika bisa-bisanya aku mengaitkan cinta dengan waktu,
   Kamu juga bisa mengaitkan cinta dengan buku.
   Buku kesukaanmu,
   Yang telah kamu baca berulang kali sampai akhirnya kamu merasa sedih,
   Karena cerita ini telah membawamu sampai baris terakhir.
   Yang entah bagaimana kamu akhirnya membaca ini,
   Dan aku akan bilang.

"Aku akan merayakannya bersama hujan,
Yang entah datangnya kapan.
Dan aku hadir seraya berdiri di tengah basah,
Untuk terakhir kali merayakannya bersamamu sambil berbisik kepadanya,
Aku pamit."

Sunday, February 19, 2017

Miskordinasi

*Krek *clang
“Umur lo berapa, Nam?”
*krek *clang *krek
“Saya pak? Baru aja 21 pak Januari kemarin. Kenapa pak?”
Sambil tersenyum tipis Pak Ronny menunjuk kearah mesin Curing yang berada di sebelahnya. “Nih Nam, Ini mesin Nam bukan sembarang mesin. Dari ni pabrik bediri, ini mesin udah ada. Taun ‘95 Nam, elo ge belom lahir Naam Nam.” Pak Ronny memukul cepat kepala Riman menggunakan kunci pas nomor 20 sambil terkekeh.
“Wadaw pak, selisih 1 tahun aja pak itumah. Ya ibarat orok mah udah bisa jalan itu.” Sentil Riman nyeleneh sambil mengambil kunci yang digunakan Pak Ronny untuk mengetuk kepalanya.
“Yailah belagu amat lo ngomongin orok, emang cewe udah punya lo cewe?”
“Cewe Pak? Belom ada yang mau Pak.” Jawab Riman, jujur, terkekeh sambil melanjutkan mengencangkan baut terakhir pada mesin Curing yang sedang dipasangnya.
“Lah itu cewe nyang kata lo biasa lo jemput di Depok siapa ntu? Lagi deket lo ama ntu cewe?” Tanya Pak Ronny kepo
*Krek *clang *krek
*KREK *CLENG *KREK
“Iya pak kenapa Pak? Saya kurang denger tadi pak.” Sambil memutar topinya ke belakang Riman tertawa meledek Pak Ronny.
“Wah bikin keshel luh, pake sengaja dikeras-kerasin cuman muter baut doang luh.” Saut Pak Ronny terpancing.
“Ahaha maaf Pak just kidding bos. Yang saya jemput di Depok ya Pak? Iya pak lagi deket, cuman... ya gitu deh pak.” *krek Riman menaruh kunci pasnya ke lantai, lalu berdiri sambil megelap tangannya dengain kain putih yang disebut majun oleh orang industri, bukan kakjun, atau pakjun.
“Ngape? Tuh cewe kaga mau ama lu ya? Ah gua tau makanya tu kumis dicukur, tebel bangat udeh kaya suaminya inul lo!”  Senggol Pak Ronny
“Ah Kebalik kali pak, bapak tuh yang mirip Suaminya Inul.” Balas Riman sambil tertawa.
“kebalik kebalik, ELUH GUA BALIKIN!” Saut Pak Ronny sambil diiringi oleh tawa keduanya
“Ya udeh man beberes dah, bentar lagi jam 8 tuh. Lemburnya besok lagi.”
“Siap Bos Rons!” dengan cepat Riman membereskan peralatannya dan langsung mengambil sapu, untuk menyapu. Sambil menyeka keringat di dahinya Riman tidak berhenti sedikitpun melakukan prosesi akhir dari kesehariannya. Setelah semuanya terlihat rapi, Riman langsung menuju ruangannya. Seketika Ia membuka laci mejanya mencari handphonenya. “Nam, Ogud duluan ya. Jangan lupa konci pintunya.” Sambil melambaikan tangan Pak Ronny pamit.
“Wah iya Pak, hati-hati Pak.”
“Yoo Nam.” Pak Ronny pun membuka pintu dan melangkahkan kakinya keluar. Tepat sesaat sebelum Pak Ronny menutup pintu, “Jangan ditunggu Nam, coba lo telepon. Gausah sok boong lo sama gua, dari kemaren lo nungguin chat dari ntu cewe kan?” Riman terbelalak, sekali lagi perkataan orang lain tepat menusuk hatinya.
“Kalo gak diangkat ya SMS, tanyain kabarnya. Kalo masih ga dibales biarin aja. Seengganya lo udah udah nunjukin perhatian lo ke dia.”
“...”
“Jangan kasih kendor, Nam.”
“...........”
“Nam.”
“..............................”
“Sedeng lo ya liatin gua doang?”
