Saturday, April 21, 2018

Kebiasaan Baru, Adhitia Sofyan, Bandung, dan Kamu (yang nggak ketinggalan).

Faktanya, kebiasaan adalah bagian dari rutinitas kita sehari-hari. Seakan-akan melekat pada diri kita, kebiasaan juga yang mencitrakan diri kita yang berbeda dari semua orang, pemberi identitas. Aku rasa semua orang punya kebiasaannya masing-masing. Seperti temanku, tidak seperti Instagram user pada umumnya yang selalu meng-update instastorynya secara rutin, temanku akan menggunakan fitur Instagram tersebut hanya ketika ia ingin memperlihatkan kabar tentang klub sepak bola kebanggaannya yaitu FC Barcelona. Atau temanku yang lain, ia selalu memakai jaket khasnya berwarna biru langit yang sejujurnya jaket itu sudah sangat kucel kemanapun ia berpergian, ke kampus ia pakai jaket itu, ke gunung ia masih pakai jaket itu, menghadap dosen bimbingan tugas akhir pun masih pakai jaket itu, ku terka ia akan pakai jaket itu juga ketika bertemu calon mertua tapi semoga jangan, apek. Tapi itulah kebiasaan, pemberi warna dari masing-masing kita. Lalu aku, kebiasaanku juga bisa dibilang cukup banyak, kebanyakan terinspirasi dari lingkunganku beberapa alamiah muncul dari diri sendiri. Ada satu kebiasaan baru yang aku nikmati saat ini, kebiasaan itu muncul selalu pada hari Jumat saat jam pulang kerja.

Entah kenapa hari Jumat memang selalu spesial, ada rasa kesenangan tersendiri yang hadir begitu saja. Mungkin karena hari esoknya libur atau karena beban pekerjaan lepas untuk sementara, entahlah, kalau aku selalu sumringah menyambut selesainya hari Jumat, sekalipun dompet tipis, setipis permen plastik rasa mint. Kebiasaan baru pertamaku yang muncul adalah pulang terakhir di tempatku bekerja. Jadwal pulang kerjaku pada hari Kamis adalah pada pukul 16.30 waktu Bandung barat, namun pada hari Jumat jam pulangku pukul 17.00 masih waktu Bandung barat. Untuk sebagian orang, mereka pasti bergegas untuk segera pulang. Absen pulang di tempatku memakai sistem finger print, biasanya 5 menit sebelum jam pulang, karyawan sudah mengantri di mesin itu, tapi hal itu tak terjadi pada diriku, kenapa ya?

Biasanya aku sampai ke mesin finger print pukul 17.15, dengan setelan sudah memakai jaket, aku berjalan menuju pos pengecekan barang. Pada jam itu kulihat masih banyak orang yang pulang tidak terburu-buru, ada yang sendiri ada pula yang mengobrol akrab. Di titik itu pun aku sangat suka, mengamati dan memperhatikan bagaimana perilaku sosial seseorang saat sedang tidak ada dalam tekanan apapun, aneh ya? Haha. Sambil mencari headset-ku yang biasanya ada di kantong jaket kanan, kujuga mengambil telepon genggamku di saku kiri celana, di saku kananku sudah pasti ada kunci motor dan kartu parkir, hanya itu saja, tidak ada uangnya, sekedar informasi. Lalu kusambungkan headset-ku dengan teleponku dan jariku menuntun menuju aplikasi musik player. Aku mempunyai 215 lagu disana, kebanyakan lagu indie folk, diselingi album The Script dan beberapa lagu Oasis. Dari sekian banyak lagu itu aku mengkategorikan 3 lagu favoritku. Sebelum lagunya dimulai, aku sudah sampai di pos pengecekan barang.

“Selamat sore, pak!”
“Sore pak, maaf pak boleh saya periksa dulu tas bapak?” Izin petugas pengamanan.
“Mari pak.” Sambil aku menyerahkan tas eiger lawasku.
“Baiklah pak, aman. Hati-hati di jalan pak.”
“Terima kasih pak.” Sejujurnya petugas pengamanan disana sangat ramah sekali dan aku dipanggil bapak olehny, belom punya anak padahal, hal itu semakin menambah keceriaan di hari itu. Sembari melewati pos pengecekan barang, aku memasang headset ke telingaku.

