Thursday, December 9, 2021

Satu Arah

5 Desember 2023

Minggu ini benar-benar melelahkan. Rutinitas dan pekerjaanku yang monoton benar-benar menggerogoti kebahagiaanku padahal sudah tengah minggu. Sampai di suatu sore telepon genggamku berbunyi. Dan itu adalah telepon dari seorang perempuan yang aku kagumi sedari dulu sekali. Dia ingat bahwa aku menggunakan kartu kredit BCA dan dia sedang melakukan survey yang kali ini berkaitan dengan kartu kredit BCA. Kebetulan sekali pikirku.

Kita sudah sangat lama tidak berbicara sekalipun lewat aplikasi pesan singkat. Terakhir aku menyapanya ketika hari dimana dia berulang tahun. Itupun hanya me-reply story instagtamnya dan tidak ada obrolan sama sekali setelah itu. Pekerjaannya memang membuat dia sangat sibuk dan aku tahu itu begitu jelas. Namun kali ini pekerjaannya berhubungan denganku. Benar-benar kebetulan yang tak kuduga.

Dia menanyaiku beberapa hal, tentang kartu kredit BCA tentunya, selama beberapa menit. Dan entah kenapa obrolan kami terasa begitu menyenangkan. Banyak rindu yang terselip, tawa karena hanya mendengar suara dan respon dari masing-masing kita. Aku sampai harus berpindah dari meja kerjaku ke sudut ruangan dekat jendela besar agar bisa mengobrol tanpa harus mengecilkan suaraku.

Waktu tidak begitu terasa berlalu.

Yang jelas terasa adalah aku ternyata masih mengaguminya.

Pertanyaan darinya sudah habis. Menyisakkan jeda panjang yang canggung namun tidak ada tanda-tanda dari kita untuk menutup teleponnya lebih dulu. Tidak ada yang tergesa-gesa sama sekali. Lalu entah kenapa aku mengatakan,

"Sabtu malem tanggal 9 desember kamu kosong ga?"

"Ehm... kosong sih harusnya. Ada apa?"

"Makan yuk! Di ruko utara"

"Ruko utara? Tempat kita biasa makan dulu?"

"Iya! Masih ada ga sih? Atau udah digusur?"

"Masih sih harusnya"

"Jadi... it's a yes?"

Aku dan sifat impulsifku memang duet yang terkadang aku sesali. Karena dengan sifatku tersebut aku acap kali mengajukan ide dadakan yang membuat orang lain harus berpikir dengan keadaan terdesak. Namun, dia menjawab

"Yes! Let's meet!"

Terima kasih sifat impulsifku.

Akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan orang yang benar-benar aku kagumi sejak dulu

Dalam perjalanan pulang dari kotaku bekerja, aku memikirkan begitu banyak hal. Baju apa yang harus aku kenakan, oleh-oleh apa yang harus kubawa, topik pembicaraan yang harus kuutarakan, semuanya memenuhi kepalaku. Hal itu sampai membuatku tidak sadar akan perjalananku yang panjang dan membuatku berpindah tempat dengan cepat. Tak terasa

Apa harus aku bawakan bunga?

Atau harus kubawakan cokelat kesukaannya?

Dan pada satu titik, entah aku mendapatkan ilham dari mana. Mungkin ini juga akibat dari sifat impulsifku yang meletup-letup, tiba-tiba aku terpikirkan untuk mengajaknya untuk menikah

.................................

Sebentar sebentar...

Apakah ini adalah hal yang tepat?

Kita sudah lama tidak bertemu, kita juga sudah sangat jarang berbicara. Tapi entah kenapa aku begitu yakin kali ini. Karena dia adalah orang yang paling mengenalku begitupun aku yang sangat mengenal dia. Tahun depan aku juga sudah menginjak umurku yang ke-28. Aku sudah mempersiapkan ini dengan matang. Aku merasa sudah benar-benar siap.

Semakin dipikirkan, aku semakin yakin.

Pada akhirnya aku memutuskannya.

Aku akan mengatakan kepadanya sehabis kita makan bersama.

