Monday, February 23, 2015

Imaji Nadir


jadi, disinilah aku
terperangkap imaji nadir
hanya untuk merayakan kegelisahan
tanpa sebab, kosong
.
seakan tersekat, memandang jiwa
yang masih tetap disana
menikmati gelak tawa
namun sarat akan makna
dan tetap, tidak lebih "fake" dari sebuah senyum palsu
tanpa rasa, hambar
.
.
serasa mati
.
.
.
tapi "sayang", mati-pun ingin hidup


(Riman Diantasena, 24 Februari 2015)

Monday, June 30, 2014

The Real "Good Bye"

"seandainya, hanya seandainya"
Tak pernah terbayang jika akhirnya akan seindah ini, siapa yang tahu?
Bagaimana bisa seseorang yang dulunya tak mengenalmu kini bisa menjadi seseorang yang tertawa paling keras saat berada di dekatmu?
Seandainya, hanya seandainya tidak pernah ada kata perpisahan, mungkin tak akan sesedih ini.

Mungkin detik ini banyak dari kita yang sedang bersenang-senang menikmati kelulusan, bahagia akan diterima di universitas yang diidamkan, atau merasakan kebebasan yang telah lama dinanti setelah 12 tahun mengecap pendidikan formal?

Jika saja kita tersadar, tepat di depan kita semua telah nampak akhir dari jalan ini, jalan dimana kita bahu membahu menghadapi rintangan bersama, menyelesaikan segala perdebatan, mengesampingkan ego masing-masing untuk tujuan bersama, jalan yang dulunya menyatukan kita kini tak akan lagi sama,
dan tak terasa langkah ini telah sampai di penghujung perpisahan kita, di ujung jalan yang tidak akan satu rute lagi, akan memisahkan kita menuju masa depan yang diselimuti kabut mimpi dan impian.

Sahabat yang selama ini berjalan berdampingan, kini tak lagi berada di jalan yang sama
Mungkin dulunya semua hal ini nampak sepele, tapi siapa yang menyangka jika akhirnya akan sesedih ini?
Semua hal ini bukan hanya sepatah kata, namun lebih dari sekedar makna
Pertemuan yang mengenalkan kita, tak seharusnya perpisahan memisahkan kita
Detik ini memori indah sedang bermain di kepalaku, memutar video yang akan lekat sepanjang waktu
tentang solidaritas, hidup, dan rasa hormat
Karena bertemu dengan kalian adalah kebanggaan terbesar untukku,
dan akan selalu begitu
selamanya

Oleh karena itu, izinkan aku untuk mengucapkan kata perpisahan untuk terakhir kalinya
Untuk menandakan bahwa kita semua pernah bersama, pernah saling kenal, pernah tertawa haru bersama
Dan semoga ketika saat kita bertemu nanti, kita bisa bercerita tentang kesuksesan kita dan kembali tertawa sekeras saat dahulu kita berada di jalan yang sama
Selamat jalan kawan, sampai betemu

Salam 25

Sunday, August 18, 2013

Mimpi

Layaknya pelangi yang selalu indah setelah hujan
ombak yang selalu ingin bertemu pasir
bintang yang selalu menunggu malam untuk bersinar
Dan sang pemimpi yang selalu percaya kepada mimpinya

Ya sang pemimpi kini siap untuk bermimpi kembali

(Riman Diantasena, 19 Agustus 2013)