“Eh iya pak saya kan dengerin bapak, masa iya saya motong omongan bapak.” Jawab Riman, terbangun dari lamunannya, terkesima. Semua yang dikatakan Pak Ronny merasuki pikirannya, sambil geleng-geleng  Riman tidak menyangka. Orang nyablak yang kerjaannya setiap hari duet sama mesin pemanggang ban dalem itu bisa mengerti juga problema seputar dunia cinta.
“Kok bapak bisa tau Pak kalo saya nunggu chatnya dia?” Tanya Riman bingung
“Insting bos, makanya keberatan kumis sih lo, udah ah cabut ya.” Pukas Pak Ronny diiringi dengan langkahnya meninggalkan ruangan itu.
“Ahaha iya pak hati-hati pak.” Teriak Riman kearah Pak Ronny. Lalu Riman mengangkat handphonenya, dengan segera Riman mengecek notifikasi yang sudah menumpuk di layarnya. Geser, geser, dan geser. Sudah sampai yang terbawah tetap tidak ada notifikasi yang berhubungan dengan dirinya. Riman terlemas, membawa pandangannya ke luar jendela, bertemu dengan langit yang cerahnya bukan main.
.
“Eh liat deh coba kamu liat ke langit.”
“Hem iya sebentar, emangnya ada apa?”
“Kalo kamu liat ada bintang yang paling terang, itu bukan bintang, itu venus!”
“Ah iya aku liat! Oh ternyata itu venus haha bagus ya. Padahal kita lagi di beda tempat, terpaut jarak. But we are under the same sky.”
.
Percakapan itu terngiang dipikirannya. Memori yang sangat mudah dipancing ketika Riman melihat ke langit. Tak perlu waktu banyak untuk menemukan hal yang ia cari, ketika melihat langit, disitulah Riman teringat akan dia.
“Mengapa kau selalu mudah ditemukan, venus.” Bisik Riman, pelan.
Semua orang pasti punya sesuatu yang mengingatkannya akan hal tertentu. Seperti lagu, atau benda, atau mungkin sespesifik aroma parfum seseorang yang nantinya akan membawa kepada seluruh kenangan dari hal yang diingatnya, entah itu kenangan bahagia atau kenangan sedih. Namun, bagaimana kalau hal itu sangat mudah ditemukan? Semudah menengok ke arah langit dan melihat bintang paling terang disana. Dan bagaimana jika kenangan itu membawanya kepada perasaan menyesakkan?
Hanya mereka berdua yang tau apa, hanya mereka yang mengerti apa arti dari benda langit yang paling bersinar kala itu, Riman rindu. Ingin rasanya Riman menghujam beribu chatnya kepada dia, mendengar dirinya bercerita tentang kesehariannya, melihat foto dari dirinya setiap saat, hanya untuk membayar rasa rindu terhadapnya. Dan pertanyaannya berulang itu kembali lagi,
Apakah dia merindukanku juga?
Apakah dia sedang sibuk?
Apakah dia dalam kondisi yang baik?
Apakah aku..
Apakah aku mengganggu ketika aku menanyakan dia sedang apa?
Pikirannya membawa rasa takut untuk menghubunginya, namun perasaannya  tak sabar untuk mendengar kabar dirinya. Pertengkaran antara pikiran dan perasaannya menuntun tangan Riman untuk membuka handphonenya dan mengetik nomor teleponnya, lalu jarinya mengetuk cepat tombol call.
Tangannya yang bergerak canggung menuju telinganya memaksa untuk mendengarkan nada tunggu tanda telepon telah tersambung ke nomornya. Sambil memejamkan mata Riman menunggu, sempat terlintas untuk mengakhiri teleponnya namun perasaan Riman mengalirkan rasa gugup itu dengan memainkan kakinya mengetuk lantai,
10 detik berlalu,
30 detik berlalu, krek
“Halooo Rimaaaaaaaaaaaan? kemana aja lo?!.”
Mata Riman terbuka, nafasnya tersekat. Suara yang ia kenal betul mengambil alih perasaan Riman menang telak atas logikanya. Senyumnya merekah dan Riman menjawabnya,
“Hehe hai Ti, apa kabar?”
.
.
.
Semoga semogamu,
Segera diSegerakan,
Tapi Jangan Lupa Pulang.
-erdian bachri

