Saturday, March 31, 2018

Janji


    Ini adalah malam ke Sembilanku di Bandung. Aku baru pindah ke kota ini setelah diterima kerja di salah satu perusahaan manufaktur transportasi milik negeri. Aku sementara menetap di rumah saudaraku, kebetulan keluarga besar ibuku banyak yang tinggal disini dan beliau menitipkan aku ke kakaknya yang tinggal di daerah Buah Batu. Kegiatanku disini tidak lain dan tidak bukan masih seputar orientasi, entah itu orientasi di tempat kerja, atau orientasi di rumah baru, dan mungkin juga berorientasi dengan kota Bandung. Berbicara tentang Bandung, kota ini memang unik. Kesan pertama yang aku dapatkan ketika menginjakan kakiku di tempat ini adalah dingin! Berbeda dengan tempat tinggalku dulu, Depok. Kata orang-orang Bandung adalah kota yang spesial, kota yang membuat rakyatnya nyaman sekaligus merindu serta tertuju. Dari kecil, aku sering ke kota ini. Setiap tahunnya keluargaku selalu berkumpul dalam rangka merayakan hari lebaran di Bandung. Banyak hal-hal yang mengingatkanku ketika nama Bandung terucap. Salah satunya Kira. Dulu sekali, ketika aku duduk dibangku SMP ketika kami selalu mengobrol lewat SMS dia sempat bertanya kepadaku,

“Kak, nanti mau kuliah dimana?” Tanya Kira kepadaku di layar telepon genggam bermerek sony ericsson.
“Ehmm dimana ya? Aku sih pengennya di UNPAD.” Dulu sekali aku sangat ter-influence dengan ayah yang memiliki latar belakang Ilmu Komunikasi UNPAD. Ayah dulu sering masuk koran KOMPAS dengan tulisan-tulisannya. Melihat tulisannya dipaparkan di koran ternama itu membuatku menyukai bidang sastra. Aku juga sering membantu pekerjaannya untuk mengetik bahan yang telah ia tulis di kertas kala itu. “Kamu mau kuliah dimana emang?”
“Wah sama dong kak, aku juga mau UNPAD. Pokoknya aku pengen kuliah sama tinggal di Bandung.” Jawab Kira semangat.
“Kalo gitu nanti kita ketemu dong ya haha.”
“Iya kak, tapi serius ga kak? Janji ya nanti kita ketemu disana?”
Beberapa hal yang baru aku sadari, sedari dulu memang tabiatnya anak muda adalah berjanji, terlebih ke gebetannya. Apa-apa selalu dibuat janji, entah jangan tidur kemaleman, entah jangan bandel, entah jangan melakukan aksi-aksi menegangkan seperti limbad pasti selalu diakhiri dengan janji. Dan kala itu, tanpa mempertimbangkan masa depan serta takdir akan membawa kemana, aku pun menjawab,
“Iya janjiiiii. Nanti kita ketemu di Bandung.”
Dasar anak bau kencur.

    Akhirnya aku dan Kira tidak ada satupun yang kuliah di Bandung. Sebelum itu aku dan Kira pun tidak berpacaran, hanya teman. Tidak mesra. Hanya teman. Teman tapi tidak mesra, sama sekali. Kami melanjutkan kehidupan kami masing-masing, kala itu dia berpacaran dengan orang lain aku pun begitu.
Kira berkuliah di universitas swasta ternama mengambil teknik perminyakan sampai saat ini. Sedangkan aku adalah lulusan teknik mesin dari kampus negeri di Jakarta. Dari sini aku sudah ingkar satu janji, yaitu tidak melanjutkan kesukaan tentang sastra dari Ayah.
Dasar anak bau, badan.

