Sunday, July 19, 2020

Things You Dont See in This Pandemic

I have a colleague that covered in sorrow at this time, one of their family's member died because covid-19
Like damn man, i really can't talk a lot about this
Im broken too when i see my friend struggling so hard because of this truth 
Im tearing, cant hold my cry for a while

This is real, the virus is surrounding us
Please i beg you all
Stay safe, until we meet again
Im not ready to losing anyone now

Sunday, July 12, 2020

Mari Kita Berbicara Tentang Anime Romance

Mari kita berbicara tentang anime romance. Gua ga begitu inget apa anime romance yang gua tonton pertama kali. Tapi gua inget beberapa yang terbaik, atau lebih tepatnya berkesan buat gua  pribadi. Sebelum masuk ke judulnya sepertinya gua rasa ada beberapa hal yang harus dibahas tentang anime dan romance. 

Kombinasi anime dan romance itu entah kenapa banyak adegan fan servicenya, kaya adegan-adegan yang menjurus gitu. Sebut aja di your name pun ada. Mungkin karena mayoritas yang nonton laki-laki sih ya, atau ada ga sih perempuan yang suka nonton anime romance juga? 

Anime romance bener-bener combo yang selalu bikin gua terkagum kagum. Dibanding film dengan aktor dan aktris yang real, anime di mata gua bener2 bisa ngeeksplor hal-hal yang luas. Drama korea atau drama thailand juga bagus, tapi gatau kenapa gua suka lebih suka sama anime romance. Disamping itu anime romance favorite gua kebanyakan ceritanya realistis, saking realistisnya gua banyak ngeliat bentuk kehidupan yang belom gua sadarin secara langsung 

Gua ga begitu banyak nonton anime, karena sekarang gua punya banyak waktu kosong jadinya gua punya kesempatan eksplor film, anime, novel, ataupun manga. Dan dari semua yang gua tonton (dan gua inget), ini anime romance favorit yang mau gua bagi. 

1. Your Name
Gua nonton ini ketika lagi ngerjain Tugas Akhir kuliah. Di sela-sela kejenuhan revisi, gua sempetin nonton ini di laptop karena waktu itu booming banget di sosial media. Dan hasilnya luar biasa. Bercerita tentang laki laki yang secara random bertukar raga dengan perempuan yang dalam perjalanannya ada sebuah meteor yang akan ngehantam kota perempuannya, kurang menarik ya kalo bacanya dari penjelasan gua haha. Ini jelas berhubungan dengan kepercayaan dan spiritual tapi gua suka banget dengan konflik yang ngalir dan alur cerita maju. Worth to try. Selain itu pembuat film ini, Makoto Shinkai, juga ngebuat beberapa film selain ini salah satu yang berkesan juga adalah 5 cm per second. Animasinya dijamin top

2. Kimi ni todoke 
Gua cukup selektif dalam milih anime, terutama dari gambarnya. Gua gabegitu suka anime dengan gambar yang aneh (entah gimana jelasinnya). Pas gua brosing brosing nyari anime romance ketemulah sebuah list rekomendasi dan merujuk ke kimi ni todoke, kalau gasalah artinya menggapaimu. Ceritanya tentang siswi SMA namanya Sawako, kebetulan perawakannya mirip Sadako hantu jepang itu. Gadis yang gloomy baik dan jujur, dia selalu berusaha buat berteman tapi semuanya takut karena kemiripannya dengan Sadako. Masa masa SMAnya bertujuan untuk nyari temen sampai sampai dia bertemu dengan orang orang yang ngebuat dia ngerasain hal hal baru di SMA. Anime romance series favorit gua karena ceritanya super realistis dan heart warming. One of the best from its genre! 

