Sunday, September 6, 2020

Maaf, Aku Tak Bisa Mengingat Semuanya. Setidaknya Aku Sudah Berusaha! Ahaha

Kembali ke masa kuliah saat itu, 15 Februari 2015, hari minggu. Aku dan kamu pergi ke sebuah acara musik di museum satriamandala. Kebetulan kamu lagi di Jakarta. Kala itu memang sedang musim liburan kuliah, tapi kampusku tidak, sial. Namun mengingat ini adalah ajakanmu, aku benar-benar ingin mewujudkannya. 

Kita liat line-up gigsnya. Agrikulture, The Adams, Float, Sore, Pandai Besi, Payung Teduh, Tulus. Line up mega bintang yang diidam-idamkan skena penikmat musik Indonesia. Aku mendengarkan semuanya dan menyukainya sekarang, tapi pada masa itu aku hanya mengenal payung teduh dan tulus, jaringan musikku memang babak belur kala itu. Yang kuingat hanya bermodal musik di hp samsungku yang memorinya hanya sebesar 512 mb dan sudah penuh dengan data aplikasi, benar-benar tidak ada harapan untuk menjelajahi dunia musik

Aku menjemputmu di rafles (kalau tidak salah) kamu turun dari angkutan umum dan aku menunggumu di atas motorku, aku tidak bisa menahan senyumku ketika kita bertemu. Mengingatnya sekarang juga menimbulkan butterfly effect di perutku. 

Kita berencana kesana menggunakan motor, honda beatku jelas. Percayalah, tahun 2015 motorku masih layak untuk dinaiki dua orang. Kalau dibandingkan dengan sekarang, rasanya akan lebih efektif jika kita pergi naik angkutan umum. Penyebab utamanya adalah kita berdua tidak tahu jalan haha lucu sekali kalau dipikir-pikir. Kala itu aku memang jarang sekali main ke Jakarta, padahal rumahku berada di pinggir Jakarta.

Aku tidak ingat helm apa yang kamu gunakan, sepertinya kamu membawanya dari rumah. Sore itu kita berangkat dengan banyak sekali cerita, kamu bercerita tentang kehidupan kuliahmu disana. Seperti biasa, aku terus memancingmu bercerita karena sangat menyenangkan bisa mengetahui kabarmu sampai ke titik dimana kamu akan marah karena aku terus membiarkanmu bercerita.

Aku lupa apakah kita pergi ke gultik pada hari yang sama atau tidak, tapi mari kita gabungkan saja ahaha maafkan, aku berusaha mengingatnya yang terbaik. Kami makan di Gultik di blok M. Pun benar kita ke blok M pada hari yang sama, aku lupa kita makan setelah atau sebelum acara haha

Itu kunjungan pertama kita kesana berdua, yang aku ingat kamu belum pernah kesana kala itu, iya kan? Dan kamu bilang gultik enak ahaha yash memang enak, dan aku menambah porsi kedua. Gultik blok M memang tidak pernah kehabisan pengunjung.

Kita sampai di museum satriamandala sudah malam. Dan lagi, aku baru pertama kali kesini. Kamu mengingatkanku kalau ini event yang disponsori oleh perusahaan rokok yang mengharuskan kamu berusia 17+ dan menanyakanku apakah aku membawa KTP atau tidak. Beruntung, aku membawanya. Sepanjang yang kuingat, sebelum ini kita belum pernah menonton konser berdua. Jadi kuanggap ini pertama kalinya untuk kita.

Begitu masuk aku melihat ada instalasi seni yang diset oleh "Kelas Pagi", aku kaget setengah mampus. Aku memiliki seorang teman dari Kelas Pagi yang kuharap juga ia hadir malam itu. Dan tak disangka, kamu juga bertemu temanmu dari tempat kuliahmu. Rasanya dunia memang sangat sempit. Sesampainya di venue, habis magrib, bandnya sedang isoma. Kamu memutuskan untuk mencari jajan.

Tempat ini sangat penuh, seperti panggung utama jakcloth. Terlebih saat semua sedang jajan di booth makanan. Karena tak bisa bergerak banyak, kamu memintaku untuk menunggu. Aku melihat sekeliling mencari dimana kelas pagi membuka boothnya. Oh ya aku lupa menjelaskan kelas pagi, kelas pagi adalah sebuah kelas fotografi yang dimiliki oleh Anton Ismael. Siapa Anton Ismael? Google lebih terpercaya untuk menjelaskannya. Yang kutahu beliau sangat besar di skena fotografi Indonesia

Lalu kamu datang, membawakan sosis bakar dan kentang dan membagi dua untukku juga. Tujuan utamamu kala itu adalah menonton float dan tulus, seingatku. Dan performance selanjutnya adalah pandai besi, aku benar-benar tidak tahu band apa itu kala itu. Kalau dulu aku sudah tahu pandai besi itu band apa, serius, aku akan super fokus menontonnya dari awal sampai akhir.

Selagi pandai besi perform, aku dan kamu berkeliling. Melihat-lihat instalasi seni yang dipamerkan di event ini. Dan begitu melihat booth kelas pagi, aku langsung mengajak kamu kesana. Bukan instalasi seninya yang aku cari, tapi temanku. Dan benar saja, dia ada. Temanku yang satu ini adalah guru besarku perihal hidup. Dan bertemu dengan dia tanpa janjian di sebuah tempat benar-benar hal menarik untukku

Kamu berkenalan dengan temanku, dengan senyum yang tenang, secukupnya ketika berkenalan dengan orang baru. Obrolan kami tidak lama, kita berpisah sambil menunggu band selanjutnya tampil. Kita bercerita kembali soal hidup beserta tantangannya yang kita hadapi, terpaut jarak dan waktu memang menjadikan cerita kita sangat kaya. Tak terasa band selanjutnya yang akan tampil adalah float.