---

Aku menjemput dia di rumahnya. Tidak banyak hal yang berubah dari dirinya. Namun entah kenapa penampilannya selalu terlihat mengesankan sekalipun sederhana. Hatiku semakin berdegup kencang, aku benar-benar gemetaran ketika memikirkan percakapan kita nanti

"Ibu sama Ayah ada? Udah lama ga ketemu" kataku

"Lagi pada keluar kebetulan. Aku ditinggalin sendiri hu hu hu"

"Cocok dong kita makan keluar"

"Banget emang. Yuk ah berangkat"

Cerita yang tersimpan dalam waktu yang lama pun mengalir deras seperti keran yang terbuka penuh. Tentang pekerjaan kita, tentang investasi, tentang kondisi Indonesia terkini (obrolan dengan topik yang sangat dewasa ya). Tapi memang mungkin karena sudah masanya pembicaraan seperti ini yang akhirnya terbahas.

Kita makan di tempat yang dahulu biasa kita kunjungi. Sekalipun banyak yang berubah namun kenangannya masih tergambar jelas disana.

Banyak hal yang tersampaikan

Banyak hal yang akhirnya kudengar

Sampai kepada kita yang berjalan kaki menuju parkiran sehabis makan.

Ditemani dengan lampu kuning yang temaram dan kita yang berjalan berdampingan.

Aku menyadari hal lain bahwa, malam ini membuatku begitu yakin untuk menyampaikannya saat itu juga kepadanya.

Aku menghentikan langkah kakiku.

Dia berjalan beberapa langkah di depanku hingga akhirnya berhenti dan bertanya kepadaku

"Ada apa? Ada yang ketinggalan?"

Angin yang berhembus pelan, menenangkan angin ribut yang sedari tadi mengacaukan kepalaku

Kata-kata yang sudah kupersiapkan entah kenapa berhamburan dan tidak tersusun sebagaimana mestinya.

Tenang

Tenang

Aku bisa menghadapinya

Dengan satu tarikan napas panjang, aku membuka mataku dan mengatakannya dengan gemetar

"Aku... aku selalu kagum sama kamu dari pertama kali kita ketemu. Dan satu telepon dari kamu sore itu entah kenapa ngeyakinin aku dan nyadarin aku kalo aku selalu suka sama kamu."

Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Entah mungkin karena dia sudah menduga hal ini akan terjadi atau entah karena apa. Reaksinya membuatku menjadi semakin yakin.

Aku keluarkan sebuah kotak kecil dari tas kecilku.

Lalu aku duduk bersimpuh sambil membuka kotak yang mengeluarkan cincin emas sederhana yang aku beli tadi pagi

"I... I am asking you with all my braveness and all my heart. Do you want to marry me?"

Dingin seketika menjalar dari tanganku sampai ke seluruh tubuhku. Keringat dingin pun mengalir dari keningku sampai punggungku. Tapi aku sudah berhasil mengatakannya.

Seketika air mata keluar membasahi pipinya begitu deras. Begitu terseguk sehingga melumpuhkan lututnya untuk menopang dia berdiri. Saat dia jatuh terduduk, aku segera berlari mendekatinya untuk duduk sama rendah.

Tangis haru yang kurasa juga menular kepadaku

Sampai dia bilang

"Maaf..." sambil menangis

Aku yang terbingung dengan situasi yang terjadi begitu cepat mengonfirmasinya lagi

"Eh, kenapa?"

"Ma..aaaf....."

Seketika kepalaku begitu pening.

Karena kata maaf tidak berada dalam skenario yang telah aku pikirkan selama ribuan menit ke belakang.

Tapi aku menanyakannya kembali

"Untuk?"

Tangisnya tidak kunjung reda. Entah kenapa aku merasakan rasa sakit dari reaksinya. Entah sakit yang aku rasa atau sakit yang ia derita saat itu juga.

Aku yang masih mengenggam kotak cincin itu kemudian menutupnya dengan rasa sakit yang tak terhingga.

Dia berkata

"A..ku.. dilamar.... sama seniorku minggu lalu..."

Dan kata-kata berikutnya

Dan berikutnya

Dan berikutnya

Tidak dapat aku proses dalam kepalaku, sedikitpun

---

Entah kenapa air mataku tidak bisa keluar. Aku akhirnya dapat mendengarkan penjelasannya. Karena aku sahabatnya dan karena kita bertemu malam ini. Dia berencana untuk mengabarkan hal itu kepadaku malam ini. Itu adalah alasannya kenapa dia mengiyakan pertemuan kita malam ini. Namun keberaniannya terkalahkan tepat setelah aku mengajaknya menikah bersamaku.

Aku tenangkan dia, dia peluk erat tubuhku dengan tangisannya yang belum juga mereda.

