Sunday, July 21, 2019

Merawat Diri

Semenjak aku bekerja di Bandung, hampir setiap weekend aku pasti pulang ke rumahku di Depok. Hampir dipastikan pula aku akan naik Honda Beatku yang perawakannya sudah mulai tak keruan karena memang sudah pernah kecelakaan dan setiap siang dipanggang matahari terus hingga kusam (sebenarnya kusam juga karena jarang dicuci 😛). Mulai dari bodynya yang patah, retak, stang bengkok wah lengkap sudah, tapi namanya terlanjur sayang dan masih banyak keperluan lain yang membutuhkan uang (ini alasan utamanya), servis motorku pasti selalu kujaga agar performanya tidak sama seperti perawakannya, yang indah dipandang dengan mata berputar. Ini sebenernya cerita motor apa hubungannya sama judul sih.... Sabar ini intronya

Setiap kupulang dari Bandung ke Depok hampir dipastikan aku akan melakukan perjalanan malam lewat puncak, kalau dirata-ratakan akan menghabiskan sekitar 5 jam perjalanan dengan kecepatan santuy, sama halnya dengan perjalanan Depok-Bandung. Kalau boleh jujur perjalanan pulang pergi Depok-Bandung naik motor ini sangat tidak kurekomendasikan karena semuanya harus serba siap, siap fisik, siap mental, siap bertanggung jawab, siap menafkahi, siap....... Pokoknya harus siap, terlebih potensi kecelakaan yang besar brrr serem, lebih serem daripada program ih ceyem di prambors setiap kamis pagi.

Lalu dengan diriku? Sejujurnya walaupun resikonya sangat besar tapi perjalanan panjang naik motor adalah salah satu hal yang paling kutunggu setiap minggunya. Kamu tahu? Ketika gelapnya malam bertemu dengan pencahayaan redup di jalan raya ditemani oleh lagu-lagu pilihanmu adalah salah satu momen terbaik untuk merenung, mencari ide, atau bahkan tersenyum menerawang mengulang kenangan, itu yang kusebut merawat diri.

Tentang merawat diri, setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk mengatur kondisi dirinya masing-masing, ada yang ikut kelas zumba, ada yang nonton konser, ada yang zumba sambil nonton konser, konsernya konser zumba, zumba-zumba......... Semakin diteruskan semakin terbayang kata-kata yang akan keluar, yaitu lumba-lumbaa..... Maaf
Disamping beberapa cara untuk merawat diri, hal yang mungkin terbukti ampuh adalah bercerita.

Setiap dari kita pasti pernah merasakan efek luar biasa dari membagi kisah kita kepada orang lain. Lega, itu perasaan yang paling kita butuhkan untuk meneruskan hidup. Akuilah, kehidupan setelah terlepas dari dunia pendidikan sangat sangat menyebalkan, permasalahan-permasalahan berkembang berlipat bercabang, yang menjadi segalanya tentang uang, atau kesuksesan yang terus dibandingkan, itu benar-benar menyebalkan. Bahkan ga sedikit teman-temanku yang menjauh dari dunia sosial media karena merasa tidak berada pada tingkat yang sama dengan yang lain.
Semua kusut, seperti sulit untuk dilanjut padahal semua orang menuntut, aneh tapi ini terjadi, depresi hadir diantara kita semua.
Menyebalkan, sangat menyebalkan.

Terpikir permasalahan-permasalahan yang ada, tak ayal di beberapa kesempatan aku selalu berhasil dibuat berkaca-kaca karena sebuah lagu yang kudengar dalam perjalanan panjangku pulang pergi antar kota. Yang terbaru, seseorang yang muncul entah darimana tiba-tiba melesat dengan lagu-lagu buatannya berhasil mencari celah melankolisku, salah satu lagunya adalah "membasuh". Sebuah lagu tentang kewajiban kita membantu sesama apapun kondisimu tanpa memperhitungkan masa lalu, lagu yang benar-benar hebat, kamu harus dengar.

Cara itu selalu berhasil untuk merawat diriku melaju pada kecepatan pemulihan diri yang hebat. Jika cara itu tidak berhasil mengurai keresahanmu, mari bagi denganku karena terkadang sesuatu menjadi lebih ringan ketika dibagi, apalagi pikiran malam selalu lebih berat dibanding siang, iya kan? 

Jangan sungkan, kamu tahu dimana kamu harus mencariku. My past crush once said, maybe i cant fix all your problems, but i promise you wont have to face them alone. She was right, You wont have to face them alone, We wont have to face them alone! 