3. Silent Voice
Ini movie yang temanya unik dan beda banget. Tentang laki laki SMA penyendiri yang hidupnya selalu dikelilingin sama omongan orang yang gamau dia denger. Suatu saat kelasnya kedatangan siswi baru yang ternyata tidak bisa mendengar (tuna rungu). Respon kelasnya ga welcome cenderuny membully dia. Seiring ceritanya tokoh laki laki ini coba berteman dengan perempuan ini dan membuka fakta dan pemikiran pemikiran yang beda dalam bersahabat dan mengenal cinta. Cielah, asli bagus. Kalo liat IMDB ratingnya bersaing dengan Your Name. Salah satu yang terkenang selalu

4. Oregairu 
Kemarin lagi liat liat anoboy (situs nonton anime gitu) mau nonton Sword Art Online season paling barunya. Eh ga sengaja liat sebuah judul yang lucu, namanya oregairu dan animenya dibuat sampe season 3. Gua pikir wah keren juga nih anime romance dapet serial dengan season panjang. Ceritanya diluar dugaan. Sekalipun fan servicenya lumayan banyak tapi ceritanya luar biasa bagus. Berangkat dari Light Novel, anime ini bergenre Romance Comedy. Ga cukup banyak anime romance comedy yang gua inget tapi yang ini bagus banget. Ceritanya tentang siswa laki laki penyendiri karena pengalaman pengalaman buruknya dalam bersosialisasi ngebawa dia ke bentuk pemikiran simpel efisien dan efektif, terlepas baik atau buruk. Karena kelewat soliter dia diminta gurunya untuk gabung ke ekskul relawan. Ekskul relawan? Ini bener bener baru pertama gua denger. Di ekskul itu punya satu anggota yang ngerangkap jadi ketua, seorang siswi. Klub relawan inilah yang jadi titik sentral kehidupan SMA mereka berkembang. Bagus banget, pemikiran ga terduga, dan plot yang ga kepikiran. Must watch! 

Anime emang nyuguhin sensasi yang beda ketimbang novel atau manga. Ada sensasi menikmati suasana yang bisa diamplify berkali kali lipat. Seperti orang yang suka nonton drama korea, nonton anime bisa melepas stres yang ada. Buat gua anime romance terbaik! Let me know if there's something in your mind after you read my post, tetap sehat tetap semangat untuk menuju kehidupan yang jauh luar biasa! Ciao

Sunday, June 28, 2020

Kita yang Memang Ditakdirkan untuk Selalu Bertengkar

Aku rasa kita semua pernah terlambat dalam hal mengutarakan perasaan kita kepada orang yang kita suka, ya kan? Punyaku berlabuh kala itu, keterlambatan yang sepenuhnya pernah kusesali tapi ingatan itu lekang sampai saat ini, sepertinya akan abadi sampai entah kapan. Karena dari dirinya aku belajar banyak hal. 

Perempuan yang satu ini sangat unik. Sangat baik, sangat jujur, tapi jalan pikirannya sangat rumit, tak ayal banyak laki-laki yang dibuatnya tetarik tapi ia selalu berhasil menempatkan semua laki-laki di posisi yang sama, sebagai teman. Dalam kasusku, aku dan dia tidak pernah sejalan dalam hal pemikiran. Bahkan kita adalah teman yang selalu meributkan hal-hal yang tidak penting. Aku ingat saat pertama kali ia merasa canggung  berada di kelas (menurut observasiku sekalipun dia selalu menyangkal bahwa dirinya memang sekalem itu) dan malamnya ku kirim pesan singkat untuk tidak terlalu memikirkannya dan coba untuk menjalani hari dengan lepas. Hasilnya? Dia bilang tidak usah repot-repot memikirkannya haha sejak hari itu kita memang magnet dengan kutub yang sama, sama sama keras kepala. 

