Monday, January 23, 2017

Miskonsepsi

“Man cabut yuk, udah jam 4 lewat nih. Udah ga tahan gua mau mandi.” Gegas Difa, dengan muka yang seratus persen terlihat sumuk, penat, dan tidak lupa, bau.
“Ayo Man, perlu gua rapihin barang lo nih?” rayu Rami sambil merapikan laptopnya, namun seketika mata Rami sadar bahwa Riman tidak merespon ajakannya. Meja Riman yang di dekat kaca membuat Riman bisa setiap saat menatap pemandangan jalanan setiap harinya dari gedung lantai 3, sesukanya. Dan benar, Riman tidak berkedip.
“Man!” sentak Difa.
“Eh iya, kenapa Dif Mi?” Jawab Riman terbangun dari lamunannya, kaget.
“Jangan bilang lo mau…”
“Iya Dif gua ngambil lembur lagi hari ini, elo pada duluan aja.” Jawab Riman santai sambil tersenyum tipis.
“Ya tapi Man, ini udah delapan hari lo ngambil lembur, berturut-turut lagi. Lo juga kan masih magang Man uang lemburnya juga ga seberapa, kantung mata lo aja udah sampe pipi itu.” Jelas Difa dengan sedikit jokes khasnya Difa yang… renyah sampai-sampai Riman dan Rami menaikan kedua alisnya, bingung menanggapi sahabatnya ini.
“Ehm ya pokoknya ayolah Man lo butuh istirahat.” Lanjut Difa membaca situasi. Difa mengkritik pola kerja Riman belakangan ini yang sudah seperti robot, untung bukan robot gedek pikirnya.
“Ahaha gua sehat kok, fit! Ya lumayan juga buat nambah ongkos gua makan kan.” Disambung dengan tawa Riman terkekeh.
“Yaelah berapa si uang makan lo sehari. Gua bay…” Kalimat Difa terhenti seiring pundak kanan Difa ditepuk.
“Yaudahlah lo kaya ga kenal Riman aja, lo kan sekelas dari semester satu. Gua udah rapi nih, yok cabut.” Jelas Rami mencoba mengerti keadaan Riman. Difa yang masih terdiam mencoba memproses kata-kata yang Rami jelaskan. Alis mata kanannya naik satu lalu matanya bergerak ke Riman dan kembali ke Rami, sambil menghela satu hembusan napas panjang Difa terutunduk.
“Man Man, pantes gaada yang betah jadi cewe lo. Sibuknya ngalahin Presiden!” Riman tersentak, tatapannya sekarang fokus dan terbuka seakan-akan perkataan Difa tepat mengenai sasaran pikiran Riman saat itu. Beberapa detik kemudian Riman terkekeh ringan, “Hahaha jadi begitu ya, miskonsepsi.” Mata Riman kembali menoleh kearah kaca, tangannya otomatis menumpu dagunya yang terskema persis seperti delapan hari kebelakang.
    Difa kaget menyaksikan reaksi Riman yang seperti itu, tidak menyangka bahwa kata-katanya mampu membuat Riman seserius itu memikirkan kata-kata yang sudah Difa lontarkan terhadapnya. Pundak Difa pun disenggol Rami, ketika Difa menoleh Rami sedang mengetik sesuatu pada Handphonenya.
“Man gua kirimin softcopy Kungfu Komang ke e-mail lo, lo kan lagi nyari-nyari tuh  dari dua bulan yang lalu, kemaren gua dapet dari situs illegal. Au dah ada virusnya atau engga, lumayanlah buat nemenin gabutnya lau.” Jelas Rami, padat.
“Eh iya makasih Mi. Masih inget aja lo kalo gua ngidam Komang hahaha.” Sambil tertawa Riman mengetuk layar handphonenya dua kali lalu terlihat notifikasi pada layar yang masih terkunci, terdapat notifikasi game, orang yang memfollow Instagram Riman, tanda bahwa memori handphonenya sudah penuh, dan lain-lain, tidak ada yang penting pikir Riman. Riman menggeser layarnya keatas dan notifikasi terakhir yang dilihatnya adalah e-mail Rami, sehabis itu… tidak ada lagi. Alih-alih membuka dan mengecek e-mail Rami, raut wajah Riman kembali seperti semula, kosong, menerawang dan tidak puas akan apa yang ia dapati di notifikasi handphonenya.
“Udah gua duga.” Bisik Rami pelan, sambil mencolek Difa memberi kode untuk pulang, “Man kita cabut duluan ya, jangan malem-malem baliknya kalo kaga gua kunci kontrakannya. Biar tidur sama sepeda gua lo diluar, ayo Dif.” Rami langsung mengambil tas dan membalikan badannya menuju pintu keluar.
“Oh iyee, tiati lau pada.” Lambai tangan Riman tegas.
