Sunday, September 6, 2015

Dirinya, Gelang, dan Memori

“Hahaha mantan lo ulang tahun lo kasih pulsa? Gila lo ya, useless banget anjir.” Dilanjut tawa Riman yang semakin tidak bisa dihentikan.
“Ish itu guna banget njirrr, pulsa kan bisa dipake buat nelfon gue. Secara dulu kan belom ada internet kayak sekarang.” Kira menjelaskan dengan ngotot seakan-akan pendapat dia memang “benar”, hening beberapa saat dan tawanya pun ikut pecah di tengah kesunyian malam itu.
“Kalo elo gimana man? Lo emang pernah ngasih kado apa buat mantan lo?” Sambung Kira setelah tawanya mereda.
“Ehm gue ya… hemmm gua pernah ngasih mantan gua boneka, gua pernah ngasih bunga, kue terus apalagi ya…” semakin penasaran, Kira mendekatkan kepalanya ke pundak Riman agar suaranya terdengar karena Riman agak ngebut mengendarai Honda Beatnya. “ Terus terus?”
“Oh iya, gua pernah ngasih mantan gua gelang.” Jawab Riman dengan senyum penuh kenangan dan mata yang bengong seketika.
“Cuma gelang? Haha kenapa gelang emangnya?”
“Ga tau kenapa, mungkin karena gua suka pake gelang.”
“Lebih useless anjir mending pulsa, lebih ada meaningnya.” Kira merasa menang dalam perdebatannya malam ini dengan si ahli filosofi, 1-0 sekarang.
“Terus? Salah gua? Salah temen-temen gua yang belom lahir?” banyol Riman, reflek
“Ahaha kampret lo Man.” Tas Kira melayang tiba-tiba menghantam helm Riman.
“Adaw, kasar amat cewe. Gua kasih pulsa nih.”
“Ahaha sue lo.” Tawa keduanya kembali melepas penatnya kegiatan kampus hari itu.

