Wednesday, August 25, 2021

God Spoke to Me Last Night

God spoke to me last night, while I was in a cafe in Jakarta. She said it's too crowded, one snap of her fingers we were suddenly elsewhere. Lots of water, lots of wind. View was nice but a bit grim. She was furious so I asked her, "what's wrong?". She said that, I went back in time. And it was the greatest crime of all

There I was, Sitting just a chair away from God. The All mother calling me a bat, a pest over a cup of coffee. The wind was howling, waters crackled around our feet. I looked at her in the eye, A moment of silence. I braced myself to ask her, "aren't we all time travelers? Visiting the past everyday to try shape the future? Isn't that human nature. One with your image ,Would you say that we are all cheaters? Wouldn't it also make you one? I am me, because I learn from the past. So you can't stop me. Not or nor any god.
I won't forget what I am.
I won't forget yesterday.

Even in the face of hell

It felt like days. We're still there After countless times of circular reasoning and tireless explanation of how all loving she is. Going through my ears as the wind began to shout stronger. "don't disrupt the balance. Forget the past, move on and I promise you to be loving". She tried to make a pact with me
But I can't, I can't forget the past.

When I remember my friends practicing bigotry
When I remember my family shutting me down for my religious opinion
When I remember Moslem friends telling me that I deserve hell as a Christian
When I remember Christian friends telling me that I deserve hell as an atheist
When I remember authorities telling me that I deserve jail for being myself
I won't forget what I am
I won't forget yesterday
Sometimes, I wanna hide

She slammed the table. God was talking to me, and she was angry. Thunder rings, heavy rain. I understood then. She created harmony. One made of silence. To visit the past is to learn from it. And learning is loud, A crime against harmony. But still, I'd rather be a convict than a mute.
'Cause in silence in hear people whispering '65
Skim one group, so they come out as heroes
In silence I hear hounds barking to reenact '98
Raping and killing Chinese when all they killed were Indonesians
She threw her arms toward me. Split seconds. I saw crimson clouds. Everything went black. Years of my life flashed in a blink. I remember things that never happened before
Countless tragedies, persecutions
Cathedral burned down, mobs rammed down
I opened my eyes. Saw my wrinkled hands .Illuminated by dim bonfire. Children all around me. Waiting for me to say something. God showed me myself in another world. In which I have failed. I know bad things happen when it's too late
Still, I won't forget who I am
I won't forget yesterday

In between the stories for the kids. The colours I see started fading. I was out, fell down headfirst. I opened my eyes. Back again in the middle of elsewhere. There she was, God almighty, standing upon me. She showed me possibilities, bad ones. I was mad, I stood up, Face to face. I asked her,
"Why would you let this happen?
Where were you whenever we need you?
Were they all your plan?
Am I your son?
Or did you adopt me?
Where do you hide the voices of your step-children?
Why do I need to constantly run from my own people?
Why do you let me suffer throughout the years?"
I took two steps closer, Told her my fixed price. I'll still go back and forth in time. Those things I saw, they must not happen.
Learn from the past
Learn from possible future
Learn that blood will never be the answer for any conflict
Learn that the only scapegoat is prejudice for people I don't understand
Learn that I don't need to understand everyone
Learn that it would be enough just respecting each other's shoes
Children need to remember that censorship doesn't solve
Friends need to remember that sugar coated message doesn't solve
Ghostfolks need to remember that it's okay to be one in a million
We need to remember that speaking up shouldn't have a price
I need to remember that I saw possible Multiverses in this fucked up world
No guns, no sword
No violent horde
No punishment for people who learn from the past
No mobs swearing to rape anyone who don't fast
No children restrained because differences and class
No religious sites burned down
No school of thoughts gunned down
No stepsons or favored daughters
Just humans
That's what I see and I'm sorry. If the state got me, put a lead in me
If God erased me, after I'm finished telling this story. Please pass this ona nd repeat after me
I won't forget who I am
I won't forget yesterday

I spoke a lot. Don't think know it was necessary. She shook her head. Let out a sigh. Suddenly the ground was shaking. Eyes blinded by light. Back in a cafe in Jakarta. I looked around and she wasn't there.
Amazed
Such magic
Applause
Curtain call
But wait, Whom did I talk to? Then again I was in a cafe in Jakarta. The music was loud. They were playing Kendrick. Doesn't fit the place's branding. But well, whatever. It was good. I should shut up and enjoy my latte. So either way it doesn't matter
If I spoke with myself
If I spoke with society
Or if
God spoke to me last night

