Sunday, February 19, 2017

Miskordinasi

*Krek *clang
“Umur lo berapa, Nam?”
*krek *clang *krek
“Saya pak? Baru aja 21 pak Januari kemarin. Kenapa pak?”
Sambil tersenyum tipis Pak Ronny menunjuk kearah mesin Curing yang berada di sebelahnya. “Nih Nam, Ini mesin Nam bukan sembarang mesin. Dari ni pabrik bediri, ini mesin udah ada. Taun ‘95 Nam, elo ge belom lahir Naam Nam.” Pak Ronny memukul cepat kepala Riman menggunakan kunci pas nomor 20 sambil terkekeh.
“Wadaw pak, selisih 1 tahun aja pak itumah. Ya ibarat orok mah udah bisa jalan itu.” Sentil Riman nyeleneh sambil mengambil kunci yang digunakan Pak Ronny untuk mengetuk kepalanya.
“Yailah belagu amat lo ngomongin orok, emang cewe udah punya lo cewe?”
“Cewe Pak? Belom ada yang mau Pak.” Jawab Riman, jujur, terkekeh sambil melanjutkan mengencangkan baut terakhir pada mesin Curing yang sedang dipasangnya.
“Lah itu cewe nyang kata lo biasa lo jemput di Depok siapa ntu? Lagi deket lo ama ntu cewe?” Tanya Pak Ronny kepo
*Krek *clang *krek
*KREK *CLENG *KREK
“Iya pak kenapa Pak? Saya kurang denger tadi pak.” Sambil memutar topinya ke belakang Riman tertawa meledek Pak Ronny.
“Wah bikin keshel luh, pake sengaja dikeras-kerasin cuman muter baut doang luh.” Saut Pak Ronny terpancing.
“Ahaha maaf Pak just kidding bos. Yang saya jemput di Depok ya Pak? Iya pak lagi deket, cuman... ya gitu deh pak.” *krek Riman menaruh kunci pasnya ke lantai, lalu berdiri sambil megelap tangannya dengain kain putih yang disebut majun oleh orang industri, bukan kakjun, atau pakjun.
“Ngape? Tuh cewe kaga mau ama lu ya? Ah gua tau makanya tu kumis dicukur, tebel bangat udeh kaya suaminya inul lo!”  Senggol Pak Ronny
“Ah Kebalik kali pak, bapak tuh yang mirip Suaminya Inul.” Balas Riman sambil tertawa.
“kebalik kebalik, ELUH GUA BALIKIN!” Saut Pak Ronny sambil diiringi oleh tawa keduanya
“Ya udeh man beberes dah, bentar lagi jam 8 tuh. Lemburnya besok lagi.”
“Siap Bos Rons!” dengan cepat Riman membereskan peralatannya dan langsung mengambil sapu, untuk menyapu. Sambil menyeka keringat di dahinya Riman tidak berhenti sedikitpun melakukan prosesi akhir dari kesehariannya. Setelah semuanya terlihat rapi, Riman langsung menuju ruangannya. Seketika Ia membuka laci mejanya mencari handphonenya. “Nam, Ogud duluan ya. Jangan lupa konci pintunya.” Sambil melambaikan tangan Pak Ronny pamit.
“Wah iya Pak, hati-hati Pak.”
“Yoo Nam.” Pak Ronny pun membuka pintu dan melangkahkan kakinya keluar. Tepat sesaat sebelum Pak Ronny menutup pintu, “Jangan ditunggu Nam, coba lo telepon. Gausah sok boong lo sama gua, dari kemaren lo nungguin chat dari ntu cewe kan?” Riman terbelalak, sekali lagi perkataan orang lain tepat menusuk hatinya.
“Kalo gak diangkat ya SMS, tanyain kabarnya. Kalo masih ga dibales biarin aja. Seengganya lo udah udah nunjukin perhatian lo ke dia.”
“...”
“Jangan kasih kendor, Nam.”
“...........”
“Nam.”
“..............................”
“Sedeng lo ya liatin gua doang?”
“Eh iya pak saya kan dengerin bapak, masa iya saya motong omongan bapak.” Jawab Riman, terbangun dari lamunannya, terkesima. Semua yang dikatakan Pak Ronny merasuki pikirannya, sambil geleng-geleng  Riman tidak menyangka. Orang nyablak yang kerjaannya setiap hari duet sama mesin pemanggang ban dalem itu bisa mengerti juga problema seputar dunia cinta.