Sambil mengusap lembut kepalanya, aku katakan kepadanya.

"It's okay! Im glad for you! Hey! You know that i always support you no matter what you choose! I always do! Cheer up, okay?!"

Beberapa saat setelahnya, tangisnya mereda. Aku antarkan dia pulang dan aku segera pamit

"Till we meet again?" kataku secara impulsif. Aku bahkan tidak tahu kata-kata apa yang harus aku ucapkan saat itu juga. Aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepadanya

"Till we meet again..." katanya yang masih berusaha menahan tangisnya. Aku tersenyum dan menepuk kepalanya dengan lembut.

Ini adalah perpisahan kita.

Ini adalah akhir dari kisah kita.

Seketika dia memelukku lagi seraya berkata.

"I hope in another universe.. or maybe in parallel life.. we could be together... or more so.. i wished it true"

Entah kenapa aku merasa lebih baik ketika mendengarnya. Hanya saja aku tahu, itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi karena kita hanya hidup sekali.

Tidak ada jalan kembali

Tidak mungkin memutar waktu

Kita harus menjalani hidup yang hanya ditentukan dalam satu arah

"Thanks for your warm words.. but we know it's not going to happen... thanks for everything"

Aku melepaskannya dan bergegas pergi

Angin malam yang menyayat

Hiruk pikuk jalan raya yang entah bagaimana menyembunyikan keberadaanku


Aku benar-benar ingin menghilang saat itu juga.

Sunday, September 19, 2021

Kamu dan Manchester United pada Suatu Hari

One day I had a girlfriend who loves a football club same as mine, and it’s Manchester United. We used to talk every morning after night macthes. About Wayne Rooney’s goal, Cristiano Ronaldo’s free kicks, the great defend wall of Nemanja Vidic, The final champions league losses against Barcelona and many more. Even when the macthes is live back then, we watch and still talking about it in night messages. Later then, we broke up but watching Manchester United still been my favorite things to follow until now

Once we met after years, I can’t remember for what occasions. I talked Manchester United with hype and felt like a bit too much because I felt that excited to you. I remembered that you love Manchester United. Then you replied,

“aku udah gasuka MU lagi tau”

“lho kenapa?”

“dulu aku suka MU karena kamu suka sama MU. Setelah kita putus, segala hal tentang MU ngingetin aku sama kamu. Jadi aku berhenti juga suka sama MU-nya”

At that time I realized many things. Like, when we in the stated of fallin in love with someone, you definitely can love everything  that your lovers like. Let’s say your lovers like to growing garden, you could possibly like that too. Maybe that’s the effort on making your lovers to loving you more, make sense, right?

And the last but not least is when you broke up, you may want to forget anything about your ex. Like, you don’t want to see or think anything that reminds you of your loved one. For me, it’s kinda how love is that strong so it can really change our life. And I realized that love is one of the most powerful  things in life. Ive been thinking recently that I really grateful that till now I still feel the depressed, had many glad moments, butterfly effect on my stomach, and all because of loving someone

It could be destructive

It could makes you a better person

It could adulting you on how you deal with your heart

And that start from loving things the same thing that your lovers like

It will be hard if you really dislike the things, such you don’t like cats because you sneezing everytime you touch it haha but you will see your lovers will appreciate with all the efforts you gave on the try loving things your lovers like

In the end, im pretty sure that definitely she don’t like Manchester United like she used to back then.
But Manchester United still reminds me of you.
Thank you very much for trying to loving things that I like, back then.

Anyway Manchester United win again tonight.
And Cristiano Ronaldo is the goal scorer again
Just like the night when we watch Manchester United together
With the never ending night conversations

Tuesday, September 7, 2021

Satu Dekade

 Ada beberapa hari yang selalu aku rayakan setiap tahunnya. Hari raya, pergantian malam tahun baru, hari ulang tahunku dan sahabat-sahabatku, serta hari jatuhnya tanggal 7 pada bulan 9 setiap tahunnya. Aku baru mulai menyadari, betapa pentingnya tanggal cantik itu. Aku sebagai manusia yang memiliki ingatan jangka panjang yang buruk, mulai merasakan manfaat dari mengingat tanggal cantik. Atau mungkin aku dapat mengingat tanggalnya karena itu merupakan tanggal yang berkesan? Jawabannya pasti iya dan dua hal tersebut membuatku selalu mengingat ranggal 7 bulan 9 yang dimulai pada tahun 2011

