“Man cabut yuk, udah jam 4 lewat
nih. Udah ga tahan gua mau mandi.” Gegas Difa, dengan muka yang seratus persen
terlihat sumuk, penat, dan tidak lupa, bau.
“Ayo Man, perlu gua rapihin
barang lo nih?” rayu Rami sambil merapikan laptopnya, namun seketika mata Rami
sadar bahwa Riman tidak merespon ajakannya. Meja Riman yang di dekat kaca
membuat Riman bisa setiap saat menatap pemandangan jalanan setiap harinya dari
gedung lantai 3, sesukanya. Dan benar, Riman tidak berkedip.
“Man!” sentak Difa.
“Eh iya, kenapa Dif Mi?” Jawab
Riman terbangun dari lamunannya, kaget.
“Jangan bilang lo mau…”
“Iya Dif gua ngambil lembur lagi
hari ini, elo pada duluan aja.” Jawab Riman santai sambil tersenyum tipis.
“Ya tapi Man, ini udah delapan
hari lo ngambil lembur, berturut-turut lagi. Lo juga kan masih magang Man uang
lemburnya juga ga seberapa, kantung mata lo aja udah sampe pipi itu.” Jelas
Difa dengan sedikit jokes khasnya Difa yang… renyah sampai-sampai Riman dan
Rami menaikan kedua alisnya, bingung menanggapi sahabatnya ini.
“Ehm ya pokoknya ayolah Man lo
butuh istirahat.” Lanjut Difa membaca situasi. Difa mengkritik pola kerja Riman
belakangan ini yang sudah seperti robot, untung bukan robot gedek pikirnya.
“Ahaha gua sehat kok, fit! Ya
lumayan juga buat nambah ongkos gua makan kan.” Disambung dengan tawa Riman
terkekeh.
“Yaelah berapa si uang makan lo
sehari. Gua bay…” Kalimat Difa terhenti seiring pundak kanan Difa ditepuk.
“Yaudahlah lo kaya ga kenal Riman
aja, lo kan sekelas dari semester satu. Gua udah rapi nih, yok cabut.” Jelas
Rami mencoba mengerti keadaan Riman. Difa yang masih terdiam mencoba memproses
kata-kata yang Rami jelaskan. Alis mata kanannya naik satu lalu matanya
bergerak ke Riman dan kembali ke Rami, sambil menghela satu hembusan napas
panjang Difa terutunduk.
“Man Man, pantes gaada yang betah
jadi cewe lo. Sibuknya ngalahin Presiden!” Riman tersentak, tatapannya sekarang
fokus dan terbuka seakan-akan perkataan Difa tepat mengenai sasaran pikiran
Riman saat itu. Beberapa detik kemudian Riman terkekeh ringan, “Hahaha jadi
begitu ya, miskonsepsi.” Mata Riman kembali menoleh kearah kaca, tangannya
otomatis menumpu dagunya yang terskema persis seperti delapan hari kebelakang.
Difa kaget menyaksikan reaksi
Riman yang seperti itu, tidak menyangka bahwa kata-katanya mampu membuat Riman
seserius itu memikirkan kata-kata yang sudah Difa lontarkan terhadapnya. Pundak
Difa pun disenggol Rami, ketika Difa menoleh Rami sedang mengetik sesuatu pada
Handphonenya.
“Man gua kirimin softcopy Kungfu
Komang ke e-mail lo, lo kan lagi nyari-nyari tuh dari dua bulan yang lalu, kemaren gua dapet
dari situs illegal. Au dah ada virusnya atau engga, lumayanlah buat nemenin
gabutnya lau.” Jelas Rami, padat.
“Eh iya makasih Mi. Masih inget
aja lo kalo gua ngidam Komang hahaha.” Sambil tertawa Riman mengetuk layar
handphonenya dua kali lalu terlihat notifikasi pada layar yang masih terkunci,
terdapat notifikasi game, orang yang memfollow Instagram Riman, tanda bahwa
memori handphonenya sudah penuh, dan lain-lain, tidak ada yang penting pikir Riman.
Riman menggeser layarnya keatas dan notifikasi terakhir yang dilihatnya adalah
e-mail Rami, sehabis itu… tidak ada lagi. Alih-alih membuka dan mengecek e-mail
Rami, raut wajah Riman kembali seperti semula, kosong, menerawang dan tidak
puas akan apa yang ia dapati di notifikasi handphonenya.
“Udah gua duga.” Bisik Rami
pelan, sambil mencolek Difa memberi kode untuk pulang, “Man kita cabut duluan
ya, jangan malem-malem baliknya kalo kaga gua kunci kontrakannya. Biar tidur
sama sepeda gua lo diluar, ayo Dif.” Rami langsung mengambil tas dan membalikan
badannya menuju pintu keluar.
“Oh iyee, tiati lau pada.” Lambai
tangan Riman tegas.