“Kok bapak bisa tau Pak kalo saya nunggu chatnya dia?” Tanya Riman bingung
“Insting bos, makanya keberatan kumis sih lo, udah ah cabut ya.” Pukas Pak Ronny diiringi dengan langkahnya meninggalkan ruangan itu.
“Ahaha iya pak hati-hati pak.” Teriak Riman kearah Pak Ronny. Lalu Riman mengangkat handphonenya, dengan segera Riman mengecek notifikasi yang sudah menumpuk di layarnya. Geser, geser, dan geser. Sudah sampai yang terbawah tetap tidak ada notifikasi yang berhubungan dengan dirinya. Riman terlemas, membawa pandangannya ke luar jendela, bertemu dengan langit yang cerahnya bukan main.
.
“Eh liat deh coba kamu liat ke langit.”
“Hem iya sebentar, emangnya ada apa?”
“Kalo kamu liat ada bintang yang paling terang, itu bukan bintang, itu venus!”
“Ah iya aku liat! Oh ternyata itu venus haha bagus ya. Padahal kita lagi di beda tempat, terpaut jarak. But we are under the same sky.”
.
Percakapan itu terngiang dipikirannya. Memori yang sangat mudah dipancing ketika Riman melihat ke langit. Tak perlu waktu banyak untuk menemukan hal yang ia cari, ketika melihat langit, disitulah Riman teringat akan dia.
“Mengapa kau selalu mudah ditemukan, venus.” Bisik Riman, pelan.
Semua orang pasti punya sesuatu yang mengingatkannya akan hal tertentu. Seperti lagu, atau benda, atau mungkin sespesifik aroma parfum seseorang yang nantinya akan membawa kepada seluruh kenangan dari hal yang diingatnya, entah itu kenangan bahagia atau kenangan sedih. Namun, bagaimana kalau hal itu sangat mudah ditemukan? Semudah menengok ke arah langit dan melihat bintang paling terang disana. Dan bagaimana jika kenangan itu membawanya kepada perasaan menyesakkan?
Hanya mereka berdua yang tau apa, hanya mereka yang mengerti apa arti dari benda langit yang paling bersinar kala itu, Riman rindu. Ingin rasanya Riman menghujam beribu chatnya kepada dia, mendengar dirinya bercerita tentang kesehariannya, melihat foto dari dirinya setiap saat, hanya untuk membayar rasa rindu terhadapnya. Dan pertanyaannya berulang itu kembali lagi,
Apakah dia merindukanku juga?
Apakah dia sedang sibuk?
Apakah dia dalam kondisi yang baik?
Apakah aku..
Apakah aku mengganggu ketika aku menanyakan dia sedang apa?
Pikirannya membawa rasa takut untuk menghubunginya, namun perasaannya  tak sabar untuk mendengar kabar dirinya. Pertengkaran antara pikiran dan perasaannya menuntun tangan Riman untuk membuka handphonenya dan mengetik nomor teleponnya, lalu jarinya mengetuk cepat tombol call.
Tangannya yang bergerak canggung menuju telinganya memaksa untuk mendengarkan nada tunggu tanda telepon telah tersambung ke nomornya. Sambil memejamkan mata Riman menunggu, sempat terlintas untuk mengakhiri teleponnya namun perasaan Riman mengalirkan rasa gugup itu dengan memainkan kakinya mengetuk lantai,
10 detik berlalu,
30 detik berlalu, krek
“Halooo Rimaaaaaaaaaaaan? kemana aja lo?!.”
Mata Riman terbuka, nafasnya tersekat. Suara yang ia kenal betul mengambil alih perasaan Riman menang telak atas logikanya. Senyumnya merekah dan Riman menjawabnya,
“Hehe hai Ti, apa kabar?”
.
.
.
Semoga semogamu,
Segera diSegerakan,
Tapi Jangan Lupa Pulang.
-erdian bachri