Ingat, kamu punya makna hidupmu sendiri

Bukankah begitu, Hindia? 

Saturday, July 20, 2019

Balada Puan

Kau dan segala cerita ini
Adalah igauan yang tak henti-hentinya minta diberi obat penenang
Punggungmu adalah bukit yang saban hari tak kunjung selesai kudaki
Sampai aku patah kaki sementara kau pura-pura mati

Kepalaku puisi yang tidak pernah mampu membaca tanda baca di matamu
Tanda titik, ataukah tanda jeda yang berkepanjangan
Tidak pernah ada rumah
Peta tidak mengenal alamatmu
Berkelok, dan terlalu banyak persimpangan

Jadi, bagaimana?
Kau yang cuma singgah
Atau aku yang terlampau sungguh?

-Isa Maia Elfasya dan Andari Jamalina Pratami, Amigdala,  8 Juli 2018

Saturday, January 19, 2019

Tentang Melepas

     Let me tell you something about “dunia pekerjaan”, dunia pekerjaan adalah sebuah dunia dimana setiap manusia sudah diberikan tugas tetap dan tanggung jawab masing-masing yang gabisa dipindahtangankan ke orang lain. Kalau semisal ada yang penasaran antara apa perbedaannya dunia sekolah dan dunia pekerjaan (ada yang penasaran ga sih tapi? haha) itu cuman kalo sekolah atau kuliah kita dapet tugas bisa dikerjain bisa ga dikerjain kalau kerja setiap tugasnya harus dikerjain dengan resiko kalau tugas kuliah ga dikerjain paling banter efeknya lebih ke nilai, tugas kantor juga bisa sih ga dikerjain tapi nanti ujungnya malah kita yang dikerjain sama atasan (dibaca: di-fired! Atau dipecat! Atau dikasih uang! Sebagai gaji terakhir……………………….). Di dunia pekerjaan semua terasa begitu… monoton, flat se-flat tv LED politron teknologi terbaru termutakheer. Dari mulai pola kegiatannya, lingkungannya, sampai topik yang dibicarakannya muter disitu-situ aja, kalau engga ngomongin deadline pekerjaan, perbedaan slip gaji sampai pertanyaan template antara manusia yang udah berumur (padahal bayi juga udah berumur) yaitu  “kapan nikah?”

Gamungkin dong blognya Riman Diantasena ngebahas sesuatu diluar cinta-cintaan, ya kaaaaaaaan

     Sempat suatu waktu ((kalau tidak sempat harus dibalas (itu 4 X 4 = 16, Mahmudiiiiiiii))) rutinitas pekerjaan sedang mencapai limit dan tidak ada kopi untuk diseduh karena ingin tidur tapi atasan duduk disebelah sekitar setengah meter, saya memutuskan untuk membuka twitter sebagai obat penahan kantuk sambil mendengarkan musik dari aplikasi streaming musik.

     Seingatku semenjak pertengahan 2018 Twitter kembali ramai oleh user setia dan seiring berjalannya waktu semakin bertambah dengan user baru atau user lama yang sempat vakum lalu muncul lagi, maklum ABG suka bimbang. Dulu ketika era dimana konsep sosial media sangat berkembang twitter menjadi salah satu platform yang banyak ditinggalkan oleh banyak user, sebutlah instagram. Kita semua sempat berpikir bahwa mempost foto berikut judul dan penjelasannya lebih menarik ketimbang hanya menulis hal absurd sebanyak 140 karakter saja (yang padahal menurutku 140 karakter itu udah banyak dibanding karakter  avengers: infinity war yang cuman 24 karakter, diluar warga wakanda yang jadi figuran heuheuheu) yang akhirnya disadari juga bahwasanya perkembangan sosial media instagram cenderung PAMER status sosial (iyuh) dan user yang menyebut diri mereka “rakyat misqueen” gapunya sesuatu yang bisa disombongkan kecuali tingkat humor yang (harapannya) bisa disejajarkan dengan ficocacol* mulai memanfaatkan twitter. Ini mah sebenernya analisa nguarangku aja jadi kalo bagian ini dilewat sih gaada masalah haha oke back to topik.

     Setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk melihat pemikiran orang-orang lewat twitnya yang mencoba berkelakar, ada satu twit yang membahas tentang "merelakan seseorang". Yang saat itu juga sangat stab in point buatku. Begini kisahnya
.
.
.
Ditulis ulang dari akun LINE Lukito Wisnu Setyo

     Dua tahun lalu, kami berdebat soal rencana masa depan. Aku sudah mengajar di Malang, dan dia masih menganggur, dia ingin melamar kerja saja dipabrik, untuk jadi apa saja. Tapi aku tidak setuju. Aku tidak ingin dia jadi luar biasa sibuk, terlebih dalam suasana LDR.

     Tahun lalu, kami menemukan lowongan pekerjaan yang cocok untuknya, jadi guru. Lokasi sekolahnya bagus, satu kecamatan dengan sekolah tempatku mengajar. Hanya berjarak sekian kilometer, Aku mengantarnya untuk interview dan hari pertama masuk kerja. Karena masa depan yang kami inginkan untuk tinggal di kota yang sama akan lekas jadi kenyaraan, dia bahagia.

Hari ini, dia menikah, dengan rekan kerja di sekolahnya itu.



Kadang kala, aku berpikir, mengapa aku tak membiarkan saja dulu dia bekerja di pabrik.
Mungkin kami akan punya cerita yang berbeda hari ini.


     Tapi inilah hidup. Dalam beberapa kesempatan, justru kamulah yang mengantarkan orang yang kamu cintai kepada cinta sejatinya. Bisa jadi, kamulah yang Tuhan mau agar seseorang bisa menemukan jodohnya. Meski dalam suasana yang pahit, kamu harus menerimanya.

     Sedihlah sebentar, tidak apa-apa. Tapi setelahnya biarkan bibirmu tersenyum, karena dirimu telah melakukan salah satu hal yang paling luar biasa dalam hidupmu.

     Dia bisa menjadi berharga di hari ini, karenaku. Aku menjadi orang yang berharga karena menemaninya sejauh itu.

“Kamu hebat untuk melakukan semua itu. Aku bangga padamu.”

28 Desember 2018
Selamat membangun kedamaian hingga akhir usia, masa kuliahku
.
.
.
“Sedihlah sebentar, tidak apa-apa” katanya, saat itu lagu yang terputar di telingaku adalah rehat dari Kunto Aji. Le me tell you something more, album mantra mantra dari Kunto Aji adalah sebuah kombinasi lirik dan instrument aransemen yang benar-benar brilliant. I recommend you all kalau lagi sedih, lagi patah hati, lagi butuh penyemangat, u shud listen to this one guys, sealbum jangan dishuffle urutan lagunya, JANGAN DISHUFFLE!!!11!!1!!!1!111!!

     Untuk semua orang yang pernah melepaskan seseorang pasti sangat relate dengan cerita mas Wisnu, begitupun aku. Terakhir aku harus melepaskan salah seorang support systemku yang benar-benar berhasil membuatku jatuh hati, and I swear berat banget. Ngebayanginnya aja udah ngebuat sesak.

     Tapi mas Wisnu juga benar, dia bilang kita harus senang, karena kita yang berhasil melepas seseorang yang udah kita jaga dengan sepenuh hati bisa sampai kepada jodohnya kelak.

Sepenuh hati,
itu usaha terbaik sebaik-baiknya seorang manusia.

     Berangkat dari sana, kita yang melepas pun mendapat pelajaran bahwasanya kita masih belum cukup baik untuk menjadi pasangan yang tepat untuk pasangan kita kelak.

     Setelah membaca cerita mas Wisnu, aku menyenderkan punggungku ke kursi dan mendongakkan kepalaku ke langit-langit kantor. Kembali mengevaluasi dan mengawang masa lalu. Dan tentang pertanyaan kapan menikah, percayalah bahwa laki-laki yang telah memiliki tujuan hatinya akan sangat-sangat memikirkan pertanyaan itu. Bagaimana tidak, buatku semisal pasangan kita seumuran setidaknya ada pemikiran untuk segera menikah semaksimal diumur 25 atau 26 karena di Negara kita wanita agaknya menikah diantara umur itu, lain hal jika pasangan kita berbeda umur, pihak laki-laki memiliki kesempatan untuk mengembangkan karir dan kemapanannya sampai limit menikah (buatku antara 27 atau 28) dengan selisih umur pasangannya yang mungkin bisa mencapai 1 tahun atau lebih.

Untuk saat ini aku telah menetapkan tujuan baru, yang akan kujaga kembali dengan sepenuh hati. Namun jika memang kali ini tujuanku belum tepat lagi, aku akan persiapkan diri untuk melepas kembali, lalu mengantarmu ke tujuanmu yang sebenarnya,
lagi.


