Di tengah kehuru-haraan dunia, kejutan dari pasar modal Indonesia, brewek koleksi kartu pokemon dan TCG one piece, gua juga mau ikut setoran hal di luar normal yang terjadi di Jumat pagi.
Kala itu jam 11 siang, gua izin untuk ambil jam makan lebih
dulu karena gua lagi ngidam banget soto mie bogor di depan kantor. Kalo kata
anak-anak kampus gua yang kerja di kantor, nama sotonya itu soto gajian, karena
belinya habis gajian, ya semacam itu lah haha. Soto itu berada di seberang
kantor gua, yang artinya gua harus menyebrang melintasi satu ruas Jalan Raden Saleh.
Kondisi jalanannya so so lah dengan kendaraan merayap
ke arah Cikini (dari pertama gua masuk gua ga ngerti kenapa galiannya ga
kelar-kelar tuh di sepanjang jalan TIM-Cikini itu wkwkwk) dan cenderung kosong
ke arah Senen. Setelah menunggu 1 menit, gua punya kesempatan menyebrang dengan
posisi satu mobil SUV krem dan motor yang berusaha menyalip SUV tersebut,
keduanya sama-sama ngebut.
Mungkin karena gua nge-sense bahaya dari SUV krem dan
motor ini, akhirnya sepanjang setengah jalan menuju sebrang, gua fokus ngasih
tanda ke mereka kalo gua nyebrang.
Sesampainya di setengah jalan, gua liat kiri, ternyata dalam
jarak 5 meter ada SUV item melaju ke arah gua nyebrang dengan kecepatan yang
lebih tinggi dari SUV krem.
Rasanya deg banget.
Secara insting gua ga mungkin mundur karena SUV krem dan
motor udah gak akan ngerem, gua percepat lah langkah gua untuk sampai di
sebrang. Tapi ternyata, ada motor yang berusaha nyalip dari sebelah kiri SUV
item.
Di titik itu, gua mendadak berhenti nyebrang.
Kadang gua suka berpikir ya, kalau gua akan meninggal dalam
kondisi yang tenang, dikelilingi orang-orang tersayang. Tapi ternyata dalam kehidupan
yang berjalan normal, kita bisa mati konyol karena hal yang engga kita tau
tanpa mandang umur kita berapa.
Sebelum gua berteori kembali, kita kembali ke momen dimana
gua berhenti kaget. Kejadian berikutnya adalah gua tersadar.
Gua lompat ke trotoar, SUV item ngerem mendadak, motor yang mau
nyalip dari kiri, gecol dan hampir jatoh.
Dari samping jalan gua menundukkan kepala minta maaf dan
semuanya berlalu kaya ga terjadi apa-apa.
Akhirnya gua makan soto mie bogor yang enak banget itu
dengan hati riang haha.
Hari berlalu dengan biasa sampai akhirnya gua pulang naik
motor dari Cikini ke Cimanggis. Di perjalanan panjang itu gua jadi berefleksi,
di 1 hari menjelang genap 30 tahun gua hidup di dunia ini. Bareng bersama
kalian pembaca tulisan ini.
Ada beberapa hal yang mau gua tinggalkan di blog ini karena
kalo ga berusaha diingat, periode hidup 20 ke 30 tahun rasanya kaya sekejap mata
banget gitu lho haha gua mau merangkumnya ke dalam beberapa sub-topik. Dan yang
pertama adalah:
1.
Kesehatan
Jujur, gua sehat banget, gengs. So, don’t worry for
even a piece of batagor wkwkwkwk
Di sepanjang satu tahun terakhir, sakit gua bisa diitung
jari dan kebanyakan karena maag yang memang sedari dulu juga udah hadir. Ga
diitung meler dan bersin-bersin karena itu udah gua terima dalam kehidupan gua
(apalagi kalo kena dingin wkwkwk).
Paling yang sekarang berasa banget karena umur adalah upper
back pain, mata yang kayanya minesnya udah harus ditolerir pake kacamata,
rambut yang heavily rontok semenjak covid, ingatan yang nge-blur
(tapi ini mah kayanya dari dulu sih wkwkwk) and… that’s all.
Gua bangga masih bisa mencatatkan lari 5 km dengan pace
under 9 km/jam (sekalipun yang terakhir ngos-ngosan parah) dan gula darah
normal. Paling berat badan aja yang sedikit demi sedikit naik tanpa rehat haha it’s
all good tapi harus banget olah raganya meningkat di tahun-tahun kepala 3.
2.
Life Events
Di sepanjang kepala 2, itu adalah masa gua bekerja untuk
pertama kali sampai hari ini. Ngerasain nge-kost jauh dari rumah karena kerja
selama 6 tahun di Bandung sampai akhirnya bisa kerja di Jakarta. Dealing
with loneliness, hard times, friendship after graduate from
college, dan semua kejadian yang ada di antara waktu tersebut.
Di kepala 2, ada 2 hal yang sangat gua syukuri sampai hari
ini. Hal tersebut adalah memulai podcast dan belajar mengelola uang, termasuk
bersaham.
Podcast adalah hal yang ga gua duga kalau efeknya akan
sebesar itu dalam kehidupan gua. Dimulai dari ngewujudin mimpi untuk siaran bareng
Ojan, sampai siaran di Prambors bersama Eda. Chapter Prambors pun ngasih
efek yang ga terduga lagi, dimana gua akhirnya punya temen-temen deket yang
sangat hangat dan sangat gua pedulikan sampai hari ini.
Di kepala 2 juga akhirnya gua berhasil menulis dan mencetak
buku orisinil sendiri dengan bantuan banyak orang dan rasanya… sangat emosional
kalau diingat kembali. Surreal banget…
Dan… banyak lagi yang terjadi di masa-masa ini termasuk
jalan-jalan pertama gua bersama JINTH ke luar kota yang menjadi salah satu
kenangan terbaik gua semasa hidup.
Kepala 2 benar-benar menyenangkan.
3.
What Next
Semenjak gua kerja dan tinggal di Bandung, gua selalu merasa
bahwa setiap harinya gua harus memanfaatkannya dengan baik. Gua merasa bahwa
itu adalah cara kita menghargai hidup itu sendiri. Dan gua merasa menjalaninya
dengan baik, tanpa penyesalan apapun.
30 tahun hidup adalah waktu yang lama. Dan gua bersyukur
banget bisa dikasih kesempatan sama Allah untuk hidup selama ini.
Sekalipun hidup gaada yang tau, tapi anggaplah kepala 3
adalah masa puncak. Masa dimana gua harus menikmati resource dan potensi
terbaik diri gua di masa ini. Masa dimana kesehatan dan materi sedang bisa
dinikmati semaksimal-maksimalnya.
Seperti kata Raditya Dika, di kepala 4 akan muncul permasalahan
kesehatan yang hadir bukan karena kita tidak menjaga diri kita. Tapi memang
karena sel di badan kita sudah melambat metabolismenya.
Gua bertekad untuk menikmati dan gaining banyak hal
di masa-masa terbaik gua ini. So, let’s start fase baru, era kepala 3
dari kita semua yang lahir di tahun 1996.
Terima kasih sudah membaca sampai sini!
Semoga kamu juga bisa selalu menikmati dan menambah
pengalaman baru di waktu yang kita tidak tahu kapan akan berakhir ini.