Monday, January 23, 2017

Miskonsepsi

“Man cabut yuk, udah jam 4 lewat nih. Udah ga tahan gua mau mandi.” Gegas Difa, dengan muka yang seratus persen terlihat sumuk, penat, dan tidak lupa, bau.
“Ayo Man, perlu gua rapihin barang lo nih?” rayu Rami sambil merapikan laptopnya, namun seketika mata Rami sadar bahwa Riman tidak merespon ajakannya. Meja Riman yang di dekat kaca membuat Riman bisa setiap saat menatap pemandangan jalanan setiap harinya dari gedung lantai 3, sesukanya. Dan benar, Riman tidak berkedip.
“Man!” sentak Difa.
“Eh iya, kenapa Dif Mi?” Jawab Riman terbangun dari lamunannya, kaget.
“Jangan bilang lo mau…”
“Iya Dif gua ngambil lembur lagi hari ini, elo pada duluan aja.” Jawab Riman santai sambil tersenyum tipis.
“Ya tapi Man, ini udah delapan hari lo ngambil lembur, berturut-turut lagi. Lo juga kan masih magang Man uang lemburnya juga ga seberapa, kantung mata lo aja udah sampe pipi itu.” Jelas Difa dengan sedikit jokes khasnya Difa yang… renyah sampai-sampai Riman dan Rami menaikan kedua alisnya, bingung menanggapi sahabatnya ini.
“Ehm ya pokoknya ayolah Man lo butuh istirahat.” Lanjut Difa membaca situasi. Difa mengkritik pola kerja Riman belakangan ini yang sudah seperti robot, untung bukan robot gedek pikirnya.
“Ahaha gua sehat kok, fit! Ya lumayan juga buat nambah ongkos gua makan kan.” Disambung dengan tawa Riman terkekeh.
“Yaelah berapa si uang makan lo sehari. Gua bay…” Kalimat Difa terhenti seiring pundak kanan Difa ditepuk.
“Yaudahlah lo kaya ga kenal Riman aja, lo kan sekelas dari semester satu. Gua udah rapi nih, yok cabut.” Jelas Rami mencoba mengerti keadaan Riman. Difa yang masih terdiam mencoba memproses kata-kata yang Rami jelaskan. Alis mata kanannya naik satu lalu matanya bergerak ke Riman dan kembali ke Rami, sambil menghela satu hembusan napas panjang Difa terutunduk.
“Man Man, pantes gaada yang betah jadi cewe lo. Sibuknya ngalahin Presiden!” Riman tersentak, tatapannya sekarang fokus dan terbuka seakan-akan perkataan Difa tepat mengenai sasaran pikiran Riman saat itu. Beberapa detik kemudian Riman terkekeh ringan, “Hahaha jadi begitu ya, miskonsepsi.” Mata Riman kembali menoleh kearah kaca, tangannya otomatis menumpu dagunya yang terskema persis seperti delapan hari kebelakang.
    Difa kaget menyaksikan reaksi Riman yang seperti itu, tidak menyangka bahwa kata-katanya mampu membuat Riman seserius itu memikirkan kata-kata yang sudah Difa lontarkan terhadapnya. Pundak Difa pun disenggol Rami, ketika Difa menoleh Rami sedang mengetik sesuatu pada Handphonenya.
“Man gua kirimin softcopy Kungfu Komang ke e-mail lo, lo kan lagi nyari-nyari tuh  dari dua bulan yang lalu, kemaren gua dapet dari situs illegal. Au dah ada virusnya atau engga, lumayanlah buat nemenin gabutnya lau.” Jelas Rami, padat.
“Eh iya makasih Mi. Masih inget aja lo kalo gua ngidam Komang hahaha.” Sambil tertawa Riman mengetuk layar handphonenya dua kali lalu terlihat notifikasi pada layar yang masih terkunci, terdapat notifikasi game, orang yang memfollow Instagram Riman, tanda bahwa memori handphonenya sudah penuh, dan lain-lain, tidak ada yang penting pikir Riman. Riman menggeser layarnya keatas dan notifikasi terakhir yang dilihatnya adalah e-mail Rami, sehabis itu… tidak ada lagi. Alih-alih membuka dan mengecek e-mail Rami, raut wajah Riman kembali seperti semula, kosong, menerawang dan tidak puas akan apa yang ia dapati di notifikasi handphonenya.
“Udah gua duga.” Bisik Rami pelan, sambil mencolek Difa memberi kode untuk pulang, “Man kita cabut duluan ya, jangan malem-malem baliknya kalo kaga gua kunci kontrakannya. Biar tidur sama sepeda gua lo diluar, ayo Dif.” Rami langsung mengambil tas dan membalikan badannya menuju pintu keluar.
“Oh iyee, tiati lau pada.” Lambai tangan Riman tegas.
