Wednesday, August 24, 2016

Curahan Hati

   Menurut kamusku, keahlian adalah suatu hal yang menjadi kebiasaan (terbiasa) karena sudah terlatih untuk melakukan hal tersebut. Contoh mudahnya adalah berjalan. Keahlian pun memiliki jenjang atau bisa dibilang bertingkat. Keahlian dapat berkembang dari mulai keahlian tingkat standar sampai ke keahlian tingkat tinggi dengan jenis keahlian yang sama. Masih dengan kasus yang sama, berjalan adalah keahlian dengan tingkat standar, karena level berikutnya adalah berjalan di atas tali (bodo amat). Berbanding lurus dengan pengalaman, keahlian akan bertambah seiring dengan berambahnya frekuensi kita bertemu dengan problema. Keahlian bisa serupa namun juga bisa berbeda dan khas pada setiap pribadi bergantung pada lingkungan dan jutaan faktor lainnya. Aku pun begitu, hadir di dunia sebagai manusia yang memiliki beberapa keahlian. Salah satunya adalah seputar dunia curhat-mencurhat.
   Entah dimulai sejak kapan keahlian ini berkembang. Mungkin keahlian ini hadir seiring dengan sifatku yang supel dan ramah terhadap teman-temanku yang pada akhirnya sifat itu membawa peluang temanku untuk bercerita tentang kehidupannya. Dengan terbangunnya rasa percaya, temanku pun menjadi nyaman untuk bercerita tentang segala hal yang meresahkan atau bahkan hal yang membuat ia senang. Topiknya pun beragam, bisa tentang keluarga di rumah, tentang pelajaran di sekolah, tentang coki-coki yang isinya selalu berkurang dari waktu ke waktu, dan tentang segala macam masalah yang mereka alami semasa hidup. Aku yang kala itu masih “baru” di dunia ini, masih menerka-nerka dimana titik awal aku kecemplung masuk ke lingkaran curahan hati.
“Jadi Man, kalo gua gapunya uang gua pasti melipir ke kamar bokap, cari dompetnya terus ambil dua lembar lima ribuan buat jajan lumpia basah habis kelar sekolah. Gua bingung kenapa ya lumpia basahnya enak banget sampe-sampe gua ngambil uang bokap ga bilang-bilang. Padahal kan…” Aku terpaku sambil sedikit tertawa  mendengar cerita sahabat SMP-ku kala itu. Tepat sepulang sekolah dan masih berseragam putih-biru, aku mendengar Danu bercerita sambil melihatnya menyantap lumpia basah dengan lima cabai rawit itu, ya aku hanya melihat, kere. Mungkin sepele, tapi entah kenapa aku senang sekali mendengar seseorang bercerita, tentang apapun. Sampai akhirnya aku menyadari aku baru bisa jadi pendengar yang baik dalam dunia curhat.
   Semakin hari semakin banyak telinga ini mendengar kisah-kisah, waktu pun terus berjalan dan aku menyadari bahwa pada masa puber topik yang selalu dibahas antara duo sahabat didominasi oleh satu topik yang selalu tabu untuk dibahas kala itu, topik itu adalah cinta. Anak seusia peralihan dari anak bau kencur menuju dewasa pasti berlomba-lomba untuk memberi solusi terbaik yang ia yakini ampuh untuk mengalahkan permasalahan seputar dunia cinta sekalipun dirinya tidak memiliki pengalaman di dunia cinta. “Yang penting memberi solusi!” tegas pikirannya. Yang uniknya lagi adalah penerima solusi akan masalah cintanya kebanyakan menerima solusi tersebut dan langsung menerapkannya. Misal dulu aku punya seorang teman bernama Afif, dia menyukai seorang gadis bernama Mawar yang berpredikat sebagai gadis tercantik di SMAku dulu. Kebetulan di hari ulang tahun Mawar, Afif gugup ingin memberi sesuatu yang special di ulang tahunnya yang ke-17 (yang kata orang-orang mah sweet seventeen). Aku dan temanku, Geding, yang tau bahwa Afif menyukai Mawar memberi sebuah ide gila untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya dari tengah lantai dasar sekolah dengan cara berteriak karena kelas Mawar berada di lantai tiga.
“Serius lo Man? Kalo nanti gua dikira orang freak gimana?” Dengan mata terbelalak, Afif bereaksi atas ide gilaku.
“Udeh sikat aja Fif, kapan lagi lo punya kesempatan kaya gini.” Kataku yakin, padahal konsekuensinya mengerikan. Bisa jadi Mawar ilfeel, lalu muntah, lalu masuk rumah sakit. Lebih naas jika diopname. Tapi sekali lagi solusi itu berlandaskan ketidaktahuan kita akan dunia cinta yang memang masih absurd untuk dijabarkan menjadi sebuah konklusi yang topcer bahkan sampai saat ini. Manusia sekaliber William Shakespeare pun yang semasa hidupnya mempelajari tentang wanita tidak bisa menemukan formulasi paling jitu mengenai cinta sampai akhir hayatnya. Apalagi aku dan Geding yang masih lucu dan lugu di dunia percintaan.
   Berlandaskan percaya akan keberhasilan yang dapat dikalkulasikan sekitar 0,83 persen, Afif menarik satu nafas panjang dan mengucapkan, “Oke, gua bakal ngelakuin ini.”
Gila.
    Dunia cinta memang kejam, sambil geleng-geleng ketawa tidak percaya aku langsung menyemangati Afif dan berharap solusi yang aku dan Geding beri dapat berhasil. Singkatnya Aku dan teman-temanku membuat skenario, Mawar pun berhasil dibuat menempati posisi yang telah ditentukan. Waktunya eksekusi,
“Mawar!” teriak Afif dari tengah sekolah.
   Aku yang sedang mengobrol berhadapan dengan Mawar menyadari bahwa, suara Afif terhalang oleh suara adzan zuhur. Suara Afif tidak terdengar oleh Mawar. Deg-degan pun menyeruak seantero sekolah yang menyaksikan Afif berkeringat gugup di tengah lantai dasar sekolah.
Gila.
   Bisa-bisa Afif yang masuk rumah sakit lalu diopname kalau begini kisahnya. Adzan telah selesai kali ini hanya improvisasi Afif yang bisa menyelamatkan hidupnya. Lalu teriakan itu muncul lagi dengan kerasnya,
“MAWAR!” seketika Mawar kaget dan langsung menolehkan pandangannya ke lantai dasar, sambil mengibaskan rambut panjangnya ia berkata kaget “Ya?”
Semua mata tertuju pada Afif, hening satu detik dua detik. Lalu dilanjutkan ucapan yang lantang,
“SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-17 YA!”
Gila.
   Ini baru laki, bukan cowo yang teriak “laki” pas minum air kuning rasa-rasa, ini baru laki sebenarnya! Mawar langsung menutup mulut dan hidungnya, menggunakan kaki... Maaf, saya ulangi. Mawar langsung menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya, shock, pasti. Dan ia langsung menitikan air mata, air mata bahagia. Satu sekolah bersorak akan kejadian itu dan kebahagiaan pun melingkupi dua insan ini, semuanya senang akan kejadian langka ini, kecuali pacarnya Mawar yang cemberut di lantai dua.
Gila.
   Solusi acak adut berhasil membuat momen yang tak terlupakan sepanjang hidup Afif, Mawar, maupun kita yang menyaksikan sejarah kala itu dan juga hidup pacarnya Mawar yang pasti berbekas sampai sekarang. Bekas sedih.

