Paradoks/pa·ra·doks/ n pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks
Wednesday, June 29, 2016
Sunday, May 29, 2016
Breathtaking
Sunday on May, 18:01 – text message
.
.
.
“Sesuatu yang jatuh dari langit waktu itu, bukan hujan. Ia adalah
rindu yang beberapa saat lalu kutitipkan pada awan yang tak mampu lagi
menggenggamnya.”
Hanya untuk saat ini, aku tidak ingin berspekulasi.
Terlalu banyak
kemungkinan yang datang menghampiri dan sulit untuk memilahnya menjadi opsi
yang riil.
Namun Tuhan, aku bahagia
.
.
.
Terima kasih.
Sunday, May 15, 2016
Bungkam Bersiklus
Langit dan awan nampak tak bersahabat siang itu, namun matanya tetap lurus menghadap ke jendela, sepertinya dunia luar lebih menarik dibandingkan dengan simulasi konstruksi mesin yang sedang dijelaskan oleh dosennya. Seperti menunggu sesuatu, tapi tak jelas. Entah sejak kapan Tiara seperti itu, kadang kosong, kadang tersenyum seperti saat ini.
“Woy Ti! Ngeliatin apa sih lo?” sentak Fera, teman sebangkunya.
“Eh iya.” Tiara terbangun dari lamunannya, “Ada apaan sih? Ganggu aja lo.” Sewot, namun tersenyum meledek berusaha menyembunyikan apa yang ia lakukan saat ini.
“Eh elo tuh ya udah diingetin, awas lo gu..” Fera terhenti kaget dan langsung melihat kearah datangnya suara
“Fera! Kamu ngajak Tiara ngobrol terus ya, coba kerjakan latihan nomor 5 di BAB konstruksi beam, sekarang!” Tegur Pak Teguh, dosen mekanika tekniknya.
“Argh, Tiara! Kalo engga gar…” Lanjut Fera sambil berdiri mengacungkan telunjuknya memaki Tiara namun terhenti kembali
“Fera! Sekarang maju kedepan!” suasana kelas seketika hening beberapa detik. Tiara tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya jelas menahan tawa sambil melihat bolak-balik ekspresi Pak Teguh dan Fera yang masih bergumam sambil mengutuki Tiara, antara kesal menyalahkan Tiara atau tidak mengerti dengan materinya. Fera pun maju dengan semangat tidak lupa mulutnya yang tak henti bergumam dengan langkah seperti kuda pincang.
“Ya jelaslah Pak Teguh marah, orang mejanya Fera-Tiara depan komuk Pak Teguh pisan itu.” Bisik Ahmad kepada Rahmat, “Iya emang bocah peleng banget.”
“Ahmad-Rahmat! Kalian ngomongin bapak?! Mentang-mentang kalian duduk paling belakang emangnya bapak ga denger? Suara kalian mantul tau!” Suara tawa menyambung suasana kelas yang sepi sebelumnya, “Elo sih ah.” Rahmat menjitak kepala Ahmad dilanjutkan dengan gelak tawa yang semakin ricuh. Tiara pun tak dapat menahan lagi tawanya.
“SEMUANYA, DIAAAMM!” tegas Pak Teguh sambil berdiri, dengan napas ter-engah-engah. Seisi kelas diam terpaku, namun masih ada suara tawa tak tertahankan yang datang dari arah papan tulis, sendirian. “Ehem.” Kode pak Teguh kepada Fera. Seketika Fera kaget, mata satu kelas tertuju padanya, “Baik pak saya lanjutkan ya Pak.” Fera menjelaskan dengan gugup
“Kamu aja belom nulis apa-apa Fer Fer.” Pak Teguh menepuk jidatnya, geleng-geleng. Kelas pun ricuh kembali. Seketika Tiara sadar, ia kembali menatap jendela dan seketika itu pula tawanya memudar, yang ia cari telah hilang dari pandangannya.
Fera melirik sahabatnya, satu hal yang ia sadari, sahabatnya sedang tidak beres.
.
Keesokan harinya tepat pada jam yang sama Tiara duduk dan memandang ke tempat yang sama. Tanpa mengganggu Tiara, Fera mencoba mencari tahu apa yang Tiara lihat. Hasilnya?