Difa yang masih bingung antara melanjutkan ceramahnya untuk Riman atau mengikuti Rami pulang. Difa jelas menampakan keraguannya, riweuh sendiri.
“Eh eh Mi tungguin lo kan tau gua takut naik lift sendirian!” bergegas mengambil tas dan handphone di meja kerjanya, Difa langsung berlari menyusul Rami. “Man dul.. uan ya.” Sedikit tergagap, Difa berlari kecil sambil memikirkan apakah ada yang salah dari kata-katanya barusan.
    Riman kembali tertawa melihat tingkah laku sahabatnya, lalu handphonenya bergetar singkat tanda handphonenya menerima LINE dari seseorang. Sambil menegapkan badannya Riman mengambil handphone dengan kedua tangannya lalu terlihat pesan dari pak Susilo, pembimbing magangnya Riman, menanyakan apakah Riman lembur hari ini. Sekali lagi Riman tertawa kecil, “hehe bukan dia.” Lirih, kepalanya tertunduk lesu, matanya terpejam. Tangannya menaruh handphone lembut ke meja lalu menyambut wajahnya yang sudah lelah. Menumpu pikiran yang mungkin terlampau berat, berat akan banyaknya pertanyaan yang tak tersampaikan, untuk seseorang. Sebenarnya indah, tempat Riman berdiam, namun bahasa tubuh Riman membuat ruangan itu seakan sempit sesak, lalu menekan hatinya yang kecil sampai batasnya mengombinasikan rasa ngilu panjang.
Tentang dia yang hadir selama ini,
Tentang dia yang lalu berkelana,
Tentang dia yang kembali lagi,
Tentang dia yang selalu meninggalkan jejak,
Dan tentang warna citranya,
Abu-abu.
.
.
.
“Dia ada masalah, Dif. Itulah Riman, lo sadar ga?” Tanya Rami kepada Difa. Difa seketika tersentak,
“Ah masa? Darimana lo tau? Dukun lo ya?” Pungkas Difa selengean tidak percaya.
“Riman itu orang yang gampang seneng Dif, lo pun tau itu. Kungfu Komang salah satunya, gamungkin Riman ga antusias ketika dia dapet komik itu. Dia kolektor kungfu komang Dif. Menurut lo ada suatu hal yang bisa ngalahin keantusiasan obsesinya, ya apalagi? Mungkin cinta?” Difa berjalan sambil menatap Rami mencoba megingat sesuatu. Bukan pertama kalinya Riman terlihat seperti ini pikirnya. Riman selalu sibuk, eh bukan! Kurang tepat. Riman selalu menyibukan diri ketika terjadi sesuatu pada dirinya. Mungkin orang-orang menyebutnya dengan kata pelarian. Semuanya menjadi jelas, mengapa Riman berperilaku aneh belakangan ini. Lucu, jika kamu sadar bahwa setiap orang memiliki perilaku efisien dalam melakukan suatu kebiasaan untuk mencerminkan siapa dirinya atau untuk menggambarkan apa yang akan ia lakukan kedepannya. Hal itu disebut pola, setiap manusia memiliki polanya sendiri, corak. Dimana ketika Riman menyibukan dirinya, Riman sedang lari dari kesedihannya. Difa terbengong.
“Iya ya, kebaca banget kawan kita” Jawab Difa, menduga.
“Mungkin, tapi gua kenal sahabat gua. Entah kenapa feeling gua kesana. Ketika dia sesibuk ini, mungkin dia memutuskan untuk jatuh cinta.”
.
.
.
   Tangan Riman berpindah menyandarkan kepala belakangnya ke punggung kursi. Matanya terbuka sekarang. Sudah dua menit berlalu, Riman pun kembali mengambil handphonenya, membuka LINE dari pak Susilo lalu membalasnya
-Iya pak, saya lembur. Saya segera turun menuju workshop.

    Riman menekan tombol lock lalu membuka laci kerjanya dan meletakkan handphonenya dengan segera. Sesaat sebelum menutup lacinya, Riman melihat beberapa foto polaroid yang ia taruh disana bersama barang pribadinya. Menguatkan diri, Riman mengambil satu foto dan terlihat dua tangan membentuk gabungan angka dengan latar bianglala. Riman tersenyum, kali ini panjang. Bukan momennya yang ia rindukan, bukan juga bianglalanya, atau kombinasi angkanya, tapi "dirinya". Hanya butuh dua jari untuk memegang foto itu agar berada di udara, sekuat mengingat kenangan yang terisi di dalam foto itu. Tiba-tiba rasa ngilu itu dating kembali, dengan cepat Riman menaruh foto itu kembali ke dalam laci. Lalu menutup laci kerjanya dengan rapat. Tanpa ada kegiatan lain, Riman bergegas menuju workshop menemui pak Susilo, meneruskan lembur di hari ke-9nya.