“Hahaha mantan lo ulang tahun lo kasih pulsa? Gila lo ya,
useless banget anjir.” Dilanjut tawa Riman yang semakin tidak bisa dihentikan.
“Ish itu guna banget njirrr, pulsa kan bisa dipake buat
nelfon gue. Secara dulu kan belom ada internet kayak sekarang.” Kira
menjelaskan dengan ngotot seakan-akan pendapat dia memang “benar”, hening
beberapa saat dan tawanya pun ikut pecah di tengah kesunyian malam itu.
“Kalo elo gimana man? Lo emang pernah ngasih kado apa buat
mantan lo?” Sambung Kira setelah tawanya mereda.
“Ehm gue ya… hemmm gua pernah ngasih mantan gua boneka, gua
pernah ngasih bunga, kue terus apalagi ya…” semakin penasaran, Kira mendekatkan
kepalanya ke pundak Riman agar suaranya terdengar karena Riman agak ngebut mengendarai Honda Beatnya. “ Terus terus?”
“Oh iya, gua pernah ngasih mantan gua gelang.” Jawab Riman
dengan senyum penuh kenangan dan mata yang bengong seketika.
“Cuma gelang? Haha kenapa gelang emangnya?”
“Ga tau kenapa, mungkin karena gua suka pake gelang.”
“Lebih useless anjir mending pulsa, lebih ada meaningnya.”
Kira merasa menang dalam perdebatannya malam ini dengan si ahli filosofi, 1-0 sekarang.
“Terus? Salah gua? Salah temen-temen gua yang belom lahir?” banyol
Riman, reflek
“Ahaha kampret lo Man.” Tas Kira melayang tiba-tiba
menghantam helm Riman.
“Adaw, kasar amat cewe. Gua kasih pulsa nih.”
“Ahaha sue lo.” Tawa keduanya kembali melepas penatnya
kegiatan kampus hari itu.
Kira pun melanjutkan ceritanya tentang mantannya yang dulu
pernah ke rumahnya, ketiduran dan diomelin orang tuanya karena telat pulang,
Kira bercerita dengan penuh semangat namun sesaat kemudian pikiran Riman seakan
tak berada di atas motor yang mereka kendarai. Matanya jauh menerawang ke masa
lalu, kisah antara gadis dan gelang itu. Percakapan itu seakan membuka pintu
memori Riman jauh ke belakang.
Riman ingat benar kenapa dia memberi Ia gelang ketimbang
hadiah atau barang mahal lainnya, alasan yang tak Kira tahu kini mulai memenuhi
ruang sesak di kepalanya. Ruangan yang telah dikunci rapat sekarang terbuka
kembali, ruangan yang disusun dan ditata hanya untuknya, ruangan yang selama
ini telah ia tinggalkan jauh kini terpapar jelas di depan matanya, memulai sebuah
memori dan berputar seperti video yang telah dipersiapkan sejak lama, Riman tak
berdaya duduk dan menontonnya.
.
.
.
.
.
“Aaah Jelek, makasih gelangnya, gelangnya bagus banget.”
“Ahaha biasa aja ko, maaf ya aku Cuma ngasih gelang di hari
ulang tahun kamu. Padahal kalo cowo lain mah mungkin bisa ngasih yang lebih
mahal.”
“Engga ko aku suka, bakal aku pake setiap hari, makasih ya
Jelek.” Ketulusan ucapan terima kasih itu, dengan mata dan senyuman yang
memancarkan rasa bahagianya, sekarang Riman ingat jelas alasan mengapa Ia memberi
gadis itu gelang,
Gelang adalah sebuah benda yang selalu mengikuti tangan
pemakainya. Berbeda dengan jam tangan, jam tangan memiliki fungsi sebagai
pengingat waktu sedangkan gelang, gelang adalah perekam memori, saksi mati dari
hidup pemakainya, perekam rasa, kapanpun dan dimanapun, gelang bercerita bisu
tentang apa yang dialami pemakainya seumur hidupnya.
Bukan sesal yang Riman rasakan sekarang, hanya saja
seandainya Ia tahu seberapa penting gelang itu baginya. Senyum hangat terbesit
di wajahnya membayangkan Ia memakai gelang itu kapanpun, dimanapun Ia berada. Terlalu
naïf memang tapi Riman selalu menunggu waktu dimana gelang itu bisa bercerita
tentang Dirinya yang selama ini tak pernah bertemu dengannya.
“Semoga aja ga ilang.” Ucap Riman sambil tersenyum tak sadar
dia telah menyebut kata itu di tengah cerita Kira.