   Beranjak dengan pengalaman-pengalaman gila lainnya, keahlian memberi solusiku pun muncul dan semakin terasah. Seputar dunia cinta pun sudah jadi dinner setiap malam, hampir hatam. Semakin terbiasanya dengan keahlian ini aku pun mulai terbiasa menggunakan kata-kata dan analogi yang tepat kiranya untuk masalah teman-temanku. Sampai suatu malam aku menemukan di timeline media sosial LINE, adik kelasku terlihat galau luar biasa. Re-share akun-akun galau macam prestigeholic atau amazing video (yang harusnya share video tapi banyak galaunya), bikin puisi sendiri, sampai ganti nama profil di LINE menjadi abjad atau tanda baca (biar susah dicari, mungkin. Itu juga kalo ada yang nyariin). Komentarku? Akut. Aku pun langsung chat dia dan mendekatinya, berharap dia bisa menceritakan kisahnya dan aku bisa memberinya solusi untuk menenangkan hatinya. Pertanyaan-pertanyaan awal darinya? Mudah, masih masuk logika untuk menjawabnya. Sampai pada akhirnya muncul sebuah pertanyaan yang membuatku terdiam sejenak,
“Kenapa gua yang berjuang? Kenapa bukan dia?”
   Aku terhanyut dengan pertanyaannya, membuatku ingat betapa rumitnya dunia cinta. Cinta seringkali tidak bisa di selesaikan dengan logika. Mungkin itu kenapa ending dari cerita siti nurbaya atau romeo dan Juliet adalah bunuh diri, karena tidak ada yang bisa menebak arah dari cinta, terlalu absurd untuk diterka. Namun menimbulkan perasaan yang luar biasa, rasa yang selalu membuat kita menduga, rasa yang selalu membuat kita berharap, rasa yang selalu menimbulkan rasa bahagia ketika mendambanya. Seketika aku teringat pengalaman cintaku dulu, aku ingat memiliki kisah yang serupa, sayangnya berakhir sedih,
“Karena elo yang butuh, bukan dia.” Jawabku lirih.
Karena kita yang butuh itu kenapa kita yang berjuang,
Karena dia ga butuh itu kenapa dia ga berjuang. Simpel tapi menyakitkan.
   Seketika memori tentang pengalaman itu memenuhi kepalaku, itu kenyataannya. Beruntunglah manusia yang bertemu cinta ketika keduanya butuh cinta. Ketika hanya salah satunya saja yang butuh cinta? Sekali lagi tidak ada yang bisa menebak arahnya, bisa saja sukses bisa gagal. Tidak ingin terlarut dalam kenangan itu, diriku menegaskan “Itulah resiko curhat, kamu bisa mendengar banyak tapi tidak menutup kemungkinan kamu akan menjawab pertanyaan yang sesuai dengan pengalaman yang kamu alami.” Subjektif, begitulah cara manusia menjawab pertanyaan, sesuai dengan pengalaman penjawab. Tidak pernah ada solusi yang benar-benar tepat untuk cinta. Dan aku seketika teringat sesuatu, satu pantangan soal pengalaman cinta.
   Jawaban-jawaban ideal dari pemberi solusi cinta biasanya tidak berguna ketika orang tersebut menghadapi masalah cintanya sendiri. Pun aku, berkeahlian menasihati kehidupan cinta orang lain namun selalu tidak bisa menjawab permasalahan cintaku sendiri.
Miris.