Saturday, October 22, 2016

Sajak Februari

Tapi kau tak tahu
Aku telah mencintaimu sejak pertemuan pertama kita
Mengapa kau sisakan peta buram yang sama,
hingga aku tak pernah bisa menatap punggungmu
Di antara dinding dingin di sekitar kita,
kau cari aku hari itu
Tapi kau tak tahu,
aku telah mencarimu bermusim-musim dan selalu hanya pilu,
yang memeluk dan membujukku
"Pulanglah, kau sudah begitu lelah."

Helvy Tiana Rosa
diliat dari TLnya Erdian Bachri, Teknik Mesin 2015.

Thursday, September 22, 2016

Untitled

Air tahu kemana ia akan mengalir, 
Api tahu akan apa yg ia bakar, 
Tapi kenapa ia harus seperti angin yg tak tentu arah juga sulit terlihat.
Meskipun begitu aku suka...
Karena ia dapat terasa olehku dimanapun kapanpun.


-anonymous, on ask.fm 2 days ago.

Wednesday, August 24, 2016

Curahan Hati

   Menurut kamusku, keahlian adalah suatu hal yang menjadi kebiasaan (terbiasa) karena sudah terlatih untuk melakukan hal tersebut. Contoh mudahnya adalah berjalan. Keahlian pun memiliki jenjang atau bisa dibilang bertingkat. Keahlian dapat berkembang dari mulai keahlian tingkat standar sampai ke keahlian tingkat tinggi dengan jenis keahlian yang sama. Masih dengan kasus yang sama, berjalan adalah keahlian dengan tingkat standar, karena level berikutnya adalah berjalan di atas tali (bodo amat). Berbanding lurus dengan pengalaman, keahlian akan bertambah seiring dengan berambahnya frekuensi kita bertemu dengan problema. Keahlian bisa serupa namun juga bisa berbeda dan khas pada setiap pribadi bergantung pada lingkungan dan jutaan faktor lainnya. Aku pun begitu, hadir di dunia sebagai manusia yang memiliki beberapa keahlian. Salah satunya adalah seputar dunia curhat-mencurhat.
   Entah dimulai sejak kapan keahlian ini berkembang. Mungkin keahlian ini hadir seiring dengan sifatku yang supel dan ramah terhadap teman-temanku yang pada akhirnya sifat itu membawa peluang temanku untuk bercerita tentang kehidupannya. Dengan terbangunnya rasa percaya, temanku pun menjadi nyaman untuk bercerita tentang segala hal yang meresahkan atau bahkan hal yang membuat ia senang. Topiknya pun beragam, bisa tentang keluarga di rumah, tentang pelajaran di sekolah, tentang coki-coki yang isinya selalu berkurang dari waktu ke waktu, dan tentang segala macam masalah yang mereka alami semasa hidup. Aku yang kala itu masih “baru” di dunia ini, masih menerka-nerka dimana titik awal aku kecemplung masuk ke lingkaran curahan hati.
“Jadi Man, kalo gua gapunya uang gua pasti melipir ke kamar bokap, cari dompetnya terus ambil dua lembar lima ribuan buat jajan lumpia basah habis kelar sekolah. Gua bingung kenapa ya lumpia basahnya enak banget sampe-sampe gua ngambil uang bokap ga bilang-bilang. Padahal kan…” Aku terpaku sambil sedikit tertawa  mendengar cerita sahabat SMP-ku kala itu. Tepat sepulang sekolah dan masih berseragam putih-biru, aku mendengar Danu bercerita sambil melihatnya menyantap lumpia basah dengan lima cabai rawit itu, ya aku hanya melihat, kere. Mungkin sepele, tapi entah kenapa aku senang sekali mendengar seseorang bercerita, tentang apapun. Sampai akhirnya aku menyadari aku baru bisa jadi pendengar yang baik dalam dunia curhat.