“Hah? Maksut lo? Lo ngarep pulsa yang gua kasih ke mantan
gua ga ilang?” Sahut Kira bingung dengan sanggahan Riman di tengah ceritanya.
“Eh maksut gua semoga ga ilang percakapan yang udah kalian
berdua bicarain… di telfon yang mantan lo nelfon pake pulsa yang elo kasih.” Jawab
Riman gelagapan, dia sadar kata-katanya tak tersusun dengan rapi.
“Apaan sih lo, ga jelas.” Jawab Kira BeTe.
“Wah berarti gua bukan manusia dong?” Celetuk Riman.
“Maksutnya?”
“Kalo manusia kan jelas, wujudnya. Lucu ga?”
“Apaan sih lo hahaha.” Suasana kembali cair, Riman memang
selalu berhasil membuat Kira tertawa.
.
.
.
“Udeh Man, disini aja gua turunnya ntar
bokap keluar berabe jadinya.” Jelas Kira, seraya Riman mengerem motornya tepat
di depan portal komplek rumah Kira.
“Iya Bu, males juga gua ketemu bokap lo ntar gua dikira gojek-in
elo.”
“Lah siapa juga yang mau di gojek-in sama lo.” Kata Kira
menyambung bercandaan Riman.
“Oke fine, jangan nebeng gua lagi ye. Suruh aja cowo lo yang
sekarang di Malang itu buat nganter lo.” Jawab Riman meledek.
“Ah elo kan bercanda.” Muka Kira memelas, sekarang kondisi
1-1
“Ahaha iya nyonya, salamin sama cowo lo ya udah lama gua ga
main FIFA sama dia.” Sahut Riman menetralkan suasana.
“Iya makasih ya Man, gamau ah ntar gua dicuekin kalo kalian
main FIFA.”
“Jangan manyun dong ntar satpam kampus jadi ga demen lagi
sama elo.” Ledek Riman sambil ngucek-ngucek kepalanya.
“Ah apaansi.” Sambl tersenyum Ia memegang pergelangan tangan
Riman sambil berusaha melepaskan tangannya dari kepalanya.
“Eh gelangnya bagus, mau dong buat gue.” Kata Kira masih
memegang pergelangan tangan Riman.
“Sorry ogah gua ngasih gelang ke orang yang udah bilang gelang itu USELESS tadi di motor.” Riman melepaskan tangannya dari Kira sambil tertawa
mengejek.
“AH elo mah.” Sahut Kira kecewa.
“haha kapan-kapan gua cariin gelang kosong, ntar lo isi
sendiri.”
“hah maksutnya?” Jawab Kira bingung
“Eh, maksutnya… Gua cabut ye.” Jawab Riman keceplosan
teringat lamunannya tadi. “Daaaaaaaah” buru-buru men-starter motornya dan
langsung melipir.
“Eh kampret haha dadaaaah, Makasih ya ojeknya.” Kaget namun
tertawa, Ia setengah berteriak.
menengok ke belakang dengan senyuman tipis, lalu pandangan Riman kembali kedepan “Iya sama-sama Kira.” Jawab Riman pelan.
Malam yang hebat pikir Riman, sebuah percakapan mampu
membawanya jauh ke masa lalu yang telah Ia kunci rapat-rapat. Apa kabar ya Dia?
Sambil menyetir, Riman membuka BBM dan melihat kontak gadis itu, melihat foto
profilnya yang sedang tersenyum. Riman bergumam “Kira-kira gelangnya masih ada ga
ya?” Riman melihat jam, sekarang pukul 01.27 AM 7/9/2015. “Kapan-kapan aja deh
nge-chatnya, gaenak ganggu orang tidur.” Riman mengunci layar handphonenya dan
memasukannya ke kantong. Dengan Raisa
yang sedang memanjakan kupingnya dan malam cerah bertabur bintang, sekarang waktu
yang pas buat nge-galau pikirnya. Mengenang
kembali momen indah dahulu bukan suatu hal yang salah kan? Bukan untuk
menyesali apa yang telah dilalui, namun untuk melihat sudah seberapa jauh kita
berjalan meninggalkan momen itu, meninggalkan ruangan itu.
Dan bukan meninggalkan untuk melupakan, tapi meninggalkan agar ruangan itu tetap rapi saat waktunya telah tepat untuk dibuka kembali.
Dan bukan meninggalkan untuk melupakan, tapi meninggalkan agar ruangan itu tetap rapi saat waktunya telah tepat untuk dibuka kembali.