Kebiasaan baru keduaku adalah memainkan 3 lagu favoritku saat ini. Ketiganya milik Adhitia Sofyan, yaitu adelaide sky, blue sky collapse, dan forget jakarta. Playlist-ku pasti dimulai oleh forget jakarta. Lagu yang menjadi sound track dari iklan tropicana slim itu memang sangat enak! Ku akui itu. Alunan serta petikan lagu itu sangat mendukung untuk bengong, disaat suasana memang sejuk dan langitnya yang bersenja-gurau, menggodaku untuk larut dalam waktu menikmati langkah kaki.

“Im waiting in line to get to where you are.
Hope floats up high along the way, I forget Jakarta~” kata mas Adhitia.
Waduh mas, kalo ada kesempatan saya mau salaman sama sampean atas lagu aduhai ini, adem.
Lagu ini akan berada pada reff kedua pada saatku menaiki motorku. Ajakan mas Adhitia untuk bersama-sama melupakan Jakarta ini terus menderu.

“We’ll forget Jakarta,
Promise me we’ll never look behind.
Tonight, we’re gone to where this journey ends.
But if you stay, yeah I will stay.
Even though the town’s not what it used to be.
And pieces of your life you try to recognize,
All went down.”

Seketika motorku sudah melaju di jalan pasteur menuju fly over Pasupati berikut lagu berikutnya yang sudah pasti dimainkan yaitu blue sky collapse. Selalu pas. Kamu tahu kenapa? Untuk kamu yang pernah melewati fly over Pasupati saat senja, kamu akan mengakui bahwa pemandangan ketika berada di jalur pasupati adalah jalur terbaik untuk mengantarkan kita pulang. Di fly over Pasupati kamu dapat melihat kota Bandung yang dibentengi oleh gunung-gunung yang mengelilingi kota tersebut. Saat langitnya cerah, awan-awan mengelilingi gunung dan kota Bandung dengan lembutnya.

“Still everyday I think about you,
I know for a fact that’s not your problem.
But if you change your mind you’ll find me
Hanging on to the place, where the big blue sky collapse.”

Ah izinkan aku berpendapat, kota Bandung memang spesial, mas Adhitia juga haha. Blue sky collapse menjadi pengantar ke lagu terakhir sebelum playlist kuganti ke radio Prambors, yaitu Adelaide Sky. Lagu ini biasanya bermain ketika aku sedang menunggu lampu merah di pertigaan Telkom university. Untuk informasi lagi, lampu merah di Bandung itu lama-lama, serius. Pada saat seperti itu biasanya aku akan membuka handphone lalu membuka WhatsApp (WA). Dan disana pasti ada chat dari seseorang yang belakangan ini menjadi kebiasaan ketigaku untuk selalu mengobrol dengannya. Kebiasaan ketiga ini sungguh yang paling membuatku senang. Kok bisa gitu ya? Haha entahlah. Mungkin kasmaran heeee. Setelah chatnya gak aku balas 3-4 jam karena kerja, aku akan memulainya dengan,

“Gimana kegiatan kamu hari ini? Lancarkan bimbingannya?”

Seiring dengan selesainya mas Adhitia menemaniku bersama lagu-lagunya, giliran mba Nadya Julia (Announcer radio favorit saya) yang nemenin di Prambors. Belum sempat aku masukan teleponku ke kantong, teleponku sudah bergetar yang tandanya ada notifikasi masuk, aku buka notifikasi tersebut lalu interface WA yang keluar dan isi chatnya,

“Dosen pembimbingku lagi ke Solo, paling senin sih bimbingan skripsinya, kamu gimana?”

Kok bahagia ya, padahal cuma temen,
Chatnya juga ga gimana-gimana haha.
Biarlah yang penting semuanya terjadi di hari Jumat!
THANKS GOD ITS FRIDAY!

