Terkadang kita
rindu dengan konsep jatuh cinta sesederhana menatap dan menyapa, lalu tersipu
malu dengan menyembulnya rona merah di bawah mata. Dikala rindu menjenguk, sajak berpaut dengan lagu penawar belenggu. Kasmaran
ala orang zaman dulu adalah kisah cinta yang benar-benar membuat iri melulu. Bukannya
aku tidak suka dengan konsep cinta pajang foto update di sosial media, atau pantau-memantau
kabar via whatsa-ulala, aku hanya sedang menyelami imajinasi kisah indah bak
Romeo dan Julieto. Tapi disinilah aku sekarang, di seberang halte yang terang
dengan lampu neonnya, duduk menanti seseorang yang bahkan masih aku percayai
bahwa dia akan ingat kalimatnya tentang janji. Haha naïf sekali. Entah apa yang
ada di pikiranku, terbuai angan kenangan, terlalu banyak menonton kisah-kisah
yang berakhir haru. Cengeng. Pukul 22.51, dia sudah lewat 51 menit dari janji
yang ia ucapkan 5 tahun silam. Ya 5 tahun, sekarang kau akan cekikan dan
berpikir bahwa aku orang bodoh, memang. Lemah. Di detik-detik
krusial ini aku jadi sangat membenci dia, tapi akan merindu dan menyesal ketika
memang benar-benar tidak bertemu. Argh! Rasanya ingin AAARRRRRGGGHHHH!!! Coba kututup
mataku dengan tangan, barangkali dia akan tiba-tiba muncul dan memberi kejutan.
Hehe aku coba, satu, duaa, tigaaaa… aku curang~ selagi menghitung aku membuka
mataku sedikit dan melihat melewati celah jari-jariku yang berkeringat. Dan benar
saja, aku melihat Romeo dan Julieto sedang berdiri di seberang jalan.
“Kamu harus
tau Julieto, aku selalu suka pada seseorang yang memilih untuk setia dikala
komitmen adalah satu-satunya alasan mengapa rasa itu selalu ada.” Romeo sangat
bersahaja ketika mengucapkan kata-katanya, anehnya aku bisa dengan mirip meniru
apa yang Romeo katakan. Dan sepertinya kata-kata yang terlontar habis ini
adalah, “Oh Romeo, aku berjanji suatu hari nanti kita akan bertemu di tempat
ini pada saat yang sama, ketika bulan dan bualan sama indahnya seperti hari
ini.” Ah, Hebat! Aku bisa mengucapkan hal yang sama dengan Julieto! Bahkan gerakan
bibir kami sama persis!
“5 tahun lagi Rim-eo,
Tunggu aku bzzzzzzzzzzzzz jk
bzzzzz 5 tahun lagi,
5 tahun lagi Ro-man!”
bzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
kiw.
Yang namanya pukulan pamungkas
dalam tinju,
Lamunan itu menghujam atom
penyusun sel darahku,
Menyeruak! Impulsif! Tak
tertahan!
Dan BAM!
Darahku memberontak.
Nekat! Seperti perampok-perompak!
Kehilangan daya, kontrol diri sirna.
Aku S A R A P!
“KIRAAAAAAAA!” tak sadar, aku
telah berdiri dengan tangan terkepal sambil meneriakan namamu,
.
.
.
Kira.
Dan, BAM!
Beruntung tidak ada yang melihat
diriku kerasukan. Bisa-bisa masuk viral di TransJakarta nanti.
Namun, malam itu cenderung
dingin, tidak sampai membuat nafasku terlihat namun keringat meluncur deras
dari pelipisku. Aku rindu. Aku benci. Aku mengakuinya. Aku kalah.
Aku akan pulang, tidak
mengingatmu disana dengan bayanganmu, Manis! Manis itu untuk kata-kata yang
keluar dari perutmu! Manis! Oke, parasmu juga, kelewat Manis!
Argh! Semakin tidak kondusif,
apalagi konklusif. Lain kali sebelum meledak, akan kukeluarkan kamu wahai atom
perampok dan perompak,
Serta perampok-perompak!
Lihat, bahkan
kenangan tidak akan membantu harapan kita terwujud. Bahkan taktik mengeluarkan
Romeo dan Julieto untuk mengulur waktu tetap tidak memunculkan dia, sialan!
23.19, sudahlah aku pulang! Serong kiri, menunduk ke bawah, aku terlalu memuakan untuk
berjalan tegap dengan pandangan lurus! Aku akan berjalan setapak demi setapak. Satu
langkah, dua langkah, tidak akan ada yang menghalangiku! Sekalipun kamu yang
berdiri di depanku wahai kamu wanita idaman kroco dan… MasyaAllah.
“Aku selalu
suka pada seseorang yang memilih untuk setia…” kata seorang wanita yang
meng-copy naskah Romeo kepada Julieto, tapi sebentar, dia bukan meng-copy, dia ingat kata-kata itu, persis tidak kurang tidak lebih. Hormon adrenalinku
tidak pernah bekerja se-tornado ini. Perkara suara, jantung ini seperti bedug
magrib dikala senen-kamis, membahagiakan. Lalu, aku lanjutkan, “Dikala komitmen
adalah satu-satunya alasan mengapa rasa itu selalu ada.”
See? Terkadang
kita memang benar-benar merindu dengan konsep jatuh cinta sesederhana menatap
dan menyapa. Sesuatu yang tidak akan kamu dapatkan di pesan singkat ataupun
status fexbuk. Sampai kamu benar-benar merasakan apa yang aku gambarkan dari
pukul 22.51, kamu akan menyadari bahwa kisah cinta tempo dulu memang candu.
“Kira, kamu benar-benar.. MAANNIISS!
Kata-katanya! Oke orangnya juga!”