Saturday, June 29, 2013

Gelap Mata - Kepingan 4



Riman, 7 lewat 30, Sekolah.
          Ia hafal benar dengan rute ini, rute yang telah menjadi lingkungan barunya dan menyatu dengan pikirannya. Riman kembali mengingat tempat dimana ia berpisah dengan Maman, orang yang dikhawatirkannya saat ini. Setengah jam yang lalu,  Vindo, Riman, dan Maman telah berpisah dengan rombongannya untuk mencari tempat persembunyiaan yang berbeda dengan peserta cabut kali ini. Ketika mereka bertiga sedang berlari mencari tempat untuk bersantai, Maman tiba-tiba menghentikan langkahnya dan ia segera merogoh kantung celananya, mencari-cari barang yang mungkin memang seharusnya memang berada disana.
“Men ada apaan? Ayo buruan ntar keburu kegep sama si Prapti!” Seru Riman yang nampaknya sudah mulai kelelahan setelah mereka tidak mendapatkan tempat persembunyiaan di lantai 1 lalu mereka melanjutkan pencarian ke lantai 2 yang menjadi tempat mereka berpijak sekarang.
“Bentar Man, gua lupa naro kunci motor gua, ngeri ilang gua. Gua cari ke kelas dulu ya bentar.” Jawab Maman santai
“Yah elah itu mah gampang paling ada di tas elo! Udah kita cabut aja, nyarinya ntar.” Seru Vindo
“Yaudah elu berdua duluan aja nanti gua nyusul, kita mau ketemuan dimana?
“Di balkon surga gimana?” Tanpa pikir panjang Riman langsung memberi usul kepada sahabatnya itu, sepertinya ia memang telah hafal benar dengan kejadian yang seperti ini.
“Oke, sampe ga dateng teraktir gua Kuku Bima ye?” Sambil tersenyum, Riman mengangkat tangannya ke depan badan Maman. Dibalas dengan senyum yang tidak kalah cerahnya, Maman segera menjabat tangan Riman.
“Sip KuBim!” Jawab Maman yakin. Mata dibalas mata, jabat tangan dibalas jabat tangan, janji dibalas segelas Kuku Bima, suatu kesepakatan yang masuk akal. Riman memang telah mempercayai Maman sebagai sahabat yang dapat memegang teguh janjinya, jika Maman telah menjanjikan A kepada Riman, maka A-lah yang akan didapatnya. Tak terasa jabat tangan itu telah berlangsung selama 5 detik, Vindo pun kembali ngedumel “Ayolah ngee, Kubim mah ntar gua yang beliin, udahan ngapa mesra-mesraannya, kita dikejar waktu ni.” Setalah mendengar ocehan Vindo, Riman langsung melepas jabat tangannya yang erat itu namun senyumnya tak kunjung lepas dari bibirnya.
“Gua cabut bentar ya, sampe ketemu sob.” Maman yang juga telah melepas jabat tangannya langsung berlari ke arah tangga terdekat untuk menuju ke kelasnya yang berada di lantai 1. “Balkon! Surga! Kubiiiiimmm!!” teriak Riman yang dibalas dengan tawa Maman yang telah menuruni tangga.
“Yes sekarang gua ga perlu nonton Sinetron kalo mau ngeliat drama maho, ayo ah cabut feeling gua udah ga enak ni.” Vindo langsung berlari menuju tangga yang mengarah ke lantai 3. Riman perlahan pun mulai bergerak dari posisi patungnya mengikuti Vindo dengan senyumnya yang masih belum pudar karena daya magis kata ajaib itu. Vindo hanya menggeleng-geleng merespon kelakuan kedua temannya itu sambil bergumam sendiri “Ya Tuhan mengapa engkau berikan aku teman-teman yang seperti ini Ya Tuhan.” 15 menit telah berlangsung sejak kejadian itu, dan sekarang Riman tengah berdiri di koridor lantai 3 yang kelihatannya masih menunggu kabar dari sahabatnya yang hilang itu. Riman yang telah kehabisan kesabaran, langsung menyisir seluruh wilayah yang ada di lantai 3 untuk mencari setitik berita tentang keberadaan sahabatnya itu namun hasilnya, nihil. Tanpa berfikir panjang Riman segera menuruni tangga yang berada di sebelah timur sekolah untuk mencapai lantai 2. Riman memilih tangga itu karena tangga di sebelah barat berhadapan langsung dengan lapangan dimana siswa dan guru sedang melaksanakan upacara, maka dari itu tangga sebelah timur memang relatif lebih aman untuk dipakai mengendap-ngendap.
