Tuesday, March 10, 2020

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Itu

Kala itu bulan September kalau ga salah, maklum ingatanku buruk, mungkin akan kuceritakan lain waktu mengapa ingatanku seperti itu. Bulan ini harusnya kami merayakan tahun kesekian perayaan hubungan kami bersama sebagai pasangan tapi ternyata hari itu adalah pertemuan terakhir yang kuusulkan kepadanya karena kami sudah berpisah sejak tahun lalu. Alasan dari terciptanya ide pertemuan terakhir ini adalah karena dia sudah punya pacar, emang ngide banget anaknya kan

Seingatku sekalipun kita sudah setahun berjalan sendiri-sendiri namun mengetahui orang yang paling ngerti kamu punya pasangan baru bukan saat yang mudah, ya kan? 
Rasanya sedih bukan kepalang, kepikiran, gabisa tidur, keringetan kaya habis main DDR di timezone cibubur junction

Ide ini muncul dan terucap dengan spontan setelah pesanku mendoakan dan menyelamati dia dengan hubungan barunya, pertemuan terakhir ini terealisasi walaupun dia tidak setuju dengan konsep ini, karena sebelum kita menjadi pasangan kita adalah sahabat baik dan ia berharap hubungan kita bisa terus baik. Dengan keras kepala aku yakinkan dia dan dia mengiyakan, mungkin karena ia tahu aku sedang kacau sekali pikirannya

Hari itu tiba, dengan semangat segera move on dan menutup buku aku bersiap-siap serapi mungkin, sekalipun bajuku daridulu sudah itu-itu saja, penampilan terbaik Riman Diantasena. Aku yang terkenal selalu berpakaian gelap, khusus hari itu aku diminta Mamah memakai baju putih yang dibelikan olehnya spesial untuk jalan-jalan, waw betapa insecurenya aku saat itu karena tak terbiasa menggunakan baju terang. Rasanya terlihat seperti kukang yang dipakaikan baju renang bersinar, sangat menarik perhatian dan terasa tidak benar. Tapi tak apa, saran orang tua tak pernah salah kan? 

Kita berencana bertemu di mall baru yang terletak antara rumahku dan dia. Sebagai laki-laki yang tulen dan pemberani kutawarkan untuk menjemputnya (padahal emang seneng aja jemput ke rumahnya) tapi kali ini dia menolak karena ingin ke salon dulu di mall tempat kita ketemuan, katanya takut aku nungguin jadi ketemuannya habis dia selesai nyalon aja, padahal nyalon berapa lama sih? Paling 15 menit kan (ga punya pengalaman nganter cewe ke salon) 

Rasanya gundah bukan kepalang, baju sudah rapi dan terang, rambut udah ngaca berkali-kali, jeans udah diseletingin, cocok deh pokoknya buat jadi cameo di video clip band underground, pengen cepet-cepet jalan! Tanpa pikir panjang, salimlah aku ke mamah dan minta izin pamit, honda beat meluncur halus siang itu, laki-laki yang nungguin perempuan itu maco dan gentle abis kan! Kasih tepuk tangan 👏🏻👏🏻👏🏻

Siang itu cerah banget, gaada alasan buat puter balik atau cari alasan pembatalan pertemuan. Aku yang dulu masih muda dalam urusan cinta, memandang kebiruan hari itu. Terpikir terus menerus, egois sekali secara sepihak memaksa bahwa ini harus menjadi pertemuan terakhir kita. Tapi tak apalah, sebagai sahabat yang baik bukankah aku harus mendukung apa yang menjadi bahagianya dia? 
Aku terlalu tak percaya diri hari itu 
Diatas Honda Beat berjaket hitam dan berpakaian putih, 
Ah kenapa harus putih ya! Terang banget! 

Sesampainya di persimpangan jalan protokol, aku berhenti
Menatap semuanya dengan lambat, mencoba memikirkan kembali, semuanya
Memang ini sudah pasti jalannya
Ini hari spesial, akan kuucapkan selamat dan doa kelanggengan bahagia untuknya dengan senyum yang paling ikhlas di dunia

"Tukang yang jualan bunga dimana ya?"

No comments:

Post a Comment