5 Desember 2023
Minggu ini
benar-benar melelahkan. Rutinitas dan pekerjaanku yang monoton benar-benar menggerogoti kebahagiaanku padahal sudah tengah minggu. Sampai di suatu sore telepon genggamku berbunyi. Dan
itu adalah telepon dari seorang perempuan yang aku kagumi sedari dulu sekali.
Dia ingat bahwa aku menggunakan kartu kredit BCA dan dia sedang melakukan
survey yang kali ini berkaitan dengan kartu kredit BCA. Kebetulan sekali
pikirku.
Kita sudah
sangat lama tidak berbicara sekalipun lewat aplikasi pesan singkat. Terakhir
aku menyapanya ketika hari dimana dia berulang tahun. Itupun hanya me-reply story instagtamnya
dan tidak ada obrolan sama sekali setelah itu. Pekerjaannya memang membuat dia sangat sibuk
dan aku tahu itu begitu jelas. Namun kali ini pekerjaannya berhubungan
denganku. Benar-benar kebetulan yang tak kuduga.
Dia menanyaiku
beberapa hal, tentang kartu kredit BCA tentunya, selama beberapa menit. Dan
entah kenapa obrolan kami terasa begitu menyenangkan. Banyak rindu yang
terselip, tawa karena hanya mendengar suara dan respon dari masing-masing kita.
Aku sampai harus berpindah dari meja kerjaku ke sudut ruangan dekat jendela
besar agar bisa mengobrol tanpa harus mengecilkan suaraku.
Waktu tidak
begitu terasa berlalu.
Yang jelas
terasa adalah aku ternyata masih mengaguminya.
Pertanyaan darinya sudah habis. Menyisakkan jeda panjang yang canggung namun tidak ada
tanda-tanda dari kita untuk menutup teleponnya lebih dulu. Tidak ada yang
tergesa-gesa sama sekali. Lalu entah kenapa aku mengatakan,
"Sabtu
malem tanggal 9 desember kamu kosong ga?"
"Ehm...
kosong sih harusnya. Ada apa?"
"Makan yuk!
Di ruko utara"
"Ruko utara?
Tempat kita biasa makan dulu?"
"Iya! Masih ada ga sih? Atau udah digusur?"
"Masih sih
harusnya"
"Jadi...
it's a yes?"
Aku dan sifat
impulsifku memang duet yang terkadang aku sesali. Karena dengan sifatku
tersebut aku acap kali mengajukan ide dadakan yang membuat orang lain harus
berpikir dengan keadaan terdesak. Namun, dia menjawab
"Yes! Let's
meet!"
Terima kasih
sifat impulsifku.
Akhirnya aku
bisa bertemu kembali dengan orang yang benar-benar aku kagumi sejak dulu
Dalam perjalanan
pulang dari kotaku bekerja, aku memikirkan begitu banyak hal. Baju apa yang harus aku
kenakan, oleh-oleh apa yang harus kubawa, topik pembicaraan yang harus
kuutarakan, semuanya memenuhi kepalaku. Hal itu sampai membuatku tidak sadar
akan perjalananku yang panjang dan membuatku berpindah tempat dengan cepat. Tak terasa
Apa harus aku
bawakan bunga?
Atau harus
kubawakan cokelat kesukaannya?
Dan pada satu
titik, entah aku mendapatkan ilham dari mana. Mungkin ini juga akibat dari
sifat impulsifku yang meletup-letup, tiba-tiba aku terpikirkan untuk
mengajaknya untuk menikah
.................................
Sebentar
sebentar...
Apakah ini
adalah hal yang tepat?
Kita sudah lama
tidak bertemu, kita juga sudah sangat jarang berbicara. Tapi entah kenapa aku
begitu yakin kali ini. Karena dia adalah orang yang paling mengenalku begitupun aku yang sangat mengenal dia. Tahun depan aku juga sudah menginjak umurku yang ke-28.
Aku sudah mempersiapkan ini dengan matang. Aku merasa sudah benar-benar siap.
Semakin
dipikirkan, aku semakin yakin.
Pada akhirnya
aku memutuskannya.
Aku akan
mengatakan kepadanya sehabis kita makan bersama.
---
Aku menjemput
dia di rumahnya. Tidak banyak hal yang berubah dari dirinya. Namun entah
kenapa penampilannya selalu terlihat mengesankan sekalipun sederhana. Hatiku
semakin berdegup kencang, aku benar-benar gemetaran ketika memikirkan
percakapan kita nanti
"Ibu sama
Ayah ada? Udah lama ga ketemu" kataku
"Lagi pada
keluar kebetulan. Aku ditinggalin sendiri hu hu hu"
"Cocok dong
kita makan keluar"
"Banget
emang. Yuk ah berangkat"
Cerita yang
tersimpan dalam waktu yang lama pun mengalir deras seperti keran yang terbuka
penuh. Tentang pekerjaan kita, tentang investasi, tentang kondisi Indonesia
terkini (obrolan dengan topik yang sangat dewasa ya). Tapi memang mungkin karena
sudah masanya pembicaraan seperti ini yang akhirnya terbahas.
Kita makan di
tempat yang dahulu biasa kita kunjungi. Sekalipun banyak yang berubah namun
kenangannya masih tergambar jelas disana.