   Semakin hari semakin banyak telinga ini mendengar kisah-kisah, waktu pun terus berjalan dan aku menyadari bahwa pada masa puber topik yang selalu dibahas antara duo sahabat didominasi oleh satu topik yang selalu tabu untuk dibahas kala itu, topik itu adalah cinta. Anak seusia peralihan dari anak bau kencur menuju dewasa pasti berlomba-lomba untuk memberi solusi terbaik yang ia yakini ampuh untuk mengalahkan permasalahan seputar dunia cinta sekalipun dirinya tidak memiliki pengalaman di dunia cinta. “Yang penting memberi solusi!” tegas pikirannya. Yang uniknya lagi adalah penerima solusi akan masalah cintanya kebanyakan menerima solusi tersebut dan langsung menerapkannya. Misal dulu aku punya seorang teman bernama Afif, dia menyukai seorang gadis bernama Mawar yang berpredikat sebagai gadis tercantik di SMAku dulu. Kebetulan di hari ulang tahun Mawar, Afif gugup ingin memberi sesuatu yang special di ulang tahunnya yang ke-17 (yang kata orang-orang mah sweet seventeen). Aku dan temanku, Geding, yang tau bahwa Afif menyukai Mawar memberi sebuah ide gila untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya dari tengah lantai dasar sekolah dengan cara berteriak karena kelas Mawar berada di lantai tiga.
“Serius lo Man? Kalo nanti gua dikira orang freak gimana?” Dengan mata terbelalak, Afif bereaksi atas ide gilaku.
“Udeh sikat aja Fif, kapan lagi lo punya kesempatan kaya gini.” Kataku yakin, padahal konsekuensinya mengerikan. Bisa jadi Mawar ilfeel, lalu muntah, lalu masuk rumah sakit. Lebih naas jika diopname. Tapi sekali lagi solusi itu berlandaskan ketidaktahuan kita akan dunia cinta yang memang masih absurd untuk dijabarkan menjadi sebuah konklusi yang topcer bahkan sampai saat ini. Manusia sekaliber William Shakespeare pun yang semasa hidupnya mempelajari tentang wanita tidak bisa menemukan formulasi paling jitu mengenai cinta sampai akhir hayatnya. Apalagi aku dan Geding yang masih lucu dan lugu di dunia percintaan.
   Berlandaskan percaya akan keberhasilan yang dapat dikalkulasikan sekitar 0,83 persen, Afif menarik satu nafas panjang dan mengucapkan, “Oke, gua bakal ngelakuin ini.”
Gila.
    Dunia cinta memang kejam, sambil geleng-geleng ketawa tidak percaya aku langsung menyemangati Afif dan berharap solusi yang aku dan Geding beri dapat berhasil. Singkatnya Aku dan teman-temanku membuat skenario, Mawar pun berhasil dibuat menempati posisi yang telah ditentukan. Waktunya eksekusi,
“Mawar!” teriak Afif dari tengah sekolah.
   Aku yang sedang mengobrol berhadapan dengan Mawar menyadari bahwa, suara Afif terhalang oleh suara adzan zuhur. Suara Afif tidak terdengar oleh Mawar. Deg-degan pun menyeruak seantero sekolah yang menyaksikan Afif berkeringat gugup di tengah lantai dasar sekolah.
Gila.
   Bisa-bisa Afif yang masuk rumah sakit lalu diopname kalau begini kisahnya. Adzan telah selesai kali ini hanya improvisasi Afif yang bisa menyelamatkan hidupnya. Lalu teriakan itu muncul lagi dengan kerasnya,
“MAWAR!” seketika Mawar kaget dan langsung menolehkan pandangannya ke lantai dasar, sambil mengibaskan rambut panjangnya ia berkata kaget “Ya?”
Semua mata tertuju pada Afif, hening satu detik dua detik. Lalu dilanjutkan ucapan yang lantang,
“SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-17 YA!”
Gila.
   Ini baru laki, bukan cowo yang teriak “laki” pas minum air kuning rasa-rasa, ini baru laki sebenarnya! Mawar langsung menutup mulut dan hidungnya, menggunakan kaki... Maaf, saya ulangi. Mawar langsung menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya, shock, pasti. Dan ia langsung menitikan air mata, air mata bahagia. Satu sekolah bersorak akan kejadian itu dan kebahagiaan pun melingkupi dua insan ini, semuanya senang akan kejadian langka ini, kecuali pacarnya Mawar yang cemberut di lantai dua.
Gila.
   Solusi acak adut berhasil membuat momen yang tak terlupakan sepanjang hidup Afif, Mawar, maupun kita yang menyaksikan sejarah kala itu dan juga hidup pacarnya Mawar yang pasti berbekas sampai sekarang. Bekas sedih.