Monday, January 23, 2017

Miskonsepsi

“Man cabut yuk, udah jam 4 lewat nih. Udah ga tahan gua mau mandi.” Gegas Difa, dengan muka yang seratus persen terlihat sumuk, penat, dan tidak lupa, bau.
“Ayo Man, perlu gua rapihin barang lo nih?” rayu Rami sambil merapikan laptopnya, namun seketika mata Rami sadar bahwa Riman tidak merespon ajakannya. Meja Riman yang di dekat kaca membuat Riman bisa setiap saat menatap pemandangan jalanan setiap harinya dari gedung lantai 3, sesukanya. Dan benar, Riman tidak berkedip.
“Man!” sentak Difa.
“Eh iya, kenapa Dif Mi?” Jawab Riman terbangun dari lamunannya, kaget.
“Jangan bilang lo mau…”
“Iya Dif gua ngambil lembur lagi hari ini, elo pada duluan aja.” Jawab Riman santai sambil tersenyum tipis.
“Ya tapi Man, ini udah delapan hari lo ngambil lembur, berturut-turut lagi. Lo juga kan masih magang Man uang lemburnya juga ga seberapa, kantung mata lo aja udah sampe pipi itu.” Jelas Difa dengan sedikit jokes khasnya Difa yang… renyah sampai-sampai Riman dan Rami menaikan kedua alisnya, bingung menanggapi sahabatnya ini.
“Ehm ya pokoknya ayolah Man lo butuh istirahat.” Lanjut Difa membaca situasi. Difa mengkritik pola kerja Riman belakangan ini yang sudah seperti robot, untung bukan robot gedek pikirnya.
“Ahaha gua sehat kok, fit! Ya lumayan juga buat nambah ongkos gua makan kan.” Disambung dengan tawa Riman terkekeh.
“Yaelah berapa si uang makan lo sehari. Gua bay…” Kalimat Difa terhenti seiring pundak kanan Difa ditepuk.
“Yaudahlah lo kaya ga kenal Riman aja, lo kan sekelas dari semester satu. Gua udah rapi nih, yok cabut.” Jelas Rami mencoba mengerti keadaan Riman. Difa yang masih terdiam mencoba memproses kata-kata yang Rami jelaskan. Alis mata kanannya naik satu lalu matanya bergerak ke Riman dan kembali ke Rami, sambil menghela satu hembusan napas panjang Difa terutunduk.
“Man Man, pantes gaada yang betah jadi cewe lo. Sibuknya ngalahin Presiden!” Riman tersentak, tatapannya sekarang fokus dan terbuka seakan-akan perkataan Difa tepat mengenai sasaran pikiran Riman saat itu. Beberapa detik kemudian Riman terkekeh ringan, “Hahaha jadi begitu ya, miskonsepsi.” Mata Riman kembali menoleh kearah kaca, tangannya otomatis menumpu dagunya yang terskema persis seperti delapan hari kebelakang.
    Difa kaget menyaksikan reaksi Riman yang seperti itu, tidak menyangka bahwa kata-katanya mampu membuat Riman seserius itu memikirkan kata-kata yang sudah Difa lontarkan terhadapnya. Pundak Difa pun disenggol Rami, ketika Difa menoleh Rami sedang mengetik sesuatu pada Handphonenya.
“Man gua kirimin softcopy Kungfu Komang ke e-mail lo, lo kan lagi nyari-nyari tuh  dari dua bulan yang lalu, kemaren gua dapet dari situs illegal. Au dah ada virusnya atau engga, lumayanlah buat nemenin gabutnya lau.” Jelas Rami, padat.
“Eh iya makasih Mi. Masih inget aja lo kalo gua ngidam Komang hahaha.” Sambil tertawa Riman mengetuk layar handphonenya dua kali lalu terlihat notifikasi pada layar yang masih terkunci, terdapat notifikasi game, orang yang memfollow Instagram Riman, tanda bahwa memori handphonenya sudah penuh, dan lain-lain, tidak ada yang penting pikir Riman. Riman menggeser layarnya keatas dan notifikasi terakhir yang dilihatnya adalah e-mail Rami, sehabis itu… tidak ada lagi. Alih-alih membuka dan mengecek e-mail Rami, raut wajah Riman kembali seperti semula, kosong, menerawang dan tidak puas akan apa yang ia dapati di notifikasi handphonenya.