    Kembali ke Bandung, malam ke sembilanku ini kebetulan malam minggu, hujan lagi. Waktu yang sangat tepat untuk bernostalgia, dasar kaum susah move on. Ajaibnya pikiran yang bisa mengingatkanku akan kenangan itu atau memang Allah yang sedang mengerjaiku untuk kembali mengingat kenangan itu, aku teringat Kira lagi. Sekedar menegaskan agar tidak terjadi salah kaprah antara aku dan netizen, perasaanku kepadanya sudah sangat minim yang kalau dipersentasekan mungkin sekitar 0,000000001% (bisa ae kang dodol) hanya saja untuk saat ini aku sangat ingin mengobrol dengannya. Mengetahui kondisinya, perkembangan hidupnya, melihat pandangan-pandangannya, serta membahas hal-hal kekanakan antara kita dulu sebagai teman yang tidak mesra, sama sekali. Dan aku pun akan menceritakan tentang kehidupanku disini, perkembanganku, cerita-cerita yang menjadikan aku pribadi yang seperti ini, lalu ditutup dengan, “Kira, aku tinggal di Bandung sekarang.”
Hoalah, manusia ini diciptakan oleh Allah memang bersama hasrat yang menempel sepanjang hidupnya, intinya banyak maunya. Kopi yang sedari tadi kubuat juga sudah terlanjur dingin, membuat kopi ini dapat dihabiskan dalam satu tegukkan. Tak kusadari juga hujan pun berhenti, ketimbang melamun kuputuskan pergi mencari udara segar menaiki honda beat tempur yang kubawa ke Bandung dari rumah.
Tidak ada tempat spesifik yang ingin aku datangi. Malam itu Bandung romantis, basah karena hujan ditemani lampu jalan yang temaram, aku putuskan untuk pergi ke daerah cimbeuleuit. Aku ingat disana ada warung bakso aci yang dikenalkan kawanku, pas untuk menghangatkan badan ditengah suasana sejuk. Sesampainya disana aku memesan semangkuk bakso aci panas lengkap dengan sambal pedas serta fruit tea dingin.

“Atas nama siapa A’ pesanannya?” Tanya akang bakso yang menyebut dirinya “ganteng squad”, sungguh kepercayaan diri yang tiada tara.
“Riman A’.”
“Oh siap A’ ditunggu ya A’.”
“Eh siap A’.” Kataku sambil melihatnya meracik baksoku.
“Ari Aa’ teh aya janji kadieu, A’? sorangan wae jajan-na hehe.” Kalau diartikan ke Bahasa Indonesia kira-kira kaya gini, “mas ada janji kesini? Sendirian aja makannya hehe.

Pernah ga perasaan tuh kaya tertohok gitu, bidikan kata-kata si Aa’ bakso tepat mengenai perasaanku kali ini, iseng sekali takdir menggodaku malam ini. Aku pun hanya tersenyum-senyum keheranan menanggapi perkataan si Aa’. Si Aa’ yang bingung karena tidak mendapat responku langsung menyerahkan semangkuk bakso panas,
“ini A’ baksonya.”
“Eh iya A’ nuhun.” Sebelum aku berpaling ke meja,
“A’ ada kertas kosong A’?”
“Oh ini A’ punten.” Aa’ bakso menyerahkan kertasnya kepadaku.

    Sambil kubawa ke meja bakso beserta fruit tea, aku pinjam juga spidol hitam milik Aa’ bakso. Sambil duduk aku hadapkan kertas lalu kutuliskan sesuatu yang sepertinya memang harus diselesaikan malam ini, 
Disana tertulis,

KIRA, SAAT INI AKU BAIK-BAIK SAJA DAN AKU SEKARANG SUDAH MENETAP DI BANDUNG.

Sambil kulipat kertas tersebut, kubuat origami berbentuk pesawat. Aku beranjak sebentar dari meja makanku lalu aku berjalan ke arah balkon warung bakso yang menghadap ke kota Bandung.

Terbanglah, dan sampaikan kepadanya.

Aku percaya, semesta memainkan peran yang unik untuk terlibat dalam kehidupan manusia. Entah bagaimana caranya, semesta akan membuat garisnya menyinggung kehidupanku, suatu saat. Dan ketika saat itu terjadi aku pastikan bahwa aku telah siap untuk mengucapkan, “Kira, apa kabar?”