   Beranjak dengan pengalaman-pengalaman gila lainnya, keahlian memberi solusiku pun muncul dan semakin terasah. Seputar dunia cinta pun sudah jadi dinner setiap malam, hampir hatam. Semakin terbiasanya dengan keahlian ini aku pun mulai terbiasa menggunakan kata-kata dan analogi yang tepat kiranya untuk masalah teman-temanku. Sampai suatu malam aku menemukan di timeline media sosial LINE, adik kelasku terlihat galau luar biasa. Re-share akun-akun galau macam prestigeholic atau amazing video (yang harusnya share video tapi banyak galaunya), bikin puisi sendiri, sampai ganti nama profil di LINE menjadi abjad atau tanda baca (biar susah dicari, mungkin. Itu juga kalo ada yang nyariin). Komentarku? Akut. Aku pun langsung chat dia dan mendekatinya, berharap dia bisa menceritakan kisahnya dan aku bisa memberinya solusi untuk menenangkan hatinya. Pertanyaan-pertanyaan awal darinya? Mudah, masih masuk logika untuk menjawabnya. Sampai pada akhirnya muncul sebuah pertanyaan yang membuatku terdiam sejenak,
“Kenapa gua yang berjuang? Kenapa bukan dia?”
   Aku terhanyut dengan pertanyaannya, membuatku ingat betapa rumitnya dunia cinta. Cinta seringkali tidak bisa di selesaikan dengan logika. Mungkin itu kenapa ending dari cerita siti nurbaya atau romeo dan Juliet adalah bunuh diri, karena tidak ada yang bisa menebak arah dari cinta, terlalu absurd untuk diterka. Namun menimbulkan perasaan yang luar biasa, rasa yang selalu membuat kita menduga, rasa yang selalu membuat kita berharap, rasa yang selalu menimbulkan rasa bahagia ketika mendambanya. Seketika aku teringat pengalaman cintaku dulu, aku ingat memiliki kisah yang serupa, sayangnya berakhir sedih,
“Karena elo yang butuh, bukan dia.” Jawabku lirih.
Karena kita yang butuh itu kenapa kita yang berjuang,
Karena dia ga butuh itu kenapa dia ga berjuang. Simpel tapi menyakitkan.
   Seketika memori tentang pengalaman itu memenuhi kepalaku, itu kenyataannya. Beruntunglah manusia yang bertemu cinta ketika keduanya butuh cinta. Ketika hanya salah satunya saja yang butuh cinta? Sekali lagi tidak ada yang bisa menebak arahnya, bisa saja sukses bisa gagal. Tidak ingin terlarut dalam kenangan itu, diriku menegaskan “Itulah resiko curhat, kamu bisa mendengar banyak tapi tidak menutup kemungkinan kamu akan menjawab pertanyaan yang sesuai dengan pengalaman yang kamu alami.” Subjektif, begitulah cara manusia menjawab pertanyaan, sesuai dengan pengalaman penjawab. Tidak pernah ada solusi yang benar-benar tepat untuk cinta. Dan aku seketika teringat sesuatu, satu pantangan soal pengalaman cinta.
   Jawaban-jawaban ideal dari pemberi solusi cinta biasanya tidak berguna ketika orang tersebut menghadapi masalah cintanya sendiri. Pun aku, berkeahlian menasihati kehidupan cinta orang lain namun selalu tidak bisa menjawab permasalahan cintaku sendiri.
Miris.

Sunday, July 10, 2016

Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Ksatria jatuh cinta pada Puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari.
Sang Puteri naik ke langit. Ksatria kebingungan

.
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu.
Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Ksatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara.
Ksatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi

.
Ksatria sedih, tapi tak putus asa.
Ksatria memohon pada angin.
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi,
lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun Sang Puteri masih jauh di awang-awang,
dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih dan kali ini putus asa

.
Sampai suatu malam ada Bintang Jatuh yang berhenti mendengar tangis dukanya.
Ia menawari ksatria untuk mampu melesat secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun kalau ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya,
maka ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,
menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.
Ksatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada 
Bintang Jatuh menjadi sebuah nyawa.
Dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada 
serpih detik yang mematikan.
Bintang Jatuh menggenggam tangannya