“Udah gua duga.” Bisik Rami pelan, sambil mencolek Difa memberi kode untuk pulang, “Man kita cabut duluan ya, jangan malem-malem baliknya kalo kaga gua kunci kontrakannya. Biar tidur sama sepeda gua lo diluar, ayo Dif.” Rami langsung mengambil tas dan membalikan badannya menuju pintu keluar.
“Oh iyee, tiati lau pada.” Lambai tangan Riman tegas.
Difa yang masih bingung antara melanjutkan ceramahnya untuk Riman atau mengikuti Rami pulang. Difa jelas menampakan keraguannya, riweuh sendiri.
“Eh eh Mi tungguin lo kan tau gua takut naik lift sendirian!” bergegas mengambil tas dan handphone di meja kerjanya, Difa langsung berlari menyusul Rami. “Man dul.. uan ya.” Sedikit tergagap, Difa berlari kecil sambil memikirkan apakah ada yang salah dari kata-katanya barusan.
    Riman kembali tertawa melihat tingkah laku sahabatnya, lalu handphonenya bergetar singkat tanda handphonenya menerima LINE dari seseorang. Sambil menegapkan badannya Riman mengambil handphone dengan kedua tangannya lalu terlihat pesan dari pak Susilo, pembimbing magangnya Riman, menanyakan apakah Riman lembur hari ini. Sekali lagi Riman tertawa kecil, “hehe bukan dia.” Lirih, kepalanya tertunduk lesu, matanya terpejam. Tangannya menaruh handphone lembut ke meja lalu menyambut wajahnya yang sudah lelah. Menumpu pikiran yang mungkin terlampau berat, berat akan banyaknya pertanyaan yang tak tersampaikan, untuk seseorang. Sebenarnya indah, tempat Riman berdiam, namun bahasa tubuh Riman membuat ruangan itu seakan sempit sesak, lalu menekan hatinya yang kecil sampai batasnya mengombinasikan rasa ngilu panjang.
Tentang dia yang hadir selama ini,
Tentang dia yang lalu berkelana,
Tentang dia yang kembali lagi,
Tentang dia yang selalu meninggalkan jejak,
Dan tentang warna citranya,
Abu-abu.
.
.
.
“Dia ada masalah, Dif. Itulah Riman, lo sadar ga?” Tanya Rami kepada Difa. Difa seketika tersentak,
“Ah masa? Darimana lo tau? Dukun lo ya?” Pungkas Difa selengean tidak percaya.
“Riman itu orang yang gampang seneng Dif, lo pun tau itu. Kungfu Komang salah satunya, gamungkin Riman ga antusias ketika dia dapet komik itu. Dia kolektor kungfu komang Dif. Menurut lo ada suatu hal yang bisa ngalahin keantusiasan obsesinya, ya apalagi? Mungkin cinta?” Difa berjalan sambil menatap Rami mencoba megingat sesuatu. Bukan pertama kalinya Riman terlihat seperti ini pikirnya. Riman selalu sibuk, eh bukan! Kurang tepat. Riman selalu menyibukan diri ketika terjadi sesuatu pada dirinya. Mungkin orang-orang menyebutnya dengan kata pelarian. Semuanya menjadi jelas, mengapa Riman berperilaku aneh belakangan ini. Lucu, jika kamu sadar bahwa setiap orang memiliki perilaku efisien dalam melakukan suatu kebiasaan untuk mencerminkan siapa dirinya atau untuk menggambarkan apa yang akan ia lakukan kedepannya. Hal itu disebut pola, setiap manusia memiliki polanya sendiri, corak. Dimana ketika Riman menyibukan dirinya, Riman sedang lari dari kesedihannya. Difa terbengong.
“Iya ya, kebaca banget kawan kita” Jawab Difa, menduga.
“Mungkin, tapi gua kenal sahabat gua. Entah kenapa feeling gua kesana. Ketika dia sesibuk ini, mungkin dia memutuskan untuk jatuh cinta.”
.
.
.
   Tangan Riman berpindah menyandarkan kepala belakangnya ke punggung kursi. Matanya terbuka sekarang. Sudah dua menit berlalu, Riman pun kembali mengambil handphonenya, membuka LINE dari pak Susilo lalu membalasnya
-Iya pak, saya lembur. Saya segera turun menuju workshop.