-Baskara Putra, 2017, MULTIVERSES

Thursday, May 13, 2021

Tak Semua

Tak semua
Hidupmu
Tentangku

Pergilah jalan-jalan
Lihatlah
Rumah-rumah

Sampai siapa tahu
Kau ingin berumah tangga

Lalu aku
Yang kau ingat

-WTP, 2021

Sunday, February 21, 2021

Teater, Fitri, dan Rifia

Dulu banget, mungkin sekitar tahun 2013 gua lagi aktif-aktifnya ada di ekskul teater. Tahun itu kita cetak prestasi pertama sepanjang sejarah untuk sekolah kita lewat ekskul teater. Momen yang paling membahagiakan sampai ke momen yang paling sedih. Momen saat ekskul kami gagal wakilin jakarta untuk berlaga di kompetisi nasional karena kalah di babak final regional. Saat kalah itu gua sama anggota ekskul yang lain nangis bareng. Dan semenjak saat itu gua bikin janji sama diri gua sendiri, gua harus bisa dapet juara satu dalam kompetisi teater berikutnya.

Setelah jatuh bangun latihan, ikut kompetisi, akhirnya kepengurusan kami beregenerasi. Semua yang gua lewatin bener-bener pure of joy. Isinya ketawa-ketawa aja seaslinya, gaada definisi cape yang menguras emosi. Suatu hal yang bertarget malah ngejadiin gua punya kelompok pertemanan yang begitu erat. Bukan partner ekskul tapi persahabatan yang kuat banget. I never doubt to call this relationship a family.

Akhirnya gua lulus dari SMA dan lanjut kuliah yang ternyata kegiatannya sibuk mampus. Tapi disamping itu gua tetep balik untuk kumpul teater setiap ada kesempatan. Janji gua untuk jadiin teater juara satu masih kalah sama perasaan kangen pengen ketemu temen dan adik-adik di ekskul teater. Sampe tiba-tiba momen itu muncul, ketika gua melatih teater yang mau ikut lomba teater terbesar di Jakarta. Disitulah gua ketemu Fitri dan Rifia.

Secara dasar kita memang dekat karena teater. Kumpul teater membukakan pintu untuk diri kita masing-masing lebih mengenal satu sama lain. Mulai dari problem antar-generasi sampai kumpul untuk membahas apapun itu setiap sore sepulang sekolah. Fitri dan Rifia dalam banyak kesempatan sering ngobrol sama gua di dalam atau di luar teater. Mungkin karena memang cocok untuk bertukar pikiran jadi pun semakin terikat secara emosional.

Kala itu gua dateng untuk jadi pelatih teater, setiap sore seminggu sekali. Latihan dan ketawa-ketawa bareng semuanya. Merencanakan strategi untuk menangin pentas kali ini. Hari yang ditunggu juga udah tiba, hari kompetisi. Setiap pertunjukkan teater ekskul gua gua jarang banget nonton. Alasannya satu gua takut ganggu fokus adik-adik dan yang kedua gua takut apa yang ditampilin ekskul teater ga ada di level yang sama dengan ekspektasi gua.

Tapi akhirnya kita menang, gua nangis habis

Semua momen itu, teriakan, tangisan, tawa bahagia meledak. Dan reaksi pertama gua nangis, kejer. Pentas dimana Fitri dan Rifia jadi aktris utama dan juga tahun terakhirnya sebagai pemain aktif. Shout out buat Vivi Deva dkk yang juga terus nemenin perjalanan sedih bahagianya gelora (nama teater kita). 

Gabisa percaya momen semanis itu bisa dateng ke hidup gua, juara satu di lomba teater level tinggi. Even remember it still give me a goosebump back then. Feel unreal.

Spesialnya ekskul teater tetap dekat saat dan setelah hari itu. Kami selalu bertanya kabar setiap generasi, ketemu setiap tahun. Update kehidupan sekalipun koridornya udah beda. Pun gua Fitri dan Rifia, kita semakin deket dan selalu connected apapun keadaannya.

