Thursday, December 9, 2021

Satu Arah

5 Desember 2023

Minggu ini benar-benar melelahkan. Rutinitas dan pekerjaanku yang monoton benar-benar menggerogoti kebahagiaanku padahal sudah tengah minggu. Sampai di suatu sore telepon genggamku berbunyi. Dan itu adalah telepon dari seorang perempuan yang aku kagumi sedari dulu sekali. Dia ingat bahwa aku menggunakan kartu kredit BCA dan dia sedang melakukan survey yang kali ini berkaitan dengan kartu kredit BCA. Kebetulan sekali pikirku.

Kita sudah sangat lama tidak berbicara sekalipun lewat aplikasi pesan singkat. Terakhir aku menyapanya ketika hari dimana dia berulang tahun. Itupun hanya me-reply story instagtamnya dan tidak ada obrolan sama sekali setelah itu. Pekerjaannya memang membuat dia sangat sibuk dan aku tahu itu begitu jelas. Namun kali ini pekerjaannya berhubungan denganku. Benar-benar kebetulan yang tak kuduga.

Dia menanyaiku beberapa hal, tentang kartu kredit BCA tentunya, selama beberapa menit. Dan entah kenapa obrolan kami terasa begitu menyenangkan. Banyak rindu yang terselip, tawa karena hanya mendengar suara dan respon dari masing-masing kita. Aku sampai harus berpindah dari meja kerjaku ke sudut ruangan dekat jendela besar agar bisa mengobrol tanpa harus mengecilkan suaraku.

Waktu tidak begitu terasa berlalu.

Yang jelas terasa adalah aku ternyata masih mengaguminya.

Pertanyaan darinya sudah habis. Menyisakkan jeda panjang yang canggung namun tidak ada tanda-tanda dari kita untuk menutup teleponnya lebih dulu. Tidak ada yang tergesa-gesa sama sekali. Lalu entah kenapa aku mengatakan,

"Sabtu malem tanggal 9 desember kamu kosong ga?"

"Ehm... kosong sih harusnya. Ada apa?"

"Makan yuk! Di ruko utara"

"Ruko utara? Tempat kita biasa makan dulu?"

"Iya! Masih ada ga sih? Atau udah digusur?"

"Masih sih harusnya"

"Jadi... it's a yes?"

Aku dan sifat impulsifku memang duet yang terkadang aku sesali. Karena dengan sifatku tersebut aku acap kali mengajukan ide dadakan yang membuat orang lain harus berpikir dengan keadaan terdesak. Namun, dia menjawab

"Yes! Let's meet!"

Terima kasih sifat impulsifku.

Akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan orang yang benar-benar aku kagumi sejak dulu

Dalam perjalanan pulang dari kotaku bekerja, aku memikirkan begitu banyak hal. Baju apa yang harus aku kenakan, oleh-oleh apa yang harus kubawa, topik pembicaraan yang harus kuutarakan, semuanya memenuhi kepalaku. Hal itu sampai membuatku tidak sadar akan perjalananku yang panjang dan membuatku berpindah tempat dengan cepat. Tak terasa

Apa harus aku bawakan bunga?

Atau harus kubawakan cokelat kesukaannya?

Dan pada satu titik, entah aku mendapatkan ilham dari mana. Mungkin ini juga akibat dari sifat impulsifku yang meletup-letup, tiba-tiba aku terpikirkan untuk mengajaknya untuk menikah

.................................

Sebentar sebentar...

Apakah ini adalah hal yang tepat?

Kita sudah lama tidak bertemu, kita juga sudah sangat jarang berbicara. Tapi entah kenapa aku begitu yakin kali ini. Karena dia adalah orang yang paling mengenalku begitupun aku yang sangat mengenal dia. Tahun depan aku juga sudah menginjak umurku yang ke-28. Aku sudah mempersiapkan ini dengan matang. Aku merasa sudah benar-benar siap.

Semakin dipikirkan, aku semakin yakin.

Pada akhirnya aku memutuskannya.

Aku akan mengatakan kepadanya sehabis kita makan bersama.

---

Aku menjemput dia di rumahnya. Tidak banyak hal yang berubah dari dirinya. Namun entah kenapa penampilannya selalu terlihat mengesankan sekalipun sederhana. Hatiku semakin berdegup kencang, aku benar-benar gemetaran ketika memikirkan percakapan kita nanti

"Ibu sama Ayah ada? Udah lama ga ketemu" kataku

"Lagi pada keluar kebetulan. Aku ditinggalin sendiri hu hu hu"

"Cocok dong kita makan keluar"

"Banget emang. Yuk ah berangkat"

Cerita yang tersimpan dalam waktu yang lama pun mengalir deras seperti keran yang terbuka penuh. Tentang pekerjaan kita, tentang investasi, tentang kondisi Indonesia terkini (obrolan dengan topik yang sangat dewasa ya). Tapi memang mungkin karena sudah masanya pembicaraan seperti ini yang akhirnya terbahas.

Kita makan di tempat yang dahulu biasa kita kunjungi. Sekalipun banyak yang berubah namun kenangannya masih tergambar jelas disana.