Saturday, March 31, 2018

Janji


    Ini adalah malam ke Sembilanku di Bandung. Aku baru pindah ke kota ini setelah diterima kerja di salah satu perusahaan manufaktur transportasi milik negeri. Aku sementara menetap di rumah saudaraku, kebetulan keluarga besar ibuku banyak yang tinggal disini dan beliau menitipkan aku ke kakaknya yang tinggal di daerah Buah Batu. Kegiatanku disini tidak lain dan tidak bukan masih seputar orientasi, entah itu orientasi di tempat kerja, atau orientasi di rumah baru, dan mungkin juga berorientasi dengan kota Bandung. Berbicara tentang Bandung, kota ini memang unik. Kesan pertama yang aku dapatkan ketika menginjakan kakiku di tempat ini adalah dingin! Berbeda dengan tempat tinggalku dulu, Depok. Kata orang-orang Bandung adalah kota yang spesial, kota yang membuat rakyatnya nyaman sekaligus merindu serta tertuju. Dari kecil, aku sering ke kota ini. Setiap tahunnya keluargaku selalu berkumpul dalam rangka merayakan hari lebaran di Bandung. Banyak hal-hal yang mengingatkanku ketika nama Bandung terucap. Salah satunya Kira. Dulu sekali, ketika aku duduk dibangku SMP ketika kami selalu mengobrol lewat SMS dia sempat bertanya kepadaku,

“Kak, nanti mau kuliah dimana?” Tanya Kira kepadaku di layar telepon genggam bermerek sony ericsson.
“Ehmm dimana ya? Aku sih pengennya di UNPAD.” Dulu sekali aku sangat ter-influence dengan ayah yang memiliki latar belakang Ilmu Komunikasi UNPAD. Ayah dulu sering masuk koran KOMPAS dengan tulisan-tulisannya. Melihat tulisannya dipaparkan di koran ternama itu membuatku menyukai bidang sastra. Aku juga sering membantu pekerjaannya untuk mengetik bahan yang telah ia tulis di kertas kala itu. “Kamu mau kuliah dimana emang?”
“Wah sama dong kak, aku juga mau UNPAD. Pokoknya aku pengen kuliah sama tinggal di Bandung.” Jawab Kira semangat.
“Kalo gitu nanti kita ketemu dong ya haha.”
“Iya kak, tapi serius ga kak? Janji ya nanti kita ketemu disana?”
Beberapa hal yang baru aku sadari, sedari dulu memang tabiatnya anak muda adalah berjanji, terlebih ke gebetannya. Apa-apa selalu dibuat janji, entah jangan tidur kemaleman, entah jangan bandel, entah jangan melakukan aksi-aksi menegangkan seperti limbad pasti selalu diakhiri dengan janji. Dan kala itu, tanpa mempertimbangkan masa depan serta takdir akan membawa kemana, aku pun menjawab,
“Iya janjiiiii. Nanti kita ketemu di Bandung.”
Dasar anak bau kencur.

    Akhirnya aku dan Kira tidak ada satupun yang kuliah di Bandung. Sebelum itu aku dan Kira pun tidak berpacaran, hanya teman. Tidak mesra. Hanya teman. Teman tapi tidak mesra, sama sekali. Kami melanjutkan kehidupan kami masing-masing, kala itu dia berpacaran dengan orang lain aku pun begitu.
Kira berkuliah di universitas swasta ternama mengambil teknik perminyakan sampai saat ini. Sedangkan aku adalah lulusan teknik mesin dari kampus negeri di Jakarta. Dari sini aku sudah ingkar satu janji, yaitu tidak melanjutkan kesukaan tentang sastra dari Ayah.
Dasar anak bau, badan.