Fitri dan Rifia akhirnya lulus dari SMA. Fitri goes to europe dan Rifia masuk kuliah di salah satu universitas terbaik negeri. Like hell im a proud brother! Lucu sih ketika gua bilang gua kakak mereka karena di masa itu definisi hubungan adik kakak tuh diragukan. But we success jalanin ini. Terlebih secara emosional gua merasa sangat terikat dengan mereka berdua. I got angry when they hurts, they share their problems and i hear them. Hal itu terus berlangsung sampai hari ini.

Fitri orang yang idealis, full of dreams, full of thoughts tapi sangat mudah bosan dan kangen dengan suatu hal haha. Secara kebetulan juga kita berbagi tanggal kelahiran yang sama haha aneh emang cara kerja semesta bisa mempertemukan kita

Rifia orang yang sangat baik, sangat suka membantu orang siapapun dan kapapunpun itu, her mind is logic as hell but also have a feeling as soft as feather. One of the strongest woman i ever met too

Im well aware of perpisahan. Kita ga akan misah sih haha gua yakin itu, cuma gaakan sedeket saat kita ada di satu lingkungan kaya dulu. Dan itu adalah hal yang wajar. Masing-masing dari kita sudah dewasa dan punya jalan masa depan masing-masing yang menanti kita. And when i started to write my feelings down here, i realized how much i love them both. Bahkan Fitri dan Rifia ada di puncak teratas di porsi rasa sayang gua saat ini haha it sound ridiculous but its real.

Just when the time comes, when we rarely sending messages to each other. I forever grateful to have you both in my life. Since its a long text to read, i will recognize it as a love letter to you both. Have a good life, Fitri dan Rifia

Thursday, October 22, 2020

Kita yang Memang Ditakdirkan Untuk Selalu Menunggu Satu Sama Lain

"Jawabannya Hanung Bramantyo persis tuh sama yang ada di kepala gua" katamu pamer

"ah masa si?" kataku meragukannmu yang sedari tadi di workshop film Hanung Bramantyo hanya diam saja duduk di sebelahku. Atau kamu memperhatikanku selalu? Aku benar-benar fokus dan tidak menyadari sekitar ketika idolaku berbicara di depanku

"Iyalah, orang yang mau bikin film tuh tujuannya emang pengen ngomong, bicara. Sesimpel itu, elo malah bilang passion, sok ngide" katamu meledekku yang ketika aku bertanya diantara tamu yang datang sudah bergetar. Aku juga merasakan suaraku bergetar di depan mic. Wajar dong! Hanung Bramantyo memusatkan perhatiannya ke arahku tau!

Di pedestrian epicentrum kuningan kita berjalan berdampingan diiringi langit yang kian menjingga. Kita bercerita hal yang terjadi, semakin mengenal satu sama lain. Kerumitan bahasan yang tidak terurai di kepala kita adalah hal yang masing-masing selalu kita jaga. Aku dan kamu selalu mempunyai hal yang ingin kita ungkapkan, tapi selalu kita urungkan untuk membicarakannya. Kekikukan selalu menunggu satu sama lain adalah definisi hubungan kita yang sebenarnya.

Baterai handphoneku sudah berkedip, pertanda buruk. Aku mengabari ibuku bahwa aku akan pulang malam dan aku mengabari temanku di pasar santa bahwa aku akan segera kesana.

"batre lo tinggal berapa persen?" kataku

"masih banyak nih, kenapa emang?" katamu cepat, kamu memang suka berbicara dengan cepat

"buka gmaps dong, navigasiin ke pasar santa"

"oke" katamu langsung membuka handphonenya dan membuka waze

"jangan nyasar ya" kataku menggodanya

"gapercaya banget sih lo!"

Kita sampai di pasar santa sudah gelap, mungkin sekitar jam 7 kurang. Aku memarkir motor di bagian luar kawasan karena ternyata memang sepenuh itu. Mobil dan motor yang terpakir sudah masuk kategori super ramai, seperti kafe hits di tengah kota. Kita berjalan masuk, ini kunjungan pertamanya juga ternyata ke pasar santa. Kita bergerak ke lantai dua dan menyaksikan bahwa, ini beneran pasar. Haha maksutku untuk tempat nongkrong "anak muda" dengan pakaian yang rapi di pasar merupakan konsep yang sangat unik. Pasar yang disulap menjadi tempat nongkrong yang luar biasa.