Banyak hal yang
tersampaikan
Banyak hal yang
akhirnya kudengar
Sampai kepada
kita yang berjalan kaki menuju parkiran sehabis makan.
Ditemani dengan
lampu kuning yang temaram dan kita yang berjalan berdampingan.
Aku menyadari
hal lain bahwa, malam ini membuatku begitu yakin untuk menyampaikannya saat itu
juga kepadanya.
Aku menghentikan
langkah kakiku.
Dia berjalan
beberapa langkah di depanku hingga akhirnya berhenti dan bertanya kepadaku
"Ada apa?
Ada yang ketinggalan?"
Angin yang
berhembus pelan, menenangkan angin ribut yang sedari tadi mengacaukan kepalaku
Kata-kata yang
sudah kupersiapkan entah kenapa berhamburan dan tidak tersusun sebagaimana mestinya.
Tenang
Tenang
Aku bisa
menghadapinya
Dengan satu
tarikan napas panjang, aku membuka mataku dan mengatakannya dengan gemetar
"Aku... aku
selalu kagum sama kamu dari pertama kali kita ketemu. Dan satu telepon dari
kamu sore itu entah kenapa ngeyakinin aku dan nyadarin aku kalo aku selalu suka
sama kamu."
Dia menutup
mulutnya dengan kedua tangannya. Entah mungkin karena dia sudah menduga hal ini
akan terjadi atau entah karena apa. Reaksinya membuatku menjadi semakin yakin.
Aku keluarkan
sebuah kotak kecil dari tas kecilku.
Lalu aku duduk
bersimpuh sambil membuka kotak yang mengeluarkan cincin emas sederhana yang aku
beli tadi pagi
"I... I am
asking you with all my braveness and all my heart. Do you want to marry me?"
Dingin seketika
menjalar dari tanganku sampai ke seluruh tubuhku. Keringat dingin pun mengalir
dari keningku sampai punggungku. Tapi aku sudah berhasil mengatakannya.
Seketika air mata keluar membasahi pipinya begitu deras. Begitu terseguk sehingga melumpuhkan lututnya untuk menopang dia
berdiri. Saat dia jatuh terduduk, aku segera berlari mendekatinya untuk duduk
sama rendah.
Tangis haru yang
kurasa juga menular kepadaku
Sampai dia
bilang
"Maaf..."
sambil menangis
Aku yang
terbingung dengan situasi yang terjadi begitu cepat mengonfirmasinya lagi
"Eh, kenapa?"
"Ma..aaaf....."
Seketika
kepalaku begitu pening.
Karena kata maaf
tidak berada dalam skenario yang telah aku pikirkan selama ribuan menit ke
belakang.
Tapi aku
menanyakannya kembali
"Untuk?"
Tangisnya tidak
kunjung reda. Entah kenapa aku merasakan rasa sakit dari reaksinya. Entah sakit
yang aku rasa atau sakit yang ia derita saat itu juga.
Aku yang masih
mengenggam kotak cincin itu kemudian menutupnya dengan rasa sakit yang tak
terhingga.
Dia berkata
"A..ku..
dilamar.... sama seniorku minggu lalu..."
Dan kata-kata
berikutnya
Dan berikutnya
Dan berikutnya
Tidak dapat aku
proses dalam kepalaku, sedikitpun
---
Entah kenapa air
mataku tidak bisa keluar. Aku akhirnya dapat mendengarkan penjelasannya. Karena
aku sahabatnya dan karena kita bertemu malam ini. Dia berencana untuk
mengabarkan hal itu kepadaku malam ini. Itu adalah alasannya kenapa dia mengiyakan pertemuan kita malam ini. Namun keberaniannya terkalahkan tepat setelah aku
mengajaknya menikah bersamaku.
Aku tenangkan
dia, dia peluk erat tubuhku dengan tangisannya yang belum juga mereda.
Sambil mengusap
lembut kepalanya, aku katakan kepadanya.
"It's okay!
Im glad for you! Hey! You know that i always support you no matter what you choose!
I always do! Cheer up, okay?!"
Beberapa saat
setelahnya, tangisnya mereda. Aku antarkan dia pulang dan aku segera pamit
"Till we
meet again?" kataku secara impulsif. Aku bahkan tidak tahu kata-kata apa
yang harus aku ucapkan saat itu juga. Aku tidak tahu apa yang harus aku
sampaikan kepadanya
"Till we
meet again..." katanya yang masih berusaha menahan tangisnya. Aku
tersenyum dan menepuk kepalanya dengan lembut.
Ini adalah
perpisahan kita.
Ini adalah akhir
dari kisah kita.
Seketika dia
memelukku lagi seraya berkata.
"I hope in
another universe.. or maybe in parallel life.. we could be together... or more
so.. i wished it true"
Entah kenapa aku
merasa lebih baik ketika mendengarnya. Hanya saja aku tahu, itu adalah hal yang
tidak mungkin terjadi karena kita hanya hidup sekali.
Tidak ada jalan
kembali
Tidak mungkin
memutar waktu
Kita harus
menjalani hidup yang hanya ditentukan dalam satu arah
"Thanks for
your warm words.. but we know it's not going to happen... thanks for
everything"
Aku melepaskannya dan bergegas pergi
Angin malam yang
menyayat
Hiruk pikuk
jalan raya yang entah bagaimana menyembunyikan keberadaanku
Aku benar-benar
ingin menghilang saat itu juga.