“Untuk amanat, istirahat di tempaaaat geraaak!” perintah pemimpin upacara kepada seluruh siswa yang berada di lapangan seluas 2 kali lapangan bola basket itu. Ketika perintah itu terdengar, Riman baru menapakan kakinya di ubin lantai 2. Riman harus berhati-hati dalam melangkah dan pastinya ia harus berjalan sambil menunduk agar ia tidak mengundang perhatian kepada guru-guru BP yang mungkin sedang beristirahat dilantai 1 setelah melakukan razia siswa yang kabur dari upacara. Keringat Riman satu persatu mulai turun dari keningnya yang semakin lama semakin deras, bagaimana tidak lelah, ia harus mencari temannya ke setiap kelas dan setiap daerah yang mungkin dijadikan tempat persembunyian oleh sahabatnya dengan cara jalan jongkok. Namun jalan jongkok bukan penghalang bagi Riman untuk terus melanjutkan perjuangannya dalam mencari temannya. Setelah menyisir sisi utara sekolah di lantai 2, Riman memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamar mandi khusus siswa wanita yang berada di sisi barat laut sekolah. Nampaknya tekad saja memang tidak cukup untuk melanjutkan misi gila ini, otot memang memiliki batas kemampuannya tersendiri.
“Kepada anak-anaku tercinta, janganlah diantara kalian semua berani melanggar peraturan sekolah, karena . . .” Suara laki-laki paruh baya itu terdengar seantero wilayah sekolah radius 500 meter dari tempatnya berbicara. Dengan nafas yang terengah-engah mau tidak mau Riman mendengarkan ceramah itu meskipun sebenarnya ia sangat benci dengan suara pria itu. Namanya Trisno, dia menjabat sebagai ketua di bidang kesiswaan. Ia terkenal karena kumisnya yang seperti pak raden namun berperawakan seperti pak ogah. Mukanya datar, bibirnya tidak didesain untuk tersenyum melainkan untuk mencari kesempurnaan dalam setiap rencananya yang terkenal sangat disiplin. Ia sangat tegas  dalam menegakan peraturan yang telah ditetapkan sekolah. Tidak ada satu murid pun yang bisa lepas dari segala peraturan yang telah ia buat. Siswa terakhir yang mencoba melanggar bernama Adit, rambut di kepalanya habis sebelah bagian saja tercukur zig-zag dan itupun kejadian 6 bulan yang lalu saat ia sedang salim kepada pak Trisno dan pak Trisno mendapati bahwa rambut Adit melewati kupingnya sepanjang 1 senti, Rambut Adit pun langsung dieksekusi di tempat.
Dia adalah musuh utama Bocah Jeruji, terlebih Riman. Setiap kasus yang didalangi oleh Riman, ia pasti selalu menjadi yang terdepan dalam mengambil alih kasus Riman. Riman pernah ditantang untuk membersihkan toilet laki-laki yang sangat kotor dan berbau sangat menyengat, dengan ancaman jika dia tidak mengerjakan tantangannya itu, dia tidak akan diizinkan untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar selama 3 bulan. Kontan dengan penuh rasa kesal ia melakukan pekerjaan itu dengan terpaksa. Ketika Riman sedang mengelap kloset kamar mandi itu, si pria sinis itu pun menghampirinya dan berkata “Ternyata siswa paling berpengaruh di sekolah ini akhirnya tunduk juga kepada saya.” Dengan senyumnya yang secara tersirat menggambarkan kemenangan telak itu, Riman menyimpan rasa pilu di dalam hatinya. Rasa pilu karena merasa harga dirinya telah terinjak oleh sesama manusia yang derajatnya sama di mata Tuhan. Sejak saat itu Riman menjadi lebih berani menentang kebijakan Pak Kumis, menanti saat yang tepat dimana ia bisa membalas rasa pilu yang selalu ia pendam itu.
“. . . Maka dari itu bagi setiap pelanggar peraturan di sekolah ini akan mendapat sanksi tegas, secara langsung!” Suaranya semakin meninggi seiring semakin meningginya posisi matahari. Tenaga Riman telah terisi dan kini ia siap untuk melanjutkan aksinya. Ketika ia tengah berdiri, kantung celananya bergetar. Diambilnya sebuah BlackBerry Javelin yang sudah banyak goresan di sisinya maupun dilayarnya. Nampak ada sebuah notif baru dari BBMnya, langsung saja ia buka notif tersebut dan nampak sebuah pesan dari sahabatnya, secercah harapan muncul dari misi gilanya kali ini.