Sambil terkagum menimati konsep dari lantai 2 aku menemukan dirinya menatap mengintip ke arahku. Tentu saja dia langsung menunduk ketika mataku menyambar matanya

"apaansih! Udah maju maju" katanya sambil mendorong punggungku untuk bergerak. Dia adalah perempuan yang pipinya akan merona ketika sedang malu, lucu sekali. Karena handphoneku mati aku benar-benar tidak tahu harus bergerak kemana. Aku hanya berjalan menikmati suasana di lantai dua pasar santa. Tangan kanannya memegang jaketku erat dari belakang mengikuti langkahku berjalan. Momen yang jarang sekali terjadi dalam hidupku, apalagi antara kita. Ini adalah jalan-jalan pertama kita berdua

Aku berhenti di salah satu booth instalasi seni, tepat seperti poster acara yang kulihat di instagram. "KALIGRAFINA DAN BELMEN PRESENT: GOMBALAN UNTUK MALA". Dan benar saja aku melihat teman yang ingin kutemui disitu, guru hidupku yang sedang menekuni typografi. Aku segera melangkah ke arahnya, tanganmu melepaskan jaketku seketika. Hari itu komunitas temanku sedang mengadakan pameran sekaligus sesi sharing dan workshop singkat tentang typografi.

Kamu menyembul dari punggungku, dan aku perkenalkan kepada temanku.

"oh temen lu Man, pacar? Bukan?" kata temanku menggoda. Aku menjawabnya ngalor ngidul berputar-putar tidak jelas. Tapi jelas, kami tidak berpacaran, hanya teman.

Setelah berbincang cukup panjang, aku melihat-lihat instalasi seni yang dipamerkan disana. Sampai aku sadar  ternyata kamu masih bersama temanku membicarakan typografi. Beberapa waktu berlalu, dan sekarang giliran komunitas temanku mengerubungimu. Kamu menyedot perhatian pameran dengan sikapmu yang sangat mencairkan suasana.

Kamu memang seperti itu, sebuah galaksi yang memiliki daya tarik yang sangat kuat. Semua orang menyukai dirimu dengan cepat. Termasuk aku.

Dengan sesekali melihat ke arahku, aku menjawab dengan isyarat, "enjoy your time!". Kamu tersenyum dan menggali dunia typografi bersama komunitas temanku. Kamu meminta temanku menuliskan tinta typografi di tangan kananmu, semua orang yang kaget lalu mengiyakan. diantara semua hal yang bisa ditulis, kamu memilih untuk menuliskan tanggal 11 Maret 2014. Kamu bahagia sekali.

Tak sampai disitu, semua orang menjadi mengikutimu. Mengukir typografi di lengannya. Sampai pada titik ini, kamu memang spesial.

"eh sebelum kita pulang kita foto dulu" katamu saat aku berpamitan dengan temanku

"oh ayo" kamu seketika mengeluarkan polaroid yang aku tidak tahu kalau kamu membawanya. Kamu melihat orang-orang yang berlalu lalang untuk meminta bantuan dan akhirnya tertuju kepada satu perempuan yang juga sedang datang ke pameran ini

"aduh kok feeling gua hasil fotonya jelek ya" katamu melihat gelagat orang yang kamu minta tolong untuk memfoto kita

"hush sembarangan"

Kamu berdiri di sebelah kananku, bahu kita bersentuhan dan menjauh secara perlahan. Canggung dan kasmaran yang muncul secara bersamaan. Kita berdua pasti malu setengah mampus. Tapi kita tetap bergaya di depan kamera. Bahu kita membentuk garis tegas tanpa celah dan kilatan polaroidmu memancar. Memori hari itu abadi sampai kapanpun dalam sebuah foto.

Ya dalam sebuah foto,

Foto pertama kita berdua dalam satu bingkai

...

Ah iya satu lagi,

Benar saja fotonya jelek

Dan kamu meminta untuk mengulangnya sekali lagi.

Sunday, September 6, 2020

Maaf, Aku Tak Bisa Mengingat Semuanya. Setidaknya Aku Sudah Berusaha! Ahaha

Kembali ke masa kuliah saat itu, 15 Februari 2015, hari minggu. Aku dan kamu pergi ke sebuah acara musik di museum satriamandala. Kebetulan kamu lagi di Jakarta. Kala itu memang sedang musim liburan kuliah, tapi kampusku tidak, sial. Namun mengingat ini adalah ajakanmu, aku benar-benar ingin mewujudkannya. 