Difa yang masih bingung antara melanjutkan ceramahnya untuk Riman atau mengikuti Rami pulang. Difa jelas menampakan keraguannya, riweuh sendiri.
“Eh eh Mi tungguin lo kan tau gua takut naik lift sendirian!” bergegas mengambil tas dan handphone di meja kerjanya, Difa langsung berlari menyusul Rami. “Man dul.. uan ya.” Sedikit tergagap, Difa berlari kecil sambil memikirkan apakah ada yang salah dari kata-katanya barusan.
    Riman kembali tertawa melihat tingkah laku sahabatnya, lalu handphonenya bergetar singkat tanda handphonenya menerima LINE dari seseorang. Sambil menegapkan badannya Riman mengambil handphone dengan kedua tangannya lalu terlihat pesan dari pak Susilo, pembimbing magangnya Riman, menanyakan apakah Riman lembur hari ini. Sekali lagi Riman tertawa kecil, “hehe bukan dia.” Lirih, kepalanya tertunduk lesu, matanya terpejam. Tangannya menaruh handphone lembut ke meja lalu menyambut wajahnya yang sudah lelah. Menumpu pikiran yang mungkin terlampau berat, berat akan banyaknya pertanyaan yang tak tersampaikan, untuk seseorang. Sebenarnya indah, tempat Riman berdiam, namun bahasa tubuh Riman membuat ruangan itu seakan sempit sesak, lalu menekan hatinya yang kecil sampai batasnya mengombinasikan rasa ngilu panjang.
Tentang dia yang hadir selama ini,
Tentang dia yang lalu berkelana,
Tentang dia yang kembali lagi,
Tentang dia yang selalu meninggalkan jejak,
Dan tentang warna citranya,
Abu-abu.
.
.
.
“Dia ada masalah, Dif. Itulah Riman, lo sadar ga?” Tanya Rami kepada Difa. Difa seketika tersentak,
“Ah masa? Darimana lo tau? Dukun lo ya?” Pungkas Difa selengean tidak percaya.
“Riman itu orang yang gampang seneng Dif, lo pun tau itu. Kungfu Komang salah satunya, gamungkin Riman ga antusias ketika dia dapet komik itu. Dia kolektor kungfu komang Dif. Menurut lo ada suatu hal yang bisa ngalahin keantusiasan obsesinya, ya apalagi? Mungkin cinta?” Difa berjalan sambil menatap Rami mencoba megingat sesuatu. Bukan pertama kalinya Riman terlihat seperti ini pikirnya. Riman selalu sibuk, eh bukan! Kurang tepat. Riman selalu menyibukan diri ketika terjadi sesuatu pada dirinya. Mungkin orang-orang menyebutnya dengan kata pelarian. Semuanya menjadi jelas, mengapa Riman berperilaku aneh belakangan ini. Lucu, jika kamu sadar bahwa setiap orang memiliki perilaku efisien dalam melakukan suatu kebiasaan untuk mencerminkan siapa dirinya atau untuk menggambarkan apa yang akan ia lakukan kedepannya. Hal itu disebut pola, setiap manusia memiliki polanya sendiri, corak. Dimana ketika Riman menyibukan dirinya, Riman sedang lari dari kesedihannya. Difa terbengong.
“Iya ya, kebaca banget kawan kita” Jawab Difa, menduga.
“Mungkin, tapi gua kenal sahabat gua. Entah kenapa feeling gua kesana. Ketika dia sesibuk ini, mungkin dia memutuskan untuk jatuh cinta.”
.
.
.
   Tangan Riman berpindah menyandarkan kepala belakangnya ke punggung kursi. Matanya terbuka sekarang. Sudah dua menit berlalu, Riman pun kembali mengambil handphonenya, membuka LINE dari pak Susilo lalu membalasnya
-Iya pak, saya lembur. Saya segera turun menuju workshop.

    Riman menekan tombol lock lalu membuka laci kerjanya dan meletakkan handphonenya dengan segera. Sesaat sebelum menutup lacinya, Riman melihat beberapa foto polaroid yang ia taruh disana bersama barang pribadinya. Menguatkan diri, Riman mengambil satu foto dan terlihat dua tangan membentuk gabungan angka dengan latar bianglala. Riman tersenyum, kali ini panjang. Bukan momennya yang ia rindukan, bukan juga bianglalanya, atau kombinasi angkanya, tapi "dirinya". Hanya butuh dua jari untuk memegang foto itu agar berada di udara, sekuat mengingat kenangan yang terisi di dalam foto itu. Tiba-tiba rasa ngilu itu dating kembali, dengan cepat Riman menaruh foto itu kembali ke dalam laci. Lalu menutup laci kerjanya dengan rapat. Tanpa ada kegiatan lain, Riman bergegas menuju workshop menemui pak Susilo, meneruskan lembur di hari ke-9nya.