     Kira pun melanjutkan ceritanya tentang mantannya yang dulu pernah ke rumahnya, ketiduran dan diomelin orang tuanya karena telat pulang, Kira bercerita dengan penuh semangat namun sesaat kemudian pikiran Riman seakan tak berada di atas motor yang mereka kendarai. Matanya jauh menerawang ke masa lalu, kisah antara gadis dan gelang itu. Percakapan itu seakan membuka pintu memori Riman jauh ke belakang.
     Riman ingat benar kenapa dia memberi Ia gelang ketimbang hadiah atau barang mahal lainnya, alasan yang tak Kira tahu kini mulai memenuhi ruang sesak di kepalanya. Ruangan yang telah dikunci rapat sekarang terbuka kembali, ruangan yang disusun dan ditata hanya untuknya, ruangan yang selama ini telah ia tinggalkan jauh kini terpapar jelas di depan matanya, memulai sebuah memori dan berputar seperti video yang telah dipersiapkan sejak lama, Riman tak berdaya duduk dan menontonnya.
.
.
.
.
.
“Aaah Jelek, makasih gelangnya, gelangnya bagus banget.”
“Ahaha biasa aja ko, maaf ya aku Cuma ngasih gelang di hari ulang tahun kamu. Padahal kalo cowo lain mah mungkin bisa ngasih yang lebih mahal.”
“Engga ko aku suka, bakal aku pake setiap hari, makasih ya Jelek.” Ketulusan ucapan terima kasih itu, dengan mata dan senyuman yang memancarkan rasa bahagianya, sekarang Riman ingat jelas alasan mengapa Ia memberi gadis itu gelang,
     Gelang adalah sebuah benda yang selalu mengikuti tangan pemakainya. Berbeda dengan jam tangan, jam tangan memiliki fungsi sebagai pengingat waktu sedangkan gelang, gelang adalah perekam memori, saksi mati dari hidup pemakainya, perekam rasa, kapanpun dan dimanapun, gelang bercerita bisu tentang apa yang dialami pemakainya seumur hidupnya.
      Bukan sesal yang Riman rasakan sekarang, hanya saja seandainya Ia tahu seberapa penting gelang itu baginya. Senyum hangat terbesit di wajahnya membayangkan Ia memakai gelang itu kapanpun, dimanapun Ia berada. Terlalu naïf memang tapi Riman selalu menunggu waktu dimana gelang itu bisa bercerita tentang Dirinya yang selama ini tak pernah bertemu dengannya.
“Semoga aja ga ilang.” Ucap Riman sambil tersenyum tak sadar dia telah menyebut kata itu di tengah cerita Kira.
“Hah? Maksut lo? Lo ngarep pulsa yang gua kasih ke mantan gua ga ilang?” Sahut Kira bingung dengan sanggahan Riman di tengah ceritanya.
“Eh maksut gua semoga ga ilang percakapan yang udah kalian berdua bicarain… di telfon yang mantan lo nelfon pake pulsa yang elo kasih.” Jawab Riman gelagapan, dia sadar kata-katanya tak tersusun dengan rapi.
“Apaan sih lo, ga jelas.” Jawab Kira BeTe.
“Wah berarti gua bukan manusia dong?” Celetuk Riman.
“Maksutnya?”
“Kalo manusia kan jelas, wujudnya. Lucu ga?”
“Apaan sih lo hahaha.” Suasana kembali cair, Riman memang selalu berhasil membuat Kira tertawa.
.
.
.
“Udeh Man, disini aja gua turunnya ntar bokap keluar berabe jadinya.” Jelas Kira, seraya Riman mengerem motornya tepat di depan portal komplek rumah Kira.
“Iya Bu, males juga gua ketemu bokap lo ntar gua dikira gojek-in elo.”
“Lah siapa juga yang mau di gojek-in sama lo.” Kata Kira menyambung bercandaan Riman.
“Oke fine, jangan nebeng gua lagi ye. Suruh aja cowo lo yang sekarang di Malang itu buat nganter lo.” Jawab Riman meledek.
“Ah elo kan bercanda.” Muka Kira memelas, sekarang kondisi 1-1
“Ahaha iya nyonya, salamin sama cowo lo ya udah lama gua ga main FIFA sama dia.” Sahut Riman menetralkan suasana.
“Iya makasih ya Man, gamau ah ntar gua dicuekin kalo kalian main FIFA.”
“Jangan manyun dong ntar satpam kampus jadi ga demen lagi sama elo.” Ledek Riman sambil ngucek-ngucek kepalanya.
“Ah apaansi.” Sambl tersenyum Ia memegang pergelangan tangan Riman sambil berusaha melepaskan tangannya dari kepalanya.
“Eh gelangnya bagus, mau dong buat gue.” Kata Kira masih memegang pergelangan tangan Riman.
“Sorry ogah gua ngasih gelang ke orang yang udah bilang gelang itu USELESS tadi di motor.” Riman melepaskan tangannya dari Kira sambil tertawa mengejek.
“AH elo mah.” Sahut Kira kecewa.
“haha kapan-kapan gua cariin gelang kosong, ntar lo isi sendiri.”
“hah maksutnya?” Jawab Kira bingung
“Eh, maksutnya… Gua cabut ye.” Jawab Riman keceplosan teringat lamunannya tadi. “Daaaaaaaah” buru-buru men-starter motornya dan langsung melipir.
“Eh kampret haha dadaaaah, Makasih ya ojeknya.” Kaget namun tertawa, Ia setengah berteriak.
menengok ke belakang dengan senyuman tipis, lalu pandangan Riman kembali kedepan “Iya sama-sama Kira.” Jawab Riman pelan.




      Malam yang hebat pikir Riman, sebuah percakapan mampu membawanya jauh ke masa lalu yang telah Ia kunci rapat-rapat. Apa kabar ya Dia? Sambil menyetir, Riman membuka BBM dan melihat kontak gadis itu, melihat foto profilnya yang sedang tersenyum. Riman bergumam “Kira-kira gelangnya masih ada ga ya?” Riman melihat jam, sekarang pukul 01.27 AM 7/9/2015. “Kapan-kapan aja deh nge-chatnya, gaenak ganggu orang tidur.” Riman mengunci layar handphonenya dan memasukannya ke kantong. Dengan  Raisa yang sedang memanjakan kupingnya dan malam cerah bertabur bintang, sekarang waktu yang pas buat nge-galau pikirnya.  Mengenang kembali momen indah dahulu bukan suatu hal yang salah kan? Bukan untuk menyesali apa yang telah dilalui, namun untuk melihat sudah seberapa jauh kita berjalan meninggalkan momen itu, meninggalkan ruangan itu.
     Dan bukan meninggalkan untuk melupakan, tapi meninggalkan agar ruangan itu tetap rapi saat waktunya telah tepat untuk dibuka kembali.

Monday, February 23, 2015

Imaji Nadir


jadi, disinilah aku
terperangkap imaji nadir
hanya untuk merayakan kegelisahan
tanpa sebab, kosong
.
seakan tersekat, memandang jiwa
yang masih tetap disana
menikmati gelak tawa
namun sarat akan makna
dan tetap, tidak lebih "fake" dari sebuah senyum palsu
tanpa rasa, hambar
.
.
serasa mati
.
.
.
tapi "sayang", mati-pun ingin hidup


(Riman Diantasena, 24 Februari 2015)