Sunday, March 15, 2020

Sebentar Lagi! Kita Akan Cerita Tentang Hari Itu

Sampai mana ceritanya? Ah beli bunga, aku benar-benar ingin membuat hari ini berkesan, sangat ingin. Di sebuah toko bunga yang ku pilih secara acak, aku membeli setangkai bunga mawar, tapi warnanya apa ya? 

Di tengah kebingunganku ibu penjual bunga datang menghampiriku, ramah sekali dan ia bertanya "Mau kasih bunga buat siapa?" katanya. Pertanyaan itu cukup mampu membuatku tercekat dan tidak bisa menjawab dengan cepat. Karena kita memang sudah bukan kekasih tapi enggan bilang hanya sekedar teman. 
"Eh buat teman bu hehe mau kasih selamat dia baru punya pacar" kataku menjawab dengan hati-hati. 
"Temen kok ngasih selamat pake bunga? Jangan-jangan kamu suka sama dia ya? Haha" sembari ikut tertawa aku benar-benar kehilangan kata untuk menjawabnya, kuceritakan dengan jujur pun rasanya tak apa karena kita tidak memang saling kenal. 
"Nih" Si ibu mengambil setangkai bunga mawar putih dan memberikannya padaku
"Tulus dan sayang"
"Dia pasti senang" Ibu penjual bunga ini sangat pintar membaca apa yang terjadi.  Dan dengan senyumnya yang cantik sekali, seketika aku sepakat dengan rekomendasinya, tulus dan sayang, rasanya sangat tepat. 
Aku pasti ingat tempat bunga ini dan keramahan ibu bersama aksen betawinya yang suka bercanda, memilih bunga tidak pernah semudah ini karena seperti jaminan si ibu, dia pasti suka
Aku beli, aku selipkan di ranselku, lalu pamit menuju tempat pertemuan kami

... 

Untuk seukuran mall, tempat ini besar dan elegan dibandingkan dengan mall lain di sekitarnya, aku yang belum terbiasa dengan tempat baru ini kikuk mencari tempat ia berada
Kukabarkan ia melalui sebuah pesan yang menandakan aku sudah sampai dan ia yang meminta maaf karena kaget aku sudah datang padahal dia masih agak lama di salonnya
"Ahaha ga apa-apa, aku sambil muter-muter dulu liat-liat"
"Maafinn :(" katanya merasa tidak enak 
Nyatanya, ketika kutemukan tempatnya di lantai paling atas, aku bersandar di pembatas kayu sambil melihat ke arah tempatnya, menunggunya tak terasa. Tak pernah aku segugup itu ketika bertemu dengannya, kecuali di hari dimana aku sedang kasmaran-kasmarannya saat sebelum menjadi pacarnya. 

Bagaimana aku menyapanya? 
Apakah penampilanku sudah tepat? 
Apa yang harus kubicarakan? 
20 menit kulalui berdiri dan terus memikirkan hal-hal yang harusnya tak perlu kupikirkan, kecuali baju putih yang terang ini! 
Lalu handphoneku bergetar, "Aku udah selesai nih, kamu dimana? Katanya 
Hatiku kembali tersentak, senang dan deg-degan mengetahui aku akan segera bertemu dia
" Kamu keluar aja, nanti juga keliatan"

Kutekan send, lalu kuturunkan ponselku ke bawah badan
Dan kulihat, seorang perempuan berdiri di depan sebuah store yang kebingungan mencari seseorang
Aku sangat menikmati momen itu, pikirku kubiarkan saja, kapan lagi aku bisa memandangnya selama ini nantinya
Setelah menunjukkan kegelisahannya ia menelfonku, kuangkat telfonnya dan bilang, "nih yang lagi dadah dadah, masa ga keliatan" merekah senyumku dilanjut tawa melihatnya
"Ish bukannya bilang daritadi" katanya gemas

Detik dimana ia berjalan kearahku berlalu sangat lambat, dengan senyumnya dan malu yang menyembul sembari ia memakai kacamatanya
Aku bersumpah, detik itu perasaanku tepat seperti aku pertama kali jatuh hati kepadanya
Merekah dan bahagia tiada dua

Aku lupa kata pertamaku kepadanya, atau bagaimana detailku menyapanya
Yang kuingat, kami masih tetap hangat, tertawa atas kekikukan masing-masing, mungkin sesaat kami juga tidak menganggap itu sebagai pertemuan terakhir kita. Dan benar saja ia meledekku dengan kalimat, "tumben pake baju putih" katanya sambil tertawa melihat ekspresiku
"rekomendasi mamah ini masa ditolak" sambungku menyambut tawanya

Dari lantai atas kami turun menggunakan eskalator, dengan posisi yang seperti biasa khas kami. Ia akan melangkah duluan, lalu aku mengikutinya sehingga aku akan berdiri satu tangga diatasnya
Ia akan berbicara menengadah keatas dan aku akan menunduk menanggapinya. Yang tidak kami lakukan hanya tangannya yang tidak melingkari tanganku. Ternyata kami sudah menjaga batas itu. 