    Riman menekan tombol lock lalu membuka laci kerjanya dan meletakkan handphonenya dengan segera. Sesaat sebelum menutup lacinya, Riman melihat beberapa foto polaroid yang ia taruh disana bersama barang pribadinya. Menguatkan diri, Riman mengambil satu foto dan terlihat dua tangan membentuk gabungan angka dengan latar bianglala. Riman tersenyum, kali ini panjang. Bukan momennya yang ia rindukan, bukan juga bianglalanya, atau kombinasi angkanya, tapi "dirinya". Hanya butuh dua jari untuk memegang foto itu agar berada di udara, sekuat mengingat kenangan yang terisi di dalam foto itu. Tiba-tiba rasa ngilu itu dating kembali, dengan cepat Riman menaruh foto itu kembali ke dalam laci. Lalu menutup laci kerjanya dengan rapat. Tanpa ada kegiatan lain, Riman bergegas menuju workshop menemui pak Susilo, meneruskan lembur di hari ke-9nya.

Saturday, October 22, 2016

Sajak Februari

Tapi kau tak tahu
Aku telah mencintaimu sejak pertemuan pertama kita
Mengapa kau sisakan peta buram yang sama,
hingga aku tak pernah bisa menatap punggungmu
Di antara dinding dingin di sekitar kita,
kau cari aku hari itu
Tapi kau tak tahu,
aku telah mencarimu bermusim-musim dan selalu hanya pilu,
yang memeluk dan membujukku
"Pulanglah, kau sudah begitu lelah."

Helvy Tiana Rosa
diliat dari TLnya Erdian Bachri, Teknik Mesin 2015.

Thursday, September 22, 2016

Untitled

Air tahu kemana ia akan mengalir, 
Api tahu akan apa yg ia bakar, 
Tapi kenapa ia harus seperti angin yg tak tentu arah juga sulit terlihat.
Meskipun begitu aku suka...
Karena ia dapat terasa olehku dimanapun kapanpun.


-anonymous, on ask.fm 2 days ago.