Saturday, April 21, 2018

Kebiasaan Baru, Adhitia Sofyan, Bandung, dan Kamu (yang nggak ketinggalan).

Faktanya, kebiasaan adalah bagian dari rutinitas kita sehari-hari. Seakan-akan melekat pada diri kita, kebiasaan juga yang mencitrakan diri kita yang berbeda dari semua orang, pemberi identitas. Aku rasa semua orang punya kebiasaannya masing-masing. Seperti temanku, tidak seperti Instagram user pada umumnya yang selalu meng-update instastorynya secara rutin, temanku akan menggunakan fitur Instagram tersebut hanya ketika ia ingin memperlihatkan kabar tentang klub sepak bola kebanggaannya yaitu FC Barcelona. Atau temanku yang lain, ia selalu memakai jaket khasnya berwarna biru langit yang sejujurnya jaket itu sudah sangat kucel kemanapun ia berpergian, ke kampus ia pakai jaket itu, ke gunung ia masih pakai jaket itu, menghadap dosen bimbingan tugas akhir pun masih pakai jaket itu, ku terka ia akan pakai jaket itu juga ketika bertemu calon mertua tapi semoga jangan, apek. Tapi itulah kebiasaan, pemberi warna dari masing-masing kita. Lalu aku, kebiasaanku juga bisa dibilang cukup banyak, kebanyakan terinspirasi dari lingkunganku beberapa alamiah muncul dari diri sendiri. Ada satu kebiasaan baru yang aku nikmati saat ini, kebiasaan itu muncul selalu pada hari Jumat saat jam pulang kerja.

Entah kenapa hari Jumat memang selalu spesial, ada rasa kesenangan tersendiri yang hadir begitu saja. Mungkin karena hari esoknya libur atau karena beban pekerjaan lepas untuk sementara, entahlah, kalau aku selalu sumringah menyambut selesainya hari Jumat, sekalipun dompet tipis, setipis permen plastik rasa mint. Kebiasaan baru pertamaku yang muncul adalah pulang terakhir di tempatku bekerja. Jadwal pulang kerjaku pada hari Kamis adalah pada pukul 16.30 waktu Bandung barat, namun pada hari Jumat jam pulangku pukul 17.00 masih waktu Bandung barat. Untuk sebagian orang, mereka pasti bergegas untuk segera pulang. Absen pulang di tempatku memakai sistem finger print, biasanya 5 menit sebelum jam pulang, karyawan sudah mengantri di mesin itu, tapi hal itu tak terjadi pada diriku, kenapa ya?

Biasanya aku sampai ke mesin finger print pukul 17.15, dengan setelan sudah memakai jaket, aku berjalan menuju pos pengecekan barang. Pada jam itu kulihat masih banyak orang yang pulang tidak terburu-buru, ada yang sendiri ada pula yang mengobrol akrab. Di titik itu pun aku sangat suka, mengamati dan memperhatikan bagaimana perilaku sosial seseorang saat sedang tidak ada dalam tekanan apapun, aneh ya? Haha. Sambil mencari headset-ku yang biasanya ada di kantong jaket kanan, kujuga mengambil telepon genggamku di saku kiri celana, di saku kananku sudah pasti ada kunci motor dan kartu parkir, hanya itu saja, tidak ada uangnya, sekedar informasi. Lalu kusambungkan headset-ku dengan teleponku dan jariku menuntun menuju aplikasi musik player. Aku mempunyai 215 lagu disana, kebanyakan lagu indie folk, diselingi album The Script dan beberapa lagu Oasis. Dari sekian banyak lagu itu aku mengkategorikan 3 lagu favoritku. Sebelum lagunya dimulai, aku sudah sampai di pos pengecekan barang.

“Selamat sore, pak!”
“Sore pak, maaf pak boleh saya periksa dulu tas bapak?” Izin petugas pengamanan.
“Mari pak.” Sambil aku menyerahkan tas eiger lawasku.
“Baiklah pak, aman. Hati-hati di jalan pak.”
“Terima kasih pak.” Sejujurnya petugas pengamanan disana sangat ramah sekali dan aku dipanggil bapak olehny, belom punya anak padahal, hal itu semakin menambah keceriaan di hari itu. Sembari melewati pos pengecekan barang, aku memasang headset ke telingaku.