Difa yang masih bingung antara melanjutkan
ceramahnya untuk Riman atau mengikuti Rami pulang. Difa jelas menampakan
keraguannya, riweuh sendiri.
“Eh eh Mi tungguin lo kan tau gua
takut naik lift sendirian!” bergegas mengambil tas dan handphone di meja
kerjanya, Difa langsung berlari menyusul Rami. “Man dul.. uan ya.” Sedikit tergagap,
Difa berlari kecil sambil memikirkan apakah ada yang salah dari kata-katanya
barusan.
Riman kembali tertawa melihat
tingkah laku sahabatnya, lalu handphonenya bergetar singkat tanda handphonenya
menerima LINE dari seseorang. Sambil menegapkan badannya Riman mengambil
handphone dengan kedua tangannya lalu terlihat pesan dari pak Susilo,
pembimbing magangnya Riman, menanyakan apakah Riman lembur hari ini. Sekali lagi
Riman tertawa kecil, “hehe bukan dia.” Lirih, kepalanya tertunduk lesu, matanya
terpejam. Tangannya menaruh handphone lembut ke meja lalu menyambut wajahnya
yang sudah lelah. Menumpu pikiran yang mungkin terlampau berat, berat akan
banyaknya pertanyaan yang tak tersampaikan, untuk seseorang. Sebenarnya indah,
tempat Riman berdiam, namun bahasa tubuh Riman membuat ruangan itu seakan
sempit sesak, lalu menekan hatinya yang kecil sampai batasnya mengombinasikan
rasa ngilu panjang.
Tentang dia yang hadir selama
ini,
Tentang dia yang lalu berkelana,
Tentang dia yang kembali lagi,
Tentang dia yang selalu
meninggalkan jejak,
Dan tentang warna citranya,
Abu-abu.
.
.
.
“Dia ada masalah, Dif. Itulah
Riman, lo sadar ga?” Tanya Rami kepada Difa. Difa seketika tersentak,
“Ah masa? Darimana lo tau? Dukun lo
ya?” Pungkas Difa selengean tidak percaya.
“Riman itu orang yang gampang
seneng Dif, lo pun tau itu. Kungfu Komang salah satunya, gamungkin Riman ga
antusias ketika dia dapet komik itu. Dia kolektor kungfu komang Dif. Menurut lo
ada suatu hal yang bisa ngalahin keantusiasan obsesinya, ya apalagi? Mungkin cinta?”
Difa berjalan sambil menatap Rami mencoba megingat sesuatu. Bukan pertama
kalinya Riman terlihat seperti ini pikirnya. Riman selalu sibuk, eh bukan! Kurang
tepat. Riman selalu menyibukan diri ketika terjadi sesuatu pada dirinya. Mungkin
orang-orang menyebutnya dengan kata pelarian. Semuanya menjadi jelas, mengapa
Riman berperilaku aneh belakangan ini. Lucu, jika kamu sadar bahwa setiap orang
memiliki perilaku efisien dalam melakukan suatu kebiasaan untuk mencerminkan
siapa dirinya atau untuk menggambarkan apa yang akan ia lakukan kedepannya. Hal
itu disebut pola, setiap manusia memiliki polanya sendiri, corak. Dimana ketika
Riman menyibukan dirinya, Riman sedang lari dari kesedihannya. Difa terbengong.
“Iya ya, kebaca banget kawan kita”
Jawab Difa, menduga.
“Mungkin, tapi gua kenal sahabat
gua. Entah kenapa feeling gua kesana. Ketika dia sesibuk ini, mungkin dia
memutuskan untuk jatuh cinta.”
.
.
.
Tangan Riman berpindah
menyandarkan kepala belakangnya ke punggung kursi. Matanya terbuka sekarang.
Sudah dua menit berlalu, Riman pun kembali mengambil handphonenya, membuka LINE
dari pak Susilo lalu membalasnya
-Iya pak, saya lembur. Saya segera
turun menuju workshop.
Riman menekan tombol lock lalu
membuka laci kerjanya dan meletakkan handphonenya dengan segera. Sesaat sebelum
menutup lacinya, Riman melihat beberapa foto polaroid yang ia taruh disana
bersama barang pribadinya. Menguatkan diri, Riman mengambil satu foto dan terlihat
dua tangan membentuk gabungan angka dengan latar bianglala. Riman tersenyum,
kali ini panjang. Bukan momennya yang ia rindukan, bukan juga bianglalanya,
atau kombinasi angkanya, tapi "dirinya". Hanya butuh dua jari untuk memegang foto
itu agar berada di udara, sekuat mengingat kenangan yang terisi di dalam foto
itu. Tiba-tiba rasa ngilu itu dating kembali, dengan cepat Riman menaruh foto
itu kembali ke dalam laci. Lalu menutup laci kerjanya dengan rapat. Tanpa ada
kegiatan lain, Riman bergegas menuju workshop menemui pak Susilo, meneruskan lembur di hari ke-9nya.
No comments:
Post a Comment