Wednesday, August 24, 2016

Curahan Hati

   Menurut kamusku, keahlian adalah suatu hal yang menjadi kebiasaan (terbiasa) karena sudah terlatih untuk melakukan hal tersebut. Contoh mudahnya adalah berjalan. Keahlian pun memiliki jenjang atau bisa dibilang bertingkat. Keahlian dapat berkembang dari mulai keahlian tingkat standar sampai ke keahlian tingkat tinggi dengan jenis keahlian yang sama. Masih dengan kasus yang sama, berjalan adalah keahlian dengan tingkat standar, karena level berikutnya adalah berjalan di atas tali (bodo amat). Berbanding lurus dengan pengalaman, keahlian akan bertambah seiring dengan berambahnya frekuensi kita bertemu dengan problema. Keahlian bisa serupa namun juga bisa berbeda dan khas pada setiap pribadi bergantung pada lingkungan dan jutaan faktor lainnya. Aku pun begitu, hadir di dunia sebagai manusia yang memiliki beberapa keahlian. Salah satunya adalah seputar dunia curhat-mencurhat.
   Entah dimulai sejak kapan keahlian ini berkembang. Mungkin keahlian ini hadir seiring dengan sifatku yang supel dan ramah terhadap teman-temanku yang pada akhirnya sifat itu membawa peluang temanku untuk bercerita tentang kehidupannya. Dengan terbangunnya rasa percaya, temanku pun menjadi nyaman untuk bercerita tentang segala hal yang meresahkan atau bahkan hal yang membuat ia senang. Topiknya pun beragam, bisa tentang keluarga di rumah, tentang pelajaran di sekolah, tentang coki-coki yang isinya selalu berkurang dari waktu ke waktu, dan tentang segala macam masalah yang mereka alami semasa hidup. Aku yang kala itu masih “baru” di dunia ini, masih menerka-nerka dimana titik awal aku kecemplung masuk ke lingkaran curahan hati.
“Jadi Man, kalo gua gapunya uang gua pasti melipir ke kamar bokap, cari dompetnya terus ambil dua lembar lima ribuan buat jajan lumpia basah habis kelar sekolah. Gua bingung kenapa ya lumpia basahnya enak banget sampe-sampe gua ngambil uang bokap ga bilang-bilang. Padahal kan…” Aku terpaku sambil sedikit tertawa  mendengar cerita sahabat SMP-ku kala itu. Tepat sepulang sekolah dan masih berseragam putih-biru, aku mendengar Danu bercerita sambil melihatnya menyantap lumpia basah dengan lima cabai rawit itu, ya aku hanya melihat, kere. Mungkin sepele, tapi entah kenapa aku senang sekali mendengar seseorang bercerita, tentang apapun. Sampai akhirnya aku menyadari aku baru bisa jadi pendengar yang baik dalam dunia curhat.
   Semakin hari semakin banyak telinga ini mendengar kisah-kisah, waktu pun terus berjalan dan aku menyadari bahwa pada masa puber topik yang selalu dibahas antara duo sahabat didominasi oleh satu topik yang selalu tabu untuk dibahas kala itu, topik itu adalah cinta. Anak seusia peralihan dari anak bau kencur menuju dewasa pasti berlomba-lomba untuk memberi solusi terbaik yang ia yakini ampuh untuk mengalahkan permasalahan seputar dunia cinta sekalipun dirinya tidak memiliki pengalaman di dunia cinta. “Yang penting memberi solusi!” tegas pikirannya. Yang uniknya lagi adalah penerima solusi akan masalah cintanya kebanyakan menerima solusi tersebut dan langsung menerapkannya. Misal dulu aku punya seorang teman bernama Afif, dia menyukai seorang gadis bernama Mawar yang berpredikat sebagai gadis tercantik di SMAku dulu. Kebetulan di hari ulang tahun Mawar, Afif gugup ingin memberi sesuatu yang special di ulang tahunnya yang ke-17 (yang kata orang-orang mah sweet seventeen). Aku dan temanku, Geding, yang tau bahwa Afif menyukai Mawar memberi sebuah ide gila untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya dari tengah lantai dasar sekolah dengan cara berteriak karena kelas Mawar berada di lantai tiga.
“Serius lo Man? Kalo nanti gua dikira orang freak gimana?” Dengan mata terbelalak, Afif bereaksi atas ide gilaku.
“Udeh sikat aja Fif, kapan lagi lo punya kesempatan kaya gini.” Kataku yakin, padahal konsekuensinya mengerikan. Bisa jadi Mawar ilfeel, lalu muntah, lalu masuk rumah sakit. Lebih naas jika diopname. Tapi sekali lagi solusi itu berlandaskan ketidaktahuan kita akan dunia cinta yang memang masih absurd untuk dijabarkan menjadi sebuah konklusi yang topcer bahkan sampai saat ini. Manusia sekaliber William Shakespeare pun yang semasa hidupnya mempelajari tentang wanita tidak bisa menemukan formulasi paling jitu mengenai cinta sampai akhir hayatnya. Apalagi aku dan Geding yang masih lucu dan lugu di dunia percintaan.
   Berlandaskan percaya akan keberhasilan yang dapat dikalkulasikan sekitar 0,83 persen, Afif menarik satu nafas panjang dan mengucapkan, “Oke, gua bakal ngelakuin ini.”
Gila.
    Dunia cinta memang kejam, sambil geleng-geleng ketawa tidak percaya aku langsung menyemangati Afif dan berharap solusi yang aku dan Geding beri dapat berhasil. Singkatnya Aku dan teman-temanku membuat skenario, Mawar pun berhasil dibuat menempati posisi yang telah ditentukan. Waktunya eksekusi,
“Mawar!” teriak Afif dari tengah sekolah.
   Aku yang sedang mengobrol berhadapan dengan Mawar menyadari bahwa, suara Afif terhalang oleh suara adzan zuhur. Suara Afif tidak terdengar oleh Mawar. Deg-degan pun menyeruak seantero sekolah yang menyaksikan Afif berkeringat gugup di tengah lantai dasar sekolah.
Gila.
   Bisa-bisa Afif yang masuk rumah sakit lalu diopname kalau begini kisahnya. Adzan telah selesai kali ini hanya improvisasi Afif yang bisa menyelamatkan hidupnya. Lalu teriakan itu muncul lagi dengan kerasnya,
“MAWAR!” seketika Mawar kaget dan langsung menolehkan pandangannya ke lantai dasar, sambil mengibaskan rambut panjangnya ia berkata kaget “Ya?”
Semua mata tertuju pada Afif, hening satu detik dua detik. Lalu dilanjutkan ucapan yang lantang,
“SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-17 YA!”
Gila.
   Ini baru laki, bukan cowo yang teriak “laki” pas minum air kuning rasa-rasa, ini baru laki sebenarnya! Mawar langsung menutup mulut dan hidungnya, menggunakan kaki... Maaf, saya ulangi. Mawar langsung menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya, shock, pasti. Dan ia langsung menitikan air mata, air mata bahagia. Satu sekolah bersorak akan kejadian itu dan kebahagiaan pun melingkupi dua insan ini, semuanya senang akan kejadian langka ini, kecuali pacarnya Mawar yang cemberut di lantai dua.
Gila.
   Solusi acak adut berhasil membuat momen yang tak terlupakan sepanjang hidup Afif, Mawar, maupun kita yang menyaksikan sejarah kala itu dan juga hidup pacarnya Mawar yang pasti berbekas sampai sekarang. Bekas sedih.