Monday, June 3, 2013

From Someone, to 99

Buat semua warga Plavient, tolong forward sms ini ke semua warga Plavient yang ada di kontak kalian, mau itu lewat bbm, line, sms, watsap, twiter, fb boleh, gausah takut pesan/smsnya bakal balik ke orang yang sama, tunjukin rasa bangga kita menjadi bagian dari angkatan ke 25


Ganti dp kalian, ganti pm kalian biar semua warga Plavient tau,

Biar semua warga Plavient ngerasain rasa bangga ini,


 Rasa bangga dimana bisa bersama kalian, berjuang bersama kalian selama 3 tahun, ini semua akan kita kenang kawan

 

Ingat hari rabu sepulang sekolah kita luapin semua di lapangan, terima kasih Plavient, salam 25


(From TextMessage, 19:56 pm)

Friday, May 31, 2013

Gelap Mata - Kepingan 3



Seiring berjalannya waktu mereka berdua akhirnya mulai berbicara dalam ruang yang sempit itu. Vindo bercerita banyak dari mulai ayahnya yang berpribadi tegas sampai hewan peliharaannya yang ia sebut sugar glider, yang menurut Riman hewan peliharaan Vindo lebih mirip seperti kukang. Gelak tawa mulai terdengar dari bak mandi itu, suasana hangat pun mulai terasa dalam pembicaraan itu, mereka berdua berbicara seperti layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa yang akhirnya bercerita tanpa kenal waktu. Saat Vindo sedang bercerita tentang kukangnya itu, tiba-tiba ada kodok berekor sedang merayap di atas sepatu Vindo, Riman dengan cepat bereaksi dan iseng mencongkel congkel memainkan kodok itu menggunakan ranting yang berada tepat didepan sepatunya.
“Do liat do ada kodok di sepatu elo tuh.” Setengah berbisik
“Oh iya buangin man, pake apaan kek.”
“Iya ini lagi gua usahain, gua usahain ni kodok loncat dari sepatu elo terus mendarat pas di muka elo hahaha.” Jiwa iseng Riman tersulut dan menjalar ke sekujur tubuhnya membuat kegilaannya perlahan muncul.
“Ah nge apaansi geli bego, Man ah! Gua tampol lo!” Vindo menahan geli tawa yang muncul di perutnya sekuat tenanga dan dia berusaha untuk mengeluarkan suara garangnya yang ternyata tidak berhasil dan malah membuat gelak tawa diantara mereka berdua semakin keras.

Suara tawa mereka semakin lama semakin tidak manusiawi dan menimubulkan kegaduhan karena bak mandi yang mereka gunakan untuk bersembunyi sangat sempit sedangkan tubuh mereka terus berbenturan ke dinding bak mandi plastik itu. Lalu tanpa sepengetahuan mereka ternyata Ibu Prapti, guru bidang kesiswaan telah selesai berpatroli dalam rangka mencari siswa yang ingin kabur dari upacara bendera. Dia ingin pergi ke kantin untuk beristirahat sejenak melepas penatnya. Ketika berjalan ia melihat ada bak mandi sedang bergoyang-goyang di pojok sudut pagar sekolah, awalnya ia mengira bak itu bergoyang karena kucing yang sedang mencari makan, namun perkiraannya buyar ketika 1 tawa besar meledak dari suara dua orang yang berbeda tepat dimana bak mandi itu bergoyang, seketika itu ibu Prapti langsung berjalan menuju bak mandi tersebut. Saat ibu Prapti telah sampai tepat di depan bak mandi itu dan ingin mengangkatnya, ia langsung mendengar suara yang tidak lazim didengarnya dilingkungan sekolah yang biasanya hanya ia dengar di saluran tv dewasa.
“Ah man ga tahan gua! Geli man geliii!”
“Yah elah ini kan kecil, masa elu ngeliatnya aja takut?”
Ga tahan? Geli? Kecill?!! Karena mendengar hal itu Bu Prapti menjadi semakin penasaran dengan percakapan yang sedang dibicarakan kedua lelaki ini di dalam bak mandi yang sempit itu berdua. Ia menunda untuk mengangkat bak mandi tersebut dan terus mendengarkan percakapan aneh ini.
“Coba elu pegang dulu, ga lembek ko.” Dengan suara menggoda Riman membujuk Vindo untuk memegang si kodok berekor sambil sedikit cekikikan. Sedangkan Bu Prapti semakin penasaran dengan percakapan ini. Pegang? Ga lembek? Jangan jangan ... saya harus segera mencegah ini semua sebelum terlambat, Pikir Bu Prapti cepat
“Gua coba yaa, eh loncat!!!” dengan suara kaget Vindo melepas kodok itu. Si kodok berekor itu loncat ke arah atap dari bak mandi tersebut. Saat kodok itu membentur atap bak mandi tersebut, tiba-tiba bak mandi tersebut terangkat seakan-akan si kodok itu mendorong bak tersebut ke atas hingga terangkat.
“Wuaahhhh! Kodoknya maraaaaah!!” Riman setengah kaget setengah berteriak, ingin rasanya Vindo tertawa terbahak-bahak karena melihat raut muka Riman yang syok dan karena melihat kejadian kodok berekor super ini yang dengan perkasanya mengangkat bak mandi secara heroik, namun rasa itu segera lenyap ketika bak mandi itu terangkat sepenuhnya dan muncul sesosok ibu-ibu berumur 40 tahunan yang sedang melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan jijik sambil berkata dengan suara lantang “Ibu memang mengakui adanya Gay di dunia ini, tapi kenapa kalian harus melakukan perbuatan itu di dalam bak mandi yang sempit itu?!” dengan muka datar mereka berdua memandang Bu Prapti, setelah 5 detik terbengong-bengong entah karena syok atau takut karena persembunyiannya terbongkar oleh Ibu Prapti, mereka bertatapan kembali satu sama lain dan tawa mereka seketika meledak, tak terbendung lagi kebahagiaan mereka kali ini. Mereka kehabisan kata-kata karena peristiwa ini dan terus tertawa dengan puasnya.
“Kenapa kalian berdua malah tertawa? Sekarang ikut ibu ke ruang BK, SEKARANG!!” perintah bu Prapti yang masih dalam kebingungannya dengan apa yang dilihat dan didengarnya barusan, dia langsung berjalan kearah kantornya tanpa menghiraukan kedua manusia yang dikiranya gay itu. Sesaat tawa mereka mereda dan Vindo pun bertanya untuk memcahkan keheningan diantara mereka berdua.
“Kira-kira apaya alasan kita buat masalah kali ini?”
“Apa ajalah, yang pasti gua gamau divonis jadi gay cuman gara-gara nyaksiin kodok berekor super beraksi ngangkat bak mandi yang ternyata bu Prapti’”
“Maksut elo Bu Prapti Jelmaan kodoknya?“ seketika mereka berdua kembali bertatapan, lalu tawa itu pun kembali meledak memecah hening kedamaian senin pagi nan sakral itu.

