Langit dan awan nampak tak bersahabat siang itu, namun matanya tetap lurus menghadap ke jendela, sepertinya dunia luar lebih menarik dibandingkan dengan simulasi konstruksi mesin yang sedang dijelaskan oleh dosennya. Seperti menunggu sesuatu, tapi tak jelas. Entah sejak kapan Tiara seperti itu, kadang kosong, kadang tersenyum seperti saat ini.
“Woy Ti! Ngeliatin apa sih lo?” sentak Fera, teman sebangkunya.
“Eh iya.” Tiara terbangun dari lamunannya, “Ada apaan sih? Ganggu aja lo.” Sewot, namun tersenyum meledek berusaha menyembunyikan apa yang ia lakukan saat ini.
“Eh elo tuh ya udah diingetin, awas lo gu..” Fera terhenti kaget dan langsung melihat kearah datangnya suara
“Fera! Kamu ngajak Tiara ngobrol terus ya, coba kerjakan latihan nomor 5 di BAB konstruksi beam, sekarang!” Tegur Pak Teguh, dosen mekanika tekniknya.
“Argh, Tiara! Kalo engga gar…” Lanjut Fera sambil berdiri mengacungkan telunjuknya memaki Tiara namun terhenti kembali
“Fera! Sekarang maju kedepan!” suasana kelas seketika hening beberapa detik. Tiara tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya jelas menahan tawa sambil melihat bolak-balik ekspresi Pak Teguh dan Fera yang masih bergumam sambil mengutuki Tiara, antara kesal menyalahkan Tiara atau tidak mengerti dengan materinya. Fera pun maju dengan semangat tidak lupa mulutnya yang tak henti bergumam dengan langkah seperti kuda pincang.
“Ya jelaslah Pak Teguh marah, orang mejanya Fera-Tiara depan komuk Pak Teguh pisan itu.” Bisik Ahmad kepada Rahmat, “Iya emang bocah peleng banget.”
“Ahmad-Rahmat! Kalian ngomongin bapak?! Mentang-mentang kalian duduk paling belakang emangnya bapak ga denger? Suara kalian mantul tau!” Suara tawa menyambung suasana kelas yang sepi sebelumnya, “Elo sih ah.” Rahmat menjitak kepala Ahmad dilanjutkan dengan gelak tawa yang semakin ricuh. Tiara pun tak dapat menahan lagi tawanya.
“SEMUANYA, DIAAAMM!” tegas Pak Teguh sambil berdiri, dengan napas ter-engah-engah. Seisi kelas diam terpaku, namun masih ada suara tawa tak tertahankan yang datang dari arah papan tulis, sendirian. “Ehem.” Kode pak Teguh kepada Fera. Seketika Fera kaget, mata satu kelas tertuju padanya, “Baik pak saya lanjutkan ya Pak.” Fera menjelaskan dengan gugup
“Kamu aja belom nulis apa-apa Fer Fer.” Pak Teguh menepuk jidatnya, geleng-geleng. Kelas pun ricuh kembali. Seketika Tiara sadar, ia kembali menatap jendela dan seketika itu pula tawanya memudar, yang ia cari telah hilang dari pandangannya.
Fera melirik sahabatnya, satu hal yang ia sadari, sahabatnya sedang tidak beres.
.
Keesokan harinya tepat pada jam yang sama Tiara duduk dan memandang ke tempat yang sama. Tanpa mengganggu Tiara, Fera mencoba mencari tahu apa yang Tiara lihat. Hasilnya?
Pemandangan yang terlihat adalah pendopo Teknik, Fera mencoba melihat lebih detail lagi. Orang lalu lalang, orang yang menunggu menghadap ke seluruh penjuru arah, ada yang memainkan gitar, ada yang menunggu bis, ada yang mengobrol dengan temannya, sudah. Fera mengernyit dia tidak menemukan sesuatu yang aneh dari pandangannya ke arah jendela. Dia melihat sahabatnya dengan tatapan hambar, anak ini mungkin gila pikirnya.
Keesokan harinya di jam yang sama, Tiara kembali melakukan kebiasaannya, Fera pun berusaha mencari petunjuk lagi. Kali ini ada box kayu yang diletakkan di tengah pendopo teknik, sepersekian detik tiba-tiba ada orang secara mengejutkan melompat dan berdiri disana, mengagetkan orang yang berjalan di pendopo teknik. Apa yang dia lakukan? Berorasi? Entahlah, namun mata Tiara tetap focus ke arah sana. Fera tidak mengetahui kalau Tiara suka orasi, ini aneh. Namun Tiara tersenyum. Fera mulai berspekulasi melihat tingkah sahabatnya, mungkinkah sahabatnya… ah tunggu satu hari lagi pikirnya.