Ketika bertemu kita sangat jarang berbicara langsung, tapi semenjak saat itu, kita benar-benar mengalami kemajuan dalam pertemanan, walaupun selalu diakhiri dengan pertengkaran. Sampai, suatu hari aku bercerita tentang keinginanku untuk datang ke sebuah workshop film yang diisi oleh Hanung Bramantyo di daerah kuningan, dengan semangat dia bilang ingin ikut. Dia amat terobsesi dengan fotografi, tak pernah kuingat dirinya akan ketertarikannya dengan sinematografi atau olah peran, tapi dia tetap ingin ikut, entah apa alasannya. 

Dia yang dikagumi oleh banyak orang, yang selalu membuat pertengkaran denganku, yang selalu menanyai kabar tentangku tentang kesibukanku, yang selalu menungguku hingga dini hari untuk bisa berbicara denganku, terus terpikirkan dalam kepalaku. "oke kalo gitu, tapi malemnya gua juga harus ke pameran typographynya temen gua di pasar santa, lo kalo mau pul.." kataku menawarkannya untuk pulang duluan dipotong dengan, "gua juga ikut!". 

Aku tak pernah bisa menebak pikirannya, setiap kutebak kita selalu bertengkar. Dia adalah paradoks yang mungkin selama ini aku bawa bersama hidupku. Aku pernah bilang padanya bahwa setiap kudapati dirinya berpendapat dan bersikap, aku seperti bercermin terhadap diri sendiri, dan dia akan bilang, "ish mana mau gua disamain sama lo" dilanjut dengan tawa antara kita. 

Aku yakin akan perasaanku kepadanya, tapi bukannya dia memang baik kepada semua orang? Apakah aku harus peduli tentang apa perasaannya kepadaku? Atau memang kita seharusnya tetap seperti ini menjadi teman yang saling bertengkar dan memaafkan kembali? Entah apa tujuan dari mengulangi siklus ini. Hingga pertanyaan ini terus melonceng dalam kepalaku, kita tetap maju mencari jawaban atas siapa kita sebenarnya. 

Monday, June 22, 2020

Salad Days, My Alltime Favorite Manga

Mann why are people always go straight even though they already know they would be hurt? 
What is that for? 
Especially in the love story 

I just finished read a serial manga, again for countless times, the title is salad days. This books was extremely become my top manga of all time. Since it talking about romance at high schools scheme, i really really enjoyed it when first read it. Since i first time read it back in junior high schools, it almost impossible for me to buy a comic, like seriously i dont have any money to spend for my hobby haha but fortunate to me my sister always come home by bringing many comics. Say it naruto, detective conan, gals, imadoki and then salad days. I read all of them haha because it source of happiness for me, for sure. And it make no surprise that me is a melancholy-person because my sister is my influence when im growing up, she like romance manga very much! 

Talking about salad days, jeez ive recommend it to many of my friends, like a lot, but i dont know it seems like they never going to love it. My ex girlfriend once read it and call me pervert because she just finished reading a chapter that endings with woman naked body and since then she never read it again, as i know ahaha. The author of the manga is Shinobu Inokuma. When i search his track record as a mangaka, he already produces many serial manga and there are two title of the manga that makin he famous. The one is salad days and the other one is school of water business, the last one is an adult manga and it contains lot of adult content too, it make me no surprise that you can found in few chapter a drawing of naked woman. But trust me, thats not the main issue. That kind like of content only appears 1% of the entire books of salad days, but apparently the risky content itself appears in volume 2 and make people tend to not continue reading the books. And fyi when you read salad days that distributed by elex media co. the adult content is properly censored so it really safe to read it until the last chapter! At this point you should know that this post is to persuading you to read the manga hahaha

The manga itself ended at 18 volumes. Salad days really make forever impression for me. Every volume talks about love stories of different people, so you can imagine there are 18 volumes that contain many love stories. Since the author is a man so salad days is relatively talk about love stories from boys point of view. I really learn a lot from the manga, the problems that caused by a fight, a warm love stories, sad endings, and many more. 

