Menurut
kamusku, keahlian adalah suatu hal yang menjadi kebiasaan (terbiasa) karena
sudah terlatih untuk melakukan hal tersebut. Contoh mudahnya adalah berjalan.
Keahlian pun memiliki jenjang atau bisa dibilang bertingkat. Keahlian dapat
berkembang dari mulai keahlian tingkat standar sampai ke keahlian tingkat
tinggi dengan jenis keahlian yang sama. Masih dengan kasus yang sama, berjalan
adalah keahlian dengan tingkat standar, karena level berikutnya adalah berjalan
di atas tali (bodo amat). Berbanding lurus dengan pengalaman, keahlian akan
bertambah seiring dengan berambahnya frekuensi kita bertemu dengan problema.
Keahlian bisa serupa namun juga bisa berbeda dan khas pada setiap pribadi bergantung
pada lingkungan dan jutaan faktor lainnya. Aku pun begitu, hadir di dunia
sebagai manusia yang memiliki beberapa keahlian. Salah satunya adalah seputar
dunia curhat-mencurhat.
Entah
dimulai sejak kapan keahlian ini berkembang. Mungkin keahlian ini hadir seiring
dengan sifatku yang supel dan ramah terhadap teman-temanku yang pada akhirnya
sifat itu membawa peluang temanku untuk bercerita tentang kehidupannya. Dengan terbangunnya
rasa percaya, temanku pun menjadi nyaman untuk bercerita tentang segala hal
yang meresahkan atau bahkan hal yang membuat ia senang. Topiknya pun beragam,
bisa tentang keluarga di rumah, tentang pelajaran di sekolah, tentang coki-coki
yang isinya selalu berkurang dari waktu ke waktu, dan tentang segala macam
masalah yang mereka alami semasa hidup. Aku yang kala itu masih “baru” di dunia
ini, masih menerka-nerka dimana titik awal aku kecemplung masuk ke lingkaran curahan hati.
“Jadi
Man, kalo gua gapunya uang gua pasti melipir ke kamar bokap, cari dompetnya
terus ambil dua lembar lima ribuan buat jajan lumpia basah habis kelar sekolah.
Gua bingung kenapa ya lumpia basahnya enak banget sampe-sampe gua ngambil uang
bokap ga bilang-bilang. Padahal kan…” Aku terpaku sambil sedikit tertawa mendengar cerita sahabat SMP-ku kala itu. Tepat
sepulang sekolah dan masih berseragam putih-biru, aku mendengar Danu bercerita
sambil melihatnya menyantap lumpia basah dengan lima cabai rawit itu, ya aku hanya melihat, kere. Mungkin sepele,
tapi entah kenapa aku senang sekali mendengar seseorang bercerita, tentang
apapun. Sampai akhirnya aku menyadari aku baru bisa jadi pendengar yang baik
dalam dunia curhat.
Semakin
hari semakin banyak telinga ini mendengar kisah-kisah, waktu pun terus berjalan
dan aku menyadari bahwa pada masa puber topik yang selalu dibahas antara duo
sahabat didominasi oleh satu topik yang selalu tabu untuk dibahas kala itu, topik
itu adalah cinta. Anak seusia peralihan dari anak bau kencur menuju dewasa
pasti berlomba-lomba untuk memberi solusi terbaik yang ia yakini ampuh untuk
mengalahkan permasalahan seputar dunia cinta sekalipun dirinya tidak memiliki
pengalaman di dunia cinta. “Yang penting memberi solusi!” tegas pikirannya. Yang
uniknya lagi adalah penerima solusi akan masalah cintanya kebanyakan menerima
solusi tersebut dan langsung menerapkannya. Misal dulu aku punya seorang teman
bernama Afif, dia menyukai seorang gadis bernama Mawar yang berpredikat sebagai
gadis tercantik di SMAku dulu. Kebetulan di hari ulang tahun Mawar, Afif gugup
ingin memberi sesuatu yang special di ulang tahunnya yang ke-17 (yang kata
orang-orang mah sweet seventeen). Aku dan temanku, Geding, yang tau bahwa Afif menyukai
Mawar memberi sebuah ide gila untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya
dari tengah lantai dasar sekolah dengan cara berteriak karena kelas Mawar
berada di lantai tiga.
“Serius
lo Man? Kalo nanti gua dikira orang freak
gimana?” Dengan mata terbelalak, Afif bereaksi atas ide gilaku.
“Udeh
sikat aja Fif, kapan lagi lo punya kesempatan kaya gini.” Kataku yakin, padahal
konsekuensinya mengerikan. Bisa jadi Mawar ilfeel, lalu muntah, lalu masuk
rumah sakit. Lebih naas jika diopname. Tapi sekali lagi solusi itu berlandaskan
ketidaktahuan kita akan dunia cinta yang memang masih absurd untuk dijabarkan
menjadi sebuah konklusi yang topcer bahkan sampai saat ini. Manusia sekaliber William
Shakespeare pun yang semasa hidupnya mempelajari tentang wanita tidak bisa
menemukan formulasi paling jitu mengenai cinta sampai akhir hayatnya. Apalagi aku
dan Geding yang masih lucu dan lugu di dunia percintaan.
Berlandaskan
percaya akan keberhasilan yang dapat dikalkulasikan sekitar 0,83 persen, Afif
menarik satu nafas panjang dan mengucapkan, “Oke, gua bakal ngelakuin ini.”
Gila.
Dunia
cinta memang kejam, sambil geleng-geleng ketawa tidak percaya aku langsung
menyemangati Afif dan berharap solusi yang aku dan Geding beri dapat berhasil. Singkatnya Aku dan
teman-temanku membuat skenario, Mawar pun berhasil dibuat menempati posisi yang
telah ditentukan. Waktunya eksekusi,
“Mawar!”
teriak Afif dari tengah sekolah.