.
"Inilah perjalanan sebuah Cinta Sejati," ia berbisik,
"tutuplah matamu, Ksatria. Katakan untuk berhenti begitu 
hatimu merasakan keberadaannya."
Melesatlah mereka berdua.
Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Ksatria mungil,
tapi hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan ia merasakannya... "Berhenti!"
Bintang Jatuh melongok ke bawah,
dan ia pun melihat sesosok puteri cantik yang kesepian.
Bersinar bagaikan Orion di tengah kelamnya galaksi.
Ia pun jatuh hati

.
Dilepaskannya genggaman itu.
Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.
Ksatria melesat menuju kehancuran.
Sementara Sang Bintang mendarat turun untuk dapatkan Sang Puteri.
Ksatria yang malang.
Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan Aurora.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.


 (Dewi"Dee"Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)

Sunday, May 29, 2016

Breathtaking

Sunday on May, 18:01 – text message
.
.
.
“Sesuatu yang jatuh dari langit waktu itu, bukan hujan. Ia adalah rindu yang beberapa saat lalu kutitipkan pada awan yang tak mampu lagi menggenggamnya.”
Hanya untuk saat ini, aku tidak ingin berspekulasi.
Terlalu banyak kemungkinan yang datang menghampiri dan sulit untuk memilahnya menjadi opsi yang riil.
Namun Tuhan, aku bahagia
.
.
.

Terima kasih.

Sunday, May 15, 2016

Bungkam Bersiklus

    Langit dan awan nampak tak bersahabat siang itu, namun matanya tetap lurus menghadap ke jendela, sepertinya dunia luar lebih menarik dibandingkan dengan simulasi konstruksi mesin yang sedang dijelaskan oleh dosennya. Seperti menunggu sesuatu, tapi tak jelas. Entah sejak kapan Tiara seperti itu, kadang kosong, kadang tersenyum seperti saat ini.

