
terperangkap imaji nadir
hanya untuk merayakan kegelisahan
tanpa sebab, kosong
.
seakan tersekat, memandang jiwa
yang masih tetap disana
menikmati gelak tawa
namun sarat akan makna
dan tetap, tidak lebih "fake" dari sebuah senyum palsu
tanpa rasa, hambar
.
.
serasa mati
.
.
.
tapi "sayang", mati-pun ingin hidup
(Riman Diantasena, 24 Februari 2015)
No comments:
Post a Comment