   Beranjak dengan pengalaman-pengalaman gila lainnya, keahlian memberi solusiku pun muncul dan semakin terasah. Seputar dunia cinta pun sudah jadi dinner setiap malam, hampir hatam. Semakin terbiasanya dengan keahlian ini aku pun mulai terbiasa menggunakan kata-kata dan analogi yang tepat kiranya untuk masalah teman-temanku. Sampai suatu malam aku menemukan di timeline media sosial LINE, adik kelasku terlihat galau luar biasa. Re-share akun-akun galau macam prestigeholic atau amazing video (yang harusnya share video tapi banyak galaunya), bikin puisi sendiri, sampai ganti nama profil di LINE menjadi abjad atau tanda baca (biar susah dicari, mungkin. Itu juga kalo ada yang nyariin). Komentarku? Akut. Aku pun langsung chat dia dan mendekatinya, berharap dia bisa menceritakan kisahnya dan aku bisa memberinya solusi untuk menenangkan hatinya. Pertanyaan-pertanyaan awal darinya? Mudah, masih masuk logika untuk menjawabnya. Sampai pada akhirnya muncul sebuah pertanyaan yang membuatku terdiam sejenak,
“Kenapa gua yang berjuang? Kenapa bukan dia?”
   Aku terhanyut dengan pertanyaannya, membuatku ingat betapa rumitnya dunia cinta. Cinta seringkali tidak bisa di selesaikan dengan logika. Mungkin itu kenapa ending dari cerita siti nurbaya atau romeo dan Juliet adalah bunuh diri, karena tidak ada yang bisa menebak arah dari cinta, terlalu absurd untuk diterka. Namun menimbulkan perasaan yang luar biasa, rasa yang selalu membuat kita menduga, rasa yang selalu membuat kita berharap, rasa yang selalu menimbulkan rasa bahagia ketika mendambanya. Seketika aku teringat pengalaman cintaku dulu, aku ingat memiliki kisah yang serupa, sayangnya berakhir sedih,
“Karena elo yang butuh, bukan dia.” Jawabku lirih.
Karena kita yang butuh itu kenapa kita yang berjuang,
Karena dia ga butuh itu kenapa dia ga berjuang. Simpel tapi menyakitkan.
   Seketika memori tentang pengalaman itu memenuhi kepalaku, itu kenyataannya. Beruntunglah manusia yang bertemu cinta ketika keduanya butuh cinta. Ketika hanya salah satunya saja yang butuh cinta? Sekali lagi tidak ada yang bisa menebak arahnya, bisa saja sukses bisa gagal. Tidak ingin terlarut dalam kenangan itu, diriku menegaskan “Itulah resiko curhat, kamu bisa mendengar banyak tapi tidak menutup kemungkinan kamu akan menjawab pertanyaan yang sesuai dengan pengalaman yang kamu alami.” Subjektif, begitulah cara manusia menjawab pertanyaan, sesuai dengan pengalaman penjawab. Tidak pernah ada solusi yang benar-benar tepat untuk cinta. Dan aku seketika teringat sesuatu, satu pantangan soal pengalaman cinta.
   Jawaban-jawaban ideal dari pemberi solusi cinta biasanya tidak berguna ketika orang tersebut menghadapi masalah cintanya sendiri. Pun aku, berkeahlian menasihati kehidupan cinta orang lain namun selalu tidak bisa menjawab permasalahan cintaku sendiri.
Miris.