“Woy Ti! Ngeliatin apa sih lo?” sentak Fera, teman sebangkunya.
“Eh iya.” Tiara terbangun dari lamunannya, “Ada apaan sih? Ganggu aja lo.” Sewot, namun tersenyum meledek berusaha menyembunyikan apa yang ia lakukan saat ini.
“Eh elo tuh ya udah diingetin, awas lo gu..” Fera terhenti kaget dan langsung melihat kearah datangnya suara
“Fera! Kamu ngajak Tiara ngobrol terus ya, coba kerjakan latihan nomor 5 di BAB konstruksi beam, sekarang!” Tegur Pak Teguh, dosen mekanika tekniknya.
“Argh, Tiara! Kalo engga gar…” Lanjut Fera sambil berdiri mengacungkan telunjuknya memaki Tiara namun terhenti kembali
“Fera! Sekarang maju kedepan!” suasana kelas seketika hening beberapa detik. Tiara tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya jelas menahan tawa sambil melihat bolak-balik ekspresi Pak Teguh dan Fera yang masih bergumam sambil mengutuki Tiara, antara kesal menyalahkan Tiara atau tidak mengerti dengan materinya. Fera pun maju dengan semangat tidak lupa mulutnya yang tak henti bergumam dengan langkah seperti kuda pincang.
“Ya jelaslah Pak Teguh marah, orang mejanya Fera-Tiara depan komuk Pak Teguh pisan itu.” Bisik Ahmad kepada Rahmat, “Iya emang bocah peleng banget.”
“Ahmad-Rahmat! Kalian ngomongin bapak?! Mentang-mentang kalian duduk paling belakang emangnya bapak ga denger? Suara kalian mantul tau!” Suara tawa menyambung suasana kelas yang sepi sebelumnya, “Elo sih ah.” Rahmat menjitak kepala Ahmad dilanjutkan dengan gelak tawa yang semakin ricuh. Tiara pun tak dapat menahan lagi tawanya.
“SEMUANYA, DIAAAMM!” tegas Pak Teguh sambil berdiri, dengan napas ter-engah-engah. Seisi kelas diam terpaku, namun masih ada suara tawa tak tertahankan yang datang dari arah papan tulis, sendirian. “Ehem.” Kode pak Teguh kepada Fera. Seketika Fera kaget, mata satu kelas tertuju padanya, “Baik pak saya lanjutkan ya Pak.” Fera menjelaskan dengan gugup
“Kamu aja belom nulis apa-apa Fer Fer.” Pak Teguh menepuk jidatnya, geleng-geleng. Kelas pun ricuh kembali. Seketika Tiara sadar, ia kembali menatap jendela dan seketika itu pula tawanya memudar, yang ia cari telah hilang dari pandangannya.
Fera melirik sahabatnya, satu hal yang ia sadari, sahabatnya sedang tidak beres.
.
    Keesokan harinya tepat pada jam yang sama Tiara duduk dan memandang ke tempat yang sama. Tanpa mengganggu Tiara, Fera mencoba mencari tahu apa yang Tiara lihat. Hasilnya?
Pemandangan yang terlihat adalah pendopo Teknik, Fera mencoba melihat lebih detail lagi. Orang lalu lalang, orang yang menunggu menghadap ke seluruh penjuru arah, ada yang memainkan gitar, ada yang menunggu bis, ada yang mengobrol dengan temannya, sudah. Fera mengernyit dia tidak menemukan sesuatu yang aneh dari pandangannya ke arah jendela. Dia melihat sahabatnya dengan tatapan hambar, anak ini mungkin gila pikirnya.
    Keesokan harinya di jam yang sama, Tiara kembali melakukan kebiasaannya, Fera pun berusaha mencari petunjuk lagi. Kali ini ada box kayu yang diletakkan di tengah pendopo teknik, sepersekian detik tiba-tiba ada orang secara mengejutkan melompat dan berdiri disana, mengagetkan orang yang berjalan di pendopo teknik. Apa yang dia lakukan? Berorasi? Entahlah, namun mata Tiara tetap focus ke arah sana. Fera tidak mengetahui kalau Tiara suka orasi, ini aneh. Namun Tiara tersenyum. Fera mulai berspekulasi melihat tingkah sahabatnya, mungkinkah sahabatnya… ah tunggu satu hari lagi pikirnya.
    Kesokan harinya kebetulan tidak ada mata kuliah, kelas dibubarkan sejak pagi tadi namun, sekali lagi di jam yang sama, Tiara sudah siap di tempatnya memandang ke jendela, sendirian. Fera tahu sahabatnya akan berada disana, dia pun menghampiri dan duduk di sebelah Tiara namun Tiara acuh saja dengan kehadiran sahabatnya ini. Tapi hari ini tidak seperti hari sebelumnya, kali ini turun hujan, hujan angin. Pandangan ke luar sana kabur, tidak jelas. Berulang kali Tiara mengelap kacanya yang berembun namun tetap samar yang dilihatnya. Fera bertanya “Ada apa Ti? Kenapa lo was-was gitu?” Tiara tidak menjawab matanya khawatir, sambil terus berusaha memaksimalkan pandangannya ke arah pendopo teknik. Fera khawatir, “Ti, elo kenapa?” Tiara tidak bereaksi, Fera memegang pundak Tiara “Ti el…” kata-kata Fera dipotong cepat
“Lo pernah jatuh cinta Fer?” Fera kaget lalu menjawab “Iya, teru…”
“Tipe lo kaya apa Fer? Disambung Tiara cepat, “Hah? Ya kay…”
“Salah ga sih kalo gua jatuh cinta sama orang yang cinta banget sama passionnya dia? Yang ga peduli orang lain ngeliat dia main gitar atau engga. Yang ga peduli orang lain suka sama cara dia baca puisi di tengah-tengah orang banyak. Yang ga peduli diliatin sama tarian dia yang absurd.” Seketika Tiara tersenyum, “He enjoyed his world, dengan caranya tapi dia juga ngebuat semua orang suka sama dia. Dan ga cuma gua yang suka sama tingkah lakunya dia, lihat sekelilingnya.”