Kita liat line-up gigsnya. Agrikulture, The Adams, Float, Sore, Pandai Besi, Payung Teduh, Tulus. Line up mega bintang yang diidam-idamkan skena penikmat musik Indonesia. Aku mendengarkan semuanya dan menyukainya sekarang, tapi pada masa itu aku hanya mengenal payung teduh dan tulus, jaringan musikku memang babak belur kala itu. Yang kuingat hanya bermodal musik di hp samsungku yang memorinya hanya sebesar 512 mb dan sudah penuh dengan data aplikasi, benar-benar tidak ada harapan untuk menjelajahi dunia musik

Aku menjemputmu di rafles (kalau tidak salah) kamu turun dari angkutan umum dan aku menunggumu di atas motorku, aku tidak bisa menahan senyumku ketika kita bertemu. Mengingatnya sekarang juga menimbulkan butterfly effect di perutku. 

Kita berencana kesana menggunakan motor, honda beatku jelas. Percayalah, tahun 2015 motorku masih layak untuk dinaiki dua orang. Kalau dibandingkan dengan sekarang, rasanya akan lebih efektif jika kita pergi naik angkutan umum. Penyebab utamanya adalah kita berdua tidak tahu jalan haha lucu sekali kalau dipikir-pikir. Kala itu aku memang jarang sekali main ke Jakarta, padahal rumahku berada di pinggir Jakarta.

Aku tidak ingat helm apa yang kamu gunakan, sepertinya kamu membawanya dari rumah. Sore itu kita berangkat dengan banyak sekali cerita, kamu bercerita tentang kehidupan kuliahmu disana. Seperti biasa, aku terus memancingmu bercerita karena sangat menyenangkan bisa mengetahui kabarmu sampai ke titik dimana kamu akan marah karena aku terus membiarkanmu bercerita.

Aku lupa apakah kita pergi ke gultik pada hari yang sama atau tidak, tapi mari kita gabungkan saja ahaha maafkan, aku berusaha mengingatnya yang terbaik. Kami makan di Gultik di blok M. Pun benar kita ke blok M pada hari yang sama, aku lupa kita makan setelah atau sebelum acara haha

Itu kunjungan pertama kita kesana berdua, yang aku ingat kamu belum pernah kesana kala itu, iya kan? Dan kamu bilang gultik enak ahaha yash memang enak, dan aku menambah porsi kedua. Gultik blok M memang tidak pernah kehabisan pengunjung.

Kita sampai di museum satriamandala sudah malam. Dan lagi, aku baru pertama kali kesini. Kamu mengingatkanku kalau ini event yang disponsori oleh perusahaan rokok yang mengharuskan kamu berusia 17+ dan menanyakanku apakah aku membawa KTP atau tidak. Beruntung, aku membawanya. Sepanjang yang kuingat, sebelum ini kita belum pernah menonton konser berdua. Jadi kuanggap ini pertama kalinya untuk kita.

Begitu masuk aku melihat ada instalasi seni yang diset oleh "Kelas Pagi", aku kaget setengah mampus. Aku memiliki seorang teman dari Kelas Pagi yang kuharap juga ia hadir malam itu. Dan tak disangka, kamu juga bertemu temanmu dari tempat kuliahmu. Rasanya dunia memang sangat sempit. Sesampainya di venue, habis magrib, bandnya sedang isoma. Kamu memutuskan untuk mencari jajan.

Tempat ini sangat penuh, seperti panggung utama jakcloth. Terlebih saat semua sedang jajan di booth makanan. Karena tak bisa bergerak banyak, kamu memintaku untuk menunggu. Aku melihat sekeliling mencari dimana kelas pagi membuka boothnya. Oh ya aku lupa menjelaskan kelas pagi, kelas pagi adalah sebuah kelas fotografi yang dimiliki oleh Anton Ismael. Siapa Anton Ismael? Google lebih terpercaya untuk menjelaskannya. Yang kutahu beliau sangat besar di skena fotografi Indonesia

Lalu kamu datang, membawakan sosis bakar dan kentang dan membagi dua untukku juga. Tujuan utamamu kala itu adalah menonton float dan tulus, seingatku. Dan performance selanjutnya adalah pandai besi, aku benar-benar tidak tahu band apa itu kala itu. Kalau dulu aku sudah tahu pandai besi itu band apa, serius, aku akan super fokus menontonnya dari awal sampai akhir.