Banyak hal yang tersampaikan

Banyak hal yang akhirnya kudengar

Sampai kepada kita yang berjalan kaki menuju parkiran sehabis makan.

Ditemani dengan lampu kuning yang temaram dan kita yang berjalan berdampingan.

Aku menyadari hal lain bahwa, malam ini membuatku begitu yakin untuk menyampaikannya saat itu juga kepadanya.

Aku menghentikan langkah kakiku.

Dia berjalan beberapa langkah di depanku hingga akhirnya berhenti dan bertanya kepadaku

"Ada apa? Ada yang ketinggalan?"

Angin yang berhembus pelan, menenangkan angin ribut yang sedari tadi mengacaukan kepalaku

Kata-kata yang sudah kupersiapkan entah kenapa berhamburan dan tidak tersusun sebagaimana mestinya.

Tenang

Tenang

Aku bisa menghadapinya

Dengan satu tarikan napas panjang, aku membuka mataku dan mengatakannya dengan gemetar

"Aku... aku selalu kagum sama kamu dari pertama kali kita ketemu. Dan satu telepon dari kamu sore itu entah kenapa ngeyakinin aku dan nyadarin aku kalo aku selalu suka sama kamu."

Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Entah mungkin karena dia sudah menduga hal ini akan terjadi atau entah karena apa. Reaksinya membuatku menjadi semakin yakin.

Aku keluarkan sebuah kotak kecil dari tas kecilku.

Lalu aku duduk bersimpuh sambil membuka kotak yang mengeluarkan cincin emas sederhana yang aku beli tadi pagi

"I... I am asking you with all my braveness and all my heart. Do you want to marry me?"

Dingin seketika menjalar dari tanganku sampai ke seluruh tubuhku. Keringat dingin pun mengalir dari keningku sampai punggungku. Tapi aku sudah berhasil mengatakannya.

Seketika air mata keluar membasahi pipinya begitu deras. Begitu terseguk sehingga melumpuhkan lututnya untuk menopang dia berdiri. Saat dia jatuh terduduk, aku segera berlari mendekatinya untuk duduk sama rendah.

Tangis haru yang kurasa juga menular kepadaku

Sampai dia bilang

"Maaf..." sambil menangis

Aku yang terbingung dengan situasi yang terjadi begitu cepat mengonfirmasinya lagi

"Eh, kenapa?"

"Ma..aaaf....."

Seketika kepalaku begitu pening.

Karena kata maaf tidak berada dalam skenario yang telah aku pikirkan selama ribuan menit ke belakang.

Tapi aku menanyakannya kembali

"Untuk?"

Tangisnya tidak kunjung reda. Entah kenapa aku merasakan rasa sakit dari reaksinya. Entah sakit yang aku rasa atau sakit yang ia derita saat itu juga.

Aku yang masih mengenggam kotak cincin itu kemudian menutupnya dengan rasa sakit yang tak terhingga.

Dia berkata

"A..ku.. dilamar.... sama seniorku minggu lalu..."

Dan kata-kata berikutnya

Dan berikutnya

Dan berikutnya

Tidak dapat aku proses dalam kepalaku, sedikitpun

---

Entah kenapa air mataku tidak bisa keluar. Aku akhirnya dapat mendengarkan penjelasannya. Karena aku sahabatnya dan karena kita bertemu malam ini. Dia berencana untuk mengabarkan hal itu kepadaku malam ini. Itu adalah alasannya kenapa dia mengiyakan pertemuan kita malam ini. Namun keberaniannya terkalahkan tepat setelah aku mengajaknya menikah bersamaku.

Aku tenangkan dia, dia peluk erat tubuhku dengan tangisannya yang belum juga mereda.

Sambil mengusap lembut kepalanya, aku katakan kepadanya.

"It's okay! Im glad for you! Hey! You know that i always support you no matter what you choose! I always do! Cheer up, okay?!"

Beberapa saat setelahnya, tangisnya mereda. Aku antarkan dia pulang dan aku segera pamit

"Till we meet again?" kataku secara impulsif. Aku bahkan tidak tahu kata-kata apa yang harus aku ucapkan saat itu juga. Aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepadanya

"Till we meet again..." katanya yang masih berusaha menahan tangisnya. Aku tersenyum dan menepuk kepalanya dengan lembut.

Ini adalah perpisahan kita.

Ini adalah akhir dari kisah kita.

Seketika dia memelukku lagi seraya berkata.

"I hope in another universe.. or maybe in parallel life.. we could be together... or more so.. i wished it true"

Entah kenapa aku merasa lebih baik ketika mendengarnya. Hanya saja aku tahu, itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi karena kita hanya hidup sekali.

Tidak ada jalan kembali

Tidak mungkin memutar waktu

Kita harus menjalani hidup yang hanya ditentukan dalam satu arah

"Thanks for your warm words.. but we know it's not going to happen... thanks for everything"

Aku melepaskannya dan bergegas pergi

Angin malam yang menyayat

Hiruk pikuk jalan raya yang entah bagaimana menyembunyikan keberadaanku


Aku benar-benar ingin menghilang saat itu juga.

No comments:

Post a Comment