Kebiasaan baru keduaku adalah memainkan 3 lagu favoritku saat ini. Ketiganya milik Adhitia Sofyan, yaitu adelaide sky, blue sky collapse, dan forget jakarta. Playlist-ku pasti dimulai oleh forget jakarta. Lagu yang menjadi sound track dari iklan tropicana slim itu memang sangat enak! Ku akui itu. Alunan serta petikan lagu itu sangat mendukung untuk bengong, disaat suasana memang sejuk dan langitnya yang bersenja-gurau, menggodaku untuk larut dalam waktu menikmati langkah kaki.

“Im waiting in line to get to where you are.
Hope floats up high along the way, I forget Jakarta~” kata mas Adhitia.
Waduh mas, kalo ada kesempatan saya mau salaman sama sampean atas lagu aduhai ini, adem.
Lagu ini akan berada pada reff kedua pada saatku menaiki motorku. Ajakan mas Adhitia untuk bersama-sama melupakan Jakarta ini terus menderu.

“We’ll forget Jakarta,
Promise me we’ll never look behind.
Tonight, we’re gone to where this journey ends.
But if you stay, yeah I will stay.
Even though the town’s not what it used to be.
And pieces of your life you try to recognize,
All went down.”

Seketika motorku sudah melaju di jalan pasteur menuju fly over Pasupati berikut lagu berikutnya yang sudah pasti dimainkan yaitu blue sky collapse. Selalu pas. Kamu tahu kenapa? Untuk kamu yang pernah melewati fly over Pasupati saat senja, kamu akan mengakui bahwa pemandangan ketika berada di jalur pasupati adalah jalur terbaik untuk mengantarkan kita pulang. Di fly over Pasupati kamu dapat melihat kota Bandung yang dibentengi oleh gunung-gunung yang mengelilingi kota tersebut. Saat langitnya cerah, awan-awan mengelilingi gunung dan kota Bandung dengan lembutnya.

“Still everyday I think about you,
I know for a fact that’s not your problem.
But if you change your mind you’ll find me
Hanging on to the place, where the big blue sky collapse.”

Ah izinkan aku berpendapat, kota Bandung memang spesial, mas Adhitia juga haha. Blue sky collapse menjadi pengantar ke lagu terakhir sebelum playlist kuganti ke radio Prambors, yaitu Adelaide Sky. Lagu ini biasanya bermain ketika aku sedang menunggu lampu merah di pertigaan Telkom university. Untuk informasi lagi, lampu merah di Bandung itu lama-lama, serius. Pada saat seperti itu biasanya aku akan membuka handphone lalu membuka WhatsApp (WA). Dan disana pasti ada chat dari seseorang yang belakangan ini menjadi kebiasaan ketigaku untuk selalu mengobrol dengannya. Kebiasaan ketiga ini sungguh yang paling membuatku senang. Kok bisa gitu ya? Haha entahlah. Mungkin kasmaran heeee. Setelah chatnya gak aku balas 3-4 jam karena kerja, aku akan memulainya dengan,

“Gimana kegiatan kamu hari ini? Lancarkan bimbingannya?”

Seiring dengan selesainya mas Adhitia menemaniku bersama lagu-lagunya, giliran mba Nadya Julia (Announcer radio favorit saya) yang nemenin di Prambors. Belum sempat aku masukan teleponku ke kantong, teleponku sudah bergetar yang tandanya ada notifikasi masuk, aku buka notifikasi tersebut lalu interface WA yang keluar dan isi chatnya,

“Dosen pembimbingku lagi ke Solo, paling senin sih bimbingan skripsinya, kamu gimana?”

Kok bahagia ya, padahal cuma temen,
Chatnya juga ga gimana-gimana haha.
Biarlah yang penting semuanya terjadi di hari Jumat!
THANKS GOD ITS FRIDAY!

Saturday, March 31, 2018

Janji


    Ini adalah malam ke Sembilanku di Bandung. Aku baru pindah ke kota ini setelah diterima kerja di salah satu perusahaan manufaktur transportasi milik negeri. Aku sementara menetap di rumah saudaraku, kebetulan keluarga besar ibuku banyak yang tinggal disini dan beliau menitipkan aku ke kakaknya yang tinggal di daerah Buah Batu. Kegiatanku disini tidak lain dan tidak bukan masih seputar orientasi, entah itu orientasi di tempat kerja, atau orientasi di rumah baru, dan mungkin juga berorientasi dengan kota Bandung. Berbicara tentang Bandung, kota ini memang unik. Kesan pertama yang aku dapatkan ketika menginjakan kakiku di tempat ini adalah dingin! Berbeda dengan tempat tinggalku dulu, Depok. Kata orang-orang Bandung adalah kota yang spesial, kota yang membuat rakyatnya nyaman sekaligus merindu serta tertuju. Dari kecil, aku sering ke kota ini. Setiap tahunnya keluargaku selalu berkumpul dalam rangka merayakan hari lebaran di Bandung. Banyak hal-hal yang mengingatkanku ketika nama Bandung terucap. Salah satunya Kira. Dulu sekali, ketika aku duduk dibangku SMP ketika kami selalu mengobrol lewat SMS dia sempat bertanya kepadaku,