    Kembali ke Bandung, malam ke sembilanku ini kebetulan malam minggu, hujan lagi. Waktu yang sangat tepat untuk bernostalgia, dasar kaum susah move on. Ajaibnya pikiran yang bisa mengingatkanku akan kenangan itu atau memang Allah yang sedang mengerjaiku untuk kembali mengingat kenangan itu, aku teringat Kira lagi. Sekedar menegaskan agar tidak terjadi salah kaprah antara aku dan netizen, perasaanku kepadanya sudah sangat minim yang kalau dipersentasekan mungkin sekitar 0,000000001% (bisa ae kang dodol) hanya saja untuk saat ini aku sangat ingin mengobrol dengannya. Mengetahui kondisinya, perkembangan hidupnya, melihat pandangan-pandangannya, serta membahas hal-hal kekanakan antara kita dulu sebagai teman yang tidak mesra, sama sekali. Dan aku pun akan menceritakan tentang kehidupanku disini, perkembanganku, cerita-cerita yang menjadikan aku pribadi yang seperti ini, lalu ditutup dengan, “Kira, aku tinggal di Bandung sekarang.”
Hoalah, manusia ini diciptakan oleh Allah memang bersama hasrat yang menempel sepanjang hidupnya, intinya banyak maunya. Kopi yang sedari tadi kubuat juga sudah terlanjur dingin, membuat kopi ini dapat dihabiskan dalam satu tegukkan. Tak kusadari juga hujan pun berhenti, ketimbang melamun kuputuskan pergi mencari udara segar menaiki honda beat tempur yang kubawa ke Bandung dari rumah.
Tidak ada tempat spesifik yang ingin aku datangi. Malam itu Bandung romantis, basah karena hujan ditemani lampu jalan yang temaram, aku putuskan untuk pergi ke daerah cimbeuleuit. Aku ingat disana ada warung bakso aci yang dikenalkan kawanku, pas untuk menghangatkan badan ditengah suasana sejuk. Sesampainya disana aku memesan semangkuk bakso aci panas lengkap dengan sambal pedas serta fruit tea dingin.

“Atas nama siapa A’ pesanannya?” Tanya akang bakso yang menyebut dirinya “ganteng squad”, sungguh kepercayaan diri yang tiada tara.
“Riman A’.”
“Oh siap A’ ditunggu ya A’.”
“Eh siap A’.” Kataku sambil melihatnya meracik baksoku.
“Ari Aa’ teh aya janji kadieu, A’? sorangan wae jajan-na hehe.” Kalau diartikan ke Bahasa Indonesia kira-kira kaya gini, “mas ada janji kesini? Sendirian aja makannya hehe.

Pernah ga perasaan tuh kaya tertohok gitu, bidikan kata-kata si Aa’ bakso tepat mengenai perasaanku kali ini, iseng sekali takdir menggodaku malam ini. Aku pun hanya tersenyum-senyum keheranan menanggapi perkataan si Aa’. Si Aa’ yang bingung karena tidak mendapat responku langsung menyerahkan semangkuk bakso panas,
“ini A’ baksonya.”
“Eh iya A’ nuhun.” Sebelum aku berpaling ke meja,
“A’ ada kertas kosong A’?”
“Oh ini A’ punten.” Aa’ bakso menyerahkan kertasnya kepadaku.

    Sambil kubawa ke meja bakso beserta fruit tea, aku pinjam juga spidol hitam milik Aa’ bakso. Sambil duduk aku hadapkan kertas lalu kutuliskan sesuatu yang sepertinya memang harus diselesaikan malam ini, 
Disana tertulis,

KIRA, SAAT INI AKU BAIK-BAIK SAJA DAN AKU SEKARANG SUDAH MENETAP DI BANDUNG.

Sambil kulipat kertas tersebut, kubuat origami berbentuk pesawat. Aku beranjak sebentar dari meja makanku lalu aku berjalan ke arah balkon warung bakso yang menghadap ke kota Bandung.

Terbanglah, dan sampaikan kepadanya.

Aku percaya, semesta memainkan peran yang unik untuk terlibat dalam kehidupan manusia. Entah bagaimana caranya, semesta akan membuat garisnya menyinggung kehidupanku, suatu saat. Dan ketika saat itu terjadi aku pastikan bahwa aku telah siap untuk mengucapkan, “Kira, apa kabar?”

