Sunday, April 26, 2020

Sekarang Kita Cerita Tentang Hari Itu

Kami berhenti di sebuah donat shop (saingannya coffee shop) setelah berkeliling mengitari mall baru itu di setiap 3 lantainya. Karena kerahasiaan informasi jadinya aku akan memberi tahu inisialnya saja dari donat shop tersebut, yaitu J.Co yang dimiliki oleh Johnny Andrean Group.
"disini aja yuk!" katanya. Aku yang melihatnya dimulai dengan melirik tak bisa menahan senyumku, "boleh" sahutku setelah jeda singkat. Biasanya dia memesan donat dan minuman yang aku lupa apa itu, ice coffee blend tebakanku. Aku memesan J.cool yang single, cocok dengan statusku yang juga single. 

Sambil menunggu pesanan kami siap, kita mengobrol dengan sangat cair, dia bercerita bagaimana hidupnya di kota tempatnya kuliah, aku seperti biasa akan mendengarkannya fokus sambil memancingnya untuk terus bercerita, senang sekali rasanya bisa mengetahui kabarnya sampai sedetail itu. 

Donat shop ini terletak di lantai dasar dan kala itu dihujani lembut oleh sinar sore matahari yang konstan. Lalu kami duduk berhadapan. "Apaaaa?" katanya menembak diriku yang daritadi masih melihatnya, "ahaha enggaa ada apa-apa" kataku. Lalu dia menggodaku dengan bilang, "Kenapa ini jadi ketemuan kita yang terakhir?" 

Butuh beberapa detik untuk mengalirkan listrik dari syarafku ke otak untuk bisa menjawab pertanyaan yang sudah kusiapkan dari semalam. Aku akan bahas itu, aku akan bahas itu, teguh pikiranku sebelum tidur. Sampai akhirnya hanya gumaman yang bisa keluar dari mulutku mencari keberanian itu datang. Yang terus disambar dengan pertanyaan dari dia, "Kenapa Kenapa Kenapaaa?!"menggodaku tersenyum. Sial, dia pasti menikmati respon kikuk-ku. 
"Ga apa-apa sih sebenernya, aku ngerasa ada yang perlu diceritain ke kamu pas dulu kita masih pacaran, ya biar selesai ajaa dan kita bisa ngejalanin hidup kita masing-masing." Raut wajahnya mengendur, terfokus mendebarkan, "kamu mau bahas apa?" katanya

Dengan segala gugup, aku memulainya dengan meminta maaf atas kesalahanku dan ketidakbecusanku pada hubungan kita dulu. Selama kami bersama, ada sebuah hal yang tidak pernah kuceritakan kepadanya yang berujung berkembang dan bercabang ke masalah-masalah sekunder sampai ke hal-hal remeh yang harusnya bisa selesai dengan dibicarakan, namun aku lari. Aku tahu dia tahu tanpa kuberitahupun, tapi saat itu itulah hal terjujur yang bisa aku sampaikan kepadanya, sebuah cerita yang hanya bisa kuungkap pada pertemuan terakhir kita.

Sambil terus mencari titik dimana mataku tidak bertemu matanya, diakhir kata, air mataku tak terbendung. Satu tetes yang ternyata membuat dia gelagapan dan mengambil tisu untukku, kita berdua tidak melihat hal itu akan datang. Sampai disitu aku tambah merasa bersalah, seandainya air mataku tidak meleleh, mungkin dia bisa mengajukan pertanyaan kepadaku terus sampai pertanyaannya yang selama ini tersimpan akan habis. 

"Ketawa dong! Kan udah setahun juga, udah lewat lamaa" katanya menguatkan, dia hebat sekali sangat hebat. Kejadian itu berlalu sangat singkat dan melesat cepat dan dilanjutkan oleh tawa kita lagi. 
Beruntung sekali pikirku, bisa menghabiskan waktu yang cukup lama bisa bertukar pikiran dengannya dan dewasa bersama. 

Obrolan sore itu menjelma menjadi hal yang sangat penting untuk kami, keterbukaan dan kejujuran membuat kita semakin saling mengerti satu sama lain sebagai manusia yang sedang belajar bersama. Pernah kudengar bahwa setiap orang yang dipertemukan dalam hidup kita memang sudah ditakdirkan, atas kenangan sedih atau senang, akulah yang paling berterima kasih atas kita berdua. 

Sinar matahari sudah terlihat tipis di batas jendela dan kita memutuskan untuk pulang. 
"Aku anter pulang ya, kan ini pertemuan terakhir kita." kataku memintanya mengiyakan tawaranku
"lho siapa bilang ini pertemuan terakhir kita? Kita ga pernah sepakat kok ini jadi yang terakhir." katanya cepat. Aku yang kaget mencoba mengingat kesepakatan yang aku ajukan, ternyata memang dia tidak pernah mengiyakan konsep pertemuan terakhir kita. Dia menang. 

Sesampainya di parkiran, aku menunjuk motorku dan meminta dia untuk ke motorku lebih dahulu. Sesampainya dia disana, dia mengambil sebuah bunga yang bertengger di helm yang kusiapkan untuknya. Bingung dan ia bertanya, "ini bunga buat siapa?" 
"Eh ga tau, kamu mau ga?"
Matanya bergantian melihatku dan bunga, lalu berkas senyumnya datang seketika. 
"Garing!" responnya salah tingkah, 
"Terima kasih ya" ucapan itu datang dan berlalu bersama salah satu senyum terbaik yang pernah kulihat selama hidupku.