“Kak, nanti mau kuliah dimana?” Tanya Kira kepadaku di layar telepon genggam bermerek sony ericsson.
“Ehmm dimana ya? Aku sih pengennya di UNPAD.” Dulu sekali aku sangat ter-influence dengan ayah yang memiliki latar belakang Ilmu Komunikasi UNPAD. Ayah dulu sering masuk koran KOMPAS dengan tulisan-tulisannya. Melihat tulisannya dipaparkan di koran ternama itu membuatku menyukai bidang sastra. Aku juga sering membantu pekerjaannya untuk mengetik bahan yang telah ia tulis di kertas kala itu. “Kamu mau kuliah dimana emang?”
“Wah sama dong kak, aku juga mau UNPAD. Pokoknya aku pengen kuliah sama tinggal di Bandung.” Jawab Kira semangat.
“Kalo gitu nanti kita ketemu dong ya haha.”
“Iya kak, tapi serius ga kak? Janji ya nanti kita ketemu disana?”
Beberapa hal yang baru aku sadari, sedari dulu memang tabiatnya anak muda adalah berjanji, terlebih ke gebetannya. Apa-apa selalu dibuat janji, entah jangan tidur kemaleman, entah jangan bandel, entah jangan melakukan aksi-aksi menegangkan seperti limbad pasti selalu diakhiri dengan janji. Dan kala itu, tanpa mempertimbangkan masa depan serta takdir akan membawa kemana, aku pun menjawab,
“Iya janjiiiii. Nanti kita ketemu di Bandung.”
Dasar anak bau kencur.

    Akhirnya aku dan Kira tidak ada satupun yang kuliah di Bandung. Sebelum itu aku dan Kira pun tidak berpacaran, hanya teman. Tidak mesra. Hanya teman. Teman tapi tidak mesra, sama sekali. Kami melanjutkan kehidupan kami masing-masing, kala itu dia berpacaran dengan orang lain aku pun begitu.
Kira berkuliah di universitas swasta ternama mengambil teknik perminyakan sampai saat ini. Sedangkan aku adalah lulusan teknik mesin dari kampus negeri di Jakarta. Dari sini aku sudah ingkar satu janji, yaitu tidak melanjutkan kesukaan tentang sastra dari Ayah.
Dasar anak bau, badan.

    Kembali ke Bandung, malam ke sembilanku ini kebetulan malam minggu, hujan lagi. Waktu yang sangat tepat untuk bernostalgia, dasar kaum susah move on. Ajaibnya pikiran yang bisa mengingatkanku akan kenangan itu atau memang Allah yang sedang mengerjaiku untuk kembali mengingat kenangan itu, aku teringat Kira lagi. Sekedar menegaskan agar tidak terjadi salah kaprah antara aku dan netizen, perasaanku kepadanya sudah sangat minim yang kalau dipersentasekan mungkin sekitar 0,000000001% (bisa ae kang dodol) hanya saja untuk saat ini aku sangat ingin mengobrol dengannya. Mengetahui kondisinya, perkembangan hidupnya, melihat pandangan-pandangannya, serta membahas hal-hal kekanakan antara kita dulu sebagai teman yang tidak mesra, sama sekali. Dan aku pun akan menceritakan tentang kehidupanku disini, perkembanganku, cerita-cerita yang menjadikan aku pribadi yang seperti ini, lalu ditutup dengan, “Kira, aku tinggal di Bandung sekarang.”
Hoalah, manusia ini diciptakan oleh Allah memang bersama hasrat yang menempel sepanjang hidupnya, intinya banyak maunya. Kopi yang sedari tadi kubuat juga sudah terlanjur dingin, membuat kopi ini dapat dihabiskan dalam satu tegukkan. Tak kusadari juga hujan pun berhenti, ketimbang melamun kuputuskan pergi mencari udara segar menaiki honda beat tempur yang kubawa ke Bandung dari rumah.
Tidak ada tempat spesifik yang ingin aku datangi. Malam itu Bandung romantis, basah karena hujan ditemani lampu jalan yang temaram, aku putuskan untuk pergi ke daerah cimbeuleuit. Aku ingat disana ada warung bakso aci yang dikenalkan kawanku, pas untuk menghangatkan badan ditengah suasana sejuk. Sesampainya disana aku memesan semangkuk bakso aci panas lengkap dengan sambal pedas serta fruit tea dingin.