And today i finished read it again, and now i feel sad. You must be relate when you finished rushing at good movie or good novel there's must be something that makin you feel sad for uncertain reason. Bah now i at that stage

But merely i got sad because why in my circle theres no one who read it too! Ahaha like really, i want to discuss it with anyone. Strangers too are welcome. Salad days are really good manga, it reminds us that the love feelings in the past. Just if you intrest to read the manga or you already read it either 1 volume or 2 volumes you better contact me, and we surely will discuss about it ahahaha hope someday there is a person who can i talk to discuss the entire greatly salad days

After all, thank you Shinobu Inokuma for all the stories. You are forever my heroes. 
Dont forget to forward my message to kamiyama yuuki and kawamura futaba too. Soon i will write my salad days that you already inspired to me. 
Ja ne! 

Sunday, April 26, 2020

Sekarang Kita Cerita Tentang Hari Itu

Kami berhenti di sebuah donat shop (saingannya coffee shop) setelah berkeliling mengitari mall baru itu di setiap 3 lantainya. Karena kerahasiaan informasi jadinya aku akan memberi tahu inisialnya saja dari donat shop tersebut, yaitu J.Co yang dimiliki oleh Johnny Andrean Group.
"disini aja yuk!" katanya. Aku yang melihatnya dimulai dengan melirik tak bisa menahan senyumku, "boleh" sahutku setelah jeda singkat. Biasanya dia memesan donat dan minuman yang aku lupa apa itu, ice coffee blend tebakanku. Aku memesan J.cool yang single, cocok dengan statusku yang juga single. 

Sambil menunggu pesanan kami siap, kita mengobrol dengan sangat cair, dia bercerita bagaimana hidupnya di kota tempatnya kuliah, aku seperti biasa akan mendengarkannya fokus sambil memancingnya untuk terus bercerita, senang sekali rasanya bisa mengetahui kabarnya sampai sedetail itu. 

Donat shop ini terletak di lantai dasar dan kala itu dihujani lembut oleh sinar sore matahari yang konstan. Lalu kami duduk berhadapan. "Apaaaa?" katanya menembak diriku yang daritadi masih melihatnya, "ahaha enggaa ada apa-apa" kataku. Lalu dia menggodaku dengan bilang, "Kenapa ini jadi ketemuan kita yang terakhir?" 

Butuh beberapa detik untuk mengalirkan listrik dari syarafku ke otak untuk bisa menjawab pertanyaan yang sudah kusiapkan dari semalam. Aku akan bahas itu, aku akan bahas itu, teguh pikiranku sebelum tidur. Sampai akhirnya hanya gumaman yang bisa keluar dari mulutku mencari keberanian itu datang. Yang terus disambar dengan pertanyaan dari dia, "Kenapa Kenapa Kenapaaa?!"menggodaku tersenyum. Sial, dia pasti menikmati respon kikuk-ku. 
"Ga apa-apa sih sebenernya, aku ngerasa ada yang perlu diceritain ke kamu pas dulu kita masih pacaran, ya biar selesai ajaa dan kita bisa ngejalanin hidup kita masing-masing." Raut wajahnya mengendur, terfokus mendebarkan, "kamu mau bahas apa?" katanya

Dengan segala gugup, aku memulainya dengan meminta maaf atas kesalahanku dan ketidakbecusanku pada hubungan kita dulu. Selama kami bersama, ada sebuah hal yang tidak pernah kuceritakan kepadanya yang berujung berkembang dan bercabang ke masalah-masalah sekunder sampai ke hal-hal remeh yang harusnya bisa selesai dengan dibicarakan, namun aku lari. Aku tahu dia tahu tanpa kuberitahupun, tapi saat itu itulah hal terjujur yang bisa aku sampaikan kepadanya, sebuah cerita yang hanya bisa kuungkap pada pertemuan terakhir kita.