Tanggal 7 bulan 9 tahun 2011 adalah hari dimana aku menyatakan perasaanku kepada seorang perempuan di monas. Yang tidak aku atau dia tentukan juga tanggal dan tempatnya secara sengaja haha tanggal itu terpilih secara natural atau mungkin semesta yang mendukung kita untuk mendapatkan tanggal itu Di tahun 2014 kita berpisah, tapi aku tidak pernah mengingat tanggalnya, mungkin karena tanggalnya jelek dan tidak berkesan haha. Banyak orang yang bertanya tentang, kenapa sih kok dirayain terus? padahal udah putus juga, apa masih belom bisa move on?

Pertama, it was my best love story ever that i had in my life sampai hari ini haha asli

Kedua, aku tipikal orang yang suka banget sama semua hal tentang romansa. Dimulai dari novel, film, manga, anime, genre besarku adalah romcom (nomor duanya slice of life haha) dan di tanggal itu bisa dibilang adalah pengalaman pertamaku menyatakan perasaan secara langsung kepada seseorang, sebelumnya lewat surat sama lewat sms haha kalo dibayangin ngekak abis.

Ketiga, tanggal 7 bulan 9 selalu ngingetin aku tentang pertemuan dan perpisahan, dalam bentuk apapun, entah berapa lama waktunya.

Di setiap tanggal 7 bulan 9, aku selalu kasih waktu untuk diriku sendiri untuk merefleksi diri. Apakah aku sudah menjadi orang yang lebih baik untuk menjadi pasangan seseorang kedepannya. Dan itulah semua hal yang ngebuat tanggal 7 bulan 9 jadi hal yang spesial buatku.

Sesekali dalam satu tahun, aku dan dia akan bertemu di suatu kesempatan. Mungkin karena main dengan teman-teman yang lain atau update kabar di aplikasi pesan singkat untuk memperbarui kabar masing-masing. Dan di setiap kesempatannya, aku melihat perkembangan dirinya sebagai seorang perempuan yang semakin mengagumkan, semakin kuat, semakin hebat, dan semakin tajam untuk mengejar apa yang ia inginkan kedepan, and i very glad to witness all the things that she have been through in her life

Dan untuk menjadi perhatian khusus bahwasanya saat ini dia sudah memiliki seorang pacar haha aku rasa itu sudah cukup menjawab tentang kejelasan status kita. Kita adalah sahabat yang selalu mendukung apapun yang kita ingin gapai kedepannya

And i will be forever grateful for her and will always cheering anything best for her

Sedari awal tulisan ini dimulai, ini memang bukan tulisan tentang cinta, tapi tentang aku yang bergerak maju dengan menjadikan tanggal 7 bulan 9 sebagai momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi sebagai pasangan kedepannya. Merayakan pertemuan dan perpisahan dengan cara yang keren tentunya haha

Ah iya, selamat satu dekade untuk tanggal 7 bulan 9 di tahun 2021

Wednesday, August 25, 2021

God Spoke to Me Last Night

God spoke to me last night, while I was in a cafe in Jakarta. She said it's too crowded, one snap of her fingers we were suddenly elsewhere. Lots of water, lots of wind. View was nice but a bit grim. She was furious so I asked her, "what's wrong?". She said that, I went back in time. And it was the greatest crime of all

There I was, Sitting just a chair away from God. The All mother calling me a bat, a pest over a cup of coffee. The wind was howling, waters crackled around our feet. I looked at her in the eye, A moment of silence. I braced myself to ask her, "aren't we all time travelers? Visiting the past everyday to try shape the future? Isn't that human nature. One with your image ,Would you say that we are all cheaters? Wouldn't it also make you one? I am me, because I learn from the past. So you can't stop me. Not or nor any god.
I won't forget what I am.
I won't forget yesterday.

Even in the face of hell

It felt like days. We're still there After countless times of circular reasoning and tireless explanation of how all loving she is. Going through my ears as the wind began to shout stronger. "don't disrupt the balance. Forget the past, move on and I promise you to be loving". She tried to make a pact with me
But I can't, I can't forget the past.