Semuanya akan kami tutup hari itu. 
Atau tepatnya aku yang memaksa kita menutup buku kita. 
Kalau kamu bilang aku adalah laki-laki paling tegar di dunia, akan kuberitahu seberapa lemahnya aku sebenarnya. 

Tuesday, March 10, 2020

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Itu

Kala itu bulan September kalau ga salah, maklum ingatanku buruk, mungkin akan kuceritakan lain waktu mengapa ingatanku seperti itu. Bulan ini harusnya kami merayakan tahun kesekian perayaan hubungan kami bersama sebagai pasangan tapi ternyata hari itu adalah pertemuan terakhir yang kuusulkan kepadanya karena kami sudah berpisah sejak tahun lalu. Alasan dari terciptanya ide pertemuan terakhir ini adalah karena dia sudah punya pacar, emang ngide banget anaknya kan

Seingatku sekalipun kita sudah setahun berjalan sendiri-sendiri namun mengetahui orang yang paling ngerti kamu punya pasangan baru bukan saat yang mudah, ya kan? 
Rasanya sedih bukan kepalang, kepikiran, gabisa tidur, keringetan kaya habis main DDR di timezone cibubur junction

Ide ini muncul dan terucap dengan spontan setelah pesanku mendoakan dan menyelamati dia dengan hubungan barunya, pertemuan terakhir ini terealisasi walaupun dia tidak setuju dengan konsep ini, karena sebelum kita menjadi pasangan kita adalah sahabat baik dan ia berharap hubungan kita bisa terus baik. Dengan keras kepala aku yakinkan dia dan dia mengiyakan, mungkin karena ia tahu aku sedang kacau sekali pikirannya

Hari itu tiba, dengan semangat segera move on dan menutup buku aku bersiap-siap serapi mungkin, sekalipun bajuku daridulu sudah itu-itu saja, penampilan terbaik Riman Diantasena. Aku yang terkenal selalu berpakaian gelap, khusus hari itu aku diminta Mamah memakai baju putih yang dibelikan olehnya spesial untuk jalan-jalan, waw betapa insecurenya aku saat itu karena tak terbiasa menggunakan baju terang. Rasanya terlihat seperti kukang yang dipakaikan baju renang bersinar, sangat menarik perhatian dan terasa tidak benar. Tapi tak apa, saran orang tua tak pernah salah kan? 

Kita berencana bertemu di mall baru yang terletak antara rumahku dan dia. Sebagai laki-laki yang tulen dan pemberani kutawarkan untuk menjemputnya (padahal emang seneng aja jemput ke rumahnya) tapi kali ini dia menolak karena ingin ke salon dulu di mall tempat kita ketemuan, katanya takut aku nungguin jadi ketemuannya habis dia selesai nyalon aja, padahal nyalon berapa lama sih? Paling 15 menit kan (ga punya pengalaman nganter cewe ke salon) 

Rasanya gundah bukan kepalang, baju sudah rapi dan terang, rambut udah ngaca berkali-kali, jeans udah diseletingin, cocok deh pokoknya buat jadi cameo di video clip band underground, pengen cepet-cepet jalan! Tanpa pikir panjang, salimlah aku ke mamah dan minta izin pamit, honda beat meluncur halus siang itu, laki-laki yang nungguin perempuan itu maco dan gentle abis kan! Kasih tepuk tangan 👏🏻👏🏻👏🏻

Siang itu cerah banget, gaada alasan buat puter balik atau cari alasan pembatalan pertemuan. Aku yang dulu masih muda dalam urusan cinta, memandang kebiruan hari itu. Terpikir terus menerus, egois sekali secara sepihak memaksa bahwa ini harus menjadi pertemuan terakhir kita. Tapi tak apalah, sebagai sahabat yang baik bukankah aku harus mendukung apa yang menjadi bahagianya dia? 
Aku terlalu tak percaya diri hari itu 
Diatas Honda Beat berjaket hitam dan berpakaian putih, 
Ah kenapa harus putih ya! Terang banget! 

Sesampainya di persimpangan jalan protokol, aku berhenti
Menatap semuanya dengan lambat, mencoba memikirkan kembali, semuanya
Memang ini sudah pasti jalannya
Ini hari spesial, akan kuucapkan selamat dan doa kelanggengan bahagia untuknya dengan senyum yang paling ikhlas di dunia

"Tukang yang jualan bunga dimana ya?"