Pemandangan yang terlihat adalah pendopo Teknik, Fera mencoba melihat lebih detail lagi. Orang lalu lalang, orang yang menunggu menghadap ke seluruh penjuru arah, ada yang memainkan gitar, ada yang menunggu bis, ada yang mengobrol dengan temannya, sudah. Fera mengernyit dia tidak menemukan sesuatu yang aneh dari pandangannya ke arah jendela. Dia melihat sahabatnya dengan tatapan hambar, anak ini mungkin gila pikirnya.
Keesokan harinya di jam yang sama, Tiara kembali melakukan kebiasaannya, Fera pun berusaha mencari petunjuk lagi. Kali ini ada box kayu yang diletakkan di tengah pendopo teknik, sepersekian detik tiba-tiba ada orang secara mengejutkan melompat dan berdiri disana, mengagetkan orang yang berjalan di pendopo teknik. Apa yang dia lakukan? Berorasi? Entahlah, namun mata Tiara tetap focus ke arah sana. Fera tidak mengetahui kalau Tiara suka orasi, ini aneh. Namun Tiara tersenyum. Fera mulai berspekulasi melihat tingkah sahabatnya, mungkinkah sahabatnya… ah tunggu satu hari lagi pikirnya.
Kesokan harinya kebetulan tidak ada mata kuliah, kelas dibubarkan sejak pagi tadi namun, sekali lagi di jam yang sama, Tiara sudah siap di tempatnya memandang ke jendela, sendirian. Fera tahu sahabatnya akan berada disana, dia pun menghampiri dan duduk di sebelah Tiara namun Tiara acuh saja dengan kehadiran sahabatnya ini. Tapi hari ini tidak seperti hari sebelumnya, kali ini turun hujan, hujan angin. Pandangan ke luar sana kabur, tidak jelas. Berulang kali Tiara mengelap kacanya yang berembun namun tetap samar yang dilihatnya. Fera bertanya “Ada apa Ti? Kenapa lo was-was gitu?” Tiara tidak menjawab matanya khawatir, sambil terus berusaha memaksimalkan pandangannya ke arah pendopo teknik. Fera khawatir, “Ti, elo kenapa?” Tiara tidak bereaksi, Fera memegang pundak Tiara “Ti el…” kata-kata Fera dipotong cepat
“Lo pernah jatuh cinta Fer?” Fera kaget lalu menjawab “Iya, teru…”
“Tipe lo kaya apa Fer? Disambung Tiara cepat, “Hah? Ya kay…”
“Salah ga sih kalo gua jatuh cinta sama orang yang cinta banget sama passionnya dia? Yang ga peduli orang lain ngeliat dia main gitar atau engga. Yang ga peduli orang lain suka sama cara dia baca puisi di tengah-tengah orang banyak. Yang ga peduli diliatin sama tarian dia yang absurd.” Seketika Tiara tersenyum, “He enjoyed his world, dengan caranya tapi dia juga ngebuat semua orang suka sama dia. Dan ga cuma gua yang suka sama tingkah lakunya dia, lihat sekelilingnya.”
Fera hanya terpana menyaksikan sahabatnya mendeskripsikan keadaannya saat ini, Fera pun menoleh ke arah luar, kearah pendopo teknik. Terlihat seorang pria sedang menari di tengah kerumunan orang banyak, di tengah tariannya orang-orang pun tak segan untuk menari bersamanya. Hidup sekali pikir Fera, pendopo teknik tidak pernah sehidup itu.
“Semesta bersamanya, aku hanya bintang dari galaksi lain yang mendamba bisa menyinggung lintasan revolusi galaksinya.” Lanjut Tiara lembut
“Bahkan hanya melihatnya dari sini pun, cukup untukku. Setidaknya untuk bernafas hari ini hehe.” Wajah Tiara menoleh ke arah Fera sambil terkekeh tegar. Fera kehabisan kata-kata namun terlihat jelas dimata Tiara bahwa, sahabatnya kasmaran, hangat sekali tatapannya, memang sungguh luar biasa yang namanya cinta itu pikir Fera. Sahabatnya yang comel minta ampun bisa dibuat bungkam bersiklus setiap harinya bahkan hanya untuk menyaksikan pria itu berkelakuan aneh di pendopo teknik. Rasa yang menular itu menyeruak ke rongga pernafasan Fera yang ingin mencairkan suasana ini namun kata-katanya enggan keluar dari mulutnya. “Tapi Ti..”
“Ya gitu si Fer kisahnya.” Sahut Tiara memotong lagi sambil menoleh ke pendopo teknik kembali tertawa, “Haru ga cer..”
