Aku dipertemukan oleh Sore, si Istri dari Masa Depan yang seharusnya kalian sudah pernah lihat itu, sekitar tahun 2020. Its quite late, karena web series dari Sore hadir di tahun 2017 di youtube official Tropicana Slim. Kala itu, seperti manusia-manusia di bumi pada umumnya, kita tidak memiliki aktivitas selain menghabiskan waktu untuk berselancar di internet. Begitu pun aku, sampai akhirnya bertemu dengan Sore dan Jonathan.
Aku menonton
Sore (2017) tanpa ekspektasi, dan berbekal kecintaanku pada genre romance maka aku mulai menonton series sebanyak 9 episode itu. Setelah menghabisi semua
episodenya, aku (dan banyak orang lainnya) jatuh cinta dengan kisah dari Sore dan Jonathan. Mungkin Sore (2017) membuatku memulai menonton banyak web series di youtube dan menjadikan
parameter tersendiri untuk standar cerita web series yang bagus.
Kehidupan berjalan
dan 8 tahun berselang, Sore: Istri dari Masa Depan (2025) hadir dalam format
film panjang dan ditayangkan di bioskop.
Ketika
mengetahui akan ada film panjang dari Sore, aku sangat excited. Karena, entah mengapa memori dan kesan dari Sore versi 2017 menyeruak di kepalaku. Ada
semacam rindu yang seketika hadir dengan karakter dan cerita yang kita cintai
bersama-sama.
Film panjang
Sore dibuat dengan garis besar cerita yang sama. Jonathan (Jo), yang Kembali diperankan
oleh Dion Wiyoko, adalah seorang fotografer freelance yang sedang menetap di
suatu kota yang sangat sepi di Kroasia, sedang berburu foto untuk diajukan
dalam sebuah pameran, yang dibantu temannya, Carlo. Hingga pada suatu pagi, ketika Jo
baru saja terbangun dari tempat tidurnya, ada seorang perempuan yang sudah
terduduk di kasur tempat Jo tertidur, sedang menatap Jo dengan penuh perasaan.
Sontak, Jo
terkaget dan melompat dari kasur tersebut dan bertanya kepada perempuan tersebut,
siapa dia? Perempuan tersebut menjawab,
“Aku Sore.
Istri kamu dari masa depan”
Bagi mereka
yang sudah menonton web seriesnya, semua nuansa gambar, latar, musik, seketika
membawa kita kembali ke Sore versi web seriesnya. Ada rindu yang terbalaskan di
sana dan sangat besar.
Sore
(2025), yang diperankan oleh Sheila Dara, berakting sangat kuat. Sebegitu kuatnya
sampai seluruh emosi yang disampaikan melalui matanya terasa begitu dalam. Yandy
dan Mita, selaku sutradara dan produser, memang menyatakan bahwa salah satu
kekuatan terbesar dari Sore versi film panjang adalah mata dari Sheila dan
Dion. Dan aku akui, janji Yandy dan Mita terbayar melebih ekspektasi.
Sore yang
hadir dari masa depan, ingin membuat Jonathan berkehidupan yang lebih sehat. Jo
yang setiap hari merokok, jarang meminum air mineral, dan suka begadang, ingin
Sore ubah, Karena dengan pola hidup seperti itu, Jo akan meninggal saat dirinya
sudah menjalani kehidupan pernikahan bersama Sore.
Banyak kesamaan
yang dihadirkan Sore versi film panjang dengan Sore versi web series. Namun, terdapat
perbedaan yang membuat kedua karya ini menghasilkan ending yang
berbeda.
Sore versi
film panjang adalah kemegahan dari idealisme Yandy Laurens untuk berani
membawakan serta mengaransemen ulang cerita yang sudah sangat dicintai oleh
banyak orang ini.
Alasan tersebut
adalah, bagaimana pandangan Yandy mengenai pernikahan yang ternyata bertambah
setelah melalui pernikahannya dengan Joeanne. Tentang bagaimana cinta adalah
bentuk dari usaha yang tidak pernah putus.
Tidak ada
transaksi dalam cinta. Karena yang terjadi adalah kita yang selalu ingin
memberi atau melakukan hal lebih untuk pasangan kita, selamanya.
Kita bisa
berdebat panjang mengenai Sore versi mana yang lebih bagus, opini semua orang
valid. Tapi pelajaran yang disampaikan oleh Sore versi film panjang adalah
sesuatu yang jelas tidak akan kamu dapatkan dari Sore versi web series.
Memilih kamu,
sekalipun dalam kehidupan ke-10 ribu, rasanya agak mustahil untuk dibuktikan. Peradaban
manusia belum semaju itu untuk menciptakan dunia paralel atau time travelling.
Namun,
entah kenapa, itu adalah ungkapan yang paling romantis belakangan ini. Untuk
menunjukkan betapa yakinnya Sore memilih Jonathan untuk menjadi pasangan
hidupnya, selamanya.
.jpg)