Perempuan yang satu ini sangat unik. Sangat baik, sangat jujur, tapi jalan pikirannya sangat rumit, tak ayal banyak laki-laki yang dibuatnya tetarik tapi ia selalu berhasil menempatkan semua laki-laki di posisi yang sama, sebagai teman. Dalam kasusku, aku dan dia tidak pernah sejalan dalam hal pemikiran. Bahkan kita adalah teman yang selalu meributkan hal-hal yang tidak penting. Aku ingat saat pertama kali ia merasa canggung berada di kelas (menurut observasiku sekalipun dia selalu menyangkal bahwa dirinya memang sekalem itu) dan malamnya ku kirim pesan singkat untuk tidak terlalu memikirkannya dan coba untuk menjalani hari dengan lepas. Hasilnya? Dia bilang tidak usah repot-repot memikirkannya haha sejak hari itu kita memang magnet dengan kutub yang sama, sama sama keras kepala.
Ketika bertemu kita sangat jarang berbicara langsung, tapi semenjak saat itu, kita benar-benar mengalami kemajuan dalam pertemanan, walaupun selalu diakhiri dengan pertengkaran. Sampai, suatu hari aku bercerita tentang keinginanku untuk datang ke sebuah workshop film yang diisi oleh Hanung Bramantyo di daerah kuningan, dengan semangat dia bilang ingin ikut. Dia amat terobsesi dengan fotografi, tak pernah kuingat dirinya akan ketertarikannya dengan sinematografi atau olah peran, tapi dia tetap ingin ikut, entah apa alasannya.
Dia yang dikagumi oleh banyak orang, yang selalu membuat pertengkaran denganku, yang selalu menanyai kabar tentangku tentang kesibukanku, yang selalu menungguku hingga dini hari untuk bisa berbicara denganku, terus terpikirkan dalam kepalaku. "oke kalo gitu, tapi malemnya gua juga harus ke pameran typographynya temen gua di pasar santa, lo kalo mau pul.." kataku menawarkannya untuk pulang duluan dipotong dengan, "gua juga ikut!".
Aku tak pernah bisa menebak pikirannya, setiap kutebak kita selalu bertengkar. Dia adalah paradoks yang mungkin selama ini aku bawa bersama hidupku. Aku pernah bilang padanya bahwa setiap kudapati dirinya berpendapat dan bersikap, aku seperti bercermin terhadap diri sendiri, dan dia akan bilang, "ish mana mau gua disamain sama lo" dilanjut dengan tawa antara kita.
Aku yakin akan perasaanku kepadanya, tapi bukannya dia memang baik kepada semua orang? Apakah aku harus peduli tentang apa perasaannya kepadaku? Atau memang kita seharusnya tetap seperti ini menjadi teman yang saling bertengkar dan memaafkan kembali? Entah apa tujuan dari mengulangi siklus ini. Hingga pertanyaan ini terus melonceng dalam kepalaku, kita tetap maju mencari jawaban atas siapa kita sebenarnya.