Lamunan itu berhasil membuat sebesit senyuman di bibir Vindo. Sekarang dia  telah menarik kata-katanya, ternyata masuk ke dunia orang gawaras lumayan asik juga pikirnya. Seketika ia terhanyut kedalam kenangannya, seketika itu pula ia menghawatirkan sahabatnya yang ia yakini akan mendapat masalah karena perbuatannya kali ini. Vindo menghela nafas dan segera berdoa, berharap agar Riman tidak terkena masalah dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kodok berekor ataupun segala sesuatu tetntang gay.

Gelap Mata - Kepingan 2



Hari itu Riman dan Vindo terpisah dengan anggota bocah jeruji yang lain, dan membuat mereka berdua harus mencari tempat persembunyian mereka sendiri untuk menyelamatkan mereka dari upacara senin pagi. Setelah berlari-lari kesana kemari, mereka masih belum mendapatkan tempat persembunyian di dalam gedung sekolah mereka berdua terus berlari dan mencari tempat dimana mereka berdua bisa bersantai. Langkah mereka akhirnya membawa mereka ke depan gerbang sekolah yang sudah sepi dari guru, murid dan staff yang telah menuju lapangan sejak 15 menit yang lalu. Mereka berdua berhenti dan langsung mengecek gerbang sekolah yang ternyata telah digembok.
“Man gimana ni? Kita gabisa cabut, gerbangnya udah digembok. Ahhh matilah kita pagi ini.” Pungkas Vindo kelelahan, hampir menyerah.
Raut muka Riman nampak serius, otak gilanya harus kembali digunakan agar mereka berdua bisa lolos dari serangan guru BP. Dengan gelisah Riman mencari jalan keluar yang mungkin bisa ia pakai disekitar gerbang sekolah itu. Pandangannya terus mencari celah dan akhirnya matanya terhenti kepada bak mandi yang sangat sempit yang berada di pojokan lahan parkir di sudut pagar pembatas wilayah sekolah. Ia langsung berlari ke arah bak mandi itu dengan riang gembira, rasanya seperti menemukan mata air di tengah gurun pasir, tertawa cekikan dengan tangan melambai-lambai tak karuan, sungguh kebahagiaan yang tidak terelakan.
“Man elo mau kemana? Tungguin man!” sahut Vindo mengejar Riman.
Setelah sampai disisi Riman Vindo melihat seonggok bak mandi kecil kotor yang terbuat dari plastik dan banyak kotoran yang menempel pada setiap sisinya.
“Jangan bilang kita berdua bakal masuk kesini?”
“Lebih tepatnya ngumpet di bawah bak mandi ini, daripada disuruh berdiri 1 jam gua lebih milih buat jongkok di bawah naungan bak mandi ini.” Pungkas Riman dengan seberkas senyuman kemenangan.
Tanpa memedulikan komentar Vindo, Riman langsung jongkok dan menutupi dirinya dengan bak mandi itu. Dengan sedikit rasa kesal Vindo ikut masuk ke dalam bak mandi itu juga dan langsung berkata “Kalo senin depan gua cabut, bakal dipastiin gua ga akan mau cabut sama orang yang otaknya miring kaya elo lagi!” mendengar pernyataan temannya, Riman hanya tertawa melihat raut muka temannya yang secara tersirat mengatakan, Sampe elo ngomong lagi gua hantem lo!


“Selamat datang di dunia gua do, dunia dimana logika ga pernah sejalan sama kenyataan”


“Yes, sekarang gua secara resmi masuk ke dunia orang ga waras.”