Thursday, November 16, 2017

Krusial!

Terkadang kita rindu dengan konsep jatuh cinta sesederhana menatap dan menyapa, lalu tersipu malu dengan menyembulnya rona merah di bawah mata. Dikala rindu menjenguk, sajak berpaut dengan lagu penawar belenggu. Kasmaran ala orang zaman dulu adalah kisah cinta yang benar-benar membuat iri melulu. Bukannya aku tidak suka dengan konsep cinta pajang foto update di sosial media, atau pantau-memantau kabar via whatsa-ulala, aku hanya sedang menyelami imajinasi kisah indah bak Romeo dan Julieto. Tapi disinilah aku sekarang, di seberang halte yang terang dengan lampu neonnya, duduk menanti seseorang yang bahkan masih aku percayai bahwa dia akan ingat kalimatnya tentang janji. Haha naïf sekali. Entah apa yang ada di pikiranku, terbuai angan kenangan, terlalu banyak menonton kisah-kisah yang berakhir haru. Cengeng. Pukul 22.51, dia sudah lewat 51 menit dari janji yang ia ucapkan 5 tahun silam. Ya 5 tahun, sekarang kau akan cekikan dan berpikir bahwa aku orang bodoh, memang. Lemah. Di detik-detik krusial ini aku jadi sangat membenci dia, tapi akan merindu dan menyesal ketika memang benar-benar tidak bertemu. Argh! Rasanya ingin AAARRRRRGGGHHHH!!! Coba kututup mataku dengan tangan, barangkali dia akan tiba-tiba muncul dan memberi kejutan. Hehe aku coba, satu, duaa, tigaaaa… aku curang~ selagi menghitung aku membuka mataku sedikit dan melihat melewati celah jari-jariku yang berkeringat. Dan benar saja, aku melihat Romeo dan Julieto sedang berdiri di seberang jalan.

“Kamu harus tau Julieto, aku selalu suka pada seseorang yang memilih untuk setia dikala komitmen adalah satu-satunya alasan mengapa rasa itu selalu ada.” Romeo sangat bersahaja ketika mengucapkan kata-katanya, anehnya aku bisa dengan mirip meniru apa yang Romeo katakan. Dan sepertinya kata-kata yang terlontar habis ini adalah, “Oh Romeo, aku berjanji suatu hari nanti kita akan bertemu di tempat ini pada saat yang sama, ketika bulan dan bualan sama indahnya seperti hari ini.” Ah, Hebat! Aku bisa mengucapkan hal yang sama dengan Julieto! Bahkan gerakan bibir kami sama persis!

“5 tahun lagi Rim-eo,
Tunggu aku bzzzzzzzzzzzzz jk bzzzzz 5 tahun lagi,
5 tahun lagi Ro-man!” bzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz kiw.

Yang namanya pukulan pamungkas dalam tinju,
Lamunan itu menghujam atom penyusun sel darahku,
Menyeruak! Impulsif! Tak tertahan!
Dan BAM!
Darahku memberontak.
Nekat! Seperti perampok-perompak!
Kehilangan daya, kontrol diri sirna.
Aku S A R A P!

“KIRAAAAAAAA!” tak sadar, aku telah berdiri dengan tangan terkepal sambil meneriakan namamu, 
.
.
.
Kira.
.
.
.
Dan, BAM!
Beruntung tidak ada yang melihat diriku kerasukan. Bisa-bisa masuk viral di TransJakarta nanti.

Namun, malam itu cenderung dingin, tidak sampai membuat nafasku terlihat namun keringat meluncur deras dari pelipisku. Aku rindu. Aku benci. Aku mengakuinya. Aku kalah.

Aku akan pulang, tidak mengingatmu disana dengan bayanganmu, Manis! Manis itu untuk kata-kata yang keluar dari perutmu! Manis! Oke, parasmu juga, kelewat Manis!

Argh! Semakin tidak kondusif, apalagi konklusif. Lain kali sebelum meledak, akan kukeluarkan kamu wahai atom perampok dan perompak,
Serta perampok-perompak!