Sambil terus mencari titik dimana mataku tidak bertemu matanya, diakhir kata, air mataku tak terbendung. Satu tetes yang ternyata membuat dia gelagapan dan mengambil tisu untukku, kita berdua tidak melihat hal itu akan datang. Sampai disitu aku tambah merasa bersalah, seandainya air mataku tidak meleleh, mungkin dia bisa mengajukan pertanyaan kepadaku terus sampai pertanyaannya yang selama ini tersimpan akan habis. 

"Ketawa dong! Kan udah setahun juga, udah lewat lamaa" katanya menguatkan, dia hebat sekali sangat hebat. Kejadian itu berlalu sangat singkat dan melesat cepat dan dilanjutkan oleh tawa kita lagi. 
Beruntung sekali pikirku, bisa menghabiskan waktu yang cukup lama bisa bertukar pikiran dengannya dan dewasa bersama. 

Obrolan sore itu menjelma menjadi hal yang sangat penting untuk kami, keterbukaan dan kejujuran membuat kita semakin saling mengerti satu sama lain sebagai manusia yang sedang belajar bersama. Pernah kudengar bahwa setiap orang yang dipertemukan dalam hidup kita memang sudah ditakdirkan, atas kenangan sedih atau senang, akulah yang paling berterima kasih atas kita berdua. 

Sinar matahari sudah terlihat tipis di batas jendela dan kita memutuskan untuk pulang. 
"Aku anter pulang ya, kan ini pertemuan terakhir kita." kataku memintanya mengiyakan tawaranku
"lho siapa bilang ini pertemuan terakhir kita? Kita ga pernah sepakat kok ini jadi yang terakhir." katanya cepat. Aku yang kaget mencoba mengingat kesepakatan yang aku ajukan, ternyata memang dia tidak pernah mengiyakan konsep pertemuan terakhir kita. Dia menang. 

Sesampainya di parkiran, aku menunjuk motorku dan meminta dia untuk ke motorku lebih dahulu. Sesampainya dia disana, dia mengambil sebuah bunga yang bertengger di helm yang kusiapkan untuknya. Bingung dan ia bertanya, "ini bunga buat siapa?" 
"Eh ga tau, kamu mau ga?"
Matanya bergantian melihatku dan bunga, lalu berkas senyumnya datang seketika. 
"Garing!" responnya salah tingkah, 
"Terima kasih ya" ucapan itu datang dan berlalu bersama salah satu senyum terbaik yang pernah kulihat selama hidupku. 

Sunday, March 15, 2020

Sebentar Lagi! Kita Akan Cerita Tentang Hari Itu

Sampai mana ceritanya? Ah beli bunga, aku benar-benar ingin membuat hari ini berkesan, sangat ingin. Di sebuah toko bunga yang ku pilih secara acak, aku membeli setangkai bunga mawar, tapi warnanya apa ya? 

Di tengah kebingunganku ibu penjual bunga datang menghampiriku, ramah sekali dan ia bertanya "Mau kasih bunga buat siapa?" katanya. Pertanyaan itu cukup mampu membuatku tercekat dan tidak bisa menjawab dengan cepat. Karena kita memang sudah bukan kekasih tapi enggan bilang hanya sekedar teman. 
"Eh buat teman bu hehe mau kasih selamat dia baru punya pacar" kataku menjawab dengan hati-hati. 
"Temen kok ngasih selamat pake bunga? Jangan-jangan kamu suka sama dia ya? Haha" sembari ikut tertawa aku benar-benar kehilangan kata untuk menjawabnya, kuceritakan dengan jujur pun rasanya tak apa karena kita tidak memang saling kenal. 
"Nih" Si ibu mengambil setangkai bunga mawar putih dan memberikannya padaku
"Tulus dan sayang"
"Dia pasti senang" Ibu penjual bunga ini sangat pintar membaca apa yang terjadi.  Dan dengan senyumnya yang cantik sekali, seketika aku sepakat dengan rekomendasinya, tulus dan sayang, rasanya sangat tepat. 
Aku pasti ingat tempat bunga ini dan keramahan ibu bersama aksen betawinya yang suka bercanda, memilih bunga tidak pernah semudah ini karena seperti jaminan si ibu, dia pasti suka
Aku beli, aku selipkan di ranselku, lalu pamit menuju tempat pertemuan kami

... 