“Woy gua mau ngomong dipatahin terus! Lo harus bisa baca situasi dong, masa omongan gua di-cut mulu.” Cerocos Fera sambil menempeleng kepala Tiara
“Ah iya? Maaf, elo si makanya kalo mau ngomong bilang-bilang dulu kek, kan gua gatau lo mau ngomong.” Jelas Tiara sambil tertawa tidak sadar sahabatnya ternyata ingin berbicara dari tadi
“Gila lo emang ye! Gua panggilin pak Teguh nih lapor anak asuhnya bengong mulu.” Ancam Fera yang ikut tertawa juga
“Gih panggil ntar dia gua ajak bengong juga.” Lawan Tiara dan keduanya berdebat selepas ego, menikmati waktu yang terus berdetik sambil menikmati pemandangan pendopo teknik saat hujan mengguyur. Pria itu masih menari, kali ini dengan gerakan alien. Tiara-Fera tertawa lepas namun orang-orang disekelilingnya pun melakukan hal yang sama, seperti film india celetuk Fera. Hingga hujan berhenti momen itu terus berlanjut, waktu pun menjadi pembatas mereka
.
.
.
“Fer gua duluan yaa.” Gegas Tiara sambil memutar handle gas motornya
“Yo tiati Bu, Jangan lupa tugas Pak Dadar.” Teriak Fera kea rah Tiara yang sudah menjauh
“Hufftt.”
Setelah mengantar Tiara pulang sampai parkiran, Fera ingin ke ATM terlebih dahulu mengecek apakah uang bulanannya saudah dikirim ayahnya atau belum. Lalu ia memandang sekeliling dan melihat pria penari itu sedang merapihkan pertunjukannya siang tadi. Seketika ia berlari menghampiri pria itu seakan-akan uang bulanan tidak penting
“Eh! Hai, ehm gua Fera dari kelas 1C Teknik Mesin. Ehm boleh kenalan? Kalo gaboleh juga ga apa-apa hehe” Jelas Fera gugup dengan nafas terengah-engah. Seketika pria itu berbalik
“Oh hai! Boleh kok haha nama gua Riman Diantasena dari 1A Teknik Mesin juga.” Jelas Riman bersemangat
“Ah iya Riman, mesin juga ternyata hehe.” Jawab Fera canggung, tapi penasaran siapa tahu dia bisa mendapat informasi untuk sahabatnya, “ Jadi man…”
“Eh 1C ya? Kenal Tiara?”
“Lho? Lo kenal Tiara?”
.
.
.
~
Monday, May 2, 2016
Friday, February 19, 2016
Bagaimana Caraku Menggambarkan Kita?
Kita..
.
Kita adalah dua gelombang
Yang berbeda frekuensi namun satu dimensi
Kita adalah impact
Yang saling bertubrukan dan menciptakan momen
Kita adalah relatif
Yang membuat peluang akan suatu keadaan
Kita...
.
Kita adalah bintang jatuh
Yang menerobos pekatnya malam, bersama
kilat,
angin Pusaran,
pelangi,
jingga.
.
.
Lalu merangkumnya menjadi,
Semesta.
.
Dan,
Kita adalah semesta
Yang selalu menatap satu sama lain, namun hidup di galaksinya masing-masing.
.
.
.
Waktu? (sigh)(laugh)
.
Ya, kita adalah waktu
Penguasa waktu.
Riman Diantasena
13 Februari 2016
13 Februari 2016
Sunday, September 6, 2015
Dirinya, Gelang, dan Memori
“Hahaha mantan lo ulang tahun lo kasih pulsa? Gila lo ya,
useless banget anjir.” Dilanjut tawa Riman yang semakin tidak bisa dihentikan.
“Ish itu guna banget njirrr, pulsa kan bisa dipake buat
nelfon gue. Secara dulu kan belom ada internet kayak sekarang.” Kira
menjelaskan dengan ngotot seakan-akan pendapat dia memang “benar”, hening
beberapa saat dan tawanya pun ikut pecah di tengah kesunyian malam itu.
“Kalo elo gimana man? Lo emang pernah ngasih kado apa buat
mantan lo?” Sambung Kira setelah tawanya mereda.
“Ehm gue ya… hemmm gua pernah ngasih mantan gua boneka, gua
pernah ngasih bunga, kue terus apalagi ya…” semakin penasaran, Kira mendekatkan
kepalanya ke pundak Riman agar suaranya terdengar karena Riman agak ngebut mengendarai Honda Beatnya. “ Terus terus?”