Sunday, July 10, 2016

Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Ksatria jatuh cinta pada Puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari.
Sang Puteri naik ke langit. Ksatria kebingungan

.
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu.
Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Ksatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara.
Ksatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi

.
Ksatria sedih, tapi tak putus asa.
Ksatria memohon pada angin.
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi,
lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun Sang Puteri masih jauh di awang-awang,
dan tak ada angin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih dan kali ini putus asa

.
Sampai suatu malam ada Bintang Jatuh yang berhenti mendengar tangis dukanya.
Ia menawari ksatria untuk mampu melesat secepat cahaya.
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu.
Namun kalau ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya,
maka ia akan mati.
Hancur dalam kecepatan yang membahayakan,
menjadi serbuk yang membedaki langit, dan tamat.
Ksatria setuju. Ia relakan seluruh kepercayaannya pada 
Bintang Jatuh menjadi sebuah nyawa.
Dan ia relakan nyawa itu bergantung hanya pada 
serpih detik yang mematikan.
Bintang Jatuh menggenggam tangannya

.
"Inilah perjalanan sebuah Cinta Sejati," ia berbisik,
"tutuplah matamu, Ksatria. Katakan untuk berhenti begitu 
hatimu merasakan keberadaannya."
Melesatlah mereka berdua.
Dingin yang tak terhingga serasa merobek hati Ksatria mungil,
tapi hangat jiwanya diterangi rasa cinta.
Dan ia merasakannya... "Berhenti!"
Bintang Jatuh melongok ke bawah,
dan ia pun melihat sesosok puteri cantik yang kesepian.
Bersinar bagaikan Orion di tengah kelamnya galaksi.
Ia pun jatuh hati

.
Dilepaskannya genggaman itu.
Sewujud nyawa yang terbentuk atas cinta dan percaya.
Ksatria melesat menuju kehancuran.
Sementara Sang Bintang mendarat turun untuk dapatkan Sang Puteri.
Ksatria yang malang.
Sebagai balasannya, di langit kutub dilukiskan Aurora.
Untuk mengenang kehalusan dan ketulusan hati Ksatria.


 (Dewi"Dee"Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)