Untuk seukuran mall, tempat ini besar dan elegan dibandingkan dengan mall lain di sekitarnya, aku yang belum terbiasa dengan tempat baru ini kikuk mencari tempat ia berada
Kukabarkan ia melalui sebuah pesan yang menandakan aku sudah sampai dan ia yang meminta maaf karena kaget aku sudah datang padahal dia masih agak lama di salonnya
"Ahaha ga apa-apa, aku sambil muter-muter dulu liat-liat"
"Maafinn :(" katanya merasa tidak enak 
Nyatanya, ketika kutemukan tempatnya di lantai paling atas, aku bersandar di pembatas kayu sambil melihat ke arah tempatnya, menunggunya tak terasa. Tak pernah aku segugup itu ketika bertemu dengannya, kecuali di hari dimana aku sedang kasmaran-kasmarannya saat sebelum menjadi pacarnya. 

Bagaimana aku menyapanya? 
Apakah penampilanku sudah tepat? 
Apa yang harus kubicarakan? 
20 menit kulalui berdiri dan terus memikirkan hal-hal yang harusnya tak perlu kupikirkan, kecuali baju putih yang terang ini! 
Lalu handphoneku bergetar, "Aku udah selesai nih, kamu dimana? Katanya 
Hatiku kembali tersentak, senang dan deg-degan mengetahui aku akan segera bertemu dia
" Kamu keluar aja, nanti juga keliatan"

Kutekan send, lalu kuturunkan ponselku ke bawah badan
Dan kulihat, seorang perempuan berdiri di depan sebuah store yang kebingungan mencari seseorang
Aku sangat menikmati momen itu, pikirku kubiarkan saja, kapan lagi aku bisa memandangnya selama ini nantinya
Setelah menunjukkan kegelisahannya ia menelfonku, kuangkat telfonnya dan bilang, "nih yang lagi dadah dadah, masa ga keliatan" merekah senyumku dilanjut tawa melihatnya
"Ish bukannya bilang daritadi" katanya gemas

Detik dimana ia berjalan kearahku berlalu sangat lambat, dengan senyumnya dan malu yang menyembul sembari ia memakai kacamatanya
Aku bersumpah, detik itu perasaanku tepat seperti aku pertama kali jatuh hati kepadanya
Merekah dan bahagia tiada dua

Aku lupa kata pertamaku kepadanya, atau bagaimana detailku menyapanya
Yang kuingat, kami masih tetap hangat, tertawa atas kekikukan masing-masing, mungkin sesaat kami juga tidak menganggap itu sebagai pertemuan terakhir kita. Dan benar saja ia meledekku dengan kalimat, "tumben pake baju putih" katanya sambil tertawa melihat ekspresiku
"rekomendasi mamah ini masa ditolak" sambungku menyambut tawanya

Dari lantai atas kami turun menggunakan eskalator, dengan posisi yang seperti biasa khas kami. Ia akan melangkah duluan, lalu aku mengikutinya sehingga aku akan berdiri satu tangga diatasnya
Ia akan berbicara menengadah keatas dan aku akan menunduk menanggapinya. Yang tidak kami lakukan hanya tangannya yang tidak melingkari tanganku. Ternyata kami sudah menjaga batas itu. 

Semuanya akan kami tutup hari itu. 
Atau tepatnya aku yang memaksa kita menutup buku kita. 
Kalau kamu bilang aku adalah laki-laki paling tegar di dunia, akan kuberitahu seberapa lemahnya aku sebenarnya. 