Lihat, bahkan kenangan tidak akan membantu harapan kita terwujud. Bahkan taktik mengeluarkan Romeo dan Julieto untuk mengulur waktu tetap tidak memunculkan dia, sialan! 23.19, sudahlah aku pulang! Serong kiri, menunduk ke bawah, aku terlalu memuakan untuk berjalan tegap dengan pandangan lurus! Aku akan berjalan setapak demi setapak. Satu langkah, dua langkah, tidak akan ada yang menghalangiku! Sekalipun kamu yang berdiri di depanku wahai kamu wanita idaman kroco dan… MasyaAllah.

“Aku selalu suka pada seseorang yang memilih untuk setia…” kata seorang wanita yang meng-copy naskah Romeo kepada Julieto, tapi sebentar, dia bukan meng-copy, dia ingat kata-kata itu, persis tidak kurang tidak lebih. Hormon adrenalinku tidak pernah bekerja se-tornado ini. Perkara suara, jantung ini seperti bedug magrib dikala senen-kamis, membahagiakan. Lalu, aku lanjutkan, “Dikala komitmen adalah satu-satunya alasan mengapa rasa itu selalu ada.”

See? Terkadang kita memang benar-benar merindu dengan konsep jatuh cinta sesederhana menatap dan menyapa. Sesuatu yang tidak akan kamu dapatkan di pesan singkat ataupun status fexbuk. Sampai kamu benar-benar merasakan apa yang aku gambarkan dari pukul 22.51, kamu akan menyadari bahwa kisah cinta tempo dulu memang candu.

“Kira, kamu benar-benar.. MAANNIISS!
Kata-katanya! Oke orangnya juga!”


Saturday, September 2, 2017

Dimensi Acultius

Sedemikian hingga letupan itu meredup,
Berkatarsis dalam sabuk pendar yang militan,
Ia segera merapat, dijauhkan dari energi yang tak terjamah
Lalu mereka bersekongkol,
Menyelewengkan orbitnya pada gravitasi energi yang lain.
Sunyi, tanpa bahasa.
Duhai Bintang, usah salahkan dia yang kini tengah larut dalam kedalaman dunia egonya,
melainkan salahkan dirimu yang memancar berlebihan,
dan membiarkan hatimu tertambat kecupan pada Sang Rembulan.
–SwetaKartika, Penguasa Dimensi Cahaya.

Thursday, July 20, 2017

Petak Umpat Belum Genap Setahun

halo, kamu.

sebelumnya, apa kita pernah bertemu? ku rasa engga. tapi, wajah mu seperti tidak asing untukku. oh! kamu!

---

"banyak loh, adik kelas dari SMP aku yang masuk sekolah kita" kata nya.
"oh ya? mana mana? berarti bisa dong kita ajak masuk club kita, hihi!" jawabku.
"itu tuh, yang pakai kaos hitam dan sepatu merah, paling keliatan deh" sambil menunjuk seorang putra yang memegang map putih.
"siap siap"

---

awal masuk kelas sepuluh. berat! aku belum siap! tapi, harus ku lalui. ah, yasudahlah, toh masa mos hanya tiga hari.

"kamu sepuluh ips ya!"
"baik, kak"

langkah demi langkah,
detik demi detik,
pastinya.

wajahnya seperti tidak asing.

---

"dek, ikut saya deh"
"kemana kak?"
"udah, ikut aja"
"kemana dulu kak?"
"ikut ajaaaa dulu!"

tangannya,
dingin. kayak es batu!
eh, batu es.
es batu deh.

deg deg deg.
loh?

---

kenapa sepi? padahal ramai.
kenapa semua putri? padahal banyak putra.
suara ku sudah habis tapi hasil nya nihil. bagaimana ini? apa aku harus menyerah? lalu, generasi selanjutnya bagaimana? tidak! aku harus berusaha!

puk!

"eh, ikut club kita......"

