Sunday, February 21, 2021

Teater, Fitri, dan Rifia

Dulu banget, mungkin sekitar tahun 2013 gua lagi aktif-aktifnya ada di ekskul teater. Tahun itu kita cetak prestasi pertama sepanjang sejarah untuk sekolah kita lewat ekskul teater. Momen yang paling membahagiakan sampai ke momen yang paling sedih. Momen saat ekskul kami gagal wakilin jakarta untuk berlaga di kompetisi nasional karena kalah di babak final regional. Saat kalah itu gua sama anggota ekskul yang lain nangis bareng. Dan semenjak saat itu gua bikin janji sama diri gua sendiri, gua harus bisa dapet juara satu dalam kompetisi teater berikutnya.

Setelah jatuh bangun latihan, ikut kompetisi, akhirnya kepengurusan kami beregenerasi. Semua yang gua lewatin bener-bener pure of joy. Isinya ketawa-ketawa aja seaslinya, gaada definisi cape yang menguras emosi. Suatu hal yang bertarget malah ngejadiin gua punya kelompok pertemanan yang begitu erat. Bukan partner ekskul tapi persahabatan yang kuat banget. I never doubt to call this relationship a family.

Akhirnya gua lulus dari SMA dan lanjut kuliah yang ternyata kegiatannya sibuk mampus. Tapi disamping itu gua tetep balik untuk kumpul teater setiap ada kesempatan. Janji gua untuk jadiin teater juara satu masih kalah sama perasaan kangen pengen ketemu temen dan adik-adik di ekskul teater. Sampe tiba-tiba momen itu muncul, ketika gua melatih teater yang mau ikut lomba teater terbesar di Jakarta. Disitulah gua ketemu Fitri dan Rifia.

Secara dasar kita memang dekat karena teater. Kumpul teater membukakan pintu untuk diri kita masing-masing lebih mengenal satu sama lain. Mulai dari problem antar-generasi sampai kumpul untuk membahas apapun itu setiap sore sepulang sekolah. Fitri dan Rifia dalam banyak kesempatan sering ngobrol sama gua di dalam atau di luar teater. Mungkin karena memang cocok untuk bertukar pikiran jadi pun semakin terikat secara emosional.

Kala itu gua dateng untuk jadi pelatih teater, setiap sore seminggu sekali. Latihan dan ketawa-ketawa bareng semuanya. Merencanakan strategi untuk menangin pentas kali ini. Hari yang ditunggu juga udah tiba, hari kompetisi. Setiap pertunjukkan teater ekskul gua gua jarang banget nonton. Alasannya satu gua takut ganggu fokus adik-adik dan yang kedua gua takut apa yang ditampilin ekskul teater ga ada di level yang sama dengan ekspektasi gua.

Tapi akhirnya kita menang, gua nangis habis

Semua momen itu, teriakan, tangisan, tawa bahagia meledak. Dan reaksi pertama gua nangis, kejer. Pentas dimana Fitri dan Rifia jadi aktris utama dan juga tahun terakhirnya sebagai pemain aktif. Shout out buat Vivi Deva dkk yang juga terus nemenin perjalanan sedih bahagianya gelora (nama teater kita). 

Gabisa percaya momen semanis itu bisa dateng ke hidup gua, juara satu di lomba teater level tinggi. Even remember it still give me a goosebump back then. Feel unreal.

Spesialnya ekskul teater tetap dekat saat dan setelah hari itu. Kami selalu bertanya kabar setiap generasi, ketemu setiap tahun. Update kehidupan sekalipun koridornya udah beda. Pun gua Fitri dan Rifia, kita semakin deket dan selalu connected apapun keadaannya.

Fitri dan Rifia akhirnya lulus dari SMA. Fitri goes to europe dan Rifia masuk kuliah di salah satu universitas terbaik negeri. Like hell im a proud brother! Lucu sih ketika gua bilang gua kakak mereka karena di masa itu definisi hubungan adik kakak tuh diragukan. But we success jalanin ini. Terlebih secara emosional gua merasa sangat terikat dengan mereka berdua. I got angry when they hurts, they share their problems and i hear them. Hal itu terus berlangsung sampai hari ini.

Fitri orang yang idealis, full of dreams, full of thoughts tapi sangat mudah bosan dan kangen dengan suatu hal haha. Secara kebetulan juga kita berbagi tanggal kelahiran yang sama haha aneh emang cara kerja semesta bisa mempertemukan kita

Rifia orang yang sangat baik, sangat suka membantu orang siapapun dan kapapunpun itu, her mind is logic as hell but also have a feeling as soft as feather. One of the strongest woman i ever met too

Im well aware of perpisahan. Kita ga akan misah sih haha gua yakin itu, cuma gaakan sedeket saat kita ada di satu lingkungan kaya dulu. Dan itu adalah hal yang wajar. Masing-masing dari kita sudah dewasa dan punya jalan masa depan masing-masing yang menanti kita. And when i started to write my feelings down here, i realized how much i love them both. Bahkan Fitri dan Rifia ada di puncak teratas di porsi rasa sayang gua saat ini haha it sound ridiculous but its real.

Just when the time comes, when we rarely sending messages to each other. I forever grateful to have you both in my life. Since its a long text to read, i will recognize it as a love letter to you both. Have a good life, Fitri dan Rifia