When I remember my friends practicing bigotry
When I remember my family shutting me down for my religious opinion
When I remember Moslem friends telling me that I deserve hell as a Christian
When I remember Christian friends telling me that I deserve hell as an atheist
When I remember authorities telling me that I deserve jail for being myself
I won't forget what I am
I won't forget yesterday
Sometimes, I wanna hide

She slammed the table. God was talking to me, and she was angry. Thunder rings, heavy rain. I understood then. She created harmony. One made of silence. To visit the past is to learn from it. And learning is loud, A crime against harmony. But still, I'd rather be a convict than a mute.
'Cause in silence in hear people whispering '65
Skim one group, so they come out as heroes
In silence I hear hounds barking to reenact '98
Raping and killing Chinese when all they killed were Indonesians
She threw her arms toward me. Split seconds. I saw crimson clouds. Everything went black. Years of my life flashed in a blink. I remember things that never happened before
Countless tragedies, persecutions
Cathedral burned down, mobs rammed down
I opened my eyes. Saw my wrinkled hands .Illuminated by dim bonfire. Children all around me. Waiting for me to say something. God showed me myself in another world. In which I have failed. I know bad things happen when it's too late
Still, I won't forget who I am
I won't forget yesterday

In between the stories for the kids. The colours I see started fading. I was out, fell down headfirst. I opened my eyes. Back again in the middle of elsewhere. There she was, God almighty, standing upon me. She showed me possibilities, bad ones. I was mad, I stood up, Face to face. I asked her,
"Why would you let this happen?
Where were you whenever we need you?
Were they all your plan?
Am I your son?
Or did you adopt me?
Where do you hide the voices of your step-children?
Why do I need to constantly run from my own people?
Why do you let me suffer throughout the years?"
I took two steps closer, Told her my fixed price. I'll still go back and forth in time. Those things I saw, they must not happen.
Learn from the past
Learn from possible future
Learn that blood will never be the answer for any conflict
Learn that the only scapegoat is prejudice for people I don't understand
Learn that I don't need to understand everyone
Learn that it would be enough just respecting each other's shoes
Children need to remember that censorship doesn't solve
Friends need to remember that sugar coated message doesn't solve
Ghostfolks need to remember that it's okay to be one in a million
We need to remember that speaking up shouldn't have a price
I need to remember that I saw possible Multiverses in this fucked up world
No guns, no sword
No violent horde
No punishment for people who learn from the past
No mobs swearing to rape anyone who don't fast
No children restrained because differences and class
No religious sites burned down
No school of thoughts gunned down
No stepsons or favored daughters
Just humans
That's what I see and I'm sorry. If the state got me, put a lead in me
If God erased me, after I'm finished telling this story. Please pass this ona nd repeat after me
I won't forget who I am
I won't forget yesterday

I spoke a lot. Don't think know it was necessary. She shook her head. Let out a sigh. Suddenly the ground was shaking. Eyes blinded by light. Back in a cafe in Jakarta. I looked around and she wasn't there.
Amazed
Such magic
Applause
Curtain call
But wait, Whom did I talk to? Then again I was in a cafe in Jakarta. The music was loud. They were playing Kendrick. Doesn't fit the place's branding. But well, whatever. It was good. I should shut up and enjoy my latte. So either way it doesn't matter
If I spoke with myself
If I spoke with society
Or if
God spoke to me last night

-Baskara Putra, 2017, MULTIVERSES

Thursday, May 13, 2021

Tak Semua

Tak semua
Hidupmu
Tentangku

Pergilah jalan-jalan
Lihatlah
Rumah-rumah

Sampai siapa tahu
Kau ingin berumah tangga

Lalu aku
Yang kau ingat

-WTP, 2021

Sunday, February 21, 2021

Teater, Fitri, dan Rifia

Dulu banget, mungkin sekitar tahun 2013 gua lagi aktif-aktifnya ada di ekskul teater. Tahun itu kita cetak prestasi pertama sepanjang sejarah untuk sekolah kita lewat ekskul teater. Momen yang paling membahagiakan sampai ke momen yang paling sedih. Momen saat ekskul kami gagal wakilin jakarta untuk berlaga di kompetisi nasional karena kalah di babak final regional. Saat kalah itu gua sama anggota ekskul yang lain nangis bareng. Dan semenjak saat itu gua bikin janji sama diri gua sendiri, gua harus bisa dapet juara satu dalam kompetisi teater berikutnya.