Tuesday, March 10, 2020

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Itu

Kala itu bulan September kalau ga salah, maklum ingatanku buruk, mungkin akan kuceritakan lain waktu mengapa ingatanku seperti itu. Bulan ini harusnya kami merayakan tahun kesekian perayaan hubungan kami bersama sebagai pasangan tapi ternyata hari itu adalah pertemuan terakhir yang kuusulkan kepadanya karena kami sudah berpisah sejak tahun lalu. Alasan dari terciptanya ide pertemuan terakhir ini adalah karena dia sudah punya pacar, emang ngide banget anaknya kan

Seingatku sekalipun kita sudah setahun berjalan sendiri-sendiri namun mengetahui orang yang paling ngerti kamu punya pasangan baru bukan saat yang mudah, ya kan? 
Rasanya sedih bukan kepalang, kepikiran, gabisa tidur, keringetan kaya habis main DDR di timezone cibubur junction

Ide ini muncul dan terucap dengan spontan setelah pesanku mendoakan dan menyelamati dia dengan hubungan barunya, pertemuan terakhir ini terealisasi walaupun dia tidak setuju dengan konsep ini, karena sebelum kita menjadi pasangan kita adalah sahabat baik dan ia berharap hubungan kita bisa terus baik. Dengan keras kepala aku yakinkan dia dan dia mengiyakan, mungkin karena ia tahu aku sedang kacau sekali pikirannya

Hari itu tiba, dengan semangat segera move on dan menutup buku aku bersiap-siap serapi mungkin, sekalipun bajuku daridulu sudah itu-itu saja, penampilan terbaik Riman Diantasena. Aku yang terkenal selalu berpakaian gelap, khusus hari itu aku diminta Mamah memakai baju putih yang dibelikan olehnya spesial untuk jalan-jalan, waw betapa insecurenya aku saat itu karena tak terbiasa menggunakan baju terang. Rasanya terlihat seperti kukang yang dipakaikan baju renang bersinar, sangat menarik perhatian dan terasa tidak benar. Tapi tak apa, saran orang tua tak pernah salah kan? 

Kita berencana bertemu di mall baru yang terletak antara rumahku dan dia. Sebagai laki-laki yang tulen dan pemberani kutawarkan untuk menjemputnya (padahal emang seneng aja jemput ke rumahnya) tapi kali ini dia menolak karena ingin ke salon dulu di mall tempat kita ketemuan, katanya takut aku nungguin jadi ketemuannya habis dia selesai nyalon aja, padahal nyalon berapa lama sih? Paling 15 menit kan (ga punya pengalaman nganter cewe ke salon) 

Rasanya gundah bukan kepalang, baju sudah rapi dan terang, rambut udah ngaca berkali-kali, jeans udah diseletingin, cocok deh pokoknya buat jadi cameo di video clip band underground, pengen cepet-cepet jalan! Tanpa pikir panjang, salimlah aku ke mamah dan minta izin pamit, honda beat meluncur halus siang itu, laki-laki yang nungguin perempuan itu maco dan gentle abis kan! Kasih tepuk tangan 👏🏻👏🏻👏🏻

Siang itu cerah banget, gaada alasan buat puter balik atau cari alasan pembatalan pertemuan. Aku yang dulu masih muda dalam urusan cinta, memandang kebiruan hari itu. Terpikir terus menerus, egois sekali secara sepihak memaksa bahwa ini harus menjadi pertemuan terakhir kita. Tapi tak apalah, sebagai sahabat yang baik bukankah aku harus mendukung apa yang menjadi bahagianya dia? 
Aku terlalu tak percaya diri hari itu 
Diatas Honda Beat berjaket hitam dan berpakaian putih, 
Ah kenapa harus putih ya! Terang banget! 

Sesampainya di persimpangan jalan protokol, aku berhenti
Menatap semuanya dengan lambat, mencoba memikirkan kembali, semuanya
Memang ini sudah pasti jalannya
Ini hari spesial, akan kuucapkan selamat dan doa kelanggengan bahagia untuknya dengan senyum yang paling ikhlas di dunia

"Tukang yang jualan bunga dimana ya?"