......

ini kan dia. dia yang kemarin. dia yang waktu itu. dia yang saat itu. benar, ini dia! aku yakin, dia!

aku malu. malu. bagaimana? gatau.
jelasnya, aku enggak tau.

"maaf ya..."

kejut dan kaget. eh, sama!
langsung berlari dan menutup wajah. berkeringat. melihat diri nya dari dekat. seperti ada yang menyengat.

deg deg deg.
lagi?

---

"ca, kamu dispen nih, disuruh ke ruang BK ya"
"hah? mau ngapain?"
"aku sendiri ngga tau, ikut aja"
"yaudah deh"

yah, kegiatan membosankan. hanya untuk pencitraan semata. tapi, tak apa. karena harus sering kesini, aku jadi bisa melihatnya, dari dekat.
aku jadi tertarik.

tanpa ku sadari, aku mencari tau tentang diri nya lebih dalam. hingga akhirnya, aku kenal dengannya lebih dekat. sialnya, aku tidak hafal suaranya.

dasar,
sepatu merah!

tapi aku berusaha biasa saja.
dan akhirnya, aku pun terbiasa untuk biasa saja.

---

"kamu jadi mc ya?"
"iya kak"

serak...
akhirnya!

---

ngga kerasa, kegiatan ini sudah selesai. akhirnya tibalah hari penutupan yang diadakan di aula.

"harus dekat dengan adik kelas agar akrab"

yasudah.

"main yuk, main jempol!"
"oh, truth or dare?"
"iya"
"yaudah, yuk"

"kamu ngga ikutan?"
"ngga kak"
"kenapa?"
"gapapa kak, gamau aja kak"
"oh yaudah"

sayang sekali,
dia tidak ingin masuk club kami.

---

selamat tinggal.

---

"ca, ada anak baru yang mau masuk"
"siapa?"
"nah, itu dia! yang lagi lari!"

wajah tak asing. dia. sepatu merah.
tidak, kali ini hitam.

kenapa dia ada? ah!

"ca, kamu yang ajarin ya, dah sana!"
"ah, ngga mau!" aku deg deg-an.
"buruan, caca!" aku pun di dorongnya.

dia hebat. dia bisa. sial!

---

sebentar lagi,
tiga hari lagi, adalah waktunya. kami dan mereka semakin dekat. mereka juga semakin dekat. sedih apabila harus berpisah. usahakan, jangan!

"saya mau, kamu deketin dia"

ya,
berawal dari sebuah kalimat, yang mengguncang, hingga detik ini.

aku, gadis yang sedang bahagia dengan nya harus dipaksa mendekati dia.
apa yang harus ku lakukan?
tapi, tujuan cuma satu. jangan sampai ada perpisahan diantara mereka. aku harus berpegang teguh!

---

instagram seperti hidup kedua ku.
ternyata,
begitu pun dia.
lebih terkejut lagi, kita punya kesamaan. bukan satu, tapi lebih.

tunggu,
ada yang janggal.

---

ice cream.
batang ice cream punya ku copot.

kamu mau?
oh, tidak. ternyata kamu langsung menuju indomaret, ya, hahaha!

---

harus tidur jam sembilan malam.
jangan.

beng beng max. ada syaratnya!
tiba-tiba, notifikasi instagram ku penuh!
aduh, yaampun!

---

loh, wajah kita kok jadi cerah?
tentu nya tiap Rabu punya jadwal yang sama.

---

"kamu harus kuat! kamu pasti bisa! aku bakal bantu kamu terus kok"
"tapi aku gamau, aku gaenak"
"udah, jalanin aja dulu.."
"baiklah, terimakasih ya"

terimakasih yang tidak hanya satu kali.
hingga kini, aku masih merasakan kata terimakasih mu.

begitu pun aku. apakah aku harus berterimakasih juga?

---

banyak lubang di jalan ini. sudah berkelok, berlubang pula!
lubang nya lebih dari lima. kami harus mengerem mendadak, padahal didepan tidak ada kendaraan. hanya ada polisi tidur, hehehe. terkadang, kami tidak mengerem, tapi kami lewat pinggir dan pernah kami terbang.
aduh, bagaimana itu?