    Fera hanya terpana menyaksikan sahabatnya mendeskripsikan keadaannya saat ini, Fera pun menoleh ke arah luar, kearah pendopo teknik. Terlihat seorang pria sedang menari di tengah kerumunan orang banyak, di tengah tariannya orang-orang pun tak segan untuk menari bersamanya. Hidup sekali pikir Fera, pendopo teknik tidak pernah sehidup itu.
“Semesta bersamanya, aku hanya bintang dari galaksi lain yang mendamba bisa menyinggung lintasan revolusi galaksinya.” Lanjut Tiara lembut
“Bahkan hanya melihatnya dari sini pun, cukup untukku. Setidaknya untuk bernafas hari ini hehe.” Wajah Tiara menoleh ke arah Fera sambil terkekeh tegar. Fera kehabisan kata-kata namun terlihat jelas dimata Tiara bahwa, sahabatnya kasmaran, hangat sekali tatapannya, memang sungguh luar biasa yang namanya cinta itu pikir Fera. Sahabatnya yang comel minta ampun bisa dibuat bungkam bersiklus setiap harinya bahkan hanya untuk menyaksikan pria itu berkelakuan aneh di pendopo teknik. Rasa yang menular itu menyeruak ke rongga pernafasan Fera yang ingin mencairkan suasana ini namun kata-katanya enggan keluar dari mulutnya. “Tapi Ti..” 
“Ya gitu si Fer kisahnya.” Sahut Tiara memotong lagi sambil menoleh ke pendopo teknik kembali tertawa, “Haru ga cer..”
“Woy gua mau ngomong dipatahin terus! Lo harus bisa baca situasi dong, masa omongan gua di-cut mulu.” Cerocos Fera sambil menempeleng kepala Tiara
“Ah iya? Maaf, elo si makanya kalo mau ngomong bilang-bilang dulu kek, kan gua gatau lo mau ngomong.” Jelas Tiara sambil tertawa tidak sadar sahabatnya ternyata ingin berbicara dari tadi
“Gila lo emang ye! Gua panggilin pak Teguh nih lapor anak asuhnya bengong mulu.” Ancam Fera yang ikut tertawa juga
“Gih panggil ntar dia gua ajak bengong juga.” Lawan Tiara dan keduanya berdebat selepas ego, menikmati waktu yang terus berdetik sambil menikmati pemandangan pendopo teknik saat hujan mengguyur. Pria itu masih menari, kali ini dengan gerakan alien. Tiara-Fera tertawa lepas namun orang-orang disekelilingnya pun melakukan hal yang sama, seperti film india celetuk Fera. Hingga hujan berhenti momen itu terus berlanjut, waktu pun menjadi pembatas mereka
.
.
.
“Fer gua duluan yaa.” Gegas Tiara sambil memutar handle gas motornya
“Yo tiati Bu, Jangan lupa tugas Pak Dadar.” Teriak Fera kea rah Tiara yang sudah menjauh
“Hufftt.”
    Setelah mengantar Tiara pulang sampai parkiran, Fera ingin ke ATM terlebih dahulu mengecek apakah uang bulanannya saudah dikirim ayahnya atau belum. Lalu ia memandang sekeliling dan melihat pria penari itu sedang merapihkan pertunjukannya siang tadi. Seketika ia berlari menghampiri pria itu seakan-akan uang bulanan tidak penting
“Eh! Hai, ehm gua Fera dari kelas 1C Teknik Mesin. Ehm boleh kenalan? Kalo gaboleh juga ga apa-apa hehe” Jelas Fera gugup dengan nafas terengah-engah. Seketika pria itu berbalik
“Oh hai! Boleh kok haha nama gua Riman Diantasena dari 1A Teknik Mesin juga.” Jelas Riman bersemangat
“Ah iya Riman, mesin juga ternyata hehe.” Jawab Fera canggung, tapi penasaran siapa tahu dia bisa mendapat informasi untuk sahabatnya, “ Jadi man…”
“Eh 1C ya? Kenal Tiara?” 
“Lho? Lo kenal Tiara?”
.
.
.
~

Friday, February 19, 2016

Bagaimana Caraku Menggambarkan Kita?

Kita..
.
Kita adalah dua gelombang
Yang berbeda frekuensi namun satu dimensi
Kita adalah impact
Yang saling bertubrukan dan menciptakan momen
Kita adalah relatif
Yang membuat peluang akan suatu keadaan
Kita...
.
Kita adalah bintang jatuh
Yang menerobos pekatnya malam, bersama
kilat,
angin Pusaran,
pelangi,
jingga.
.
.
Lalu merangkumnya menjadi,
Semesta.
.
Dan,
Kita adalah semesta
Yang selalu menatap satu sama lain, namun hidup di galaksinya masing-masing.
.
.
.
Waktu? (sigh)(laugh)
.
Ya, kita adalah waktu
Penguasa waktu.

Riman Diantasena
13 Februari 2016