Selagi pandai besi perform, aku dan kamu berkeliling. Melihat-lihat instalasi seni yang dipamerkan di event ini. Dan begitu melihat booth kelas pagi, aku langsung mengajak kamu kesana. Bukan instalasi seninya yang aku cari, tapi temanku. Dan benar saja, dia ada. Temanku yang satu ini adalah guru besarku perihal hidup. Dan bertemu dengan dia tanpa janjian di sebuah tempat benar-benar hal menarik untukku

Kamu berkenalan dengan temanku, dengan senyum yang tenang, secukupnya ketika berkenalan dengan orang baru. Obrolan kami tidak lama, kita berpisah sambil menunggu band selanjutnya tampil. Kita bercerita kembali soal hidup beserta tantangannya yang kita hadapi, terpaut jarak dan waktu memang menjadikan cerita kita sangat kaya. Tak terasa band selanjutnya yang akan tampil adalah float.

Selagi mereka bersiap, kamu sudah berdiri semangat. Menarikku untuk mendekati panggung, mencari posisi terbaik untuk mendengarkan dan menonton mereka. Sekali lagi, aku tak tahu float ini band apa. Tapi aku sangat senang menemanimu semangat menanti hal yang kamu suka. Dan benar saja, persiapan mereka super lama, kamu mulai pegal dan berjongkok di tengah kerumunan orang, aku juga, kita bergantian.

Akhirnya float muncul di panggung, kamu histeris. Sayangnya beberapa saat kemudian kamu mengeluh kesal karena orang di depanmu lebih tinggi dari kamu sampai-sampai pandanganmu ke panggung sangat terhalang. Sempat terpikir untuk menggendongmu, tapi maaf aku tak sekuat itu.

Kita akhirnya mundur beberapa langkah agar kamu bisa melihat float tampil. Dan di hari itulah aku menyadari bahwa single mereka adalah lagu yang biasa kudengar di prambors ketika SMA. Lagu itu berjudul sementara

Kamu bernyanyi mengikuti, aku berdiri di sebelahmu juga berusaha ikut bernyanyi, sekalipun hanya berguman mengulangi nada yang kemungkinan berulang. Tapi aku benar-benar menikmatinya, setelah hari itu aku pun mendapat banyak influens musik darimu. Dimulai dari kita bersama-sama nonton maliq & d'essentials dulu di pensi SMA 48 sampai nanti kamu mengenalkanku pada banda neira dan dialog dini hari. 

Malam itu cerah, sekalipun entah kenapa tanahnya basah dan membuat sepatu kita kotor. Tapi kita tertawa dan berbahagia sekali kala itu, menurut pandanganku begitu haha

Float selesai, dan pamit. Penampilan puncaknya sudah ingin naik panggung. Tulus yang kamu tunggu, yang ternyata juga berkolaborasi dengan Sore. Kala itu, aku tidak mengenal sore. Sekali lagi, seandainya aku sudah mengenal sore sejak lama, aku akan fokus bernyanyi bersama mereka dan memaksamu untuk bernyanyi juga haha

Tapi waktu sudah terlalu malam, seingatku rundownnya molor sejam. Kamu ditelfon ibumu diminta untuk pulang. Acara ini memang ngaret setengah mampus. Selagi berdiri di sebelahku, kamu bilang ke ibu kalau kamu akan segera pulang dan diantar olehku sampai rumah. Momen bertemu ibumu memang salah satu hal yang bisa membuatku deg-degan melebihi dengan bertemu kamu. Tapi lega rasanya mendengarmu berbicara tentang aku kepada ibumu, entah kenapa

Telfonnya kamu tutup, dan wajahmu tidak bisa menyembunyikan kekecewaan bahwa kamu tidak bisa menonton tulus sampai habis haha namun kamu memutuskan untuk menonton satu lagu dari tulus dan aku mengiyakan. 