“Oh iya, gua pernah ngasih mantan gua gelang.” Jawab Riman
dengan senyum penuh kenangan dan mata yang bengong seketika.
“Cuma gelang? Haha kenapa gelang emangnya?”
“Ga tau kenapa, mungkin karena gua suka pake gelang.”
“Lebih useless anjir mending pulsa, lebih ada meaningnya.”
Kira merasa menang dalam perdebatannya malam ini dengan si ahli filosofi, 1-0 sekarang.
“Terus? Salah gua? Salah temen-temen gua yang belom lahir?” banyol
Riman, reflek
“Ahaha kampret lo Man.” Tas Kira melayang tiba-tiba
menghantam helm Riman.
“Adaw, kasar amat cewe. Gua kasih pulsa nih.”
“Ahaha sue lo.” Tawa keduanya kembali melepas penatnya
kegiatan kampus hari itu.
Kira pun melanjutkan ceritanya tentang mantannya yang dulu
pernah ke rumahnya, ketiduran dan diomelin orang tuanya karena telat pulang,
Kira bercerita dengan penuh semangat namun sesaat kemudian pikiran Riman seakan
tak berada di atas motor yang mereka kendarai. Matanya jauh menerawang ke masa
lalu, kisah antara gadis dan gelang itu. Percakapan itu seakan membuka pintu
memori Riman jauh ke belakang.
Riman ingat benar kenapa dia memberi Ia gelang ketimbang
hadiah atau barang mahal lainnya, alasan yang tak Kira tahu kini mulai memenuhi
ruang sesak di kepalanya. Ruangan yang telah dikunci rapat sekarang terbuka
kembali, ruangan yang disusun dan ditata hanya untuknya, ruangan yang selama
ini telah ia tinggalkan jauh kini terpapar jelas di depan matanya, memulai sebuah
memori dan berputar seperti video yang telah dipersiapkan sejak lama, Riman tak
berdaya duduk dan menontonnya.
.
.
.
.
.
“Aaah Jelek, makasih gelangnya, gelangnya bagus banget.”
“Ahaha biasa aja ko, maaf ya aku Cuma ngasih gelang di hari
ulang tahun kamu. Padahal kalo cowo lain mah mungkin bisa ngasih yang lebih
mahal.”
“Engga ko aku suka, bakal aku pake setiap hari, makasih ya
Jelek.” Ketulusan ucapan terima kasih itu, dengan mata dan senyuman yang
memancarkan rasa bahagianya, sekarang Riman ingat jelas alasan mengapa Ia memberi
gadis itu gelang,
Gelang adalah sebuah benda yang selalu mengikuti tangan
pemakainya. Berbeda dengan jam tangan, jam tangan memiliki fungsi sebagai
pengingat waktu sedangkan gelang, gelang adalah perekam memori, saksi mati dari
hidup pemakainya, perekam rasa, kapanpun dan dimanapun, gelang bercerita bisu
tentang apa yang dialami pemakainya seumur hidupnya.
Bukan sesal yang Riman rasakan sekarang, hanya saja
seandainya Ia tahu seberapa penting gelang itu baginya. Senyum hangat terbesit
di wajahnya membayangkan Ia memakai gelang itu kapanpun, dimanapun Ia berada. Terlalu
naïf memang tapi Riman selalu menunggu waktu dimana gelang itu bisa bercerita
tentang Dirinya yang selama ini tak pernah bertemu dengannya.
“Semoga aja ga ilang.” Ucap Riman sambil tersenyum tak sadar
dia telah menyebut kata itu di tengah cerita Kira.
“Hah? Maksut lo? Lo ngarep pulsa yang gua kasih ke mantan
gua ga ilang?” Sahut Kira bingung dengan sanggahan Riman di tengah ceritanya.
“Eh maksut gua semoga ga ilang percakapan yang udah kalian
berdua bicarain… di telfon yang mantan lo nelfon pake pulsa yang elo kasih.” Jawab
Riman gelagapan, dia sadar kata-katanya tak tersusun dengan rapi.
“Apaan sih lo, ga jelas.” Jawab Kira BeTe.
“Wah berarti gua bukan manusia dong?” Celetuk Riman.
“Maksutnya?”
