Thursday, October 22, 2020

Kita yang Memang Ditakdirkan Untuk Selalu Menunggu Satu Sama Lain

"Jawabannya Hanung Bramantyo persis tuh sama yang ada di kepala gua" katamu pamer

"ah masa si?" kataku meragukannmu yang sedari tadi di workshop film Hanung Bramantyo hanya diam saja duduk di sebelahku. Atau kamu memperhatikanku selalu? Aku benar-benar fokus dan tidak menyadari sekitar ketika idolaku berbicara di depanku

"Iyalah, orang yang mau bikin film tuh tujuannya emang pengen ngomong, bicara. Sesimpel itu, elo malah bilang passion, sok ngide" katamu meledekku yang ketika aku bertanya diantara tamu yang datang sudah bergetar. Aku juga merasakan suaraku bergetar di depan mic. Wajar dong! Hanung Bramantyo memusatkan perhatiannya ke arahku tau!

Di pedestrian epicentrum kuningan kita berjalan berdampingan diiringi langit yang kian menjingga. Kita bercerita hal yang terjadi, semakin mengenal satu sama lain. Kerumitan bahasan yang tidak terurai di kepala kita adalah hal yang masing-masing selalu kita jaga. Aku dan kamu selalu mempunyai hal yang ingin kita ungkapkan, tapi selalu kita urungkan untuk membicarakannya. Kekikukan selalu menunggu satu sama lain adalah definisi hubungan kita yang sebenarnya.

Baterai handphoneku sudah berkedip, pertanda buruk. Aku mengabari ibuku bahwa aku akan pulang malam dan aku mengabari temanku di pasar santa bahwa aku akan segera kesana.

"batre lo tinggal berapa persen?" kataku

"masih banyak nih, kenapa emang?" katamu cepat, kamu memang suka berbicara dengan cepat

"buka gmaps dong, navigasiin ke pasar santa"

"oke" katamu langsung membuka handphonenya dan membuka waze

"jangan nyasar ya" kataku menggodanya

"gapercaya banget sih lo!"

Kita sampai di pasar santa sudah gelap, mungkin sekitar jam 7 kurang. Aku memarkir motor di bagian luar kawasan karena ternyata memang sepenuh itu. Mobil dan motor yang terpakir sudah masuk kategori super ramai, seperti kafe hits di tengah kota. Kita berjalan masuk, ini kunjungan pertamanya juga ternyata ke pasar santa. Kita bergerak ke lantai dua dan menyaksikan bahwa, ini beneran pasar. Haha maksutku untuk tempat nongkrong "anak muda" dengan pakaian yang rapi di pasar merupakan konsep yang sangat unik. Pasar yang disulap menjadi tempat nongkrong yang luar biasa.

Sambil terkagum menimati konsep dari lantai 2 aku menemukan dirinya menatap mengintip ke arahku. Tentu saja dia langsung menunduk ketika mataku menyambar matanya

"apaansih! Udah maju maju" katanya sambil mendorong punggungku untuk bergerak. Dia adalah perempuan yang pipinya akan merona ketika sedang malu, lucu sekali. Karena handphoneku mati aku benar-benar tidak tahu harus bergerak kemana. Aku hanya berjalan menikmati suasana di lantai dua pasar santa. Tangan kanannya memegang jaketku erat dari belakang mengikuti langkahku berjalan. Momen yang jarang sekali terjadi dalam hidupku, apalagi antara kita. Ini adalah jalan-jalan pertama kita berdua

Aku berhenti di salah satu booth instalasi seni, tepat seperti poster acara yang kulihat di instagram. "KALIGRAFINA DAN BELMEN PRESENT: GOMBALAN UNTUK MALA". Dan benar saja aku melihat teman yang ingin kutemui disitu, guru hidupku yang sedang menekuni typografi. Aku segera melangkah ke arahnya, tanganmu melepaskan jaketku seketika. Hari itu komunitas temanku sedang mengadakan pameran sekaligus sesi sharing dan workshop singkat tentang typografi.

Kamu menyembul dari punggungku, dan aku perkenalkan kepada temanku.

"oh temen lu Man, pacar? Bukan?" kata temanku menggoda. Aku menjawabnya ngalor ngidul berputar-putar tidak jelas. Tapi jelas, kami tidak berpacaran, hanya teman.

Setelah berbincang cukup panjang, aku melihat-lihat instalasi seni yang dipamerkan disana. Sampai aku sadar  ternyata kamu masih bersama temanku membicarakan typografi. Beberapa waktu berlalu, dan sekarang giliran komunitas temanku mengerubungimu. Kamu menyedot perhatian pameran dengan sikapmu yang sangat mencairkan suasana.

Kamu memang seperti itu, sebuah galaksi yang memiliki daya tarik yang sangat kuat. Semua orang menyukai dirimu dengan cepat. Termasuk aku.

Dengan sesekali melihat ke arahku, aku menjawab dengan isyarat, "enjoy your time!". Kamu tersenyum dan menggali dunia typografi bersama komunitas temanku. Kamu meminta temanku menuliskan tinta typografi di tangan kananmu, semua orang yang kaget lalu mengiyakan. diantara semua hal yang bisa ditulis, kamu memilih untuk menuliskan tanggal 11 Maret 2014. Kamu bahagia sekali.

Tak sampai disitu, semua orang menjadi mengikutimu. Mengukir typografi di lengannya. Sampai pada titik ini, kamu memang spesial.

"eh sebelum kita pulang kita foto dulu" katamu saat aku berpamitan dengan temanku

"oh ayo" kamu seketika mengeluarkan polaroid yang aku tidak tahu kalau kamu membawanya. Kamu melihat orang-orang yang berlalu lalang untuk meminta bantuan dan akhirnya tertuju kepada satu perempuan yang juga sedang datang ke pameran ini

"aduh kok feeling gua hasil fotonya jelek ya" katamu melihat gelagat orang yang kamu minta tolong untuk memfoto kita

"hush sembarangan"

Kamu berdiri di sebelah kananku, bahu kita bersentuhan dan menjauh secara perlahan. Canggung dan kasmaran yang muncul secara bersamaan. Kita berdua pasti malu setengah mampus. Tapi kita tetap bergaya di depan kamera. Bahu kita membentuk garis tegas tanpa celah dan kilatan polaroidmu memancar. Memori hari itu abadi sampai kapanpun dalam sebuah foto.

Ya dalam sebuah foto,

Foto pertama kita berdua dalam satu bingkai

...

Ah iya satu lagi,

Benar saja fotonya jelek

Dan kamu meminta untuk mengulangnya sekali lagi.