Kesokan harinya kebetulan tidak ada mata kuliah, kelas dibubarkan sejak pagi tadi namun, sekali lagi di jam yang sama, Tiara sudah siap di tempatnya memandang ke jendela, sendirian. Fera tahu sahabatnya akan berada disana, dia pun menghampiri dan duduk di sebelah Tiara namun Tiara acuh saja dengan kehadiran sahabatnya ini. Tapi hari ini tidak seperti hari sebelumnya, kali ini turun hujan, hujan angin. Pandangan ke luar sana kabur, tidak jelas. Berulang kali Tiara mengelap kacanya yang berembun namun tetap samar yang dilihatnya. Fera bertanya “Ada apa Ti? Kenapa lo was-was gitu?” Tiara tidak menjawab matanya khawatir, sambil terus berusaha memaksimalkan pandangannya ke arah pendopo teknik. Fera khawatir, “Ti, elo kenapa?” Tiara tidak bereaksi, Fera memegang pundak Tiara “Ti el…” kata-kata Fera dipotong cepat
“Lo pernah jatuh cinta Fer?” Fera kaget lalu menjawab “Iya, teru…”
“Tipe lo kaya apa Fer? Disambung Tiara cepat, “Hah? Ya kay…”
“Salah ga sih kalo gua jatuh cinta sama orang yang cinta banget sama passionnya dia? Yang ga peduli orang lain ngeliat dia main gitar atau engga. Yang ga peduli orang lain suka sama cara dia baca puisi di tengah-tengah orang banyak. Yang ga peduli diliatin sama tarian dia yang absurd.” Seketika Tiara tersenyum, “He enjoyed his world, dengan caranya tapi dia juga ngebuat semua orang suka sama dia. Dan ga cuma gua yang suka sama tingkah lakunya dia, lihat sekelilingnya.”
Fera hanya terpana menyaksikan sahabatnya mendeskripsikan keadaannya saat ini, Fera pun menoleh ke arah luar, kearah pendopo teknik. Terlihat seorang pria sedang menari di tengah kerumunan orang banyak, di tengah tariannya orang-orang pun tak segan untuk menari bersamanya. Hidup sekali pikir Fera, pendopo teknik tidak pernah sehidup itu.
“Semesta bersamanya, aku hanya bintang dari galaksi lain yang mendamba bisa menyinggung lintasan revolusi galaksinya.” Lanjut Tiara lembut
“Bahkan hanya melihatnya dari sini pun, cukup untukku. Setidaknya untuk bernafas hari ini hehe.” Wajah Tiara menoleh ke arah Fera sambil terkekeh tegar. Fera kehabisan kata-kata namun terlihat jelas dimata Tiara bahwa, sahabatnya kasmaran, hangat sekali tatapannya, memang sungguh luar biasa yang namanya cinta itu pikir Fera. Sahabatnya yang comel minta ampun bisa dibuat bungkam bersiklus setiap harinya bahkan hanya untuk menyaksikan pria itu berkelakuan aneh di pendopo teknik. Rasa yang menular itu menyeruak ke rongga pernafasan Fera yang ingin mencairkan suasana ini namun kata-katanya enggan keluar dari mulutnya. “Tapi Ti..”
“Ya gitu si Fer kisahnya.” Sahut Tiara memotong lagi sambil menoleh ke pendopo teknik kembali tertawa, “Haru ga cer..”
“Woy gua mau ngomong dipatahin terus! Lo harus bisa baca situasi dong, masa omongan gua di-cut mulu.” Cerocos Fera sambil menempeleng kepala Tiara
“Ah iya? Maaf, elo si makanya kalo mau ngomong bilang-bilang dulu kek, kan gua gatau lo mau ngomong.” Jelas Tiara sambil tertawa tidak sadar sahabatnya ternyata ingin berbicara dari tadi
“Gila lo emang ye! Gua panggilin pak Teguh nih lapor anak asuhnya bengong mulu.” Ancam Fera yang ikut tertawa juga
“Gih panggil ntar dia gua ajak bengong juga.” Lawan Tiara dan keduanya berdebat selepas ego, menikmati waktu yang terus berdetik sambil menikmati pemandangan pendopo teknik saat hujan mengguyur. Pria itu masih menari, kali ini dengan gerakan alien. Tiara-Fera tertawa lepas namun orang-orang disekelilingnya pun melakukan hal yang sama, seperti film india celetuk Fera. Hingga hujan berhenti momen itu terus berlanjut, waktu pun menjadi pembatas mereka
.
.
.
“Fer gua duluan yaa.” Gegas Tiara sambil memutar handle gas motornya
“Yo tiati Bu, Jangan lupa tugas Pak Dadar.” Teriak Fera kea rah Tiara yang sudah menjauh
“Hufftt.”
Setelah mengantar Tiara pulang sampai parkiran, Fera ingin ke ATM terlebih dahulu mengecek apakah uang bulanannya saudah dikirim ayahnya atau belum. Lalu ia memandang sekeliling dan melihat pria penari itu sedang merapihkan pertunjukannya siang tadi. Seketika ia berlari menghampiri pria itu seakan-akan uang bulanan tidak penting
“Eh! Hai, ehm gua Fera dari kelas 1C Teknik Mesin. Ehm boleh kenalan? Kalo gaboleh juga ga apa-apa hehe” Jelas Fera gugup dengan nafas terengah-engah. Seketika pria itu berbalik
“Oh hai! Boleh kok haha nama gua Riman Diantasena dari 1A Teknik Mesin juga.” Jelas Riman bersemangat
“Ah iya Riman, mesin juga ternyata hehe.” Jawab Fera canggung, tapi penasaran siapa tahu dia bisa mendapat informasi untuk sahabatnya, “ Jadi man…”
“Eh 1C ya? Kenal Tiara?”
“Lho? Lo kenal Tiara?”
.
.
.
~
No comments:
Post a Comment