Setelah jatuh bangun latihan, ikut kompetisi, akhirnya kepengurusan kami beregenerasi. Semua yang gua lewatin bener-bener pure of joy. Isinya ketawa-ketawa aja seaslinya, gaada definisi cape yang menguras emosi. Suatu hal yang bertarget malah ngejadiin gua punya kelompok pertemanan yang begitu erat. Bukan partner ekskul tapi persahabatan yang kuat banget. I never doubt to call this relationship a family.

Akhirnya gua lulus dari SMA dan lanjut kuliah yang ternyata kegiatannya sibuk mampus. Tapi disamping itu gua tetep balik untuk kumpul teater setiap ada kesempatan. Janji gua untuk jadiin teater juara satu masih kalah sama perasaan kangen pengen ketemu temen dan adik-adik di ekskul teater. Sampe tiba-tiba momen itu muncul, ketika gua melatih teater yang mau ikut lomba teater terbesar di Jakarta. Disitulah gua ketemu Fitri dan Rifia.

Secara dasar kita memang dekat karena teater. Kumpul teater membukakan pintu untuk diri kita masing-masing lebih mengenal satu sama lain. Mulai dari problem antar-generasi sampai kumpul untuk membahas apapun itu setiap sore sepulang sekolah. Fitri dan Rifia dalam banyak kesempatan sering ngobrol sama gua di dalam atau di luar teater. Mungkin karena memang cocok untuk bertukar pikiran jadi pun semakin terikat secara emosional.

Kala itu gua dateng untuk jadi pelatih teater, setiap sore seminggu sekali. Latihan dan ketawa-ketawa bareng semuanya. Merencanakan strategi untuk menangin pentas kali ini. Hari yang ditunggu juga udah tiba, hari kompetisi. Setiap pertunjukkan teater ekskul gua gua jarang banget nonton. Alasannya satu gua takut ganggu fokus adik-adik dan yang kedua gua takut apa yang ditampilin ekskul teater ga ada di level yang sama dengan ekspektasi gua.

Tapi akhirnya kita menang, gua nangis habis

Semua momen itu, teriakan, tangisan, tawa bahagia meledak. Dan reaksi pertama gua nangis, kejer. Pentas dimana Fitri dan Rifia jadi aktris utama dan juga tahun terakhirnya sebagai pemain aktif. Shout out buat Vivi Deva dkk yang juga terus nemenin perjalanan sedih bahagianya gelora (nama teater kita). 

Gabisa percaya momen semanis itu bisa dateng ke hidup gua, juara satu di lomba teater level tinggi. Even remember it still give me a goosebump back then. Feel unreal.

Spesialnya ekskul teater tetap dekat saat dan setelah hari itu. Kami selalu bertanya kabar setiap generasi, ketemu setiap tahun. Update kehidupan sekalipun koridornya udah beda. Pun gua Fitri dan Rifia, kita semakin deket dan selalu connected apapun keadaannya.

Fitri dan Rifia akhirnya lulus dari SMA. Fitri goes to europe dan Rifia masuk kuliah di salah satu universitas terbaik negeri. Like hell im a proud brother! Lucu sih ketika gua bilang gua kakak mereka karena di masa itu definisi hubungan adik kakak tuh diragukan. But we success jalanin ini. Terlebih secara emosional gua merasa sangat terikat dengan mereka berdua. I got angry when they hurts, they share their problems and i hear them. Hal itu terus berlangsung sampai hari ini.

Fitri orang yang idealis, full of dreams, full of thoughts tapi sangat mudah bosan dan kangen dengan suatu hal haha. Secara kebetulan juga kita berbagi tanggal kelahiran yang sama haha aneh emang cara kerja semesta bisa mempertemukan kita

Rifia orang yang sangat baik, sangat suka membantu orang siapapun dan kapapunpun itu, her mind is logic as hell but also have a feeling as soft as feather. One of the strongest woman i ever met too

Im well aware of perpisahan. Kita ga akan misah sih haha gua yakin itu, cuma gaakan sedeket saat kita ada di satu lingkungan kaya dulu. Dan itu adalah hal yang wajar. Masing-masing dari kita sudah dewasa dan punya jalan masa depan masing-masing yang menanti kita. And when i started to write my feelings down here, i realized how much i love them both. Bahkan Fitri dan Rifia ada di puncak teratas di porsi rasa sayang gua saat ini haha it sound ridiculous but its real.

Just when the time comes, when we rarely sending messages to each other. I forever grateful to have you both in my life. Since its a long text to read, i will recognize it as a love letter to you both. Have a good life, Fitri dan Rifia