---

"ngga sepantasnya kita begini"
"lalu, mau bagaimana lagi?"
"ngga sepantasnya kalian begitu"
"lalu, harus bagaimana lagi?"
"berpisah, itu lah yang terbaik"

belum genap setahun untuk saat ini. tapi, hati ku berguncang mengingatnya. dunia tahun kedua ku seakan akan bukan mejikuhibiniu. andai aku bisa menambah dua huruf diantara 7 disitu. bolehkan aku tambah de?

yasudah, jika tidak boleh.

---

masih ngga nyangka. ternyata, wajah tak asing di awal penglihatan ku, berakhir nyata. dia sudah tidak asing lagi bagiku.

bahkan,
tiap ketikan nya, aku hafal.
terlebih lagi, apa yang diketik, terekam suaranya di otak ku.

bahkan,
tidak lah hanya suaranya,
gerakan nya pun aku tau.

ini yang disebut terbiasa?
terbiasa bersama?

bahkan, aku belum genap setahun bersamanya!

---

kata orang,
ini tidak baik. tapi, mengapa bersamanya, membuat hati ini lebih baik?

kata orang,
kamu akan menyesal. tapi, mengapa bersamanya, semua terasa menyesal karena "aku belum selesai cerita ini!" "aku belum selesai cerita itu!" "kita butuh waktu lebih lama untuk bertemu" waktu terlalu cepat berjalan saat kita bersama.

tentu,
kamu dan aku adalah dua orang pandai.
pandai memanipulasi segalanya.
waktu, tempat, kenangan.

---

entah sampai kapan.
aku tidak tau kapan.
dan tidak ingin tau.
karena aku tidak mau.
entah bagaimana dengan mu.

tidak ada yang tau, berapa isi celengan, padahal kamu sendiri yang memasukan uang nya.

dan tidak ada yang tau, berapa jumlah keringat, padahal kamu sendiri yang mengeluarkannya.

sekali lagi,
tidak ada yang tau,
ada apa dengan kamu dan aku.
yang sebenarnya.

---

19.48
Jumat, 14 Juli 2017.

satu bulan lagi.

-dara khairunnisa, siswi absurd.

Monday, June 26, 2017

Eight Point Deadly Mind Tricks About Her

She wants to stay with you forever but,
she also needs some large amount of time.

She thinks she is perfect for you but,
she also thinks that she doesn't deserve you.

She loves you hard but,
she runs away from love too fast.

She is your wall of strength but,
she is equally fragile and a furball.

She is bright and warm but,
at night her heart is cold as ice.

She is all the light that you need right now but,
she is barely able to hold that darkness inside her.

She is a good person but,
she also carries a perverted mind.

She doesn't want you controlling her at all but,
she wants you to hold her.
Hold her for a while.

Im telling you,
the girl you think you know,
She is black and white.
Fire and ice.
Yin and yang.

Im telling you that the girl that you love,
she is a paradox.

-renaisenancess
she's too difficult for you to understand.

Tuesday, May 2, 2017

Korelasi

Yang baru aku sadari,
Nyatanya cinta menganut konsepsi waktu.
Bukan hanya untuk kamu,
Pun untuk mereka yang malamnya selalu terjaga.
Bahwasanya,
Beruntunglah bagi mereka yang bertemu cinta dikala keduanya butuh cinta.

   Jika bisa-bisanya aku mengaitkan cinta dengan waktu,
   Kamu juga bisa mengaitkan cinta dengan buku.
   Buku kesukaanmu,
   Yang telah kamu baca berulang kali sampai akhirnya kamu merasa sedih,
   Karena cerita ini telah membawamu sampai baris terakhir.
   Yang entah bagaimana kamu akhirnya membaca ini,
   Dan aku akan bilang.

"Aku akan merayakannya bersama hujan,
Yang entah datangnya kapan.
Dan aku hadir seraya berdiri di tengah basah,
Untuk terakhir kali merayakannya bersamamu sambil berbisik kepadanya,
Aku pamit."