Aku
yang sedang mengobrol berhadapan dengan Mawar menyadari bahwa, suara Afif
terhalang oleh suara adzan zuhur. Suara Afif tidak terdengar oleh Mawar. Deg-degan
pun menyeruak seantero sekolah yang menyaksikan Afif berkeringat gugup di
tengah lantai dasar sekolah.
Gila.
Bisa-bisa
Afif yang masuk rumah sakit lalu diopname kalau begini kisahnya. Adzan telah
selesai kali ini hanya improvisasi Afif yang bisa menyelamatkan hidupnya. Lalu teriakan
itu muncul lagi dengan kerasnya,
“MAWAR!”
seketika Mawar kaget dan langsung menolehkan pandangannya ke lantai dasar,
sambil mengibaskan rambut panjangnya ia berkata kaget “Ya?”
Semua
mata tertuju pada Afif, hening satu detik dua detik. Lalu dilanjutkan ucapan yang
lantang,
“SELAMAT
ULANG TAHUN YANG KE-17 YA!”
Gila.
Ini baru
laki, bukan cowo yang teriak “laki” pas minum air kuning rasa-rasa, ini baru
laki sebenarnya! Mawar langsung menutup mulut dan hidungnya, menggunakan kaki... Maaf, saya ulangi. Mawar langsung menutup mulut dan
hidungnya dengan kedua tangannya, shock, pasti. Dan ia langsung menitikan air
mata, air mata bahagia. Satu sekolah bersorak akan kejadian itu dan kebahagiaan
pun melingkupi dua insan ini, semuanya senang akan kejadian langka ini, kecuali
pacarnya Mawar yang cemberut di lantai dua.
Gila.
Solusi
acak adut berhasil membuat momen yang tak terlupakan sepanjang hidup Afif,
Mawar, maupun kita yang menyaksikan sejarah kala itu dan juga hidup pacarnya
Mawar yang pasti berbekas sampai sekarang. Bekas sedih.
Beranjak
dengan pengalaman-pengalaman gila lainnya, keahlian memberi solusiku pun muncul
dan semakin terasah. Seputar dunia cinta pun sudah jadi dinner setiap malam, hampir
hatam. Semakin terbiasanya dengan keahlian ini aku pun mulai terbiasa
menggunakan kata-kata dan analogi yang tepat kiranya untuk masalah
teman-temanku. Sampai suatu malam aku menemukan di timeline media sosial LINE, adik kelasku
terlihat galau luar biasa. Re-share akun-akun galau macam prestigeholic atau
amazing video (yang harusnya share video tapi banyak galaunya), bikin puisi
sendiri, sampai ganti nama profil di LINE menjadi abjad atau tanda baca (biar susah dicari, mungkin. Itu juga kalo ada yang nyariin). Komentarku? Akut. Aku pun langsung
chat dia dan mendekatinya, berharap dia bisa menceritakan kisahnya dan aku bisa
memberinya solusi untuk menenangkan hatinya. Pertanyaan-pertanyaan awal
darinya? Mudah, masih masuk logika untuk menjawabnya. Sampai pada akhirnya
muncul sebuah pertanyaan yang membuatku terdiam sejenak,
“Kenapa
gua yang berjuang? Kenapa bukan dia?”
Aku terhanyut
dengan pertanyaannya, membuatku ingat betapa rumitnya dunia cinta. Cinta seringkali
tidak bisa di selesaikan dengan logika. Mungkin itu kenapa ending dari cerita
siti nurbaya atau romeo dan Juliet adalah bunuh diri, karena tidak ada yang
bisa menebak arah dari cinta, terlalu absurd untuk diterka. Namun menimbulkan perasaan yang luar biasa, rasa yang selalu membuat kita menduga, rasa yang
selalu membuat kita berharap, rasa yang selalu menimbulkan rasa bahagia ketika
mendambanya. Seketika aku teringat pengalaman cintaku dulu, aku ingat memiliki
kisah yang serupa, sayangnya berakhir sedih,
“Karena
elo yang butuh, bukan dia.” Jawabku lirih.
Karena kita yang butuh itu kenapa kita yang berjuang,
Karena dia ga butuh itu kenapa dia ga berjuang. Simpel tapi menyakitkan.
Karena kita yang butuh itu kenapa kita yang berjuang,
Karena dia ga butuh itu kenapa dia ga berjuang. Simpel tapi menyakitkan.
Seketika
memori tentang pengalaman itu memenuhi kepalaku, itu kenyataannya. Beruntunglah
manusia yang bertemu cinta ketika keduanya butuh cinta. Ketika hanya salah satunya
saja yang butuh cinta? Sekali lagi tidak ada yang bisa menebak arahnya, bisa
saja sukses bisa gagal. Tidak ingin terlarut dalam kenangan itu, diriku
menegaskan “Itulah resiko curhat, kamu bisa mendengar banyak tapi tidak menutup
kemungkinan kamu akan menjawab pertanyaan yang sesuai dengan pengalaman yang
kamu alami.” Subjektif, begitulah cara manusia menjawab pertanyaan, sesuai
dengan pengalaman penjawab. Tidak pernah ada solusi yang benar-benar tepat
untuk cinta. Dan aku seketika teringat sesuatu, satu pantangan soal pengalaman
cinta.
Jawaban-jawaban
ideal dari pemberi solusi cinta biasanya tidak berguna ketika orang tersebut
menghadapi masalah cintanya sendiri. Pun aku, berkeahlian menasihati kehidupan
cinta orang lain namun selalu tidak bisa menjawab permasalahan cintaku sendiri.
Miris.