Tulus akhirnya naik panggung, kamu histeris. Aku tidak ingat lagu apa yang dibawakannya kala itu tapi ketika mendekati penghujung hari, waktu terasa begitu cepat berlalu dan kita pulang, sementara kamu harus mengikhlaskan pengalaman konser yang satu ini. Semoga nanti akan banyak konser lagi yang bisa kamu nikmati sampai habis

Perjalanan dari museum satriamandala ke rumahmu memakan waktu yang cukup lama. Jakarta dikala minggu malam memang tak pernah sepi. Lama kita bicara, lama kita menikmati malam ibu kota. Seperti kita biasanya.

Kamu sedikit khawatir, karena memang kita sampai rumahmu terlalu malam. Kita sampai di depan rumahmu dan kamu memintaku untuk sebentar menunggu, kamu ingin memanggil ibumu. Kamu menghilang ke balik pintu, aku merapikan penampilanku setiap detik yang berlalu. 

Ibumu keluar, diikuti olehmu dari belakang. Aku sudah berdiri siap di depan pagar rumahmu, sekalipun aku tidak tahu harus bicara dan menjelaskan apa

Ibumu menyapaku lembut, aku raih tangannya dan salim sekaligus menanyakan kabar ibumu. Ibumu juga menanyakan kabar ibuku, dan kujawab ibuku dalam keadaan yang super baik. Aku minta maaf kepada ibumu karena membawamu pulang selarut hari itu. Ibumu bilang tidak apa sambil tertawa ramah. Pun nanti aku nanti jadi orang tua, aku juga pasti khawatir jika anakku kelak pulang larut malam.

Obrolan singkat kami, ku tutup dengan pamit kepada ibumu yang akhirnya masuk ke rumah duluan. Tinggal aku dan kamu di depan rumahmu, bicara singkat, entah membahas apa namun penuh senyum dan kalimat kalimat yang tidak tersampaikan. Akulah yang paling berterima kasih atas hari itu, hari hari sebelumnya, dan hari hari setelahnya. Karena kamu selalu menggapaiku setiap saat

Jeda panjang yang terjadi membuatku menyudahi hari itu dengan pamit. Aku menyalakan motorku, kamu bilang, "hati-hati di jalan". Aku tak bisa menahan senyumku, aku bilang iya sambil merusak rambutmu

"kalau udah sampe di rumah kabarin!" lanjutmu gemas. Kutarik knop gas dan melaju sambil melambaikan tangan ke arahmu yang menjauh. Di jalan lurus itu, sebelum aku berbelok, kamu belum masuk rumah sampai kita tidak dapat melihat kembali satu sama lain. Sama seperti sebelumnya, dan sebelumnya lagi 

Ah iya,
Selamat tanggal 7 bulan 9, yang ke-9.

Sunday, July 19, 2020

Things You Dont See in This Pandemic

I have a colleague that covered in sorrow at this time, one of their family's member died because covid-19
Like damn man, i really can't talk a lot about this
Im broken too when i see my friend struggling so hard because of this truth 
Im tearing, cant hold my cry for a while

This is real, the virus is surrounding us
Please i beg you all
Stay safe, until we meet again
Im not ready to losing anyone now

Sunday, July 12, 2020

Mari Kita Berbicara Tentang Anime Romance

Mari kita berbicara tentang anime romance. Gua ga begitu inget apa anime romance yang gua tonton pertama kali. Tapi gua inget beberapa yang terbaik, atau lebih tepatnya berkesan buat gua  pribadi. Sebelum masuk ke judulnya sepertinya gua rasa ada beberapa hal yang harus dibahas tentang anime dan romance. 

Kombinasi anime dan romance itu entah kenapa banyak adegan fan servicenya, kaya adegan-adegan yang menjurus gitu. Sebut aja di your name pun ada. Mungkin karena mayoritas yang nonton laki-laki sih ya, atau ada ga sih perempuan yang suka nonton anime romance juga? 

Anime romance bener-bener combo yang selalu bikin gua terkagum kagum. Dibanding film dengan aktor dan aktris yang real, anime di mata gua bener2 bisa ngeeksplor hal-hal yang luas. Drama korea atau drama thailand juga bagus, tapi gatau kenapa gua suka lebih suka sama anime romance. Disamping itu anime romance favorite gua kebanyakan ceritanya realistis, saking realistisnya gua banyak ngeliat bentuk kehidupan yang belom gua sadarin secara langsung 

Gua ga begitu banyak nonton anime, karena sekarang gua punya banyak waktu kosong jadinya gua punya kesempatan eksplor film, anime, novel, ataupun manga. Dan dari semua yang gua tonton (dan gua inget), ini anime romance favorit yang mau gua bagi. 