“Atas nama siapa A’ pesanannya?” Tanya akang bakso yang menyebut dirinya “ganteng squad”, sungguh kepercayaan diri yang tiada tara.
“Riman A’.”
“Oh siap A’ ditunggu ya A’.”
“Eh siap A’.” Kataku sambil melihatnya meracik baksoku.
“Ari Aa’ teh aya janji kadieu, A’? sorangan wae jajan-na hehe.” Kalau diartikan ke Bahasa Indonesia kira-kira kaya gini, “mas ada janji kesini? Sendirian aja makannya hehe.

Pernah ga perasaan tuh kaya tertohok gitu, bidikan kata-kata si Aa’ bakso tepat mengenai perasaanku kali ini, iseng sekali takdir menggodaku malam ini. Aku pun hanya tersenyum-senyum keheranan menanggapi perkataan si Aa’. Si Aa’ yang bingung karena tidak mendapat responku langsung menyerahkan semangkuk bakso panas,
“ini A’ baksonya.”
“Eh iya A’ nuhun.” Sebelum aku berpaling ke meja,
“A’ ada kertas kosong A’?”
“Oh ini A’ punten.” Aa’ bakso menyerahkan kertasnya kepadaku.

    Sambil kubawa ke meja bakso beserta fruit tea, aku pinjam juga spidol hitam milik Aa’ bakso. Sambil duduk aku hadapkan kertas lalu kutuliskan sesuatu yang sepertinya memang harus diselesaikan malam ini, 
Disana tertulis,

KIRA, SAAT INI AKU BAIK-BAIK SAJA DAN AKU SEKARANG SUDAH MENETAP DI BANDUNG.

Sambil kulipat kertas tersebut, kubuat origami berbentuk pesawat. Aku beranjak sebentar dari meja makanku lalu aku berjalan ke arah balkon warung bakso yang menghadap ke kota Bandung.

Terbanglah, dan sampaikan kepadanya.

Aku percaya, semesta memainkan peran yang unik untuk terlibat dalam kehidupan manusia. Entah bagaimana caranya, semesta akan membuat garisnya menyinggung kehidupanku, suatu saat. Dan ketika saat itu terjadi aku pastikan bahwa aku telah siap untuk mengucapkan, “Kira, apa kabar?”

Thursday, November 16, 2017

Krusial!

Terkadang kita rindu dengan konsep jatuh cinta sesederhana menatap dan menyapa, lalu tersipu malu dengan menyembulnya rona merah di bawah mata. Dikala rindu menjenguk, sajak berpaut dengan lagu penawar belenggu. Kasmaran ala orang zaman dulu adalah kisah cinta yang benar-benar membuat iri melulu. Bukannya aku tidak suka dengan konsep cinta pajang foto update di sosial media, atau pantau-memantau kabar via whatsa-ulala, aku hanya sedang menyelami imajinasi kisah indah bak Romeo dan Julieto. Tapi disinilah aku sekarang, di seberang halte yang terang dengan lampu neonnya, duduk menanti seseorang yang bahkan masih aku percayai bahwa dia akan ingat kalimatnya tentang janji. Haha naïf sekali. Entah apa yang ada di pikiranku, terbuai angan kenangan, terlalu banyak menonton kisah-kisah yang berakhir haru. Cengeng. Pukul 22.51, dia sudah lewat 51 menit dari janji yang ia ucapkan 5 tahun silam. Ya 5 tahun, sekarang kau akan cekikan dan berpikir bahwa aku orang bodoh, memang. Lemah. Di detik-detik krusial ini aku jadi sangat membenci dia, tapi akan merindu dan menyesal ketika memang benar-benar tidak bertemu. Argh! Rasanya ingin AAARRRRRGGGHHHH!!! Coba kututup mataku dengan tangan, barangkali dia akan tiba-tiba muncul dan memberi kejutan. Hehe aku coba, satu, duaa, tigaaaa… aku curang~ selagi menghitung aku membuka mataku sedikit dan melihat melewati celah jari-jariku yang berkeringat. Dan benar saja, aku melihat Romeo dan Julieto sedang berdiri di seberang jalan.