“Kalo manusia kan jelas, wujudnya. Lucu ga?”
“Apaan sih lo hahaha.” Suasana kembali cair, Riman memang
selalu berhasil membuat Kira tertawa.
.
.
.
“Udeh Man, disini aja gua turunnya ntar
bokap keluar berabe jadinya.” Jelas Kira, seraya Riman mengerem motornya tepat
di depan portal komplek rumah Kira.
“Iya Bu, males juga gua ketemu bokap lo ntar gua dikira gojek-in
elo.”
“Lah siapa juga yang mau di gojek-in sama lo.” Kata Kira
menyambung bercandaan Riman.
“Oke fine, jangan nebeng gua lagi ye. Suruh aja cowo lo yang
sekarang di Malang itu buat nganter lo.” Jawab Riman meledek.
“Ah elo kan bercanda.” Muka Kira memelas, sekarang kondisi
1-1
“Ahaha iya nyonya, salamin sama cowo lo ya udah lama gua ga
main FIFA sama dia.” Sahut Riman menetralkan suasana.
“Iya makasih ya Man, gamau ah ntar gua dicuekin kalo kalian
main FIFA.”
“Jangan manyun dong ntar satpam kampus jadi ga demen lagi
sama elo.” Ledek Riman sambil ngucek-ngucek kepalanya.
“Ah apaansi.” Sambl tersenyum Ia memegang pergelangan tangan
Riman sambil berusaha melepaskan tangannya dari kepalanya.
“Eh gelangnya bagus, mau dong buat gue.” Kata Kira masih
memegang pergelangan tangan Riman.
“Sorry ogah gua ngasih gelang ke orang yang udah bilang gelang itu USELESS tadi di motor.” Riman melepaskan tangannya dari Kira sambil tertawa
mengejek.
“AH elo mah.” Sahut Kira kecewa.
“haha kapan-kapan gua cariin gelang kosong, ntar lo isi
sendiri.”
“hah maksutnya?” Jawab Kira bingung
“Eh, maksutnya… Gua cabut ye.” Jawab Riman keceplosan
teringat lamunannya tadi. “Daaaaaaaah” buru-buru men-starter motornya dan
langsung melipir.
“Eh kampret haha dadaaaah, Makasih ya ojeknya.” Kaget namun
tertawa, Ia setengah berteriak.
menengok ke belakang dengan senyuman tipis, lalu pandangan Riman kembali kedepan “Iya sama-sama Kira.” Jawab Riman pelan.
Malam yang hebat pikir Riman, sebuah percakapan mampu
membawanya jauh ke masa lalu yang telah Ia kunci rapat-rapat. Apa kabar ya Dia?
Sambil menyetir, Riman membuka BBM dan melihat kontak gadis itu, melihat foto
profilnya yang sedang tersenyum. Riman bergumam “Kira-kira gelangnya masih ada ga
ya?” Riman melihat jam, sekarang pukul 01.27 AM 7/9/2015. “Kapan-kapan aja deh
nge-chatnya, gaenak ganggu orang tidur.” Riman mengunci layar handphonenya dan
memasukannya ke kantong. Dengan Raisa
yang sedang memanjakan kupingnya dan malam cerah bertabur bintang, sekarang waktu
yang pas buat nge-galau pikirnya. Mengenang
kembali momen indah dahulu bukan suatu hal yang salah kan? Bukan untuk
menyesali apa yang telah dilalui, namun untuk melihat sudah seberapa jauh kita
berjalan meninggalkan momen itu, meninggalkan ruangan itu.
Dan bukan meninggalkan untuk melupakan, tapi meninggalkan agar ruangan itu tetap rapi saat waktunya telah tepat untuk dibuka kembali.
Dan bukan meninggalkan untuk melupakan, tapi meninggalkan agar ruangan itu tetap rapi saat waktunya telah tepat untuk dibuka kembali.
Monday, February 23, 2015
Imaji Nadir

terperangkap imaji nadir
hanya untuk merayakan kegelisahan
tanpa sebab, kosong
.
seakan tersekat, memandang jiwa
yang masih tetap disana
menikmati gelak tawa
namun sarat akan makna
dan tetap, tidak lebih "fake" dari sebuah senyum palsu
tanpa rasa, hambar
.
.
serasa mati
.
.
.
tapi "sayang", mati-pun ingin hidup
(Riman Diantasena, 24 Februari 2015)
Subscribe to:
Posts (Atom)