Selagi mereka bersiap, kamu sudah berdiri semangat. Menarikku untuk mendekati panggung, mencari posisi terbaik untuk mendengarkan dan menonton mereka. Sekali lagi, aku tak tahu float ini band apa. Tapi aku sangat senang menemanimu semangat menanti hal yang kamu suka. Dan benar saja, persiapan mereka super lama, kamu mulai pegal dan berjongkok di tengah kerumunan orang, aku juga, kita bergantian.

Akhirnya float muncul di panggung, kamu histeris. Sayangnya beberapa saat kemudian kamu mengeluh kesal karena orang di depanmu lebih tinggi dari kamu sampai-sampai pandanganmu ke panggung sangat terhalang. Sempat terpikir untuk menggendongmu, tapi maaf aku tak sekuat itu.

Kita akhirnya mundur beberapa langkah agar kamu bisa melihat float tampil. Dan di hari itulah aku menyadari bahwa single mereka adalah lagu yang biasa kudengar di prambors ketika SMA. Lagu itu berjudul sementara

Kamu bernyanyi mengikuti, aku berdiri di sebelahmu juga berusaha ikut bernyanyi, sekalipun hanya berguman mengulangi nada yang kemungkinan berulang. Tapi aku benar-benar menikmatinya, setelah hari itu aku pun mendapat banyak influens musik darimu. Dimulai dari kita bersama-sama nonton maliq & d'essentials dulu di pensi SMA 48 sampai nanti kamu mengenalkanku pada banda neira dan dialog dini hari. 

Malam itu cerah, sekalipun entah kenapa tanahnya basah dan membuat sepatu kita kotor. Tapi kita tertawa dan berbahagia sekali kala itu, menurut pandanganku begitu haha

Float selesai, dan pamit. Penampilan puncaknya sudah ingin naik panggung. Tulus yang kamu tunggu, yang ternyata juga berkolaborasi dengan Sore. Kala itu, aku tidak mengenal sore. Sekali lagi, seandainya aku sudah mengenal sore sejak lama, aku akan fokus bernyanyi bersama mereka dan memaksamu untuk bernyanyi juga haha

Tapi waktu sudah terlalu malam, seingatku rundownnya molor sejam. Kamu ditelfon ibumu diminta untuk pulang. Acara ini memang ngaret setengah mampus. Selagi berdiri di sebelahku, kamu bilang ke ibu kalau kamu akan segera pulang dan diantar olehku sampai rumah. Momen bertemu ibumu memang salah satu hal yang bisa membuatku deg-degan melebihi dengan bertemu kamu. Tapi lega rasanya mendengarmu berbicara tentang aku kepada ibumu, entah kenapa

Telfonnya kamu tutup, dan wajahmu tidak bisa menyembunyikan kekecewaan bahwa kamu tidak bisa menonton tulus sampai habis haha namun kamu memutuskan untuk menonton satu lagu dari tulus dan aku mengiyakan. 

Tulus akhirnya naik panggung, kamu histeris. Aku tidak ingat lagu apa yang dibawakannya kala itu tapi ketika mendekati penghujung hari, waktu terasa begitu cepat berlalu dan kita pulang, sementara kamu harus mengikhlaskan pengalaman konser yang satu ini. Semoga nanti akan banyak konser lagi yang bisa kamu nikmati sampai habis

Perjalanan dari museum satriamandala ke rumahmu memakan waktu yang cukup lama. Jakarta dikala minggu malam memang tak pernah sepi. Lama kita bicara, lama kita menikmati malam ibu kota. Seperti kita biasanya.

Kamu sedikit khawatir, karena memang kita sampai rumahmu terlalu malam. Kita sampai di depan rumahmu dan kamu memintaku untuk sebentar menunggu, kamu ingin memanggil ibumu. Kamu menghilang ke balik pintu, aku merapikan penampilanku setiap detik yang berlalu. 

Ibumu keluar, diikuti olehmu dari belakang. Aku sudah berdiri siap di depan pagar rumahmu, sekalipun aku tidak tahu harus bicara dan menjelaskan apa

Ibumu menyapaku lembut, aku raih tangannya dan salim sekaligus menanyakan kabar ibumu. Ibumu juga menanyakan kabar ibuku, dan kujawab ibuku dalam keadaan yang super baik. Aku minta maaf kepada ibumu karena membawamu pulang selarut hari itu. Ibumu bilang tidak apa sambil tertawa ramah. Pun nanti aku nanti jadi orang tua, aku juga pasti khawatir jika anakku kelak pulang larut malam.

Obrolan singkat kami, ku tutup dengan pamit kepada ibumu yang akhirnya masuk ke rumah duluan. Tinggal aku dan kamu di depan rumahmu, bicara singkat, entah membahas apa namun penuh senyum dan kalimat kalimat yang tidak tersampaikan. Akulah yang paling berterima kasih atas hari itu, hari hari sebelumnya, dan hari hari setelahnya. Karena kamu selalu menggapaiku setiap saat

Jeda panjang yang terjadi membuatku menyudahi hari itu dengan pamit. Aku menyalakan motorku, kamu bilang, "hati-hati di jalan". Aku tak bisa menahan senyumku, aku bilang iya sambil merusak rambutmu

"kalau udah sampe di rumah kabarin!" lanjutmu gemas. Kutarik knop gas dan melaju sambil melambaikan tangan ke arahmu yang menjauh. Di jalan lurus itu, sebelum aku berbelok, kamu belum masuk rumah sampai kita tidak dapat melihat kembali satu sama lain. Sama seperti sebelumnya, dan sebelumnya lagi 

Ah iya,
Selamat tanggal 7 bulan 9, yang ke-9.

No comments:

Post a Comment