“Kamu harus tau Julieto, aku selalu suka pada seseorang yang memilih untuk setia dikala komitmen adalah satu-satunya alasan mengapa rasa itu selalu ada.” Romeo sangat bersahaja ketika mengucapkan kata-katanya, anehnya aku bisa dengan mirip meniru apa yang Romeo katakan. Dan sepertinya kata-kata yang terlontar habis ini adalah, “Oh Romeo, aku berjanji suatu hari nanti kita akan bertemu di tempat ini pada saat yang sama, ketika bulan dan bualan sama indahnya seperti hari ini.” Ah, Hebat! Aku bisa mengucapkan hal yang sama dengan Julieto! Bahkan gerakan bibir kami sama persis!

“5 tahun lagi Rim-eo,
Tunggu aku bzzzzzzzzzzzzz jk bzzzzz 5 tahun lagi,
5 tahun lagi Ro-man!” bzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz kiw.

Yang namanya pukulan pamungkas dalam tinju,
Lamunan itu menghujam atom penyusun sel darahku,
Menyeruak! Impulsif! Tak tertahan!
Dan BAM!
Darahku memberontak.
Nekat! Seperti perampok-perompak!
Kehilangan daya, kontrol diri sirna.
Aku S A R A P!

“KIRAAAAAAAA!” tak sadar, aku telah berdiri dengan tangan terkepal sambil meneriakan namamu, 
.
.
.
Kira.
.
.
.
Dan, BAM!
Beruntung tidak ada yang melihat diriku kerasukan. Bisa-bisa masuk viral di TransJakarta nanti.

Namun, malam itu cenderung dingin, tidak sampai membuat nafasku terlihat namun keringat meluncur deras dari pelipisku. Aku rindu. Aku benci. Aku mengakuinya. Aku kalah.

Aku akan pulang, tidak mengingatmu disana dengan bayanganmu, Manis! Manis itu untuk kata-kata yang keluar dari perutmu! Manis! Oke, parasmu juga, kelewat Manis!

Argh! Semakin tidak kondusif, apalagi konklusif. Lain kali sebelum meledak, akan kukeluarkan kamu wahai atom perampok dan perompak,
Serta perampok-perompak!

Lihat, bahkan kenangan tidak akan membantu harapan kita terwujud. Bahkan taktik mengeluarkan Romeo dan Julieto untuk mengulur waktu tetap tidak memunculkan dia, sialan! 23.19, sudahlah aku pulang! Serong kiri, menunduk ke bawah, aku terlalu memuakan untuk berjalan tegap dengan pandangan lurus! Aku akan berjalan setapak demi setapak. Satu langkah, dua langkah, tidak akan ada yang menghalangiku! Sekalipun kamu yang berdiri di depanku wahai kamu wanita idaman kroco dan… MasyaAllah.

“Aku selalu suka pada seseorang yang memilih untuk setia…” kata seorang wanita yang meng-copy naskah Romeo kepada Julieto, tapi sebentar, dia bukan meng-copy, dia ingat kata-kata itu, persis tidak kurang tidak lebih. Hormon adrenalinku tidak pernah bekerja se-tornado ini. Perkara suara, jantung ini seperti bedug magrib dikala senen-kamis, membahagiakan. Lalu, aku lanjutkan, “Dikala komitmen adalah satu-satunya alasan mengapa rasa itu selalu ada.”

See? Terkadang kita memang benar-benar merindu dengan konsep jatuh cinta sesederhana menatap dan menyapa. Sesuatu yang tidak akan kamu dapatkan di pesan singkat ataupun status fexbuk. Sampai kamu benar-benar merasakan apa yang aku gambarkan dari pukul 22.51, kamu akan menyadari bahwa kisah cinta tempo dulu memang candu.

“Kira, kamu benar-benar.. MAANNIISS!
Kata-katanya! Oke orangnya juga!”


Saturday, September 2, 2017

Dimensi Acultius

Sedemikian hingga letupan itu meredup,
Berkatarsis dalam sabuk pendar yang militan,
Ia segera merapat, dijauhkan dari energi yang tak terjamah
Lalu mereka bersekongkol,
Menyelewengkan orbitnya pada gravitasi energi yang lain.
Sunyi, tanpa bahasa.
Duhai Bintang, usah salahkan dia yang kini tengah larut dalam kedalaman dunia egonya,
melainkan salahkan dirimu yang memancar berlebihan,
dan membiarkan hatimu tertambat kecupan pada Sang Rembulan.
–SwetaKartika, Penguasa Dimensi Cahaya.