1. Your Name
Gua nonton ini ketika lagi ngerjain Tugas Akhir kuliah. Di sela-sela kejenuhan revisi, gua sempetin nonton ini di laptop karena waktu itu booming banget di sosial media. Dan hasilnya luar biasa. Bercerita tentang laki laki yang secara random bertukar raga dengan perempuan yang dalam perjalanannya ada sebuah meteor yang akan ngehantam kota perempuannya, kurang menarik ya kalo bacanya dari penjelasan gua haha. Ini jelas berhubungan dengan kepercayaan dan spiritual tapi gua suka banget dengan konflik yang ngalir dan alur cerita maju. Worth to try. Selain itu pembuat film ini, Makoto Shinkai, juga ngebuat beberapa film selain ini salah satu yang berkesan juga adalah 5 cm per second. Animasinya dijamin top

2. Kimi ni todoke 
Gua cukup selektif dalam milih anime, terutama dari gambarnya. Gua gabegitu suka anime dengan gambar yang aneh (entah gimana jelasinnya). Pas gua brosing brosing nyari anime romance ketemulah sebuah list rekomendasi dan merujuk ke kimi ni todoke, kalau gasalah artinya menggapaimu. Ceritanya tentang siswi SMA namanya Sawako, kebetulan perawakannya mirip Sadako hantu jepang itu. Gadis yang gloomy baik dan jujur, dia selalu berusaha buat berteman tapi semuanya takut karena kemiripannya dengan Sadako. Masa masa SMAnya bertujuan untuk nyari temen sampai sampai dia bertemu dengan orang orang yang ngebuat dia ngerasain hal hal baru di SMA. Anime romance series favorit gua karena ceritanya super realistis dan heart warming. One of the best from its genre! 

3. Silent Voice
Ini movie yang temanya unik dan beda banget. Tentang laki laki SMA penyendiri yang hidupnya selalu dikelilingin sama omongan orang yang gamau dia denger. Suatu saat kelasnya kedatangan siswi baru yang ternyata tidak bisa mendengar (tuna rungu). Respon kelasnya ga welcome cenderuny membully dia. Seiring ceritanya tokoh laki laki ini coba berteman dengan perempuan ini dan membuka fakta dan pemikiran pemikiran yang beda dalam bersahabat dan mengenal cinta. Cielah, asli bagus. Kalo liat IMDB ratingnya bersaing dengan Your Name. Salah satu yang terkenang selalu

4. Oregairu 
Kemarin lagi liat liat anoboy (situs nonton anime gitu) mau nonton Sword Art Online season paling barunya. Eh ga sengaja liat sebuah judul yang lucu, namanya oregairu dan animenya dibuat sampe season 3. Gua pikir wah keren juga nih anime romance dapet serial dengan season panjang. Ceritanya diluar dugaan. Sekalipun fan servicenya lumayan banyak tapi ceritanya luar biasa bagus. Berangkat dari Light Novel, anime ini bergenre Romance Comedy. Ga cukup banyak anime romance comedy yang gua inget tapi yang ini bagus banget. Ceritanya tentang siswa laki laki penyendiri karena pengalaman pengalaman buruknya dalam bersosialisasi ngebawa dia ke bentuk pemikiran simpel efisien dan efektif, terlepas baik atau buruk. Karena kelewat soliter dia diminta gurunya untuk gabung ke ekskul relawan. Ekskul relawan? Ini bener bener baru pertama gua denger. Di ekskul itu punya satu anggota yang ngerangkap jadi ketua, seorang siswi. Klub relawan inilah yang jadi titik sentral kehidupan SMA mereka berkembang. Bagus banget, pemikiran ga terduga, dan plot yang ga kepikiran. Must watch! 

Anime emang nyuguhin sensasi yang beda ketimbang novel atau manga. Ada sensasi menikmati suasana yang bisa diamplify berkali kali lipat. Seperti orang yang suka nonton drama korea, nonton anime bisa melepas stres yang ada. Buat gua anime romance terbaik! Let me know if there's something in your mind after you read my post, tetap sehat tetap semangat untuk menuju kehidupan yang jauh luar biasa! Ciao